
Dret ..
Ponsel ku bergetar. Sebuah pesan masuk ku terima dari WR. "Aku udah nyampe," Begitu tulisnya. Ku lirik jam di handphone sudah pukul 9 malam. Syukurlah dia sampai dengan selamat. "Mau mandi dulu," Tambahnya.
"Iya," Balasku singkat.
Aku baringkan tubuhku dan mulai memainkan gawai sembari menunggu pesan darinya lagi. Merasa bosan dengan beranda facebook yang begitu begitu saja. Akhirnya akupun memutuskan untuk memainkan game cacing saja. Ku pilih cacing warna hijau dengan mata yang memiliki bulu mata lentik dan bibir dengan lidah yang menjukur keluar. Aku mulai memainkannya dan memakan umpan sedikit demi sedikit, hingga kini cacingku menduduki peringkat teratas di games kali ini. Tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk ku terima dari Simi,
"Dimana lu?" Tanya Simi sesaat ketika aku menekan tombol berwarna hijau.
"Cacing gue mati gara gara lu. Nelepon gak tau waktu dasar." Aku mulai meracau pada Simi yang mengganggu aktivitas bermainku.
"Bodo amat. gue gak ada urusan sama cacing kremi. lu dimana?" Simi mengulangi pertanyaannya yang sengaja tidak aku jawab.
"Rumah. Lu mau ngapain nelepon gue segala. Kangen ya."
"Lu udah sehat kan?" Tanyanya lagi
"Sehat, segitu khawatirnya ya lu sama gue."
"Besok gue jemput."
"Mau kemana?"
"Kita kekosan."
Simi bercerita mengenai alasannya mengajak aku kembali ke kosan besok. Dia bilang, dia lupa mengunci pintu kosan. Seorang tetangga kosan mengirim pesan padanya bahwa pintu kosanku terbuka. Simi kaget karena merasa anak kuncinya telah dia bawa pulang. Akhirnya Simi meminta tetangga kosan untuk masuk dan memeriksa apakah ada yang hilang atau tidak, karena kebetulan laptop milik Simi sengaja ia tinggalkan dikosan.
"Terus?" Aku mulai panik mendengar penuturannya. Rasanya ingatan mengenai kejadian beberapa bulan lalu mengenai perampokan dikosan lama saja belum sepenuhnya hilang, kini sudah hampir ada hal serupa lagi terulang.
Simi melanjutkan ceritanya, Tetangga kosan mulai memasuki kosan milikku dan memeriksa lemari tempat Simi menyimpan laptopnya dan masih ada. Simi meminta tolong pada tetangga kosan agar mau menyimpan laptop miliknya. Novi, nama dari tetangga kosanku.
"Yuadah, kelar. Ngapain harus kekosan besok?" Aku sedikit lega mendengar penuturannya. Memang selain laptop tidak ada lagi barang berharga lainnya. Karena handphone, helm atau barang yang memiliki nilai jual tidak ada lagi disana.
" Masalahnya si Novi, Dia mau pindahan besok."
"Lah, kok pindah sih. kenapa?"
"Males dia punya tetangga kaya lu." Jawab Simi dengan tawa.
Simi bercerita bahwa Novi akan pindah kosan ketempat yang jaraknya lumayan dekat dengan kampus. Selama ini memang dia tidak memiliki kendaraan, seringnya jalan kalau mau kuliah dan ternyata itu membuatnya lelah, sehingga memutuskan untuk pindah kosan.
__ADS_1
"Nanti kita tinggal kekosan barunya si Novi buat ambil laptop lu. Gimana sih. Ribet lu ah jadi orang." Kupingku mulai terasa panas karena Simi menelepon dengan waktu yang cukup lama.
"Bentar, gue pake headset dulu." Kuraih satu buah headset berwarna putih yang tergeletak di pinggir bantal dan langsung memakainya.
Ada sebuah pesan masuk dari WR beberapa menit yang lalu. Dia mengabarkan bahwa mandi nya telah usai. Karena aku tidak kunjung membalas pesannya akhirnya WR menyimpulkan bahwa aku sudah tidur. sehingga dia pun berpamitan tidur juga.
"Heh, Tiya. Lu dengerin gue gak sih." Bentak Simi diarah sana.
"Iya iya bentar. gue baca pesan WR dulu. Gimana tadi gimana?"
"Pokonya besok pagi gue jemput elu ya. Si Nina juga ikut. Gak enak gue kalo harus kekosan si Novi yang baru cuma buat ambil laptop."
"Gue bilang WR dulu."
"Bodo amat. Pokonya gue jemput,"
Nut - Nut - Nut
Panggilan terhenti. Simi mematikan teleponnya tanpa menunggu kesiapanku terlebih dulu.
"Yasudahlah, gimana nanti aja." Ku letakan handphoneku dan mulai memlafalkan doa doa hingga mataku terpejam.
***
Byur...
Baru beberapa gayung air mengguyur badan, tapi tubuhku sudah langsung menggigil kedinginan. Aish, air disini memang selalu dingin apalagi di pagi hari seperti ini, itulah sebabnya jika dirumah aku jarang mandi.
Segera ku raih handuk yang tadi kubawa dan mulai berwudhu. Selepas solat subuh aku mulai membantu nenekku yang sudah bangun lebih awal dariku untuk membereskan rumah, mulai dari menyapu, mencuci baju hingga membuat sarapan.
Kubuatkan 2 cangkir kopi, untuk nenek dan kakekku. Sedangkan aku hanya membawa satu piring nasi goreng yang tadi aku buat sendiri. Biasanya rumah ini ramai, kebetulan Upin Ipin, dua keponakanku yang masih batita sedang tidak main kesini. Sedangkan kakakku sedang berkerja hari ini. Tinggal lah aku bersama kakek dan nenekku, menikmati segarnya udara pagi diteras rumah kami.
"Ya Allah, Simi." Belum sempat aku menghabiskan sarapanku, Simi sudah lebih dulu tiba bersama dengan Nina dirumahku.
"Assalamualaikum." Ucap Simi turun dari motornya dan mulai bersalaman pada Nenek dan kakekku yang ditiru oleh Nina juga.
"Waalaikum salam." Jawab kami serentak.
"Udah sarapan belum? sarapan dulu ya?" Ucap Nenekku menyambut kedatangan mereka. Simi memang sudah beberapa kali main kesini, jadi orang tuaku sudah mengenal nya cukup baik. Sedangkan bagi Nina, ini baru pertama kalinya.
"Udah tadi dijalan." Jawab Simi.
__ADS_1
Simi menjelaskan maksud dan tujuannya datang pagi pagi kerumahku. Nenekku pun mengijinkan aku kembali kekosan hari ini bersama Nina dan Simi.
"Buruan lu siap siap." Titah Simi padaku.
"Ayo. kekamar gue." Ajakku pada mereka. Simi dan Nina mulai berjalan mengekori ku dari belakang.
Ku cari handphone ku dan mulai menghubungi WR. sebenarnya aku tidak yakin dia sudah bangun karena sejak malam tadi belum ada lagi pesan yang dia kirimkan padaku.
Satu panggilan terhenti namun belum juga ada jawaban. Simi memaksaku buru buru berkemas agar bisa dengan segera menuju kosan, karena Novi akan pindah siang nanti.
"Gak di angkat." Ucapku dengan harapan agar Simi mau menunggu sedikit lebih lama lagi.
"Udah lu bilang aja. Mau kekosan hari ini sama Simi. Gitu " Simi mengajariku tentang apa yang harus aku katakan pada WR.
Aku tidak menurutinya dan mulai menghubungi WR kembali. hingga panggilan kedua barulah dia mengangkat telepon dariku.
"Hmm," Ucapnya parau.
"Yank, bangun."
"Udah."
"Bangun dulu. Aku mau ngomong."
"Apa?"
Ku jelaskan padanya bahwa Simi sudah ada dirumahku dan hendak mengajakku pulang kekosan saat ini juga. Awalnya WR melarangku dan bersih keras bahwa dia yang akan menjemputku besok selain itu WR juga berkata bahwa aku harus istirahat terlebih dahulu. Aku mencoba membujuknya agar mau mengijinkanku dengan alasan bahwa aku sudah benar baik baik saja. Jadi dia tidak perlu khawatir terhadapku.
"Tapi aku gak bisa kekosan kalo sekarang." Ucap WR
"Ya gak apa-apa. Kamu besok aja kekosannya. atau kalau engga ya senin juga gak apa-apa."
"Mana Simi, aku mau ngomong sama dia." Pinta WR.
"Nih. WR mau ngomong sama lu." Kuberikan handphone yanh sedari tadi ku genggam karena WR meminta untuk berbicara dengan simi.
Simi terlihat mengangguk ngangguk mendengar perkataan WR yang tidak bisa aku dengan dengan jelas.
"Siap boss." Ucap Simi sebelum menutup telepon dari WR.
"Ngomong apaan dia?" Aku mulai mengintrogasi Simi.
__ADS_1
"Katanya, selama dia belum kekosan berarti si Mathew sama si Wanto juga gak boleh ada yang kekosan. Nanti kalo gue pergi atau si Nina pergi, ntar lu gak ada temennya." Simi mengulangi apa yang dikatakan WR padanya dengan sangat rinci.
"Okeyy.. berangkat.." Seru ku pada mereka.