WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
78 - Membeli Hadiah Part 2


__ADS_3

Kini, aku, Simi dan Nina telah berada dihadapan sebuah Toko yang menjual berbagai macam perlengkapan pria. Simi mengajakku kesini dengan alasan bahwa dia sudah capek mengikutiku yang masih belum jelas hendak membeli apa untuk WR.


"Masuk sini aja dulu. Siapa tahu suka." Ucap Simi ketika aku tertegun didepan pintu masuknya.


Aku berjalan mengikuti Simi yang meminpinku masuk ke Toko ini. Ada banyak sekali hal hal yang sepertinya cocok untuk dijadikan hadiah mulai dari baju, sepatu, hingga celana. Tapi setelah mengelilingi barisan Rak yang ada ditempat tersebut entah kenapa pilihan ku tertuju pada satu buah tas kecil berwarna krem dengan gambar anime dibagian depannya.


"Ini, bagus gak sih?" Aku meraih tas tersebut dan mulai meminta pendapat dari Simi dan Nina.


"Bagus." Jawab mereka kompak.


"Yaudah ini. Terus apa lagi, ya?"


"Lu mau beli berapa sih?"


"Ya gak tau liat liat dulu, aja." Kujawab pertanyaan Simi dan mulai mengelilingi tempat tersebut lagi.


Hingga akhirnya pilihan kedua ku jatuh pada sebuah jam digital berwarna hitam. Mengingat jika WR sangat senang memakai jam, jadi kado kedua untuk nya yaitu jam.


Belum berhenti disitu, aku masih melanjutkan pencarianku untuk membelikannya kado. Selama ini aku sudah menabung dan sepertinya uang tersebut masih cukup untuk ku gunakan membeli beberapa kado lagi.


"Nah. Ini keren nih." Ku tunjuk sebuah dompet berwana coklat muda dan coklat tua yang tersimpan rapi didalam etalase kaca. Dengan dibantu oleh penjaga toko, kini dompet tersebut telah berada dalam genggamanku.


"Udah?" Tanya Nina.


"Udah kayanya. Nanti sisanya ditempat lain aja."


"Yaudah."


Ku akhiri kegiatan ku ditoko tersebut dengan menyelesaikan pembayaran dari tiga barang yang sudah aku pilih. Kali ini giliran Simi dan Nina yang memintaku untuk ikut menemaninya kesubuah toko pernak pernik wanita.


Kedatangan kami telah disambut oleh dua orang petugas yang berada disamping kiri dan kanan pintu. Dengan sedikit membungkuk dua petugas tersebut menyuguhkan sebuah senyuman atas kunjungan kami. Sebuah senyuman pula-lah yang aku berikan untuk berjalan melewati mereka berdua.


Simi dan Nina langsung tertuju pada rak khusus untuk make-up. Tangannya dengan cekatan memilih dan memilah warna lipstik dan maskara yang hendak dibelinya. Aku yang merasa tidak ingin membeli itu semua akhirnya mengitari toko tersebut.


Dipojokan tempat tersebut, ada sebuah keranjang yang diisi oleh macam macam kertas kado yang digulung memanjang. Ku tarik satu persatu kertas kado tersebut dan memilih mana kertas yang tepat untuk membungkus hadiah yang telah aku beli tadi.


Sebuah kertas kado yang terlihat mengkilap yang sekilas berwarna pink, namun jika dilihat dari sudut lain bisa berubah warna menjadi ungu dengan motip hati yang menambah kecantikannya telah berhasil memikat hatiku. Ku ambil dua gulung kertas tersebut karena aku fikir tidak akan cukup jika hanya satu. Dan tidak lupa satu gulung plastik kado bening dengan motip yang hampir serupa, yaitu hati.


Sekarang, ditanganku telah ada dua buah kertas dan satu buah plastik kado. Kini perhatianku tertuju pada barisan pulpen dengan boneka minion yang ada di bagian atasnya.


"Lucu," ucapku pada diri sendiri.

__ADS_1


Akhirnya, aku kembali mengambil satu buah pulpen tersebut untuk nanti kuberikan bersama dengan hadiah-hadiah yang lain.


"Ngapain sih, lu." Simi datang dan menepuk pundakku seketika.


"Ngagetin aja lu." Ucapku atas tindakan Simi.


"Mau beli apa lagi?"


Belum sempat aku menjawab pertanyaannya tiba tiba saja ruangan tersebut menjadi gelap. Parahnya, bukan hanya toko yang aku tempati saja melainkan semua toko yang ada di mall tersebut mati lampu total.


"Sim," ku cengkram kuat tangan Simi sembari menatap sekeliling yang sangat minim sekali cahaya. Tampak suara ganduh mulai terdengar. Para penjaga toko mulai menyalakan senter dan mengarahkan setiap cahaya yang keluar dari senter tersebut kearah setiap pembeli.


"Simi. Tiya." Suara Nina terdengar begitu jelas memanggilku.


"Gue disini." Jawabku denga teriak dan mulai melepaskan cengkaraman ku pada tangan Simi.


Nina akhirnya menemukanku dan Simi, yang sedari tadi diterangi oleh senter dari petugas toko.


"Mereka baik ya. Mau nyenterin kita." Ucap Nina berbisik lirih ditelingaku.


"Iya. Kalau gak digituin nanti lu ngantongin barang barang yang ada disini. Kan gak keliatan cctv nya mati." Ucapku pada Nina.


"Oh gitu?" Tanya Nina heran.


Entah siapa yang berbicara, aku tidak bisa melihatnya hanya saja aku bisa dengan jelas mendengar suara tersebut.


"Masa Mall mati lampu sih, Sim." Keluhku pada Simi.


"Mana gue tau. Sinyal ilang lagi, ah." Ucap Simi yang saat itu tengah sibuk menatap layar ponselnya yang begitu terang dikegelapan.


"Aduh, gerah nih gue." Ucap Nina sembari mengibas ngibaskan tangannya kewajah. Memang benar. Bukan hanya Nina yang merasakan gerah tapi aku pun sama. Berada diruangan yang hampir dipenuhi orang tanpa AC rasanya membuat keringat mulai bermunculan.


Cling,


Disaat rasa bosan sudah mulai melanda karena menunggu lampu yang tidak kunjung menyala, akhirnya kini yang ditunggupun tiba. Toko tersebut kembali terang dengan cahaya lampu yang menyala. Sedikit demi sedikit mulai kurasakan hembusan angin dari AC yang sejajar dengan arah tempat ku berdiri.


"Ah, akhirnya." Ucapku lega.


"Udah ayo buruan bayar ah. Nanti keburu mati lagi." Nina menarik lengaku dan Simi dengan tergesa.


Aku pun berjalan mengikutinya menuju kasir tapi sebelum sampai dikasir. Langkah ku sudah lebih dulu terhenti dihadapan sebuah botol kaca yang berisi satu buah bunga kecil berwarna merah muda lengkap dengan daunnya serta batu batu kecil didalamnya.

__ADS_1


Ku pilih satu dari beberapa botol kaca yang terbaris disana. Dan mulai menemui Nina dan Simi yang tengah mengantri didepan kasir.


Setelah menunggu antrian cukup lama. Akhirnya tibalah giliran ku untuk membayar. Aku mulai menghampiri Nina dan Simi yang telah berada diluar lebih dulu.


"Kemana lagi?" Tanyaku pada mereka berdua.


"Pulang aja ah. Ngeri gue." Pinta Simi.


Aku pun menuruti keinginannya karena merasa sudah mendapatkan semua yang aku inginkan. Aku berjalan meninggalkan Mall tersebut menuju arah parkiran. Langit sudah mulai gelap, tapi belum terlalu malam. Aku mulai memasukan beberapa barang yang bisa disimpan dibagasi motor dan sebagian lagi ku gantung dibagian depan.


"Gue aja yang nyetir." Pintaku pada mereka.


Motor tersebut ku bawa kearah yang berlawanan dengan arah pulang. Yang membuat Simi dan Nina keheranan.


"Heh, mau kemana lu?" Ucap Simi dari arah belakang.


Tanpa menjawab pertanyaan mereka, aku terus memacu motor hingga tiba disebuah tempat penjual buah yang berbaris begitu banyak.


"Lu mau beli buah?" Tanya Nina sesaat setelah menyaksikan aku mematikan motor.


"Tunggu dulu disini bentar." Aku meninggalkan Simi dan Nina yang masih bingung tentang apa yang akan aku lakukan.


Aku berjalan kearah penjual buah tersebut dan mulai memilih keranjang parsel yang tergantung diatasnya.


"Mau yang ini dong, pak. Yang paling kecil ya." Pintaku sembari menunjuk tempat parsel yang menggantung lebih tinggi dari kepalaku.


"Boleh. Mau diisi apa aja?" Tanya si empunya toko.


"Gausah. Itunya aja."


"Oh, boleh. Silahkan."


Diberikan lah tempat parsel kosong itu padaku yang berbarengan dengan diberikannya pula uang sesuai dengan nominal yang dia sebutkan.


"Mana buahnya?" Tanya Simi menyambut kedatanganku.


"Buah ghoib. Liatnya pake mata batin." Ucapku pada mereka dengan menggantung parsel kosong tersebut dimotor bagian depan.


"Eh, kita udah makan belum ya? Kok gue laper sih." Ucap Simi yang saat itu juga aku mulai merasakan rasa lapar.


"Iya belom. Padahal tadi kan mau ditraktir makan sama Arega. Tapi gak jadi, lu keburu berantem sih." Ucap Nina.

__ADS_1


"Alah, pengen yang gratisan mulu idup lu. Udah ayo beli makan. Gue yang traktir." Ucapku pada Nina.


"Asik," seru mereka kompak.


__ADS_2