WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
40 - Lolos Tes Lisan


__ADS_3

"Gimana hasilnya?" Dessy menyambangiku dengan segera sesaat setelah aku melangkahkan kakiku keluar dari ruangan tes itu. Entah kenapa dia begitu antusias ingin tau hingga menungguku tepat didepan pintu.


"Gak tau, belum diliat." Jawabku santai sambil berjalan kearah luar ruangan.


"Coba dong aku pengen liat." Rengeknya mengekoriku dibelakang sembari menggoyang-goyangkan pundak kananku.


Menyebalkan, tidak bisakah dia bersabar seperti aku yang tadi menanyainya dengan santai. Kenapa dia begitu tergesa-gesa. apa sebenarnya yang dia harapkan.


Aku menghentikan langkahku dan dengan terpaksa akhirnya aku membuka map hijau tersebut dihadapannya.


"Nih, liat sendiri." Ucapku jengah.


"Wah lanjut ketahap berikutnya. kirain engga." Ucap Dessy setelah melihat sebuah kata "Lolos" yang dilingkari oleh tinta warna biru.


"Kirain engga," apa maksud dari perkataan Dessy. Apa dia berharap aku tidak lolos. Apa dia fikir aku tidak cukup mampu untuk melewati tes ini. Kenapa dia harus berbicara seperti itu tepat dihadapanku. Hampir saja aku tersulut emosi, tapi kutahan karena aku fikir itu tidak perlu.


"Lolos lagi?" gumamku dalam hati.


"Tiya," Simi berteriak sambil berjalan kearahku.


"Lolos lagi, Sim." Ucapku dengan muka memelas.


"Rasain lu," Ejek Simi diiringi dengan tawa.


Saat itu, aku tidak begitu memperdulikan keadaan sekitarku. entah sudah berapa peserta yang keluar aku tidak memperhatikannya. Fikiranku saat itu hanya tertuju pada hasil dari tes yang baru saja aku jalani. Harusnya aku bahagia seperti Dessy yang begitu bergembira, tapi kenapa rasanya untuk tersenyum saja aku tak kuasa.


Kembali kulihat sebuah kertas yang berada didalam map yang sedari tadi aku genggam.


"Tema :Tanaman" begitu yang tertulis dibawah tulisan Lolos.


"Mau pake media apa?" Tanya Dessy lagi.


"Belum tau. Gimana nanti aja. Duluan ya." Aku berpamitan pada Dessy dan segera mengganden Simi keluar meninggalkan ruangan tersebut.


"Kita ke sekolah TK aja, Sim. Ketemu Miss Mala." Pintaku diperjalanan menuju parkiran.


"Emang udah boleh pulang" Timpal Simi.


"Gak tau, Udah kali. Mau ngapain lagi sih." Jawabku sembari memasukan map tersebut kedalam tas yang melingkar dioundak kiriku.


"Yaudah, cus."


***


Masih pukul 10. wib ketika aku dan Simi tiba disekolah. Terdengar riuh suara anak-anak, meski mereka berada diruangan kelas nya masing-masing. Segera aku menuju kekelasku untuk menemui Miss Mala, Sedangkan Simi bergegas memasuki kelasnya yang di handle seorang diri oleh Putri.


"Assalamualaikum, Miss." Ucapku didepan pintu kelas. Dengan segera pintu tersebut terbuka. Miss Mala tampak terkejut melihat kedatanganku yang tanpa kabar terlebih dahulu.

__ADS_1


"Miss Tiya, Miss. Salim Miss." beberapa siswa berhamburan dari kursinya menghampirku. Ada yang memelukku dan ada juga yang menarik tanganku untuk bersalaman. Mungkin mereka mwrindukanku, karena semenjak mengikuti lomba tersebut aku jarang sekali berada disekolah.


Seolah mengerti keadaannya, Miss Mala meminta agar siswa dan siswi kembali tenang dan menyelesaikan tugas yang diberikan padanya dengan segera, karena sebentar lagi jam pulang tiba.


Para siswa kembali ketempat duduknya, dan Miss Mala dengan cepat mempersilakan aku duduk dikursi yang berada tepat didepan mejanya.


"Tiya, buru duduk. Gimana, gimana tadi tes nya ? gampangkan? Tiya bisa dong? Lolos kan pasti?" Miss Mala menyerbuku dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


Bingung harus bagaimana menyampaikannya, Akhirnya, Kuberikan sebuah map yang tadi aku simpan didalam tas. Tanpa basa basi Miss Mala membuka map tersebut dengan semangat. Terlihat sebuah senyuman merekah diwajahnya.


"Saya sudah menduga kamu pasti bisa." Ucapnya seraya menatapku dengan bangga.


"Tes lagi jumat. Kamu punya waktu dua hari doang, Tiya." Tambah Miss Mala.


"Hah, iya gitu Miss?" Tanyaku bingung. Bagaimana Miss Mala bisa tahu mengenai jadwal tes berikutnya sedang aku sendiri tidak tau.


"Ini sih. " Jawab Miss Mala sambil membuka lembar kertas berikutnya yang masih berada dimap tersebut.


aish, aku fikir hanya ada satu lembar kertas saja disitu. Kenapa aku tidak menyadarinya.


Dikertas tersebut tidak hanya dituliskan waktu pelaksanaannya, tapi juga persyaratan yang harus dibawa olehku nanti. beberapa diantaranya yaitu peserta diharuskan Menggunakan seragam PGRI, menyiapkan PROTA (Program Tahunan), PROSEM (Program Semester), RPPM (Program Mingguan), dan RPPH (Program Harian). serta menyediakan media dan alat peraga.


"Saya yang nyiapin perangkat pembelajaran. Kamu fikirin aja mau pake media dan alat peraga apa. Masalah dana gausah khawatir. Beli aja apa yang kamu butuhkan nanti uangnya saya kasih." Jelas Miss Mala.


Aku hanya bisa diam dan mengangguk mendengar semua penuturan Miss Mala. Sedangkan otakku tengah berfikir media apa yang aku gunakan untuk menjalani tes microteaching nanti.


"Tanaman apa?" tanyanya.


"Belum tau. Mau survey dulu aja ke tukang tanaman, Miss."


"Yaudah, Bawa segini dulu. kalo kurang pinjem uang Tiya dulu. Nanti diganti." Jawab Miss Mala sembari mengeluarkan uang berwarna merah dari sakunya.


"Iya Miss."


"Minta anter Simi aja." Tambah Miss Mala.


***


Bel pulang berbunyi, dengan cepat sang ketua kelas memimpin doa agar mereka bisa pulang dengan segera.


Para murid telah semuanya meninggalkan sekolah. Tinggallah para guru yang kini berkumpul diruang kelasku. Kami membicarakan banyak hal saat itu, tidak hanya mengenai lomba tapi juga mengenai perkembangan siswa.


TING !!


"Dimana?" Sebuah pesan kuterima dari WR. Sudah hampir juhur Tapi aku masih berada disekolah.


"Masih di TK." kubalas pesan tersebut dengan segera sesaat setelah aku menerimanya.

__ADS_1


"Mau ngambil baju."


"Minjem dulu aja baju siapa kek. Lagi nanggung ini. pulang langsung ke kampus kayanya."


"Yaudah," Sebuah pesan penutup yang dikirimkannya padaku.


***


Selepas juhur Aku berangkat langsung menuju kampus. Kali ini aku hanya berdua bersama Simi, karena semenjak Simi mendapat tugas untuk menemaniku lomba, semenjak itu pula Nina dipinjami motor oleh pacarnya. Baik sekali bukan pacarnya Nina.


Dikampus,


Seorang laki-laki tengah duduk disamping pintu kelasku. Ku percepat jalanku, meninggalkan simi dan segera menghampirinya. WR, begitu aku memanggilnya.


"Baju siapa nih?" Tanyaku sembari memposisikan tubuhku agar sejajar dengannya.


" gak tau," jawabnya.


"Bau gak?" Tanyaku dengan tertawa.


"Engga kayanya." Ucapnya sembari mengarahkan hidungnya kebagian ketiak.


"Aku lolos dong. Pacar kamu hebatkan?" Uangkapku dengan penuh rasa bangga dan percaya diri dihadapan WR.


"Biasa aja."


"Dih, menyebalkan. Disaat orang lain memberi selamat atas keberhasilanku, kamu malah bersikap seperti itu." Jawabku menirukan nada seperti yang di film film ikan terbang.


"Haha, Kalo jadi juara 1 baru aku kasih selamat." Tantangnya padaku.


"Dih, gak mungkin." Aku tertunduk lesu mendengar tantangannya.


"Mungkin. Kapan tes lagi?"


"Jumat. Nanti bantuin ya," Ucapku yang seketika itu juga mendapatkan sebuah ide untuk tes micro teachingku.


"Bantuin apa?" tanyanya dalam keadaan bingung.


"Ih, pokoknya bantuin. Nanti aku kabarin. kalo perlengkapannya udah siap, kamu kekosan ya."


"Mau ngapain?"


"Bisa gambarkan?" Tanyaku memastikan.


"gampang." Jawabnya dengan yakin.


"Yaudah deal." aku beridiri, menjabat tangannya sebagai tanda kesepakatan kita dan berlalu masuk kedalam kelas. "nanti aku kabarin. daah" tambahku.

__ADS_1


__ADS_2