
"Assalamualakum," terdengar suara laki laki mengucap salam.
Buru buru, ku buka kan pintu untuk nya. Biasanya, hanya akan ada tiga jenis suara laki laki yang menyambangi kosan kami. Suara serak milik pacarnya Nina. Suara berat milik pacar nya Simi. Dan terakhir suara kalem milik WR, pacar ku.
Oiya, hampir lupa untuk yang ke empat. Suara Abang abang minta sumbangan. Tapi itu jarang terjadi, hanya sesekali. Itu pun, jika salah satu di antara kami lupa mengunci gerbang kembali.
Untuk Nina dan Simi. Mereka berdua telah sama sama mempunyai pasangan. Hanya saja kedua nya sama sama bekerja dan berkunjung hanya di hari libur saja. Tidak seperti WR yang kapan saja dia mau, dia tinggal menemui ku.
"Waalaikum sayang," jawab ku sambil menyeringai menggenggam gagang pintu.
"Gak boleh gitu. Dosa,"
"Eh , iya khilaf. Waalaikum salam. Ayo masuk."
Setelah mempersilahkan nya masuk. Aku bergegas mengenakan kerudung yang berwarna senada dengan baju.
"Nina sama Simi. Kok gak jalan jalan, sih?" Tanya WR pada kedua teman ku.
Hari ini hari minggu dan WR mengajak ku untuk pergi ke sebuah Mall terdekat di kota ku. Aneh, biasanya dia paling malas untuk berjalan jalan ke Mall. Tapi, aku turuti saja.
"Belom dateng, Bang." timpal Nina yang sepertinya mewakili jawaban simi juga.
"Yaudah. Gue duluan, ya," ucap ku. Ketika telah selesai memakai kerudung.
"Iya. Hati hati."
Tempat kos ku kebetulan tidak berada di pinggir jalan besar. Bahkan, akses menuju tempat kos ku hanya bisa dilewati oleh satu buah motor saja.
"Lah, motor nya di parkir dimana?" Tanya ku heran. karena tidak melihat motor WR terparkir dimana mana.
"Siapa yang bawa motor?" Tanya nya balik.
"Dih, masa kita ke Mall nya jalan sih. Cape tau mana pake hills gini lagi." Gerutu ku sambil cemberut.
"Itu, sih," dia menunjuk sebuah mobil berwarna putih yang terparkir di pinggir jalan.
Mobil nya bisa dibilang biasa saja, tidak sebagus mobil mobil yang aku lihat di tv ataupun mobil mobil yang sering aku temui. Mobil milik nya ini, terkesan jelek dan sudah berumur. Aku tidak tau pasti nama mobil itu apa.
"Keren, kan?" Tanya nya dengan yakin bahwa aku akan menyukai nya.
"Ish. Apaan jelek begitu." Ledek ku.
"Klasik tau. Sekitar tahun 70an gitu, kan. mobil ini."
"Alah, pantes. Mobil tua." Jawabku.
"Ayo, masuk," ucap nya sambil membukakan pintu untuk ku.
Mobil tersebut hampir menyerupai sedan, hanya saja body nya sudah tidak mulus. Belum lagi, kaca mobil yang benar benar transparant, membuat cahaya matahari siang itu langsung masuk tanpa basa basi.
"Gak ada Ac nya?" Tanyaku kegerahan.
"Gak ada," jawabnya sambil tertawa.
"Tadi mah pake motor aja yank. Segala bawa mobil. Mobil siapa sih, nih?" Tanya ku heran.
"Aku, lah,"
"Mobil kaya gini dibeli."
"Murah soalnya," balasnya sambil tertawa.
Sesekali, terdengar bunyi decitan yang berasal dari mobil tsb. Tapi, aku tidak tau pasti bunyi itu berasal dari mana. Perjalanan agak sedikit lebih lambat dari biasanya. Selain jalanan cukup ramai. Tampak nya WR, juga cukup kesulitan mengendarai mobil yang dia bilang "keren" itu.
__ADS_1
"Agak susah ini. Gas nya lumayan berat," ucap WR beberapa kali ketika mengendarai mobil tsb. Aku yang tidak mengeri mobil hanya manggut manggut saja.
***
Tiba lah kami di sebuah Mall. Setelah mengambil kartu parkir, kamipun bergegas menyimpan mobil yang kami naiki. Masih banyak lahan parkir yang belum terisi siang itu. Di ujung lahan parkir, tampak sebuah tempat yang lumayan luas untuk kami bisa dengan leluasa memarkirkan mobil.
Akhirnya, dia pun memilih tempat itu dan mensejajarkan mobil nya dengan beberapa mobil mewah yang terhalang beberapa jarak.
Mesin mobil berhenti, aku siap siap menuruni mobil. Tapi,
"Yank, ini kok gak bisa dibuka, sih,?" Saat itu aku kesulitan untuk membuka pintu mobil tersebut. Berulang kali, aku menarik handle nya tapi tetap saja tidak terbuka. Hanya terdengar bunyi "krek, krek, krek."
"Oh, ini kan mobil bagus." Jawab nya seraya turun dari mobil tersebut dan berjalan menuju ke arah pintu yang tengah aku buka paksa.
"Nih, liatin," ucap nya hendak membuka pintu. "Krek.." suara pintu terbuka.
"Dih. Kok bisa, sih?" Tanyaku heran.
"Iyalah. Mobil mahal kan harus pake supir. Harus ada yang bukain dari luar."
"Maksudnya gak bisa dibuka dari dalem gitu?" Aku bergegas keluar dari mobil yang benar benar membuat kerudung ku lepek. Panas sekali.
"Iya. Haha,"
"Dih, nyusahin mobil kamu mah,"
"Tuh liat tuh. mobil ku kan yang paling keren," ucap nya dengan bangga menyandingkan mobil tua milik nya dengan beberapa mobil lain yang mengkilat.
"Dih, si cantik dan si buruk rupa. Nah mobil mu yang buruk rupa." Jawabku sambil terkekeh.
"Yeh, gak ngerti seni kamu, mah,".
"Biarin. Buruan, panas." Ucapku sambil menarik lengan jaket nya.
"Iyalah seger. Kan pake AC. Emang nya mobil kamu gak ada AC nya." Ledek ku sambil menjulurkan lidah.
Dia hanya tertawa tanpa membalas ledekan ku.
***
3
Setelah berkeliling kesana kemari tanpa membeli apapun. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di salah satu resto yang ada di Mall tersebut.
"Gak apa apa, makan disini?" Tanyaku ragu.
"Ya gak apa apa."
"Cukup gak uang nya?" Saat itu WR hanyalah seorang mahasiswa biasa yang belum bekerja. Untuk makan saja masih diberi oleh orang tua. Tapi, beruntung nya. Dia adalah orang yang hemat. Entah bagaimana cara nya selalu saja ada uang yang terkumpul dari sisa sisa uang jajan nya.
"Gak tau. Kalo gak cukup nanti kamu nyuci piring aja." Jawabnya sambil berlalu memasuki resto tsb.
"Dih yank. Serius, ih." Aku berusaha mengejarnya dan menarik jaket nya.
"Selamat siang. Mas, Mba. Silahkan dipilih tempat duduk yang nyaman untuk makan." Salah seorang pelayan menyambut kami dan membuat ku mengehentikan tindakan.
Aku memilih sebuah meja dengan dua buah kursi terletak di ujung sebelah kanan. Seorang pelayan datang dan memberikan buku menu agar kami bisa memesan.
Sebenarnya, bukan hal yang "Wah" kami makan berdua. Tapi, biasanya kami makan di warteg, RM padang, atau makanan makanan pinggir jalan lain nya. Yang lebih sesuai dengan kantong kami para mahasiswa.
Sempat beberapa kali aku pernah makan disini. Bersama teman teman ku dan juga bersama seseorang yang sudah tidak ingin aku ingat lagi.
Harga untuk satu porsi menu tanpa nasi saja bisa mencapai 50k disini. Dan itu membuat ku benar benar was was. Berapa banyak uang yang dia bawa sebenarnya.
__ADS_1
"Mahal mahal, yank," aku sudah berusaha mencari menu yang paling murah. Tapi harga es teh manis nya saja mencapai 15k.
"Pesen aja. Gausah liat harga," tutur nya sambil melihat lihat menu juga.
"Serius? Uang nya cukup gak,?"
"Cukup,".
Akhirnya kami pun memesan 2 macam menu yang berbeda dengan 2 buah nasi, 2 gelas es dan satu mangkuk es krim.
Hampir setengah jam, makanan baru tiba. Aku memakan nya dengan sangat lahap begitupun juga dia.
"Mau kemana lagi?" Tanya ku disela sela kunyahan.
"Makan aja dulu,"
"Pulang aja," pinta ku.
"Gak mau beli boneka dulu?" Tanya nya, seolah mengingatkan ku pada kejadian yang pernah aku alami dulu.
"Engga," jawab ku sambil menggeleng
"Yaudah."
***
Selesai makan kami langsung bersiap pulang. Kondisi parkiran sore ini sudah berubah menjadi penuh dan berdempet demperan, berbeda saaat waktu pertama kali aku datang.
Dengan cepat kami naik kesebuah mobil tua yang belum lama dibeli oleh WR.
Nampak WR sangat gelisah sekali saat ini, berbeda dengan tadi. Sesekali dia menengok ke belakang dan beberapa kali menatap ke arah spion.
"Kenapa?" Tanyaku cemas. Karena kita sudah berada cukup lama dalam mobil tsb. Tapi, WR belum bisa mengeluarkan nya dari barisan mobil yang cukup rapat itu.
"Takut mentok," ucap nya dengan keringat yang mengucur deras di kening.
Dia memajukan mobil nya sehingga menghalangi jalan. Beberapa mobil yang akan melintas awalnya menunggu dengan sabar. Tapi, tampak nya WR masih kesusahan dalam memarkirkan mobil nya ke arah jalan keluar.
Tid !! tid !!
Bunyi klakson dari beberapa pengendara lain yang sudah mulai tidak nyaman.
"Gimana, yank?" Tanya ku gugup. Sambil mengusap keringat yang hampir mengenai mata nya.
"Gak tau, ini susah." Ucap nya.
"Ya Allah yank. Itu yang ngantri makin panjang. Segala bawa mobil, lagian sih. Coba pake motor, udah dari tadi pasti kita keluar."
"Kamu turun gih, parkirin." Saran nya
"Dih, gak ah. Emang, aku bisa. Ntar nabrak mobil orang lagi."
"Nah, bisa," terlihat ada sedikit senyuman di wajah nya. Mobil melaju di iringi beberapa mobil lain di belakang kami.
"Ah, syukurlah." Ku ambil nafas dalam dalam dan menghembuskan nya secara perlahan.
"Gausah pake mobil ini lagi ah, udah jelek. Nyusahin lagi." Dumel ku sambil tertawa mengingat kejadian tadi.
"Di jual aja mobil nya. Nanti beli yang bagus." Jawabnya dengan tatapan kedepan.
"Mau kemana lagi?" Tanya WR
"Pulang aja ah, ntar gak bisa parkir lagi," jawab ku yang di iringi gelak tawa oleh nya.
__ADS_1
"Siap,"