Adhisti

Adhisti
Bab 21


__ADS_3

Pak Broto tak menghiraukan nasihat mbah Minto. Pikirnya karena besannya bukan orang Jawa, jadi masalah hitungan itu tidak perlu. Baginya yang penting Menik bisa menikah.


Pak Broto memanggil istrinya, "Mi—mami."


"Iya Pi." jawab Sri Suketi.


"Mami sudah cek semua persiapannya?" tanyanya kembali


"Sudah Pi. Papi tenang saja, duduk manis."


"Alhamdulillah. Memang istriku yang terbaik."


Sri Suketi tersenyum simpul mendengar pujian Pak Broto. Ia pun segera beranjak ke dapur untuk mengecek kudapan dan makan besar.


Persiapan pernikahan yang serba mendadak ini menyebabkan tidak ada pesta meriah. Cukup syukuran setelah akad nikah. Karena yang terpenting adalah ijab qobulnya, sah di mata agama dan negara.


"Ce, aku masih ragu dengan keputusan ini. Aku takut apabila di tengah jalan aku tak bisa meneruskan pernikahan ini. Aku takut Ce, apabila aku ada masalah dengan mas Agus, saat itu aku ketemu sama Mas Soni. Takut goyah aku Ce."


"Jalani semuanya dulu Nik. Kita nggak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Bisa saja sebenarnya kamu sudah jatuh cinta sama Agus, cuma kamu belum sadar."


Tok ... tok ... tok


Terdengar ketukan pintu dari luar, "Nduk, periasnya sudah datang. Cepat mandi, biar cepat di rias." seru Sri Suketi dari balik pintu


"Iya mi, Menik sudah mandi. Suruh saja mbak nya masuk."


Menik pun dirias di kamarnya. Tubuh langsingnya terbalut kebaya kuning gading indah berbahan satin, brokrat dan hiasan kembang goyang di kepalanya.


Acara ijab qobul akan dilaksanakan di ruang tamu. Menik menanti saat ijab qobul tiba dengan banyak-banyak istiqfar, untaian doa dia lantunkan, semoga perjalanan panjang yang akan dimulai hari ini dimudahkan dan dilancarkan.


Ince yang mendampingi sahabatnya di detik-detik melepas masa lajangnya sesekali menyeka air matanya. Haru menyeruak di hatinya. Sahabat yang biasa selalu ada di saat senang maupun susah, mulai saat ini tak bisa lagi membersamainya setiap waktu. "Semoga kamu bahagia dengan keputusanmu." batinnya.


Sementara itu rombongan keluarga pak Dewa sudah datang dan dipersilakan masuk ke dalam rumah menuju tempat ijab qobul akan dilaksanakan.


Agus terlihat mengenakan pakaian yang senada dengan calon istrinya. Tangannya dingin, gugup menyapanya. Bu Islah menggegam tangan Agus, menyalurkan kehangatan seorang ibu. "Jangan gugup Gus, Bismillah." bisiknya


Menik berjalan menuju meja ijab qabul didampingi Budhe Harmini dan Ince. Sedangkan Sri Suketi sudah duduk di samping Bu Islah.

__ADS_1


Agus terpana melihat Menik yang hari itu bersolek tipis. Netranya tak berkedip menatap Menik yang keluar dari pintu ruang tengah sampai Menik duduk di sampingnya.


"Kamu cantik." bisik Agus


Menik tersipu malu mendengar bisikan Agus. Pipinya merona untung tertutup blush on sehingga tak kentara.


***


"Sudah berkumpul semuanya?" tanya petugas KUA


"Insya Allah sudah." jawab pak Broto setelah mengedarkan pandangannya.


"Saudara calon mempelai laki-laki apakah sudah siap?"


"Insya Allah siap." jawab Agus dengan mantab.


"Baiklah, karena sudah siap semuanya acara bisa dimulai. Bismillahirrahmanirrahim acara akad nikah ini akan dimulai."


Acara diawali dengan doa dan dilanjutkan dengan acara penerimaan dan sambutan dari pihak keluarga laki-laki dengan memberikan seserahan yang telah mereka persiapkan. Setelah Sambutan dari pihak laki-laki, pihak perempuan yang diwakili oleh pakde Harjo memberikan sambutan sebagai penerimaan.


Menik yang duduk di samping Agus tertunduk mendengarkan semua acara yang berlangsung. Tangannya yang sedingin es berada dalam genggaman budhe Harmini.


"Silakan mbak Menik bisa minta dinikahkan kepada Pak Broto." Ucap Pak Penghulu.


"Ayah ... yah ..." Menik menyeka air mata yang tiba-tiba luruh. Menik minta Ayah merestui dan menikahkan Menik dengan laki-laki pilihan Menik." isak tangis menghiasi acara sakral itu. Budhe Harmini pun tak bisa menahan air matanya, begitu juga Pak Broto dan Sri Suketi.


"Menik ucapkan banyak terima kasih kepada ayah atas semua bimbingan dan kasih sayang yang telah Ayah berikan kepada Menik sejak Menik masih di perut Ibu sampai saat ini. Ayah selalu berusaha menjadi Ayah sekaligus Ibu terbaik untuk Menik."


"Menik juga minta maaf atas semua kesalahan yang pernah Menik lakukan baik disengaja maupun tidak. Menik mohon keikhlasan dan ridho Ayah untuk menikahkan Menik. Terima kasih Ayah untuk semuanya." Pak Broto langsung merangkum Menik dalam pelukannya. Beliau tergugu, mencoba menahan air matanya, namun air mata itu tetap lolos.


"Pak Broto mau menikahkan putrinya sendiri, atau saya wakilkan?" tanya pak Penghulu.


"Saya nikahkan sendiri pak." mantab pak broto menjawabnya.


"Saudara Bagus Aryasatya Bayanaka apakah siap?" tanya pak Penghulu.


"Insya Allah siap."

__ADS_1


Pak Broto menjabat tangan Agus dengan erat.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Bagus Aryasatya Bayanaka bin Dewa Bagus dengan anak saya yang bernama Menik Adhisti Putri Broto binti Broto dengan maskawin berupa emas 25 gram dan seperangkat alat salat, dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Menik Adhisti Putri Broto binti Broto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Sah?"


"Sah!" Kompak saksi dan kerabat yang ada di ruangan itu menjawab.


Setelah kata sakral itu diucapkan, sejak itulah dunia Menik berubah. Dia bukan lagi seorang gadis lajang, melainkan istri dari Bagus Aryasatya Bayanaka. Langkahnya pun mulai terbatas, tak sebebas dulu lagi.


Agus dan Menik memutar posisi duduknya hingga berhadapan. Diulurkannya tangan kanan Agus, dan Menik menyambut uluran tangan itu dan menciumnya.


Agus merengkuh Menik dalam pelukannya, di ciumnya kening Menik dan di tiuplah ubun-ubun Menik, sembari melafalkan doa terbaik.


Menik takjub mendapat perlakuan manis dari Agus. Dia pun tertunduk khidmat sembari melafalkan doa. Semoga ke depannya akan berjalan dengan lancar.


Tetangga dan kerabat pun berangsur pulang meninggalkan rumah Menik. Ince pun berpamitan pulang.


"Nik aku pulang dulu ya, mumpung ada yang ngajak bareng." ucapnya


"Jangan pulang dulu Ce, temani aku sampai besok dan kita berangkat bareng ke kampus." rayu Menik.


"Kamu kan sudah ada Agus, ngapain aku temani lagi. Tenang, mami tak akan berani macam-macam karena ada Agus di sampingmu."


"Tapi Ce, rasanya kan beda. Enakkan sama kamu. Bebas bercanda sambil ghibahin orang."


"Kamu itu Nik, masih saja merasa lajang. Ingat sekarang kamu udah jadi istri. Jadi harus bisa menempatkan diri. Begitupun aku Nik. Tak bisa lagi menemanimu setiap saat. Terutama apabila suamimu ada."


Menik cemberut mendengar semua perkataan Ince. "Apa salah jika aku masih ingin kamu di sini Ce?"


"Nik, di sini masalahnya bukan salah atau benar, tapi status kamu udah berubah. Tenang Nik, kalau ada apa-apa telepon aku saja. Aku akan cepat datang pakai pintu ke mana sajanya doraemon."


Menik menghambur dalam pelukan Ince. Diam-diam air mata Ince luruh, dengan cepat dia menyekanya, sebelum ketahuan Menik.


"Udah ya Nik, aku pamit dulu, nggak enak sudah ditunggu Pakde dan budhe Iman."

__ADS_1


Dengan berat Menik melepaskan pelukkannya. "Hati-hati Ce, sampai ketemu besok di kampus."


__ADS_2