Adhisti

Adhisti
Bab 41


__ADS_3

"Hai, kelihatannya asyik obrolan kalian, boleh aku ikut bergabung?" izin Darmawan.


"Silakan Wan. Nggak usah sok izin segala mau gabung. Biasanya juga langsung." sarkas Fendi.


Darmawan menempatkan diri di antara Fendi dan Menik. Karena Darmawan duduk terlalu mepet, Menik merasa risih, dan menggeser duduknya ke kursi kosong di depan Fendi.


Ince tanggap denga ketidaknyamanan Menik. Dia berinisiatif mengajak Menik untuk pergi dari taman.


"Nik, aku lapar. Ayo cari sarapan dulu. Mumpung dosen belum datang." ajak Ince.


Belum sempat mereka beranjak, terdengar notifikasi di ponsel mereka. Ince segera membuka ponsel.


Grup kelas


Kating: Dosen berhalangan hadir sampai jam terakhir. Karena ada acara di Rektorat.


Ince: Yes


Erna: Iyes


Witri: 😘😘


Kholil: Matur tengkiu infone Ting.


"Ayo Nik, gaskuen sarapan di mana?" tanya Ince.


"Biasalah, yu Sri tetap nomer satu." jawab Menik.


"Ghan, aku sama Menik ke tempat yu Sri dulu. Ikut nggak?" tanta Ince pada Ghani yang masih asyik ngobrol dengan Darmawan dan Fendi.


"Sayang duluan saja. Ntar aku nyusul." ucap Ghani.


Mendengar dirinya dipanggil sayang, seketika pipi Ince berubah merah seperti udang rebus.


"Cie yang dipanggil sayang, langsung merona." gurau Menik.


"Apaan sih Nik. Biasanya kali." seru Ince sambil berjalan cepat menuju kantin yu Sri.


"Woi ... Ce ... jangan cepat-cepat jalannya." teriak Menik yang tertinggal di belakang.


Sampai di kantin, Ince mengedarkan pandangan mencari tempat kosong untuk duduk. Karena banyak kelas yang kosong, kantin pagi ini penuh sesak. Padahal hari-hari biasa kantin relatif sepi pada jam-jam kuliah. Untung saja Ince melihat meja di sudut kantin yang masih kosong.


"Nik, kamu duduk di sana dulu. Biar aku yang pesan. Kamu mau soto atau mie ayam?" seru Ince.

__ADS_1


"Mie ayam saja Ce. Lama nggak merasakan mie ayam yu Sri." jawab Menik dan segera menuju bangku yang ditunjuk Ince.


***


Sementara itu di belahan dunia lain, Agus terlihat memandangi ponselnya sedari tadi. Kebetulan sinyal penuh hari ini karena kapal mereka sedang bersandar di pelabuhan.


Agus duduk di teras penginapan khusus untuk karyawan. Belum sempat dia menekan nomor telepon Menik. Dia dikejutkan sebuah panggilan.


"Agus."


Agus menoleh ke arah suara itu berasal. Betapa terkejutnya Agus, melihat siapa yang memanggilnya.


"Wiwid." serunya tak percaya.


"Iya Gus, ini aku. Kamu kenapa kaget melihatku?"


"Kamu ngapain ke sini Wid?"


"Ngantar mbak Utari yang lagi ngidam pengin ketemu suaminya Gus. Eh ternyata aku malah ketemu kamu." jawab Wiwid dan duduk di samping Agus.


Agus yang terkejut melihat Wiwid dengan santai duduk di sampingnya, langsung bergeser sedikit menjauh.


"Kenapa kamu geser Gus? Malu duduk di dekatku?"


"Memang kenapa Gus, kalau kita punya hubungan khusus. Toh kamu juga masih sendiri, aku juga sendiri. Kecuali kalau kamu sudah ada pendamping, baru itu nggak boleh." ujar Wiwid dengan santai, dan perlahan menggeser duduknya semakin mendekat ke arah Agus.


Melihat Wiwid yang semakin mendekat, Agus memilih untuk berdiri bersandar di tiang teras.


"Maaf Wid, kita harus jaga jarak mulai sekarang. Karena ada hati yang harus ku jaga."


"Ah kamu pintar sekali menghindariku Gus. Aku tak akan percaya sebelum aku melihat sendiri siapa gadis itu." jawab Wiwid dengan entengnya.


"Terserah kamu Wid, yang penting aku sudah jujur sama kamu." tegas Agus.


"Eh, ternyata kamu di sini Wid? Mbak cariin dari tadi. Eh ternyata malah beduaan." seru Utari tanpa dosa yang tiba-tiba muncul di teras bersama Andi.


Agus melangkah menjauh menuju ke kamarnya. Baru beberapa langkah, terdengar Andi berseru.


"Lho Gus, mau ke mana? Nggak usah malu dengan kami Gus. Lanjutkan saja. Biar aku dan Utari yang pindah."


"Agus mau telepon Ibu di rumah mas."


"Telepon di sini saja Gus, kebetulan aku juga pengin bicara dengan Ibu, tentang tawaranku padamu kemarin. Biar nggak kelamaan. Kasihan Wiwid menunggumu." ucap Andi.

__ADS_1


Agus terhenyak dengan ucapan Andi. Jika selama ini Andi mengatakan tanpa adanya Wiwid di dekatnya, sudah pasti Agus bisa mengelak. Namun, situasinya sekarang berbeda dengan adanya Wiwid.


"Maaf mas, jawaban Agus masih seperti dulu. Saya dan Wiwid hanya berteman tidak lebih." tegas Agus. "Maaf saya permisi." lanjutnya, dan segera masuk ke dalam kamarnya.


Mendengar jawaban Agus, mata Wiwid terasa panas, dan mulai ada yang menggenang di sudut matanya. Perlahan genangan itu sukses menuruni pipi mulusnya.


"Sudah Wid, nggak usah nangis. Mas janji, Agus akan jadi milikmu." ucap Andi dengan penuh penekanan.


"Wiwid pegang janji mas Andi. Wiwid nggak mau menikah dengan laki-laki selain Agus." tegasnya.


"Sudah Wid, jangan nangis lagi. Apa kamu lupa siapa mas mu? Kalau cuma masalah Agus, gampang saja Wid. Tunggu tanggal mainnya." ucap Utari menenangkan Wiwid.


"Janji ya Mas. Awas kalau Agus terlepas dari genggaman Wiwid." ancam Wiwid kepada Andi.


Andi yang paham dengan sifat Wiwid, hanya mengangguk pasrah. Andi takut kalau sampai Wiwid berbuat di luar batas apabila Andi tak bisa menepati janjinya. Jadi Andi harus memutar otak mencari cara agar Agus bersedia menikah dengan Wiwid. Meski dengan cara mengandalkan jabatan tentunya.


Setelah mendengar janji Andi yang juga dipertegas oleh Utari, Wiwid memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi sekitar pelabuhan.


"Mas—" panggil Utari.


Andi mengikis jarak mendekati Utari. Dibelainya rambut sebahu Utari penuh rasa sayang.


"Iya, sayangku."


"Ehm, menurut mas, tentang Agus dan Wiwid bagaimana? Seandainya Agus menolak, apa yang akan mas lakukan?"


"Ya, mas akan paksa Agus. Sayang kan tahu bagaimana jika keinginan Wiwid nggak dipenuhi."


"Tapi mas, sesuatu ikatan yang dipaksakan akan menjadi bumerang untuk sebuah hubungan. Apalagi tadi aku sempat dengar, kalau Agus sedang menjaga hati seseorang. Aku jadi nggak tega mas. Siapa tahu Agus sudah punya calon mas."


"Biar saja Yang, kalau memang Agus sudah punya calon. Mas tetap akan paksa Agus nerima Wiwid." tegas Agus tak mengindahkan kata-kata Utari.


"Kamu nggak berubah mas. Masih suka main paksa." lirih Utari.


"Maksudmu?" ketus Andi.


"Nggak usah sok pura-pura lupa mas. Masih ingatkan bagaimana mas bisa dapatin Tari. Atau perlu Tari ingatkan." sindir Utari.


Kata-kata Utari berhasil menyudutkan Andi. Utari mengingatkan pada masa lalunya. Tentang bagaimana akhirnya mereka bisa menikah. Tentunya dengan cara-cara yang membuat Utari terpaksa mau menerima pinangan Andi. Untung saja Utari orangnya tidak macam-macam. Meski terpaksa, namun dia mau berusaha untuk menerima Andi.


"Tapi meski terpaksa, buktinya kita tetap langgeng sampai sekarang." elak Andi.


"Ya, karena perempuan itu Aku mas. Coba kalau yang lain, belum tentu." sarkas Utari.

__ADS_1


"Pokoknya kalau Agus nggak mau menjadikan Wiwid istrinya, aku jamin karirnya akan mati." ucap Andi berapi-api.


__ADS_2