Adhisti

Adhisti
Bab 13


__ADS_3

Mentari tersenyum manis di ufuk Timur. Semburat keemasan menghias lazuardi. Menandakan pagi menjelang. Kokokan ayam bersautan membangunkan jiwa-jiwa yang masih terlelap.


Menik mengusap perlahan netranya yang masih lengket. Entah jam berapa netra itu terlelap tadi malam. Rasa kantuk masih menggayut, membuatnya enggan membukanya.


Perlahan Menik menyibakkan selemut tebal yang masih setia membungkus tubuhnya. Diambilnya ponsel yang ada di nakas sebelah tempat tidurnya.


Seketika matanya membola melihat puluhan panggilan dari nomor yang sama. Lebih tepatnya telepon dari Agus. Semalam Menik sengaja mengaktifkan mode silent pada ponselnya. Sehingga meskipun ponsel itu berdering puluhan kali, tak akan mengganggunya yang fokus mencari jawaban untuk Agus.


Menik terhenyak melihat puluhan panggilan itu. Baru teringat jika hari ini waktunya dia memberikan jawaban ke Agus. Hatinya gamang, harus menjawab apa. Dia masih belum bisa mendefinisikan rasa sukanya terhadap Agus.


Perlahan dia letakkan lagi ponsel itu di nakas. Segera mensucikan diri dan bermunajat kepada Sang penguasa alam. Berharap mendapatkan kemantaban tentang perasaannya.


...***...


"Lapar, enaknya masak mie rebus pakai telur plus potongan cabai." gumamnya. Menik pun beranjak menuju dapur, meracik mie rebus sesuai dengan seleranya. Pedas sepedas ucapan Sri Suketi.


Slruuup ... slruup perlahan namun pasti semangkuk mie kuah bertabur cabai itu berpindah ke dalam perut menik. "Kenyang." gumamnya.


Beb ... beb ... beb ... ponsel itu bernyanyi dengan merdu, menandakan ada panggilan masuk. Menik menghela napas berat sebelum mengangkatnya.


"Halo, assalamualaikum." sapanya.


"Waalaikumsalam, Menik. Apakabar?" tanya Agus basa-basi.


"Alhamdulillah baik mas." jawabnya


"Nik, udah satu minggu berlalu. Sekarang saatnya aku menagih janjimu."


"Maaf mas."


"Lhah kok malah minta maaf. Aku saat ini nggak butuh kamu minta maaf Nik. Karena kamu memang nggak ada salah sama aku." "Huft" Agus mendengus kesal. "Nik, ayolah serius sedikit. Jawab pertanyaanku seminggu yang lalu!" tegasnya


"Mas ... Menik terus terang masih bingung membedakan perasaan nyaman sebagai adik mas, atau nyaman sebagai pemilik hati mas. Tapi mas, bukannya Menik menolak pinangan mas. Coba mas bicarakan langsung dengan Ayah. Jika ayah setuju, Menik akan nurut. Tapi jika ayah tidak setuju, Menik tidak bisa berbuat banyak."


"Oke kalau itu maumu, mas akan langsung menemui ayah Menik bersama kedua orang tua mas." putus Agus


"Iya mas. Lebih baik seperti itu, karena bagi Menik, restu orang tua paling utama."


"Aku harap pak Broto menyetujuinya Nik."


"Aamiin." ucap Menik mengamini harapan Agus


"Aku harap Menik tidak terpaksa menerima perasaanku." harap Agus


"He ... he ... ternyata mas bisa lebay juga." kekeh Menik.


"Kamu itu Nik, nggak pernah peka dengan perasaan orang lain. Dan aku menjadi salah satu korbanmu." sindir Agus.


"Bukannya terbalik mas, malahan Menik yang jadi korbannya mas." sangkal Menik.


"Kamu salah Nik, malah aku yang jadi korbanmu. Buktinya aku langsung cinta sama kamu, meski hanya melihat bayangan dari pantulan kaca."


Pipi Menik merona mendengar penuturan Agus. Dia tak menyangka kalau Agus sudah menaruh hati sejak pertama kali melihatnya.


...***...


"Mbak, ibu mana?" tanya Agus kepada Astuti

__ADS_1


"Di teras depan sama ayah." jelas Astuti


Astuti yang melihat adiknya terus mengulas senyum menjadi penasaran. Diam-diam dia mengikuti Agus yang beranjak ke teras depan. Dia pun menyembunyikan diri dengan cukup rapi di balik tirai. Ditajamkan pendengarannya, agar bisa merekam semua pembicaraan adik dan kedua orang tuanya.


"Ayah, Agus boleh bicara?" tanya Agus dengan sopan


"Boleh saja. Tumben minta izin dulu, biasanya langsung nyerocos tanpa titik koma." goda bu Islah


"Ibu ini coba jangan godain Agus dulu. Kali ini Agus mau bicara serius. Keburu Agus lupa nanti" ujarnya sembari menampilkan mimik serius.


"Mau ngomong apa Gus?" tanya pak Dewa.


"Anu yah ... anu ..." gagap Agus.


"Kenapa jadi gagap Gus. Anu apa maksudnya?" pak Dewa menjeda pertanyaannya untuk menyeruput kopi hitam buatan bu Islah. "Ngomong yang jelas, biar ayah paham."


"Ehm, kelihatannya Ibu tahu apa yang mau Agus bicarakan Yah. Lihat dari tadi wajahnya sumringah, senyum terus." Sindiran yang tepat sasaran dari bu Islah. Seketika membuat pipi Agus bersemu merah.


Pak Dewa tersenyum melihat keakraban anak dan istrinya. Anak yang beliau peroleh dengan menunggu belasan tahun setelah pernikahannya. Namun Allah mengganti penantian itu dengan kehadiran lima orang anak yang usianya berurutan.


"Yah ... bisa ke rumah Menik tidak besok malam?" tanya Agus dengan mantab.


"Bisa sih, tapi mau ngapain ke sana?"


"Ya mau lamar Menik lah yah. Masak mau lamar pak Broto."


"Memangnya Menik sudah beri jawaban mengenai pinanganmu?" tanya pak Dewa penuh selidik.


"Ehm, masih gantung yah."


"Nah itu masih belum pasti jawabannya. Kamu nggak malu kalau sampai sana kita ditolak pak Broto." tegas pak Dewa


"Kalau pak Broto nggak setuju bagaimana? Sudah siap kamu kalau ditolak?" Pak Dewa menguji keseriusan Agus lewat kata-kata. Jangan sampai ketika ditolak, Agus langsung bersedih.


"Kalau ditolak Pak Broto, Agus ajak Menik kawin lari lah yah." gurau Agus.


Plak ... pukulan keras mendarat di punggung Agus. Bu Islah refleks memukulnya. "Enak saja kamu ngomong Gus! Mau bawa lari anak orang."


"Ayah, ibu KDMA ... tolongin Agus."


Agus bersembunyi dibalik punggung tegap pak Dewa. Meskipun sudah berusia senja, namun postur beliau masih terawat.


"Apaalagi itu KDMA?" heran pak Dewa, dengan istilah yang digunakan anaknya.


"Kekerasan Dalam Mengasuh Anak yah."


Pluk ... bantal kursi teras mendarat mulus di muka Agus. Bu Islah terbahak melihat lemparannya tepat sasaran.


"Jadi besok kesana jam berapa?" Sela pak Dewa.


"Sebaiknya habis magrib atau isya yah? Biar waktunya agak longgar.


"Kalau habis isya bagaimana Bu?" pak Dewa meminta pendapat dari istrinya.


"Kalau ibu terserah saja yah. Habis isya juga boleh. Karena waktunya longgar, jadi kalau pak Broto setuju, kita bisa langsung bahas pernikahan. Kasihan anakmu yang sudah kebelet pengin kawin ... eh—nikah."


"Kita perlu telepon dulu kalau mau kesana atau tidak bu?"

__ADS_1


"Seharusnya perlu yah, biar pak Broto tidak kaget dengan kedatangan kita. Tapi kan ini baru mau nanya."


"Iya ya, kalau begitu besok langsung ke sana saja. Sekalian ajak Ika, biar Broto kaget." kekeh pak Dewa.


"Ayah ini usilnya belum hilang juga ternyata. Bisa-bisa calon besan kita kabur yah. Karena dikira mau melamar dia sebagai menantu keponakan."


Agus bengong mendengar percakapan ayah dan ibunya. Agus terkejut ternyata ayahnya punya bakat mengerjai orang.


"Ya sudah Gus, sana kamu telepon Menik. Kabarkan sama dia, besok kita bertandang kerumahnya." perintah Pak Dewa.


"Baik Yah. Agus telepon Menik sekarang."


"Gus, jangan lupa suruh Menik besok pulang. Biar bisa langsung jawab di depan ayahnya waktu kita pinang."


"Siap komandan!" jawab Agus.


"Ayo bu kita masuk, di luar dingin. Mending pelukan di kamar."


Agus ternganga mendengar perkataan absurd ayahnya yang biasa pendiam. Ternyata bisa bertingkah absurd.


"Ayo yah." jawab Bu Islah sembari menggayut manja di lengan suaminya.


Astuti dengan cepat keluar dari persembunyiannya. Takut ketahuan orang tuanya jika menguping pembicaraan. Secepat kilat dia masuk ke kamarnya.


"Waduh, aku mau dilompati Agus. Enaknya minta pelangkah apa ya?" gumam Astuti.


...***...


Derrt ... derrt ... ponsel Menik bergetar. Dibukanya aplikasi hijau tersebut.


Agus: Assalamualaikum Menik.


Menik: Waalaikumsalam mas. Ada apa?


Agus: Besok malam habis Isya rencananya aku sama ayah dan ibu akan ke rumah Menik. Kalau bisa Menik pulang.


Menik: Lhah kalau nggak bisa pulang gimana mas?


Agus: Kalau bisa pulanglah. Apa perlu aku jemput?


Menik: Nggak usah di jemput mas. Insya Allah Menik usahakan pulang. Tapi agak sore dari sini. Karena Menik magang sampai jam empat.


Agus: Aku jemput saja. Takut kamu kemalaman di jalan.


Menik: Nggak usah mas. Ntar biar Menik ajak Ince untuk nemani.


Agus: 👌👌


Agus: ❤️❤️


Menik: 🤪🤪🤪


Agus: 😶😶


...***...


Semalaman Menik tidak tidur, memikirkan apa yang akan terjadi di pertemuan keluarganya dengan keluarga Agus.

__ADS_1


Menik ragu apakah ayah setuju dengan pinangan Agus, atau malah menolaknya. Apalagi ada Sri Suketi yang pasti akan ikut andil dengan keputusan ayahnya.


Alarm di ponsel Menik mengejutkan lamunannya. Diliiknya jam yang membisu di atas almari. Bagaimana tidak membisu jika batrainya habis.


__ADS_2