WR - Tentang Sebuah Rasa

WR - Tentang Sebuah Rasa
68 - Bertemu Arega Part 1


__ADS_3

Sore hari, Aku Simi dan Nina telah berada di parkiran salah satu Mall dikotaku. Harusnya aku pergi malam nanti, hanya saja ucapan WR yang mengingatkanku tentang pria yang dulu membuntutiku, membuat aku takut jika harus keluar malam lagi tanpa adanya laki-laki yang menemani.


Awalnya Simi menolak dengan alasan "Sore masih sepi. Belum rame," Namun aku meminta bantuan Nina untuk membujuk Simi hingga akhirnya dia setuju. "Terserah lu aja," Ucap Simi.


Motor belum terlalu penuh diparkiran sore ini, satu persatu kami turun dari motor. Aku mulai melepaskan helm yang tadi aku gunakan dan menggantungnya dispion motor sebelah kanan. Karena sebelah kiri telah diisi oleh helm milik Simi.


Tiba-tiba saja,


"Tiya.."


Terdengar suara laki-laki yang memanggilku. Sepertinya aku kenal suara itu, tapi siapa. Ku edarkan netraku kesegala arah untuk mencari asal suara itu. Belum berhasil menebak siapa si empunya suara tersebut. Tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada sosok dua laki laki yang tengah berjalan kearahku.


"Arega," Ucapku lirih yang bahkan sepertinya hanya mampu didengar oleh telingaku.


Untuk sesaat aku terdiam menyaksikan kehadiran. Sedikit tidak percaya karena bisa bertemu dengannya lagi setelah sekian lama. Wajah Arega masih sama walaupun dengan gaya rambut yang berbeda. Rambutnya yang sekarang sedikit lebih pendek dengan gaya rambutnya yang dulu. Senyumnya pun masih tetap sama, masih memancarkan keteduhan diwajahnya yang sendu. Dengan mengenakan jaket berwarna hitam dan kaus abu-abu, Arega berjalan kearahku ditemani seorang laki-laki yang berjalan berdampingan dengannya.


"Heyy..." Simi berteriak sembari melambai-lambaikan tangannya kearah Arega.


"Arega makin ganteng semenjak putus sama lu " Bisik Simi pelan ditelingaku. Aku hiraukan perkataannya tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutku.


"Tiya apa kabar?" Sapa Arega yang kini telah berada dihadapanku dan tengah menatapku dalam senyum.


Suara itu, sudah lama sekali aku tidak mendengarnya. Seolah tidak ada yang berubah darinya, seolah dia masih Arega yang dulu pernah jadi milikku. Seolah terhipnotis oleh sapaannya. Entah kenapa kini aku tengah menatapnya dalam dalam. Seperti ada kerinduan direlung tatapannya. Apakah dia merindukanku? atau hanya aku saja yang terbawa suasana. Entahlah, yang jelas Segera ku alihkan netraku yang tadi sempat beradu dengan manik matanya.


"Baik. Arega apa kabar?" Tanyaku sedikit gugup karena tidak menyangka bisa bertemu Arega di tempat ini.


"Aku baik." Jawab Arega. "Simi Nina apa kabar?" pertanyaan Arega kini ditujukan untuk kedua orang temanku.


"Baik dong. " Jawab mereka berbarengan.


"Ini kenalin, temenku. Raka namanya." Arega memperkenalkan laki-laki yang sedari tadi berdiri disampingnya. Pria tersebut menjulurkan tangannya kepada Simi, Nina dan terakhir padaku.

__ADS_1


"Akhirnya bisa liat Tiya secara langsung." Ucap Raka.


"Hah? Gimana?" Tanyaku bingung yang tidak mengerti maksud dari ucapannya itu. Raka tidak menjawab pertanyaanku dan hanya membalasnya dengan sebuah senyuman yang diarahkan untuk Arega.


"Tiya mau ngapain kesini?" Tanya Arega lagi.


"Main aja. Simi bete katanya dikosan." Jawabku


"Bertiga aja?" Tanya Arega memastikan. Mungkin dia ingin bertanya mengenai WR hanya saja dia sungkan untuk mengutarakannya.


"Iya," Jawabku singkat.


"Bareng aja yuk. Kebetulan kita cuma mau nyari kamera doang. Gimana, Ar?" Raka mengajak Aku, Simi serta Nina agar mau berjalan bersama mereka dan meminta persetujuan Arega.


"Terserah aku sih. Kalo Tiya nya mau." Arega menatapku. Sinar matanya seolah menunjukan sebuah harapan besar atas jawabanku. Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba saja Simi sudah lebih dulu berucap. "Tapi traktir makan, ya. Kan udah bergaji sekarang mah. " Begitu katanya.


"Simi," Aku menatapnya dengan sebuah tatapan mengancam tapi seperti biasa Simi tidak ada takutnya sama sekali terhadapan ancamanku.


"Tenang, nanti Arega yang bayarin. iya kan Ar?" Raka kembali menjawab. Sepertinya pria tersebut sama seperti Simi. Sama sama ceplas ceplos dan mudah bergaul.


"Yaudah. Kuy masuk." Seru Nina sembari mengandeng tanganku memasuki Mall.


Ada sedikit keraguan terbesit dihatiku ketika hendak memasuki Mall bersama dengan Arega. "Bagaimana jika WR tau hal ini. Meskipun aku tidak hanya berdua dengan Arega tapi tetap saja aku khawatir WR akan marah jika tau ini semua."


Aku berjalan bersama memasuki Mall setelah Simi berbisik ditelingaku bahwa baik dia ataupun Nina tidak akan ada satupun yang memberitahu WR tentang kejadian ini. Tapi, bagaimana jika nanti ada salah seorang teman WR yang melihatnya? Semoga saja tidak.


Raka seolah mengkomandoi perjalanan ku kali ini. Dia mengajak Aku dan kedua temanku untuk ikut menemaninya memilih kamera terlebih dulu setelah itu barulah kita memilih tempat makan yang sesuai selera.


Aku tidak banyak bicara saat itu. Malah, Raka, Simi dan Nina sudah tampak akrab satu sama lain. Bahkan ketika memilih kamera pun Raka lebih banyak bertanya pada Simi dan Nina yang tidak tau apa-apa dan membiarkan Arega duduk menemaniku dikursi yang ada di toko tersebut.


"Kamu kenapa diem aja." Tanya Arega membuyarkan lamunanku.

__ADS_1


"Hm, engga kok." Jawabku gelagapan karena tidak siap mendengar pertanyaannya.


"Mau makan dimana?" Tanyanya lagi, mungkin Arega mencoba untuk mencairkan suasana agar bisa mengobrol lebih leluasa lagi.


"Dimana ya, gak tau. Nanti tanya Simi atau Raka aja. " Ku balas pertanyaannya dengan sedikit garis lengkung dibibir. Sesekali ku tatap Arega yang tengah duduk menunggu Raka memilih kamera dan kemudian mengedarkan pandangan kearah lain. Arega memalingkan wajahnya kearahku tepat disaat aku tengah menatapnya. Mata kami kembali beradu, hingga aku tenggelam dalam tatapannya.


"Ar. Udah." Ucapan Raka mengembalikan kesadaranku dan juga Arega. Segera kubuang wajahku kearah lain dan mulai menarik nafas dengan gusar.


"Sory nih. Gue ganggu. Tapi gimana kalau kita cari tempat makan aja buat sekalian ngobrol ngobrol." Ajak Raka.


"Udah dapet kameranya?" Tanya Arega.


"Nih," Raka menunjukan sebuah tas berwarna hitam yang berisikan kamera didalamnya.


"Yaudah ayo."


Aku beranjak dari kursi dan mulai berjalan menyusuri Mall yang tidak terasa sudah mulai dipenuhi pengunjung. Entah berapa lama aku berada di tempat kamera, hingga suasana Mall sudah ramai seperti ini.


Entah kenapa Raka sangat senang berbincang dengan Simi dan Nina disepanjang perjalanan menyusuri Mall ini. Apalagi Nina yang sudah mulai senyum senyum aneh saat bersama Raka. Kondisi tersebut mau tidak mau membuat aku berjalan berdampingan dengan Arega, dengan Simi Nina dan Raka yang berjalan selangkah lebih maju didepanku.


Beberapa tempat makan yang kami lewati selalu saja telah dipenuhi oleh pengunjung. Hingga akhirnya aku dan yang lain harus kembali berjalan mencari Resto kosong yang lain.


"Nah itu aja tuh," Raka menunjuk sebuah tempat makan yang lumayan penuh tapi masih ada beberapa kursi yang kosong.


"Tiya mau makan disana?" Arega menatapku dan bertanya.


"Mau, mau, mau." Jawab Simi mengambil alih jatahku.


"Apa sih, kan gue yang harusnya jawab." Dumel ku pada Simi.


"Ya tapi lu juga mau kan?" Tanya Simi.

__ADS_1


"Ya mau, tapi kan gue yang harusnya jawab."


Arega tertawa menyaksikan perdebatanku dan Simi. "Kalian masih sama aja, masih suka berantem." Ucap Arega yang membuatku mengehentikan perdebatan dengan Simi.


__ADS_2