
Sudah hampir 1 bulan semenjak kejadian WR membanting hp nya. Semenjak itu hubungan ku dengan nya semakin dekat. Tidak ada lagi Arega atau Siska yang mengganggu hubungan kita. Mungkin, mereka juga sudah bahagia dengan pasangan nya yang baru.
WR lebih sering berkunjung kekosan ku. Tidak hanya memikatku, dia juga berhasil memikat Simi yang awalnya tidak menyukai nya. Entah kenapa, jika aku perhatikan. Satu minggu belakangan ini, tingkah laku simi pada WR seperti ada yang berbeda.
Pernah, waktu itu. Ketika WR sedang berada dikosan, Simi tiba tiba saja berteriak ketakutan karena ada cicak, hal tersebut masih ku anggap wajar. Namun yang tidak wajar yaitu kenapa dia harus merangkul WR dari belakang. Menyebalkan bukan.
***
Malam itu malam minggu, Aku dan WR berniat untuk datang kesebuah pasar malam dikota ku. Entah kenapa dengan mudahnya WR menyetujui keinginan ku. Nina dan Simi ingin ikut. Nina pergi bersama Alex dan aku bersama WR. Sedangkan pacar Simi tidak bisa datang malam itu. Tidak mungkin, aku membiarkan Simi mengendarai motor, seorang diri di malam hari. Ku putuskan untuk mengajak dia naik motor bersama ku. Tapi anehnya, dia malah meminta untuk duduk di tengah tengah antra WR dan aku.
"Lu di belakang dong Simi. Masa di tengah, sih. WR kan pacar gue," ucapku kesal melihat nya sudah duduk mendahuluiku di motor.
"Ih, gue takut. Lagian, cowo lu bukan tipe, gue," jawabnya sambil tak bergeming.
Aku mengalah. WR pun sepertinya tidak bisa berkata apa apa. Berangkat lah kita berlima kesebuah pasar malam.
Ada begitu banyak orang yang berjualan sepanjang jalan.
"Mau beli apa, Ay?" tanya WR. "Ay" merupakan panggilan sayang nya padaku.
"Apa ya?? Kita liat itu yuk," aku menujuk sebuah stand sepatu yang ada diseberang jalan.
Nina dan alex memilih untuk melihat lihat baju. Sedangkan simi, dia lebih memilih ikut bersama ku.
Awalnya aku dan simi melihat lihat beberapa pasang sepatu yang ada di etalase. Sebelum akhirnya Simi menggandeng tangan WR. Simi meminta WR untuk memilihkan sepatu untuk nya. Mereka meninggalkan aku seorang diri, disini.
Kesal, aku melihat tingkah laku mereka. Entah aku yang cemburuan atau memang mereka yang sudah keterlaluan.
Ku cari Nina dan menghampirinya. Nina terkejut melihat ku berjalan seorang diri.
"Loh, bang WR sama Simi. Mana?" tanya Nina heran.
__ADS_1
"Tau, ah," jawabku kesal.
"Yaudah. Ayo, cari," kata Nina.
"Gak mau. Mau pulang aja. Gue nebeng lu sama Alex, ya,"
"Iya. Ayo,"
Akhirnya aku pun pulang lebih dulu, meninggalkan WR dan Simi yang pergi entah kemana.
Diperjalanan, hp ku bergetar. sebuah panggilan masuk dari WR kuterima.
"Dimana, Ay?" tanya nya
"Pulang!" jawabku emosi dan langsung menutup tlpn nya.
Tiba dikosan. Alex langsung pulang. Karena, sepertinya dia mengerti. Bahwa aku sedang tidak baik baik saja saat ini.
"Simi, emang udah keterlaluan," komentar nina mengenai ceritaku tentang Simi. Makin memanas lah hati ku mendengar penuturan nya.
"Alah, WR nya juga sama aja,". jawabku menahan tangis.
Terdengar suara motor berhenti dan itu pasti WR. Simi masuk sambil ngoceh "Kemana, sih. Lu malah pulang duluan. Gue nyariin,". ocehan Simi terhenti ketika melihatku dengan wajah merah dan penuh air mata.
"Lu kenapa?" tanya nya padaku.
"Lu suka sama WR?" tanyaku to the point.
"Engga. WR tuh bukan .."
"Bukan, apa?" ku potong kata katanya sebelum dia berhasil menyelesaikan nya. "Bukan tipe lu, iya?"
__ADS_1
"Iya. kan lu tau tipe gue. Lagian juga gue udah punya pacar kali. "
"Ada apa sih ini sebenernya?" WR ikut berbicara setelah sebelum nya hanya diam saja.
"Kamu pilih aku atau Simi?" tanyaku sambil menatap tajam WR.
"Ya kamu lah. Kan, kamu pacar aku. Gimana, sih?"
"Terus ngapain deket deket mulu sama dia," ku paling kan wajahku ke arah simi.
"Ya. Lu salah faham. Ya," jawab Simi sambil berusaha menenangkan ku.
"Kalian berdua yang salah," jawabku dengan membentak.
"Udah ah. Udahan aja," jawab WR.
"Kamu mau putus sama aku?" tanya ku geram mendengar perkataannya.
"Enggak. Ini sandiwara nya udahan. Gak tega, aku liat kamu nangis kaya gitu,"
"Sandiwara, gimana? kalian ngomongin apa, sih?" tanyaku kebingungan. Tiba tiba saja Nina dan Simi tertawa saling bersautan.
"Gue mau jailin lu tadinya, kan bentar lagi li ulang tahun. Tapi lu nya keburu ngambek ah gak seru," terang Simi sambil tertawa.
"Nina, tau?" tanya ku.
"Tau dong. Makanya tadi gue panas panasin, elu," ucap Nina sambil tertawa.
"Jadi Simi gak suka sama WR?" tanya ku pada simi.
"Gak doyan gue sama cowo lu,"
__ADS_1