
CEKLKEK
Kubuka pintu kosan dengan menggunakan kunci yang tadi pagi sengaja kusimpan diatas pintu. Disini aman, jadi aku tidak perlu khawatir akan kemalingan. Biasanya siang hari WR akan datang untuk mengambil baju gantinya. Sedangkan jadwal pulangku yang tidak menentu akhirnya membuatku memutuskan untuk menyimpan kunci tersebut diatas pintu, agar jika WR hendak mengambil baju, dia tidak perlu menungguku.
Kuletakan sebuah tas berwarna peach yang sejak tadi bergantung dipundakku. Ku keluarkan ponsel dari dalam tas dan mulai mencharge-nya. "Benar benar mati total," aku bergumam melihat handphone yang biasanya menunjukan fotoku dibagian depan kini hanya menampilkan layar berwarna hitam.
Ku biarkan hp tersebut dan mulai menuju kamar mandi dengan handuk yang aku raih didinding tadi.
"Jangan lama-lama," Ucap Simi sesaat sebelum kakiku melangkah masuk kedalam kamar mandi.
"Bodo," Jawabku asal.
Kupakai penutup kepala agar rambutku tidak kebasahan lagi. aku tidak mau membuat kesalahan untuk yang kedua kalinua karena air hujan tempo lalu saja sudah cukup membuat rambutku sedikit keriting dibagian pangkalnya. beberapa menit kemudian setelah mandiku selesai, aku melenggar keluar..
"Simii...," Aku berteriak melihat Simi yang saat itu tengah tertidur diatas boneka minion pemberian WR. "Minggir lu," Tambahku sembari menarik tubuh Simi agar menjauh dari boneka tersebut.
"Lebay banget lu," Ucap Simi sembari beranjak dari tidurnya.
"Buruan mandi sono," Titahku.
Setelah berpakaian, aku mencoba untuk menghidupkan kembali hp ku. Ada beberapa pesan yang baru saja masuk ke hp ku. Segera ku cari sebuah kartu nama yang tadi sempat bu Elly beri, mengetik nomer yang tertera dan mulai mengubungi nya.
Nut - Nut - Nut
Suara hp berbunyi beberapa kali tapi belum juga ada yang menerimanya. Ku tutup panggilan tersebut dan mulai mencari dua buah amplop yang tadi aku terima dari Miss Mala. Aplop pertama bertuliskan "Honor Guru," Ada beberapa lembar uang berwarna merah didalamnya. Sepertinya mulai sekarang aku sudah mampu mebayar sewa kos ku sendiri tanpa harus meminta kepada Kakek dan nenekku lagi. Ku hitung uang tersebut dengan sumringah, tersisa satu buah amplop lagi yang bertuliskan "Bonus," Amplop tersebut masih berisi uang seratus ribuan beberapa lembar dengan jumlah yang hampir sama banyaknya dengan gaji yang aku terima. Ku satukan uang tersebut dan menyimpannya didompet.
Dret - dret
Hape ku bergetar, sebuah panggilan masuk dari nomer yang tadi sempat aku telepon.
"Hallo, Assalamualaikum." Ucapku setelah menekan tombol berwarna hijau.
"Waalaikumsalam. Tiya, ya? Gimana keputusannya? Mau kan ngajar disekolah saya." Tanya bu Elly dengan keyakinan bahwa aku akan lebih memilihnya.
"Maaf bu. Saya gak bisa keluar dari TK pelangi." Jawabku dengan lembut.
"Kenapa?" Tanyanya lagi.
Ku jelaskan semua alasanku menolak tawarannya, karena ini bukan melulu soal uang tapi juga kesetiaan.
"Sombong," Ucap bu Elly dengan kasar dan langsung menutup telponnya.
"Astagfirallah," Bisiku lirih.
__ADS_1
"Kenapa lu?" Simi tiba-tiba saja sudah berada dibelakangku dan bertanya.
"Tumben mandi lu cepet?"
"Iya, lupa. gue belum ngitung gaji." Ucap Simi dengan cengengesan dan langsung mengambil dua buah amplop di tasnya.
Dikeluarkannya uang dari kedua amplop tersebut dan mulai menghitungnya lembar demi lembar. Simi terlihat sumringah sama sepertiku, senyumnya tidak henti-henti mengembang di wajahnya yang tirus itu.
"Jalan-jalan, kuy." Ajak Simi sembari mengipas ngipaskan uang tersebut kewajahnya.
"Gasss. Gue sms WR dulu." Jawabku dengan antusias.
"Jalan jalan ah. Gaji perdana nih." Sebuah pesan terkirim kepada WR.
"Wedew. kemana?" Balasnya.
"Kesini aja dulu nanti abis isya."
"Okey."
Simi mengkonfirmasi bahwa Mathew dan Nina setuju untuk pergi jalan-jalan malam ini. Tinggal menunggu isya yang hanya beberapa jam lagi. Menjelang magrib, Nina kembali dengan diantar oleh Wanto. "kebetulan," Ucap Nina.
"Ya, terserahlah." Jawabku.
***
"Kemana nih?" Tanya WR memastikan sesaat sebelum kita semua hendak pergi.
"Wedangan aja, gimana?" Saran dari Mathew yang disetujui oleh semua orang.
Aku berboncengan dengan WR. Nina dengan Wanto dan Simi dengan Mathew. Waktu masih menunjukan pukul 8 malam ketika aku pergi meninggalkan kosan. Udara dingin mulai terasa dipekatnya langit yang mulai menghitam. Aku berada diurutan paling belakang dengan dipimpin oleh mathew. Karena dia bilang, dia tau lokasi wedangan yang tempatnya nyaman dan mengasikan.
Walupun ini bukan malam minggu tapi karena ini pusat kota dengan 3 buah Mall besar yang berada saling berdekatan membuat lalu lintas disini cukup ramai. Belum lagi sepanjang jalur menuju kampus yang banyak diisi oleh pedagang pedagang pinggir jalan yang membuat suasan semakin ramai.
Setelah menghabiskan beberapa menit perjalanan, aku mulai memasuki kawasan ruko-ruko dengan sebuah gerobak yang berada dipinggir jalan. Ada banyak sekali tikar yang digelar disekitarnya. Dan juga ada banyak muda-mudi berpasang-pasangan.
Setelah memarkir motor. Aku berjalan mengekori Matwew yang saat itu langsung menghampiri penjualnya.
"Wah, udah lama lu gak kesini." Ucap penjual tersebut. Sepertinya Mathew kenal pada pemilik kedai angkringan tersebut jika dilihat dari cara mereka bertegur sapa.
"Nih, Yank." Tiga buah daftar menu diberikan kepada Simi oleh Mathew. Dia meminta Simi dan yang lain untuk memilih tempat duduk agar bisa dengan santai memilih menu.
Sebuah tikar berukuran cukup luas yang terletak dibagian paling belakang menjadi pilihan kami.
__ADS_1
Mathew datang dengan membawa kertas dan pulpen seperti seorang pelayan yang hendak mencatat pesanan.
"Mau apa yank?" Tanyaku pada WR.
"Nasi kucing."
"Yeh serius."
"Lah, serius itu juga." Ku raih daftar menu tersebut dan benar aku menemukan menu dengan tulisan nasi kucing. Ah, aku fikir WR hanya bergurau. Ini kali pertama aku datang ke angkringan seperti ini. Biasanya aku hanya lewat tanpa berfikir untuk berhenti.
"Apa lagi?" Tanyaku yang sudah mencatat pesanan WR.
"Wedang Jahe."
"Oke."
"Kamu pesen apa?" Kini WR yang berbalik menanyaiku.
"Aku mau, sate usus, baso bakar, pisang bakar keju, roti bakar sama wedang jahe susu."
"Serius? Gak kebanyakan?" Tanya WR yang seolah tidak percaya.
"Ya kan buat bareng bareng juga sekalian."
"Yaudah."
Setelah semua menulis pesanannya masing-masing. Mathew membawa catatan tersebut kepada si empunya warung.
Selang beberapa menit jajanan yang kami pesan mulai berdatangan. Satu demi satu hingga sudah datang semua.
Kami mulai berbincang dan membicarakan banyak hal sambil menikmati makanan yang telah dihidangkan. Tidak jarang gelak tawa terdengar saling bersahutan ketika salah satu diantra kita ada yang bercerita tentang kejadian lucu yang pernah dialaminya.
"Eh, Ini Tiya yang bayar kan?" Ucap Simi ditengah tengah perbincangan.
"Sembarangan." Umpatku. "Gue bayarin punya WR doang."
"Kan lu juara, udah gitu mau diangkat jadi kepsek. Harus dirayain lah." Tambah Simi dengan tertawa.
"Kamu mau jadi kepsek?" Tanya WR.
"Nanti aku ceritain."
"Heh, Gimana? Mau bayar gak lu?" Tanya Simi lagi.
__ADS_1
"Iya, iya. Gue yang bayar. Sok lu mau pesen apa lagi. jarang jarang gue baik hati."
"Horeee...," Terdengar teriakan yang dibarengi dengan tepuk tangan.