WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
75 - Berkunjung kerumah Dosen


__ADS_3

WR dengan segera menuntunku hingga keparkiran dan keluar dari kawasan gedung tersebut untuk mencari makanan.


"Mau makan soto yank." Ucapku pada WR ditengah perjalanan.


"Dimana ada soto? Itu aja yang ada, bubur atau ketoprak gitu?" WR mencoba membujukku.


"Gak mau. Mau soto." Jawabku kekeh.


"Yaudah iya."


WR terus melajukan motornya dengan pandangan mengeliling mencari orang yang berjualan soto.


"Nah itu, mau?" Tanya WR menujuk sebuah ruko dengan gerobak soto didepannya.


"Iya."


WR memarjkr motornya dan dengan segera aku memesan 2 mangkuk soto. Setelah itu langsung memilih tempat duduk. Beberapa menit menunggu, soto pesanan ku tiba dan dengan bismillah ku awali sarapan pagi yang menjelang siang ini.


"Udah gak pusing?" Tanya WR.


"Udah,"


"Abis ini mau kemana?" Tanya WR disela sela makannya.


"Kemana ya?" Kulirik jam di dinding masih menujukan pukul 10 pagi. Jika pulang kekosanpun pasti Nina dan Simi belum kembali. Sedangkan perkuliahan masih dimulai tiga jam lagi.


"Mau ikut aku gak?" Tanya WR memecah lamunanku.


"Mau," jawabku dengan antusias.


"Mau apa?" WR balik bertanya.


"Mau ikut kamu?" Jawabku.


"Kemana?" Tanyanya lagi.


"Ih apasih ah gak jelas." Keluh ku kesal.


"Ya lagian ditanya mau ikut gak langsung jawab mau aja. Gak nanya dulu mau kemana atau mau ngapain,"


"Haha, aku sih ikut aja asal sama kamu."


Satu mangkuk soto telah aku habiskan begitupun dengan WR. Setelah menyelesaikan pembayaran WR mengajakku untuk ikut menemaninya tapi aku belum tau mau kemana.


Ketika tengah asyik menikmati perjalanan, tiba tiba saja motor WR berhenti di depan sebuah toko kue.


"Kamu mau beli kue ulang tahun kamu sendiri?" Tanyaku heran ketika melihatnya berhenti ditempat tersebut


"Emang aku ulang tahun ya?" Tanya WR balik.


"Hari minggu kamu ulang tahun, kan?


"Gak tau, lupa."


"Yey, dasar."


Aku berjalan berdampingan dengan WR memasuki toko kue tersebut. Ada banyak sekali macam macam kue dari yang basah hingga kering. Dari yang polos hingga beraneka macam bentuk. Dari yang berhiasan anak anak hingga bunga-bunga.


"Pilih." Titah WR.


"Dih. Aku masih keyang yank." Bantahku menolak titahnya.


"Bukan buat kamu."


"Serius? Terus buat siapa dong. Buat cewek lain ya. Kamu selingkuh iya. Gitu. Udah ah aku mau balik aja." Aku mencercanya dengan berbagai macam tuduhan dan hendak keluar meninggalkannya.

__ADS_1


"Apaan sih." Ucap WR sembari memegangi tanganku agar tidak meninggalkannya.


WR menjelaskan tujuannya membeli kue memang untuk seorang wanita. Tapi, wanita tersebut bukanlah selingkuhan melainkan dosennya dikampus. Waktu UTS kemarin WR mendapatkan nilai rendah untuk mata kuliahnya karena lupa mengumpulkan beberapa tugas. Sehingga nilai yang WR dapat dibawah rata rata. Untung saja Nilai mata kuliah yang lainnya besar jadi meskipun satu nilai mata kuliahnya kecil tapi tidak terlalu mempengaruhi IPK.


"Kamu mau nyogok?" Tanyaku mendengar penjelasannya.


"Engga."


"Terus?"


"Aku mau ambil tugas dirumahnya sebagai tanda perbaikan nilai. Masa dateng gak bawa apa-apa." Terang WR.


"Oh.. yaudah."


Aku mulai memilih satu kotak kue kering dan juga kue basah. Semuanya WR serahkan padaku, dia bilang dia tidak tau banyak selera wanita. Makanya dia memintaku untuk memilihkannya.


"Kamu kalau mau ambil aja." Ucap WR.


"Mau kue ulang tahun, ah."


"Yaudah ambil."


"Gak sekarang. Nanti aja pas kamu ulang tahun"


"Masa aku yang ulang tahun terus aku yang bawa kue sendiri. Gimana sih."


"Haha iya gak apa-apa."


"Yaudah."


"Itu tuh yang itu ya." Aku menujuk satu kue ulang tahun dengan topping aneka buah.


"Iya kalau masih ada."


"Assalamualaikum." Ucap WR sembari mengetuk gerbang yang menutupi rumah tersebut.


"Waalaikumsalam." Terdengar suara wanita menyahut dan membukakan gerbang.


"Ibu Widya ada?" Tanya WR. "Saya mahasiswa nya. Ingin bertamu." Tambahnya lagi.


Widya? Sepertinya aku mengenal nama itu. Salah satu dosenku pun ada yang memiliki nama tersebut. Atau jangan jangan dosen yang WR maksudkan memang dosen yang sama seperti yang aku fikirkan.


"Silahkan masuk." Ucap wanita paruh baya sehingga membuat lamunanku tentang dosen bernama Widya buyar.


Aku mulai memasuki kawasan rumah tersebut dan duduk dikursi yang terletak dibagiab depan rumah. Belum sempat aku bertanya pada WR perihal mata kuliah apa yang bu Widya ajar, tiba tiba saja aku dikagetkan dengan suara seseorang.


"Tiya, ngapain disini."


Aku menengadah kearah sumber suara tersebut. Dan ternyata benar seperti dugaanku. Miss Widya lah yang WR maksud.


"Loh, Miss. Kok ada disini." Ucapku kaget melihat kehadirannya.


"Lah ini rumah saya. Kamu ngapain kesini.?" Tanya Miss Widya.


Miss Widya merupakan salah satu guru bahasa inggrisku. Presentasi ku semester lalu telah membuatnya kagum terhadapku. semenjak itu lah aku mulai dekat dengan dosen tersebut.


"Ini Miss. Nganter WR." Jawabku.


"Dia siapa,?" Tanya Miss Widya yang sepertinya tidak mengenali WR. Aku rasa wajar, karena mahasiswa yang menjadi muridnya begitu banyak dan mungkin saja bukan cuma WR yang mendapatkan nilai dibawah rata rata.


"Saya WR, bu. Dari Program study Matematika. Yang nilai bahasa inggrisnya kurang. Kata ketua kelas suruh dateng ambil tugas kerumah ibu." WR menjelaskan maksud dan tujuannya menyambangi rumah Miss Widya.


"Kamu pacar nya Tiya?" Tanya Miss Widya.


"Iya, bu." Jawab WR.

__ADS_1


"Haduh. Tiya Tiya. Diajarin dong pacarnya. Masa Tiya bisa dapet nilai tertinggi dikelas untuk mata pelajaran saya tapi WR malah dapet nilai terendah untuk pelajaran saya." Ucap Miss Widya dengan tertawa ringan.


Aku tau Miss Widya, dia memang lebih suka mengeluarkan apa yang dia fikirikan. Itu sebabnya, aku tidak sakit hati karena aku tau apa yang dia ucapkan tidak dari hati.


"Iya Miss. Nanti saya ajarin." Ucapku dengan yakin.


"Hmm. Kalau saya kasih tugas nya ke WR sekarang. Nanti Tiya, lagi yang ngisi." Ucap Miss Widya seolah berfikir.


"Suruh isi disini aja, Miss." Saranku pada Miss Widya.


"Nah oke. Saya ambil dulu tugasnya." Miss Widya melenggang masuk kedalam.


"Apaan sih. Aku kan belum belajar." Desis WR pelan. Aku hanya tertawa melihat tingkah lakunya.


"Tenang. Miss Widya kan CS aku." Jawabku berbisik


Miss Widya kembali dengan dua lembar kertas yang berisikan satu lembar soal dan satu lembar jawaban.


WR mulai mengisi soal soal yang Miss Widya suguhkan. Jari jari WR mulai menulis apa yang dia rasa sebagai jawaban dari pertanyaan.


Miss Widya menemaniku mengobrol sembari menunggu WR menyelesaikan tugasnya. Sesekali WR meluruskan punggungnya dan kembali mengisi soal tersebut.


"Udah, bu." Ucap WR sembari memberikan selembar kertas yang tadi kosong kini telah penuh dengan coretan tangannya.


"Coba kasih Tiya." Titah Miss Widya.


WR memberikan kertas itu padaku dan mulai menelitinya.


"Gimana? Bener gak kerjaan cowok kamu?" Tanya Miss Widya padaku.


"Ada beberapa jawaban yang kurang tepat. Penulisannya juga ada yang gak sesuai. Tapi hampir keseluruhannya bener kok, Miss." Aku menerangkan apa yang aku lihat dari hasil kerja WR.


"Yaudah. Kamu mau kasih nilai berapa?" Tanya Miss Widya lagi.


"Loh kok saya Miss?"


"Ya kasih aja. Terserah kamu." Ucap Miss Widya.


"Kalaupun saya kasih nilai 100. Tetep aja yang namanya remedial gak akan bisa lebih tinggi dari KKM." Jawabku.


"Haha pinter kamu. Gak salah saya milih kamu." Miss Widya tertawa ringan mendengar penuturanku.


"Iya dong. Tiyaa." Aku menyebut namaku sendiri dengan bangga.


"Yaudah. Saya harus siap siap buat kekampus. Kalian pulang aja. Dan buat WR kamu udah taukan nilai kamu berapa." Tutur Miss Widya.


"Iya. Bu."


"Eh iya lupa. Tadi sebelum kesini. Tiya mampir ke toko kue Miss." Aku berlari kearah motor dan mengambil satu plastik kue yang tergantung dibagian depan.


"Ini buat Miss." Kuberikan kue kue tersebut kepada Miss Widya.


"Wah, ini bukan nyogok kan." Seru Miss Mala sembari menerima keu pemberian WR.


"Engga. Kan nilainya udah ketauan." Jawabku.


"Iya iya bener."


Sesaat kemudian Miss Widya memasuki rumahnya kembali sedangkan Aku dan WR bersiap untuk pulang.


"Kamu yakin nilai aku bagus?" Tanya WR.


"Nilai kamu sih gak terlalu bagus. Cuma hidup kamu yang bagus karena bisa punya pacar kaya aku." Jawabku sembari tersenyum.


"Hmm iya iya, udah ayo naik. Kita pulang." Ucap WR.

__ADS_1


__ADS_2