
Seorang pelayan tiba dengan membawa sebuah nampan yang berisikan makanan- makanan yang tadi telah kami pesan.
"Silahkan," Ucap pelayan tersebut sembari meletakan beberapa piring keatas meja.
Satu persatu makanan dan minuman yang dipesan telah tiba dan terbaris rapi diatas meja.
"Baca doa dulu biar berkah," Raka bersuara ketika Simi sudah hendak menyuap makanannya.
"Yaudah gue yang mimpin." Ucap Simi yang kembali meletakan sendoknya dan mulai mengangkat kedua tangan seraya mengucapkan doa mau makan.
"Aamiin." Jawab kami berbarengan diiringi dengan usapan kedua telapak tangan pada wajah.
Simi, Nina dan Raka menyantap makanan yang ada dihadapannya dengan sangat lahap. Berbeda dengan ku dan Arega yang sepertinya hilang selera. Sebenarnya aku canggung harus berdekatan lagi dengannya disini, walaupun aku tidak hanya berdua dengan nya tetap saja rasa tidak nyaman selalu ada. Belum lagi wajah WR yang entah kenapa selalu terlintas dalam benakku benar benar membuat aku merasa bersalah.
"Buruan makan. Ntar lu pingsan lagi. Gue yang di ceramahin si WR." Titah Simi yang menyadari aktivitas mengunyahku sangat lambat sekali.
"Kayanya WR sayang banget sama kamu ya?" Tanya Arega setelah beberapa saat yang lalu bungkam.
"Gimana?" Aku mencoba untuk menelisik lagi lebih dalam maksud dari pertanyaannya barusan. Arega kembali mengulangi pertanyaan yang sama untuk kedua kali nya hingga membuat garis lengkungan yang tidak simetris di wajahku tanpa menjawab pertanyaannya.
"Gak tau tuh si Tiya pake pelet apa sampe si WR bisa sebegitu sayangnya sama dia." Nina menyeletuk disela sela kegiatan mengunyahnya hingga membuat Raka tersendak mendengar penuturan Nina.
"Heh, gue gak maen begituan ya." Jawabku menatap Nina tajam.
"Kalo Arega dipelet gak?" Tanya Raka yang tiba-tiba ikut bergabung dalam percakapanku dengan Nina.
"Apaan si lu." Arega menatap Raka dan berbicara dengan jengah kepada teman yang sedang duduk disampingnya.
"Haha Sorry." Jawab Raka.
__ADS_1
"Emang Arega belum punya pacar lagi? Gak mungkin ah cowo cakep gak punya pacar." Tanya Simi seolah penyidik yang sedang menggali informasi.
Ku tarik nafasku dengan gusar dan mulai mengangkat kedua alisku keatas. Jengah, aku ingin segera keluar dari perbincangan ini.
"Ada si Lisa. Dari awal Arega masuk kerja tuh cewe udah nanyain mulu Arega sama gue. Apalagi pas gue temenan deket sama Arega langsung deh tuh cewe minta dicomblangin." Raka menjelaskan semuanya sembari sesekali melirik Arega yang terlihat pasrah.
"Terus?" Tanya Nina dan Simi dengan antusias.
Sebenarnya aku sudah tidak perduli dengan siapa Arega berpacaran saat ini, namun karena keadaan yang membuat aku duduk disini jadi mau tidak mau aku harus mendengarkan apa yang tengah mereka obrolkan.
"Ya ditolak lah. Kan masih jadian sama Tiya dulu. iya kan, Ar.?" Raka menatap Arega seolah meminta persetujuan dari ucapannya. Arega tidak menjawab hanya sebuah anggukan kecil yang dia berikan sebagai pengganti jawaban yang Raka harapkan.
"Katanya jadian?" Simi menelisik lebih dalam lagi informasi tentang Lisa, sang gadis yang menyukai Arega.
"Iya. Pas putus sama Tiya kan si Lisa langsung girang tuh mulai lah ngedeketin Arega. satu bulan kemudian baru deh diterima si Lisa." Jelas Raka.
"Iya haha." Jawab Raka sembari tertawa hingga membuatnya tersendak dan batuk berulang ulang.
"Makanya, kalau makan tuh ya makan. Jangan banyak bicara. Gak baik." Ucapku dengan expresi datar.
"Tapi gue belum kelar cerita." Raka membantah ucapanku dan berniat untuk melanjutkan ceritanya. Aku tidak suka laki laki yang banyak bicara seperti dia, menyebalkan.
"Terusin terusin," Pinta Simi sembari menggoyang goyangkan lengan Raka yang berada dihadapannya.
Raka melanjutkan ceritanya, dia berkata bahwa Arega sempat memiliki kekasih walaupun Raka sendiri tidak tau apa Arega benar benar menyukai gadis tersebut atau hanya menjadikannya sebagai pelampiasan saja. Yang jelas belum genap dua bulan menjalin hubungan, kisah cinta Arega dan Lisa harus berhenti di tengah jalan. Alasannya karena Lisa sudah muak dengan sikap Arega yang selalu membandingkannya dengan Tiya. Belum lagi Arega yang kadang salah menyebut nama yang harusnya Lisa menjadi Tiya.
"Tiya, Tiya, Tiya terus .." Ocehan Lisa dulu pada Raka ketika ditanya mengapa putus dengan Arega.
Lisa bilang susah untuk mengisi hati seseorang yang sudah berpenghuni. untuk itu Lisa menyerah dan lebih memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Arega. begitu yang Raka tuturkan.
__ADS_1
Benarkah? Sebegitu nya kah dia mengingat diriku? Bahkan beberapa bulan berlalu setelah memutuskan hubunganku dengannya, aku malah menjalani kehidupanku yang bahagia bersama WR. Tapi kenapa dia tidak bisa bahagia bersama wanita lain? kenapa?
Penuturan Raka benar benar membuat beribu pertanyaan terangkai diotakku. Apa sebenarnya yang Arega mau? Kenapa dia tidak mencoba moveon dari ku. Ayolah, apa aku seistimewa itu sehingga Arega sampai belum bisa melupakanku.
Aku menatap Arega dan ternyata diapun tengah menatapku. manik mata kami sempat beradu tapi dengan segera ku alihkan padanganku kearah lain, aku tidak ingin sampai Arega salah mengartikan maksud dari tatapanku.
"Arega sering cerita Tiya sama gue. Makanya gue penasaran kaya gimana sih Tiya. Walaupun gue sempat liat foto Tiya yang masih Arega simpen di handphone nya tapi tetep aja kan kurang afdol kalau gak ketemu langsung sama orangnya." Raka kembali melanjutkan bicaranya.
Foto- fotoku? Arega belum menghapusnya. Ah. yang benar saja. Bahkan galeri ponselku sudah bersih dari semua foto tentangnya. Hingga Nomer ponselnya saja aku sudah tidak punya. Atau jangan jangan, dia masih menyimpan nomer handphone ku? Karena memang aku belum pernah mengganti kartu walau setelah putus dengannya.
"Kamu masih nyimpen nomer aku?" Sebuah pertanyaan terlontar dari mulutku yang ditujukan untuk Arega.
"Ada," Jawab Arega pelan.
"Buat apa?"
"Ya gak apa-apa. di simpen aja." Jawabnya lagi.
"Lu masih nyimpen nomer si Tiya terus kenapa gak pernah ngehubungin atau nanya kabar gitu?" Rasa kekepoan Simi kembali mencuat hingga akhirnya dia mengajukan pertanyaan tersebut pada Arega.
"Buat apa ngehubungin pacar orang." Arega menjawab pertanyaan Simi dengan tenang.
Apa maksudnya. Jika dia tidak berniat menghungiku lalu untuk apa dia masih menyimpan nomer teleponku. Pertanyaan yang terbesit dalam otakku terucap melalui bibir Nina yang seolah memiliki pemikiran yang sama.
"Aku nunggu Tiya ngehubungin duluan." jawab Arega.
"Aku? ngebuhungin kamu? buat apa?" Kali ini aku yang bertanya karena aku sudah mulai bingung dengan apa yang ingin Arega maksudkan sebenarnya.
"Ya siapa tahu WR gak sebaik yang kamu kira dan kamu menyesal sudah milih dia. Terus kamu ngehubungin aku ngajak balikan." Arega menatapku dengan dalam.
__ADS_1