
Segera aku baringkan badan dengan semua kelelahan yang menjalar disetiap persendian. WR telah pergi sesaat setelah mengantarkan ku kekosan. Begitupun dengan mathew dan wanto yang dengan segera pulang juga.
Cukup lama aku berbaring hingga kini kamar mandi telah kosong setelah tadi dihuni oleh Simi dan dilanjutkan oleh Nina. Aku tidak mandi, hanya mencuci muka yang dirasa sudah penuh dengan debu, sikat gigi bekas jajanan dan minuman tadi, serta berganti pakaian dan bersiap untuk tidur.
"Ah, syeger..," Ku peluk boneka minion pemberian WR dan mulai meringkukukan badan.
"Lu harus nya bayar kosan dobel," Gerutu Simi yang berbaring disampingku.
"Kenapa sih?"
"Lah itu boneka lu dua gede-gede semua. Ngabisin tempat aja." Terang Simi.
Ah, boneka dari Arega. Harus aku apakan dia. "Buat lu aja tuh yang beruang kutub," Ucapku asal.
"Ogah, bekas." Timpal Simi sembari membalik badan dan terdiam untuk waktu yang lama, sepertinya dia sudah menyusul Nina kealam mimpi.
Rasa kantuk mulai tiba ketika aku mulai menempelkan kepalaku dibantal, sedikit demi sedikit mataku mulai tertutup hinga aku sudah tidak sadar lagi.
***
Adzan subuh menggema memecah keheningan pagi ini. Dengan sedikit memaksa, ku buka netraku yang masih nyaman tertutup dan mulai melangkah menuju kamar mandi. "Kalau sampe keduluan Simi bisa kesiangan gue," batinku dalam hati.
Tok - Tok - Tok
Suara pintu diketuk sesaat setelah aku memasuki kamar mandi. Bahkan untuk menyiram tubuhku saja belum sempat .
"Baru juga masuk," Ucapku dengan santai dan melanjutkan mandi.
"Buruan, ada panggilan." Nina tengah merengek dibalik pintu berwarna biru itu.
"Dari siapa?" Tanyaku heran.
"Alam," Ucap Nina singkat.
"Alam? Alam siapa? gue gak kenal."
"Ih, lu mandinya buruan. Gue ada panggilan alam." Ucap Nina sambil sesekali tangannya mengetuk pintu.
"Apaan sih, gak jelas."
__ADS_1
"Mules pea, gue mules." Jawab Nina.
"Oh. haha lagian lu mau bilang mules aja ribet banget."
"Yaudah buruan."
"Iya."
Ku selesaikan mandiku, berwudhu dan mulai keluar dari kamar mandi yang dengan cepat dimasuki oleh Nina. Tampak keringat sudah mengalir dikening Nina. Aku hanya tertawa melihat kelakuannya.
Dret - Dret - Dret
Ponsel milikku bergetar ketika aku tengah melaksanakan solat subuh. Tidak ada yang menjawabnya karena suara getaran hp saja tidak akan mampu membangunkan Simi dari mimpi manisnya.
Selepas salam, ku cari ponsel milikku dan membaca bahwa ada sebuah panggilan tak terjawab dari Miss Mala.
"Pagi- pagi begini. Ada apa. Apa masalah bu elly tempo lalu. Tapi, aku sudah menolaknya." Berbagai pertanyaan muncul dibenakku. Akhirnya aku memutuskan untuk menghubunginya kembali.
"Tiya," Suara Miss Mala mendahului salam ku ketika panggilan itu terjawab.
"Iya Miss ada apa?" Tanyaku heran.
"Nanti gak usah ke TK. kamu kerumah saya aja. Biar Simi yang handle kelas kamu." Jelas Miss Mala diseberang sana.
"Ada masalah. Nanti saya jelaskan."
Panggilan berakhir namun tidak dengan kecemasanku yang baru saja dimulai ketika Miss Mala berkata bahwa ada masalah. Masalah apa? apa ada hubungannya dengaku. Ya Tuhan, urusan dengan polisi saja aku belum kelar. Ditambah lagi urusan dengan Miss Mala.
Kembali ku tekan gawaiku, tapi kali ini sebuah kontak atas nama WR yang menjadi tujuanku. Beberapa kali panggilan dariku dilewatkan olehnya. "Aish, masih tidur kayanya." Umpatku lirih.
"Sim, " Ku goyangkan bahu Simi dan mulai mengajaknya bicara.
"Hmm," Hanya gumaman parau yang keluar dari bibir mungilnya.
"Bangun, udah siang."
"5 Menit lagi."
Lima menit kemudian ku paksa Simi bangun dari tidurnya karena aku bertindak sesuai dengan apa yang diucapkan olehnya. Kuceritakan apa yang Miss Mala katakan, "Alah, paling masalah Miss Fatma. atau kalau engga masalah kepsek." Jawab Simi sembari menggaruk rambutnya.
__ADS_1
Aku mencoba untuk tetap tenang dan berfikir positif dengan apa yang akan terjadi nanti. Sembari menunggu yang lain selesai. Aku mulai bersiap-siap untuk pergi mengajar, walaupun hari ini tujuanku adalah rumah Miss Mala.
***
"Makasih ya," Ucapku pada Simi dan Nina yang sudah mengantarkan ku hingga sampai tepat didepan gerbang rumah Miss Mala.
"Hati-hati ya. Kalau ada apa- apa hubungi geu." Ucap Simi sambil berlalu dan melambaikan tangannya berbarengan dengan Nina.
"Masuk aja. Gerbang gak dikunci." Sebuah pesan kuterima dari Miss Mala sebagai balasan dari pesanku sebelumnya yang berkata bahwa aku sudah tiba dirumahnya.
Kubuka gerbang tersebut dan mulai melangkah memasuki rumah megah ini lagi, ada rasa was- was bersemayam dalam diriku tapi aku mencoba untuk tetap tenang.
"Assalamulaikum Miss." Ucapku yang sudah berdiri didepan pintu. Miss Mala mempersilahkan ku masuk dan duduk diruang tamu.
"Gimana? Udah bilang sama Bu Elly?" Tanya Miss Mala yang sedang duduk dan tengah menyesap kopi miliknya.
"Udah Miss kemaren. Katanya dia Tiya sombong."
"Haha, biarin aja. " Miss Mala tertawa dan meletakan cangkir kopi miliknya hingga berdampingan dengan cangkir kopi milikku yang tadi dibawa bersamaan oleh Miss Mala.
"Cecilia, kamu tahu kan?" Raut wajah Miss Mala mulai berubah menjadi serius. Tawa yang tadi menggema kini pergi entah kemana.
"Cecilia anak kelas kita, Miss?" Aku mencoba untuk memperkuat dugaanku terhadap siswa yang berdama cecilia itu.
"Iya,"
Miss Mala bercerita bahwa malam tadi, orang tua dari siswa yang bernama Cecilia menelponnya. Awalnya dia memprotes Miss Mala dengan cara mengajarku dan meminta agar aku dipecat saja. Tapi Miss Mala pempertahankanku dan mencoba bertanya lebih jauh apa alasan dari ketidaksukaannya kepadaku.
Ibu dari Cecelia bilang bahwa pipinya dicubit oleh putri semata wayangnya itu. dan ketika ditanya siapa yang mengajarinya, cecilia menjawab "Miss Tiya." Orang tua Cecilia memprotes tindakanku yang tidak seharusnya mengajarkan anak sekecil itu untuk mencubit.
"Tapi saya gak pernah nyubit dia Miss. Jangankan dia, yang lebih aktif dari dia saja tidak pernah saya cubit," Aku mencoba menjelaskan semuanya pada Miss Mala walau aku tau sepertinya Miss Mala masih mempercayaiku.
Miss Mala bilang dia sudah meyakinkan orang tua Cecilia bahwa guru-gurunya tidak mungkin melakukan tindakan seperti itu. Bisa saja itu hanya salah paham kata Miss Mala pada orang tua Cecilia. Namun mereka berdalih bahwa "Anak sekecil ini gak mungkin bohong, Miss."
"Terus gimana?" Tanyaku ragu.
"Mereka tetap minta kamu dikeluarkan. atau kalau tidak..." Miss Mala menghentikan ucapannya dan menarik nafas dalam.
"Kalau tidak apa Miss?" Tanyaku denga gusar. Beberapa jeda detik yang diberikan Miss Mala benar benar membuatku tidak karuan.
__ADS_1
"Kalau tidak mereka akan laporkan kamu ke polisi atas tindakan kekerasan terhadap siswa."
What? Polisi lagi? Astaga, kenapa akhir akhir ini cobaan datang silih berganti.