
"Tiya, bangun. Ya," samar-samar aku mendengar suara yang sepertinya sudah aku kenal.
"Tiya, ayo. Nanti kesiangan," ucap nya lagi dibarengi dengan goncangan di tubuhku akibat kelakuan nya. Aku mendengar suara nya dan aku merasakan ketika tangannya mengoyang goyang kan bahu ku. Tapi rasanya mata ku sulit sekali untuk terbuka.
"Tinggalin aja, Nin. Si Tiya gak usah di ajak ngajar." Ucap Simi, yang seketika itu juga, membuat mata ku terbelalak. Ku arahkan pandangan ku ke dinding, waktu menunjukan pukul 7.00 am. 30 menit lagi aku harus sudah ada disekolah.
" Huh, Ini semua gara gara WR yang mengajak ku untuk menemani nya bergadang melalui voice call. Akhirnya aku jadi ngantuk begini, kan."
Aku mengingat kejadian semalam ketika WR terus menerus menelpon dengan alasan dia tidak bisa tidur jadi aku harus menemani nya.
Aku segera berdiri dan bersiap untuk mandi. Nina dan Simi tengah sibuk bermakeup.
"Tungguin, gue. Mandi bentar." ucapku sambil menuju kamar mandi yang baru sebentar aku masuki dan sudah keluar lagi.
"Lu mandi cepet banget," komplen Simi.
"Ah, takut kesiangan. Lu gak bangunin gue, sih," balasku sambil tergesa gesa mengenakan baju.
"Seenak nya lu ngomong, ya. Mulut gue sampe bebusah bangunin lu. iya gak, Nin," jawab Simi sambil menengok ke arah Nina meminta bantuan.
"Udah. Ayo," ucap ku dengan menenteng sebuah tas.
"Gak makeup dulu?" tanya Simi.
"gak usah. Gue udah cakep dari lahir." jawabku dengan segera berlalu ke arah motor.
Syukur lah, perjalanan pagi ini berjalan lancar. Walaupun, sedikit macet di perlintasan kereta api. Tapi, yang terpenting aku tidak telat untuk datang ke sekolah di hari pertama ini.
Tiba disekolah, aku dan dua orang kawan ku yang lain sudah di sambut oleh Putri yang telah datang lebih dulu.
"Ayo," ucap Putri dengan senyum. Dia mengajak kami, kesebuah ruangan bertuliskan "Kantor".
Sudah ada 2 orang wanita yang tengah duduk disana. Ada Mis Mala dan satu orang wanita yang belum ku ketahui namanya.
"Itu, Miss Fatin," ucap Putri sambil menepuk punggung ku dari belakang. Aku tersenyum ke arah nya dan langsung duduk setelah dipersilahkan.
Sekolah yang aku tempati ini terbilang baru. Makanya, kapasitas nya masih dibatasi. Jadi, hanya ada tiga ruang kelas disana. Miss Mala, memilihku untuk menjadi Parter mengajarnya.
__ADS_1
Sementara, Simi akan mengajar dengan Putri di satu kelas yang sama. Nina tidak ada pilihan lain, dia berparter dengan Miss Fatin. Yang kalo aku liat dari raut wajahnya. Seperti orang yang cuek dan menyebalkan. Maaf, aku hanya menduga duga saja.
Hari pertama mengajar. Semuanya terasa sangat berbeda. Disebuah ruang kelas yang baru kali ini ku masuki. Telah ada 15 orang murid yang sudah siap menyambut guru barunya. Ruang kelas yang aku tempati ini di isi dengan berbagai macam hiasan dinding, layaknya sekolah TK pada umum nya. Selain itu, juga terdapat TV berukuran besar, sound system dan juga AC untuk menambah kenyamanan belajar mengajar.
Untung, aku berkesempatan mengajar bersama dengan Miss Mala. Kemampuan mengajar nya, penyampaian materi nya, sangat sangat luar biasa bagi ku. Aku belajar banyak hal dari nya. Tidak hanya itu, aku pun belajar bagaimana cara mengapresiasi anak, mengelola emosi anak, berbicara dengan anak, dll.
"Pokonya, Guru itu istri dan menantu idaman deh." gumam ku dalam hati bermaksud menyenangkan diri sendiri.
Miss Mala bilang. Bahwa, dia pasti akan sibuk kesana kamari. Jadi, dia memilihku untuk menghandle kelas ini seorang diri. "Saya percaya kamu bisa, Tiya". Ucapnya dengan percaya diri. "Hebat," kata ku. Bagaimana bisa Miss Mala percaya pada ku. Disaat, aku sendiri tidak percaya pada diri ku sendiri. Entahlah,
Pukul 11.00 pembelajaran telah usai. setelah semua siswa dijemput oleh orang tau nya masing masing. Tinggal lah kini kami, para guru yang bersiap pulang.
Panas sekali cuaca hari ini, hingga kami berebut untuk tidak mau mengendarai sepeda motor milik Simi. Dengan terpaksa akhirnya Nina mengalah. Diantara kami bertiga hanya Nina yang malas ribut. Jadi, biasanya dia akan Oke Oke saja.
***
Langsung ku rebahkan badan ku, setiba nya di kosan. Waktu sudah menunjukan pukul 11.30. Masih ada waktu 1 jam lagi sebelum perkuliahan di mulai.
Ku ambil hp ku dan mulai mengirimkan pesan pada WR.
"Cape banget,"
"Udah pulang?"
"Iya,"
"Aku kesitu, ya," balasnya menunggu ijin dari ku.
"Mau ngapain? nanti aja dikampus."
"huft. yaudah."
Setelah menyelesaikan makan siang yang tadi sempat kami beli dijalan. Kami pun melaksanan Solat djuhur secara bergantian. Karena, ruangan ini tidak cukup luas jika digunakan solat secara bersama sama.
Pergi lah kami menuju kampus dengan rasa lelah yang masih menjalar. Tidak terbayang rasanya aku akan terus seperti itu setiap hari nya. hmm.
"Bang WR, noh." Nina menunjuk seorang laki laki yang berdiri didepan kelas ku.
__ADS_1
Aku berlari menghampiri nya.
"WR," kata ku dengan agak keras seakan akan berharap dia terkejut dengan kemunculan ku. Padahal dia sudah melihat kedatangan ku.
"Mau ngapain?" tanya ku.
"gak apa apa. Gimana tadi, hari pertama mengajar,"
"Ya gitulah. menyenangkan." Ucapku.
Aku dan dia mengobrolkan banyak hal hingga Dosen mata kuliah ku datang barulah dia kembali ke kelasnya.
***
"Nanti pulang bareng. aku tunggu di kantin." Sebuah pesan atas nama WR telah masuk ke hp ku.
"Ok," balasku dengan emoticon senyum.
Sepulang kuliah, aku langsung menemui nya di kantin. Dia tersenyum. Ketika tahu, aku sedang dalam perjalanan ke arah nya. Ada sebuah Es teh manis di hadapan nya, tanpa makanan. Aku duduk dan langsung meminum es yang berada di hadapan nya.
"Eh, jangan di minum." ucap WR ketika aku menarik gelas yang ada didepannya.
"kenapa, sih?" tanya ku heran.
"Bekas orang, dih"
"Yey, parah. Kenapa disimpen disitu." aku berusaha membuang sisa sisa minuman yang tadi sudah sempat aku sedot.
"Ngapain?" Tanya WR sambil tertawa melihat tingkah laku ku.
"Geli, yekk." jawabku dengan raut muka menjijikan.
"Kalo bekas aku, emang gak geli?"
"Engga lah. kan kamu pacar ku," jawabku dengan mengangkat kedua alis ku.
"Emang pacar kamu bukan orang?"
__ADS_1
"maksud kamu?" Dia tertawa melihat ku.
Ah sudahlah. sepertinya aku tau maksud dari kata kata nya. Dia hanya mempermainkan ku saja. Awas kau ya..