WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
54 - Minggu Bersama WR Part 3


__ADS_3

Ditengah rasa pedas yang begitu menjalar dilidah. Sesekali netraku menatap pada jalanan yang ramai dengan orang berlalu lalang.


Aku mengalihkan tatapanku kesegala penjuru ketika merasa bahwa ada seorang gadis yang duduk dijok motornya tengah menatap tajam kearahku. Entah sejak kapan dia berada disitu tapi sepertinya belum lama, karena tadi aku rasa dia belum ada. sebenarnya ada banyak orang yang berada disekitar mejaku, jadi belum tentu juga gadis itu tengah menatap kearahku.


"Itu ngeliatin kita bukan sih?" Tanyaku pada WR yang masih berkutat dengan mie dihadapannya.


"Mana?" Dia memalingkan wajahnya kesegala arah mencari orang yang aku maksudkan.


"Ih, itu," Aku mengisyaratkan WR agar melihat kesebrang jalan tanpa menunjuknya. WR mengerti maksud dari gerakan mataku dan mulai menengok kearah tersebut.


"Yang mana sih?. Emang ngeliatin gitu" Ucap WR yang masih belum bisa melihat gadis tersebut


"Kayanya," Jawabku tidak yakin. karena bisa saja pada saat yang bersamaan mata kami beradu jadi aku menyimpulkan gadis tersebut tengah menatapku. Ah, semenjak kejadian malam minggu itu aku jadi lebih sering merasa was-was.


"Lagi nungguin orang kali," Jawab WR sembari mengunyah mie.


"Eh, iya. Bener" Beberapa langkah dari posisi gadis tersebut ada sebuah gerobak chiken dengan seorang laki-laki yang berdiri disebelahnya. Tampak laki laki tersebut menghampirnya kemudian menaiki motor dan berlalu membelah angin.


Aku kembali menyelesaikan makanku.


Satu mangkuk Mie sudah aku habiskan dengan susah payah. Beberapa kali aku berhenti untuk membiarkan rasa pedas itu tidak bertambah. Sudah hampir 2 gelas es pereda pedas yang aku minum. Perutku rasanya penuh sekali.


"Biar aku yang bayar, gantian."


"Gausah. Aku aja," Jawab WR lugas dan berlalu menuju kasir.


"Ayo," Ucapnya sembari mengambil boneka minion yang tadi sempat dia simpan di bawah meja.


Aku mengikuti WR dari belakang. Kaki membawa WR menuju sebuah salon yang berada dipinggir Mie Setan tersebut. Aku melangkah memasuki salon tersebut. Luas sekali ternyata. Sepertinya ada belasan kursi dan cermin besar yang terpasang dihadapnnya.


"Mba, mau smooting dong." Ucap WR pada wanita yang berada dibelakang meja.


"Mas, nya?" Tanya pelayan tersebut memastikan.


"Bukan, ini pacar saya." Ucap WR sembari menatap kearahku.


"Silahkan, panjang rambutnya segimana mba?"


"Sepinggang," Kali ini aku yang menjawab pertanyaan tersebut.


"Wah panjang ya. Kalo panjangnya segitu sih dikenakan biaya tambahan, Mba. Atau mau di potong dulu" Terang pelayan tersebut.


"Gimana?" WR menatapku dengan tanda tanya.


"Gausahlah," Saat itu aku memang tengah menyukai rambut panjang yang aku miliki, walaupun sedikit bergelombang.


"Yaudah, gak apa-apa. Mba," Terang WR.


"Tapi masih penuh Mas. Tunggu dulu ya, sebentar lagi udah ada yang selesai kok."


"Sana duluan duduk." WR memintaku untuk lebih dulu duduk dikursi yang telah disediakan dan dia akan menyusul setelah menyelesaikan pembayaran.


"Udah,?" Dia menghampiriku dan mulai duduk disamping kiri. Alisnya terangkat tanpa ada sahutan.


"Cewe semua ya?" Bisiku telinganya.


"Iya. Cowoknya aku doang." Jawab WR lirih.


Aku hanya tertawa mendengar keluhannya. Lagipula, dia yang memintaku kesini, aku tidak sedikitpun memaksanya.


"Nanti kalo udah giliran kamu. Aku pulang dulu ya. Nunggu dirumah, disini cewe semua."


"Dih, kamu mau kabur ya ninggalin aku?" Aku merengek dengan mencengkram kuat lengan bajunya.


"Iya," Jawabnya sembari tertawa. "Kata si mba nya, smooting tuh lama tau. Bisa sampe 2-3 jam." Tambahnya.


"Emang rumah kamu deket. Nanti kalo aku udah selesai gimana?" Tanyaku dengan cemas.

__ADS_1


"Deketlah, itu tuh." WR mengarahkan tatapanku pada sebuah gang besar diseberang jalan dengan telunjuknya. "Belok kesitu, lurus, belok, lurus lagi, belok lagi,"


"Ih, serius."


"Haha, iya beneran belok kesitu. 5 menit nyampe. Nanti kalo Tiya udah mau selesai, telepon aja."


"Yaudah," Jawabku sedikit kesal.


"Mau ikut kerumah?" Tanya WR.


"Enggak nanti aja."


2 orang pengunjung salon sudah selesai, kini tibalah giliranku yang mendatkan pelayanan. Seorang wanita yang sudah cukup dewasa berjalan kearahku dengan sebuah senyuman yang sedari tadi dia suguhkan.


"Silahkan, giliran Mba." Ucap wanita tersebut dengan sopannya.


Petugas salon tersebut menuntunku menuju kursi, dan sesaat kemudian WR berpamitan untuk pulang kerumahnya dulu.


"Kalau aku telepon, kamu langsung kesini ya." Ucapku melepas kepergiannya.


"Iya, jawabnya sebelum berlalu."


Aku mulai memainkan gawaiku yang tadi sempat aku simpan didalam sebuah sling bag kecil yang semenjak pergi selalu melekat ditubuhku. Buka facebook, instagram, whatsApps, shopee dan lain-lainnya yang membuat waktu berjalan dengan agak cepat.


Tahapan demi tahapan aku jalani, sudah lebih dari dua jam aku disini tapi WR belum juga kembali.


"Yank," Pesan dariku beberapa menit lalu yang belum juga centang biru.


Menurut petugas salon yang menangani Smootingku kali ini, tinggal tersisa tahap akhir yang hanya membutuhkan waktu setengah jam lagi. Aku mulai menghujani WR dengan rentetan panggilan melalui aplikasi pesan singkat.


"Hmm," Gumam WR dengan surai.


"Kemana aja sih,?" Aku langsung meracau.


"Tidur," suaranya terdengar seperti orang yang masih mengantuk berat.


"Iya, aku kesitu."


Nit - panggilan terputus.


Aku sudah hampir selesai ketika pintu salon terbuka dan tampak WR memasuki nya kembali. Beruntung aku duduk diposisi yang hampir sejajar dengan pintu jadi walaupun aku tidak bisa menoleh, setidaknya aku masih bisa melihat kedatangannya lewat cermin.


"Selesai," Ucap petugas salon tersebut. Buru-buru ku ambil kerudungku yang tadi aku letakan pada meja yang berada dihadapanku, mengenakannya dengan segera dan mulai menghampiri WR.


WR masih sibuk dengan gawainya sembari menungguku selesai, setibanya aku dihadapannya barulah gawai tersebut ia masukan kesaku nya.


"Gimana rasanya?" Tanya WR.


"Rambut jadi enteng," Jawabku dan duduk disebelahnya.


"Cowok boleh gak sih?" Tanya WR entah serius atau hanya bergurau.


"Boleh sih kayanya, tapi jangan ah. Nanti aku geli." Aku berkata sembari tertawa dan mulai menarik lengannya keluar meninggalkan salon tersebut.


"Mau kemana lagi?" Tanya WR.


Saat itu, selertinya hari sudah sore. Udara dingin sesekali berhembus menerpa kulit yang membuatku bergridik geli. Langit tidak lagi secerah siang tadi, awan hitam terlihat dari kejauhan yang sepertinya akan turun hujan.


"Pulang aja. Mau ujan kayanya." Ucapku setelah meneliti kondisi alam.


WR memutar tatapannya pada langit yang mulai menggelap. "Kayanya ujannya arah kekosan deh," Ungkap WR.


"Masa sih? Gimana dong?" Tanyaku cemas.


"Yaudah gak apa-apa. Nanti berenti."


Aku hendak menaiki motor namun tiba-tiba saja WR kembali memasuki salon tersebut dan keluar dengan boneka minion ditangannya. "Astaga, boneka itu. Aku lupa lagi." Gumamku ketika melihat kedatangannya.

__ADS_1


"Kasian orang ditinggalin," Ucap WR sembari menaruh boneka tersebut bagian depan.


"Emang dia orang. Diakan boneka." Jawabku meledek.


"Kasian boneka ditinggalin." WR kembali mengulangi perkataannya dengan nada yang sama hanya subject nya berbeda.


"Haha, buruan pulang keburu ujan."


WR melajukan motornya dengan lumayan cepat, agar bisa melalui gumpalan awan hitam dengan segera. sekitar setengah dari perjalanan sudah aku lalui, tiba-tiba saja WRmenghentikan laju motornya.


"Mau ngapain?" Tanyaju heran.


"Hp kamu sini. Buruan simpen di jok aja biar gak basah." Aku bergegas turun dan mulai menyimpan hp itu dijok motornya.


"Buru naik," titah WR. Motor yang WR kendarai kembali melesat membelah angin.


"Ujan," WR berteriak dan menegok untuk sesaat dan mulai


"Gak ada," Ku rentangkan telapak tanganku bagian dalam agar bisa merasakan tetesan hujan. Disamping kanan beberapa pengendara motor mulai mengenakan jas ujan. "Ujan dimana?" Batinku.


"Itu dibelakang," WR memacu motornya lebih cepat lagi. Ku arahkan wajahku kebelakang dan Astaga, hujan itu seolah sedang mengejarku.


"Ini rambut gimana kalau kebasahan?" Menurut petugas salon tadi, rambutku baru boleh terkena air tiga hari lagi. Sebenarnya tidak masalah jika aku harus ujan-ujanan. Tapi bagaimana nasib rambutku, itu yang aku fikirkan.


"Kan pake helm," Jawab WR dengan tetap fokus.


"Kan kepalanya doang. Bawahnya engga."


BYUR


Awan tersebut telah berhasil mendahuluiku dan langsung menumpakan jutaan butir airnya tepat diatas kepalaku. "Haha kalah sama ujan." Aku bertiak disamping telinganya.


"Iyalah. Tidak ada yang bisa melawan kehendak alam. Setidaknya aku sudah berusaha." Balas WR dengan berteriak juga.


Hampir semua warung yang berada di pinggir jalan sudah terisi penuh oleh pengendara yang lebih dulu melaju.


"Gimana?" Tanya WR. Aku tau maksud dari pertanyaannya itu berarah pada perjalanan kita hujan ini, lanjut atau istirahat dibawah pepohonan yang sepertinya akan basah juga.


Kulihat boneka minion masih tetap kering karena terbungkus plastik, jika saja tidak pasti boneka tersebut sudah penuh oleh air hujan.


"Pulang ajalah,"


"Yakin? Rambutnya?"


"InshaAllah gak apa-apa." Jawabku dengan yakinnya.


Hujan kali ini lumayan awet. Hingga aku berada dikosanku rintikannya masih tetap ada walaupun tidak sebesar dijalan tadi.


Aku berjalan kearah pintu dengan diikuti oleh WR yang sama-sama basah kuyup.


"Langsung mandi sana. Nanti malem aku gak kesini biar kamu bisa istirahat." Ucap WR sembari memberikan boneka tersebut padaku.


"Kamu mau pulang?"


"Kekosan."


"Yaudah. Makasih ya." Aku menatapnya dengan senyuman yang tergambar jelas.


Aku mematung menunggu WR benar benar tak terlihat dari pandanganku, barulah aku memasuki kosan. Hanya ada Simi sendirian yang tengah tiduran.


"Udah bawa boneka lagi aja." Ocehan Simi menyambut kepulanganku. Aku hanya tersenyum menatap boneka berwarna kuning itu.


"Mana oleh-oleh," tanya Simi lagi.


"Lupa, Sim." Aku benar benar lupa pada pesanan Simi pagi tadi, jadi aku pulang tanpa membawa apapun.


"Pergi lu dari Sini." Teriak Simi sembari menunjuk pintu.

__ADS_1


"Dasar ibu tiri," Aku terkekeh dan segera menuju kamar mandi.


__ADS_2