
"Apa ini?" Satu buah kotak makan berbahan dasar plastik dengan sebuah merk yang tengah hits dikeluarkan WR dari tas yang dia bawa.
Entah jam berapa dia bersiap dari rumah hingga pagi pagi seperti ini dia telah mengetuk pintu kosan dan membangunkanku yang baru beberapa jam tidur selelas subuh.
"Sarapan," Jawab WR.
"Beli dimana?"
"Bawa dari rumah. Mamah yang masak. Cobain deh, enak tau." WR membuka penutup tempat makan tersebut yang menampilkan satu kotak nasi dengan beberap lauk dan sayur yang mengelilinginya.
Aku mulai menyantap nasi tersebut berbarengan dengan WR. Sedangkan Simi dan Nina masih tertidur pulas pagi itu.
"Yank,"
"Apa?" sahut WR yang telah selesai menyantap sarapannya.
"Itu boneka beruang mau diapain?" Aku mulai membahas perihal boneka pemberian Arega yang masih berbarengan dengan boneka pemberian WR.
"Buang aja, sana." Jawab WR dengan expresi datar.
"Jangan, sayang."
"Sayang sama yang ngasih?"
"Dih, engga bukan. Maksudnya sayang kalau dibuang. Bawa kekosan kamu, bisa jadi bantal."
"Yaudah. Nanti aku jadiin kesed." Jawab WR.
"Dih masa kesed tebel begitu."
"buang aja bonekanya. Sama kaya kamu yang udah ngebuang dia dari hati kamu." Kini WR menatapku dengan tajam. Sorot matanya seolah ingin menyampaikan ketidak sukaannya pada boneka dari Arega yang sampai saat ini masih ku simpan.
"Yaudah ayo kita buang."
Kini aku tengah berada diatas motor bersama WR dan juga boneka beruang yang hendak ku buang. Entah harus kemana aku membuang boneka beruang sebesar badan orang dewasa ini. Sekian lama berkeliling tidak juga membuat ku ataupun WR menemukan tempat yang pas untuk membuang boneka tersebut. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah TPS (Tempat Pembuangan Sampah) yang lumayan besar.
"Buang disini aja." Ucap WR yang telah mematikan mesin motornya.
"Gak disungai aja?"
"Janganlah. Udah disini biar nanti dibakar."
"Yaudah," Aku bergegas turun dan hendak membuang boneka yang sedari tadi berada ditengah tengah antara aku dan WR.
"Mau ngapain?" Tanya WR yang membuatku menghentikan aktivitasku.
"Buang boneka, kan."
"Lempar aja dari sini."
__ADS_1
"Berat. Tunggu bentar," Aku turun dari motor dan mulai berjalan beberapa langkah memasuki gundukan gundukan sampah yang beraroma tidak sedap.
"Buruan," Ucap WR setengah berteriak.
Kuletakan boneka tersebut diantara sampah-sampah yang ada disana. Kutatap sebentar boneka tersebut sebelum akhirnya berlalu menemui WR yang sedang menungguku.
"Kemana lagi?" Tanyaku yang sudah berada dibelakangnya.
"Pulanglah. Mandi dulu sana. Bau." Tutur WR sembari menarik gas motornya. Kuarahkan hidungku pada ketiak kanan dan kiriku.
"Engga ah. Biasa aja." Balasku pada WR.
"Bau lah. Kan abis buang sampah tadi."
WR mengantarkan ku kembali pulang kekosan setelah berhasil membuang boneka beruang pemberian Arega di tempat sampah.
Tidak ada rasa sesal ketika aku harus melakukannya, bagiku saat ini bisa bersama WR saja sudah merupakan moment yang sangat berkesan. Aku tidak ingin Arega berfikir bahwa aku masih menyimpan perasaan padanya hanya karena aku masih menyimpan boneka darinya. Untuk itu aku rasa akan lebih baik jika aku menghilanhkan boneka itu saja.
Simi dan Nina telah bangun dan tengah sarapan ketika aku kembali kekosan.
"pagi-pagi udah pacaran aja." Ucapan Simi menyambut kedatanganku dengan WR.
"Biarin," balasku.
"Lu dari mana?" Kali ini giliran Nina yang melontarkan pertanyaan.
"abis membuang masa lalu." WR mendahuluiku untuk menjawab pertanyaan yang Nina ajukan.
"Abis buang boneka." Ku perjelas maksud dari perkataan WR yang belum dipahami oleh Nina dan Simi.
Nina dan Simi segera menengok kearah dimana biasanya boneka tersebut berada dan boneka tersebut sudah tidak ada ditempatnya.
"Lah, iya. gue baru sadar beruang kutub udah gak ada." Ucap Simi yang seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Ya ampun. aku belum sempet salam perpisahan sama dia." Tutur Nina dengan nada berlebihan.
"Lebay lu." Jawabku menimpali keluhan Nina.
Tiba-tiba saja ponsel Nina berdering. Entah siapa nama yang tertera dilayar ponselnya hingga membuat Nina mentapku dalam diam.
"Kenapa, lu?" Tanyaku yang tidak memahami maksud dari tatapan yang Nina lakukan.
Nina tidak menjawabku dan malah merima panggilan yang masuk ke handphone. Nina tampak gugup berbicara di telepon saat itu, baik Aku, WR dan Simi semuanya terdiam ketika Nina masih dalam sebuah panggilan.
"Siapa sih?" Tanya Simi ketika Nina telah selesai menelepon.
"Raka." Jawab Nina pelan.
Raka? untuk apa dia menelpon. jantungku seketika berdetak lebih cepat dari biasanya. Ingin rasanya aku mengintrogasi Nina dengan pertanyaan apakah Raka benar benar berniat menghubungi Nina atau dia melakukan itu hanya demi Arega.
__ADS_1
Untunglah suara Nina ketika menjawab nama "Raka" tidak begitu keras hingga tidak terdengar oleh WR yang saat itu kebetulan tengah bermain gawai.
"Yank,"
"Hm," Gumam WR sembari tetap menatap layar ponselnya.
"Ngambil STNK motor kapan?" Aku mencoba membuat pertanyaan lain untuk mencairkan suasana kembali.
"Besok."
"Aku ikut, ya."
"Gausah. Kamu kan ngajar."
"Ijin, ya."
"Jangan. Nanti lama kamu cape."
Aku terus merengek agar bisa ikut bersamanya besok untuk sidang. Aku belum pernah menjalani sidang pengambilan STNK sebelumnya untuk itu aku sangat antusias ingin mengetahuinya. Berkali kali WR menolak permintaanku dengan berbagai jawaban yang tidak jauh beda. Namun berkali kali juga aku merengek agar dia mengijinkanku ikut. Hingga akhirnya dia setuju untuk mengajakku besok.
"Besok jam 8 aku jemput." Ucap WR.
"Siap."
"Yaudah aku kekosan dulu ya." Tutur WR bergegas pulang kekosannya dan meninggalkan kosanku.
"Iya."
"Kamu mandi dulu sana. Bau tau dih, abis dari tempat sampah juga."
"Iya ini mau mandi." Jawabku.
WR berlalu meninggalkan kosanku dengan mengendarai sepeda motor miliknya. Dengan segera ku arahkan pandanganku pada Nina dan mulai mengajukan pertanyaan yang sudah sedari tadi aku siapkan.
"Raka mau ngapain nelepon, lu?"
"Mau main." Jawab Nina.
"Main? gilak kali lu ya. Udahlah Nin, gausah berhubungan sama Raka. lagiankan lu udah punya Wanto." Aku mulai mengeluh dan membujuk Nina agar mau menyudahi hubungannya dengan Raka.
"Orang gue gak ada hubungan apa-apa." Nina beralasan.
" Kalau gak ada hubungan apa-apa terus kenapa dia mau main. Lagian kalo si Raka main kesini dan dia ngajak Arega. Gimana?" Bantahku pada Nina.
"Enggalah. cuma buat temen chat doang kok. Gak bakal gue ijinin main kesini. lu tenang aja." Terang Nina sembari mentapku dengan senyum.
"Awas aja kalau sampe nanti Raka main kekosan bareng Arega. Gue mau pindah kos." Ancamku pada Nina yang disambut dengan tawanya "Tenang sayang. Aku lebih pilih wanto kok." tutur Nina.
"Janji ya? Ayo dong Nin. gue gak mau WR tau dan salah paham nantinya." Aku mulai memelas pada Nina.
__ADS_1
"Iya. Lu tenang aja." Ucap Nina dengan santai.