WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
36 - Keputusan Lomba


__ADS_3

Disebuah ruangan persegi panjang, yang bertuliskan Ruang Guru di pintu bagian depan. tampak beberapa orang tengah duduk melingkar. Masing masing dari mereka terdiam untuk beberapa saat, seolah tidak ada kata kata untuk di lontarkan dan hanya menunggu salah satu diantara mereka berucap. Kondisi yang hening, karena hari ini Murid murid TK diliburkan menambah keheningan rapat kali ini.


"Saya tetep pilih kamu, Tiya." Ucap Miss Mala kekeh pada pendirian nya seperti saat satu jam yang lalu rapat ini di mulai.


Bingung, apa yang bisa diperbuat oleh guru baru yang pengalaman mengajarnya saja belum lebih dari satu bulan.


"Saya gak bisa, Miss." jawabku yang kesekian kali nya. Bagaimana aku bisa mempunyai keberanian untuk menyetujui keputusan Miss Mala yang sangat tidak memungkinkan bagiku.


"Saya bisa kok, Miss. Saya aja." Miss Fatma tiba tiba saja bersuara dari kebungkamannya. Dia, seorang ibu rumah tangga yang hampir terpaut usia 10 tahun lebih tua dariku. Bukan hanya umur yang berbeda, pengalamannya pun jelas berbeda pula. Dia pernah menjadi guru di salah satu sekolah swata terbesar dikotaku selama 10 tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti dan pindah kesekolah ini. Entahlah apa alasannya.


"Nah iya. Miss Fatma aja, Miss." Ada rasa syukur terbesit dihati ku ketika mendengar keinginannya untuk menggantikan ku mengikuti lomba Guru Berprestasi Tinggkat TK yang rutin di adakan tiap tahun nya.


Sebagai sekolah TK yang dibilang baru, Miss Mala baru kali ini berniat mengirimkan salah seorang gurunya untuk mengikuti lomba tersebut. Dengan tujuan satu yaitu sebuah kemenangan yang akan mengharumkan nama TK nya.


"NO. Saya punya keyakinan kalo Tiya bisa menang di lomba ini. Tiya pasti mampu. Harusnya Tiya lebih yakin pada kemampuannya sendiri dibandingkan dengan keyakinan saya padanya." Ucapnya dengan netra yang menatapku dengan penuh keyakinan dan harapan.


Bravo, kataku. Bagaimana bisa Miss Mala memiliki keyakinan sebesar itu padaku, sampai dia menolak tawaran Miss Fatma yang jelas jelas jika dilihat dari segi pengalaman pasti akan lebih menguntungkan.


"Miss Fatma kan pengalamannya udah banyak Mis. Kemungkinan menangnya juga pasti lebih besar." Aku masih berusaha membujuk Miss Mala agar tidak menunjuk ku.


"Kalo Tiya berhasil menangin Lomba. Ini akan jadi salah satu pengalaman Tiya dalam dunia pendidikan. Pengalaman itu harus dicari. bukan cuma ngajar pulang." Miss Mala, susah sekali berdebat dengan nya.


"Udah Tiya, kamu pasti bisa." Simi menepuk pundakku seolah meyakinkan sesuatu yang aku sendiri tidak yakini.


Ditambah dukungan dari Nina dan Putri, akhirnya aku setuju untuk mengikuti lomba tersebut. Walaupun sepertinya ada raut wajah kekesalan yang terpancar disalah satu wajah guru yang berada disana. Ah, biarkan saja. Aku sudah berusaha untuk menukar posisiku dengan nya, tapi gagal.


"Yaudah. Kapan Mis lombanya?" tanyaku dengan sedikit lebih percaya diri.

__ADS_1


"Minggu depan Tes tulis, kalo lulus lanjut tes lisan. Tes lisan berhasil baru deh Micro Teaching."


Aku terdiam mendengar penuturan Miss Mala. Minggu depan yang artinya hanya ada 7 hari dari sekarang. Apa yang harus aku perbuat, apa yang harus terlebih dulu aku lakukan. Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang panjang.


"Saya yang ngurus berkas berkas dan perangkat pembelajaran lainnya. Kamu fokus aja belajar buat tes lisan. Pelajari tentang cara mendidik anak, cara mengajar, menghandle, penyampaian materi. Pelajari juga tentang keguruan. kode etik guru, norma norma guru, nilai nilai guru. Dan juga pelajari tentang sekolah TK kita, mulai dari alamat, tahun berdiri, no yayasan dan lainnya yang berkaitan dengan sekolah." Dengan sangat rinci Miss Mala menyebutkan semua materi yang tercatat rapi di agendanya.


7 hari, aku harus mampu memahami semua materi yang Miss Mala sebutkan. Mungkin kondisinya akan lebih mudah jika aku sedang dalam kondisi libur kuliah. atau paling tidak, bukan dengan waktu yang bersamaan dengan UTS (Ujian Tengah Semester) di kampus. Hal tersebut benar benar membuatku kehilangan fokus. Bingung harus memprioritaskan yang mana.


"Kok ngedadak sih Miss." tanyaku heran.


"Iya. Saya telat dapet info ini. karena sekolah kita baru jadi belum terlalu dikenal dan digandrungi. Makanya saya pilih kamu buat ikut lomba ini. Saya yakin kamu pasti bisa menang dan kamu bisa membawa nama baik buat sekolah ini."


Besar sekali Miss Mala menaruh harap pada seorang gadis pecicilan sepertiku. Aku khawatir akan mengecewakannya. Aku khawatir tidak bisa membawa kemenangan yang di impikan olehnya. Begitu banyak kekhawatiran ku yang berbanding lurus dengan begitu banyak keyakinan nya padaku.


"Simi," Miss Mala kini menatap Simi."Kamu saya kasih tugas buat nemenin Tiya. Tiya kan gak ada motor jadi nanti kamu yang nemenin dia ketempat lomba. atau kalo butuh beli apa apa buat persiapan Micro Teaching. Tenang, bensin kamu akan full. makan, minum nanti saya danai.


"Oke. Deal ya." Miss Mala seolah akan menutup rapat kali ini dengan keputusan yang sudah didapat.


Semua guru mengangguk tanda menyetujui keputusan tersebut.


Miss Mala pergi sesaat setelah rapat itu berakhir. Disusul dengan Miss Fatma yang pergi juga dengan tergesa meninggalkan ruang rapat tersebut.


"Kamu pasti bisa, Tiya." Putri menatapku sambil berlalu pergi.


Tinggal lah aku dengan Simi dan Nina berada diruangan tersebut.


Huwaaaa...

__ADS_1


Aku mencoba meluapkan kebingungan ku dengan menirukan suara tangisan. Namun hal tersebut malah membuat Simi dan Nina mentertawakan ku.


"Seneng lu ya. Liat temennya susah." Jawabku seolah memarahi mereka. Lagi lagi, mereka hanya tertawa. Menyebalkan.


"Udah ayo pulang aja." Pintaku sambil menaiki motor milik Simi dan diikuti oleh mereka.


***


Waktu masih menujukan pukul 10 ketika WR menemui ku dikosan. Aku memintanya untuk datang, karena aku ingin segera memberitahunya perihal lomba tersebut.


"ya bagus." jawabnya singkat mendengar penuturan ku panjang lebar.


"ih, kok gitu doang sih."


" Ya mungkin aja Miss Mala melihat sesuatu yang tidak kamu lihat."


"Setan, maksudnya?"


"Kemampuan,"


Kemapuan WR bilang. Kemampuan apa yang aku punya. Bahkan dalam lomba tersebut ada 3 buah tes yang harus aku lalui, berharap bisa lolos ditahap awal saja rasanya sudah membuatku ingin menangis. Terlalu tinggi rasanya membayangkan untuk sampai ditahap akhir. Mengingat akan banyak sekali guru guru yang menjadi rival ku nanti. Setiap sekolah pasti akan mengutus seorang guru terbaiknya untuk mengikuti lomba tersebut. Lalu kenapa aku yang harus mengikuti lomba tersebut.


"Belajar dari sekarang." Ucap WR.


Sebenarnya, bukan aku tidak ingin belajar. Hanya saja aku bingung harus memulainya dari mana. Begitu banyak materi yang harus aku pelajari.


"Aku gak bisa." rengek ku pada WR. Netra ku mulai buram. butiran butiran bening berjatuhan ketika aku mengedipkan mata. Entah kenapa rasanya aku takut sekali mengecewakan Miss Mala waktu itu.

__ADS_1


"Kamu bisa, Tiya. Aku percaya sama kamu. Bahkan, disaat kamu tidak mempercayai dirimu sendiri." Ucap WR menatapku dengan yakin.


__ADS_2