
"Halo," sapa Agus.
"Halo". Terdengar jawaban dari seberang telepon. Suara seorang wanita, terdengar lembut.
Suara itu tak asing bagi Agus, seperti pernah mendengarnya. Tapi di mana mendengarnya, Agus lupa.
"Iya halo, siapa?" tanya Agus.
"Tika mas, aka Ince."
"Oh, Tika. Ada apa Tik?"
Ince segera mengutarakan maksudnya, untuk menghemat waktu. Ince, menelepon Agus agar segera menghubungi Menik untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi.
Bahkan Ince sudah membuat rencana, agar Menik bersedia mengangkat telepon dari Agus. Setelah panjang lebar menyampaikan rencananya, Ince segera menghakhiri panggilannya.
"Ce, kami teleponan sama siapa? Serius sekali kelihatannya. Pakai acara bisik-bisik pula," ucap Dwi yang tiba-tiba sudah duduk di tengah-tengah pintu kamar Ince.
"Jadi orang jangan kepo Dwi," ujarnya.
Sengaja Ince tidak mengatakan rencana yang telah disusunnya pada siapapun kecuali Agus. Takut apabila rencana itu tersampaikan kepada Menik. Bisa gagal sebelum terealisasi.
***
Agus tampak termenung, memikirkan rencana Ince. Waktu bertemu dengan Menik masih dua bulan lagi. Agus masih ragu dengan apa yang direncanakan Ince, kalau gagal bisa-bisa Menik tambah merajuk.
Tak jauh dari tempat Agus berdiri terlihat Soni sedang melakukan panggilan video dengan seseorang. Dia terlihat sangat bahagia, kadang terdengar suara tawa Soni.
"Ibu, berikan Soni restu untuk meminang gadis."
"Gadis yang mana Le?"
"Masih gadis yang kemarin Bu."
Bu Wagiyem tak habis pikir dengan anak laki-laki satu-satunya itu. Beliau pikir dengan menyibukkan diri bekerja, Soni akan melupakan gadis itu. Ternyata pemikiran bu Wagiyem meleset. Soni masih tetap pada pendiriannya.
"Jangan terburu-buru memutuskan sesuatu Le. Kamu istikharah, minta petunjuk pada-Nya."
"Iya Bu, Soni akan istikharah sebanyak-banyakknya. Tapi Ibu jarus janji mau menemani Soni melamar gadis itu."
"Insya Allah."
Soni mengakhiri panggilan videonya, dan bermaksud kembali kamar. Belum sempat dia melangkahkan kaki, terdengar Agus memanggilnya.
Dua orang pemuda itu saling berbagi cerita kisah asmara mereka. Tanpa mereka sadari, yang mereka bicarakan adalah orang yang sama.
"Sabar Gus, sebentar lagi selesai tugas akhirmu. Segera pulang, dan jelaskan secara langsung dengannya," ucap Soni.
"Iya Mas. Agus berharap mas Soni bisa segera meminangnya. Jangan lupa kirim undangannya mas."
***
Ince masih menunggu konfirmasi jawaban dari Agus mengenai rencananya. Dua minggu berlalu Agus belum juga memberikan jawaban. Jadi Ince menyimpulkan, kalau Agus tidak setuju dengan rencananya.
Di dalam perpustakaan, terlihat empat sekawan sedang berkutat dengan literaturnya masing-masing. Sepertinya janji yang mereka sepakati akan segera terwujud.
"Nik, aku pulang duluan. Tidak usah kamu antar. Lanjutkan bacaanmu, biar aku jalan kaki," bisik Ince.
"Aku antar saja Ce, masih jauh kalau kamu jalan kaki," seru Menik.
Karena Menik terus memaksa untuk mengantarkan sampai depan kampus, akhirnya Ince menerimanya. Menik menunggu Ince sampai mendapatkan bus menuju rumahnya. Takut Ince tidak kebagian bus, karena hari beranjak sore.
Sementara itu di perpustakaan, terlihat Dwi dan Mimi bersiap-siap untuk pulang. Mereka mengantri untuk meminjam buku.
"Mi, aku lapar," seru Dwi sembari memegang perutnya.
"Aku juga, ayo cari makan. Dari pada sakit perut."
Mimi dan Dwi menuju gerbang kampus untuk mengisi perut mereka, sembari menikmati suasana sore hari. Mimi terlihat santai meski sudah tahu akan tertinggal bus kota. Karena sebelumnya Dwi sudah berjanji akan mengantarnya pulang.
__ADS_1
"Mi— Mimi?"
"Apa?" jawab Mimi sambil menyedot es teh untuk meredakan pedas.
"Kamu merasa tidak, ada yang Ince dan Menik sembunyikan."
"Maksudmu?"
"Masak kamu tidak curiga Mi, tentang cincin Menik. Aku rasa itu bukan cicin tunangan, lebih mirip ke arah cincin nikah."
"Sok tahu kamu Wi."
"Ais, kamu kalau dikasih tahu ngeyel. Aku bisa ngomong seperti itu karena, Fendi pernah cerita kalau Menik mau dilamar dan sekalian nikah langsung. Terus tidak lama, Menik pakai cincin itu, Mi."
"Biarkan saja Wi. Kalaupun benar begitu adanya, dan mereka merahasiakannya dari kita berdua. Pasti Ince dan Menik punya alasan sendiri Dwi. Kita tunggu saja, sampai mereka mau bercerita dengan kita."
Sebenarnya Dwi mau menyanggah apa yang diucapkan Mimi. Namun Dwi urungkan, karena senja sebentar lagi menyapa.
***
Waktu terus bergulir tanpa bisa dijeda. Beragam peristiwa terjadi, mewarnai kehidupan manusia.
Mimi, Dwi, Ince, dan Menik masih berjuang untuk menyelesaikan skripsinya agar tidak perlu lagi membayar semester depan.
Begitu juga Agus yang telah menyelesaikan tugas akhirnya. Sengaja dia tidak menghubungi Menik mengenai kepulangannya. Bahkan Agus juga tidak memberi kabar kepada keluarganya.
Agus tidak langsung pulang ke rumah, dia ke kampus dulu untuk menyerahkan tugas akhirnya, sambil mendaftar untuk wisuda.
Sebentar lagi kita bisa bersama Nik, dan bisa segera membuka status kita di hadapan orang banyak, batin Agus.
***
Lama tidak pulang ke rumah, membuat Menik kangen dengan ayahnya. Penghujung minggu ini dia bermaksud untuk pulang. Mengingat akan pulang ke rumah, Menik jadi teringat dengan pesan dari Darmi.
Ajakan Darmi untuk bertemu dengannya di rumah mbah Minto, terlupakan oleh Menik. Dan tumben Darmi tidak pernah muncul lagi di dekatnya. Padahal selama ini, Menik tahu kalau Darmi kadang diam-diam mengikutinya.
Sebelum pulang, Menik pergi ke kampus untuk bertemu dengan pebimbingnya. Di kampus, Menik bertemu dengan Ince yang juga ada bimbingan hari itu. Namun, kali ini wajah Ince ditekuk saat keluar kantor dosen.
"Bingung aku Nik. Pembimbingku meminta untuk memasukkan beberapa buku yang jadi acuan penelitianku."
"Oalah, aku kira ada apa. Kalau cuma cari buku, ayo aku antar, masih sempat sebelum aku pulang."
"Bukunya tidak ada di sini Menik cantik. Menurut pembimbimgku, bukunya ada di kampus kota sebelah."
"Gampang itu Ce. Kami telepon ibu dulu. Kabari kalau kamu mau ikut aku pulang. Besok aku antar kamu ke sana, sekalian jalan-jalan."
"Tapi Nik, besok kan hari Sabtu. Apa perpusnya buka?" ragu Ince.
"Insya Allah buka Ce. Cepat kabari ibu! Kalau diizinkan, segera kita berangkat. Biar ada waktu untuk istirahat. Karena besok kita harus berangkat pagi ke kampus itu. Kata temanku, kalau Sabtu perpustakaannya buka setengah hari."
Sesuai intruksi Menik, Ince segera menghubungi ibunya untuk meminta izin. Karena sudah sering pergi dengan Menik, Ince langsung mendapatkan izin.
Segera mereka menuju kos Menik untuk mengambil keperluan yang akan dibawa pulang. Setelahnya baru ke kos Ince untuk mengambil perlengkapan Ince.
Menik kembali mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Darmi. Mereka berdua langsung menuju ke rumah Menik, tanpa singgah.
***
Terlihat dari ujung gang, mobil pak Broto berada di luar pagar. Kelihatannya pak Broto dan Sri akan melakukan perjalanan. Menik menghentikan motornya tepat di depan pintu garasi yang masih terbuka lebar. Terlihat mobil mendiang bu Asih terparkir dengan rapi.
Mendengar suara motor masuk ke garasi, Sri segera keluar menuju garasi untuk melihat siapa yang datang. Kehadiran Sri di garasi langsung disambut Ince dengan senyum lebar.
"Mami." seru Ince.
Sri menjawab panggilan dan senyuman Ince. Hilang sudah rencananya hendak menegur Menik, yang langsung masuk garasi tanpa permisi.
Menik menyapa Sri, sebelum melangkah masuk. Di dalam Menik bertemu dengan pak Broto yang telah bersiap untuk pergi. Sebenarnya pak Broto ingin membatalkan rencana ke kampung halaman Sri. Karena Menik pulang. Namun, Sri merajuk. Akhirnya pak Broto tetap pada rencana semula.
Menik paham dengan apa yang dirasakan ayahnya. Malah Menik merasa nyaman, jika Sri tidak ada di rumah. Sebelum pak Broto pergi, Menik menyampaikan jika dia dan Ince akan pergi ke kota sebelah mencari referensi.
__ADS_1
Pak Broto memberikan izinnya, bahkan beliau menyerahkan kunci mobil mendiang bu Asih kepada Menik.
"Pakai mobil ibu mu Nduk. Jangan naik motor, jauh. Lebih nyaman bawa mobil, sebelum berangkat diperiksa dulu semuanya. Kemarin sudah ayah servis dan ganti ban semua. Insya Allah aman, dan satu lagi jangam ngebut."
"Siap ayah, Menik sayang sama ayah."
"Ce, kamu awasin Menik. Jangan sampai ngebut."
"Siap Ayah," jawab Ince dengan mantab.
Sri menekan klakson mobil, karena terlalu lama menunggu pak Broto. Mendengar suara klakson, pak Broto berpamitan kepada Menik.
"Mami kenapa bunyikan klakson?" ujar pak Broto dengan sinis.
Sri gelagapan mau menjawab apa. Akhirnya Sri menjawab apa yang terlintas di benaknya.
"Tadi mami mau masukin uang receh ke pintu, eh malah terpencet klakson. Maminsaja kaget, Pi," kilahnya.
Pak Broto menatap Sri sekilas, terlihat kebohongan di matanya. Sri yang ditatap pak Broto segera mengalihkan pandangannya.
"Ayo Pi, kita berangkat," ajaknya.
***
Selepas subuh Menik terlihat mengecek kondisi mobil. Setelah dirasa semua baik, Menik segera bersiap-siap.
Pukul enam tepat Menik dan Ince berangakat dari rumah. Kira-kira butuh waktu dua jam perjalanan. Tentunya akan lebih lama jika ada kemacetan dibeberapa titik pasar tradisioanl yang ada di sepanjang perjalanan.
Menik konsentrasi dengan kemudinya, sedanh Ince iseng membuka laci dashboard. Seketika matanya berbinar saat melihat tiga amplop yang terselip di dalam buku petunjuk perawatan mobil.
Tertera namanya dan Menik di masing-masing amplop. Satu amplop tertulis BBM. Ince menyerahkan kepada Menik. keduamya langsung berseru mengucap alhamdulillah.
"Bisa jalan ke Mall kita Nik," seru Ince.
Menik menganggukkan kepala menyetujui ide Ince.
Tring ... satu pesan masuk di ponsel Ince.
Terlihat satu pesan dari salah satu bank yang menginformasikan ada uang masuk di rekening Ince. Ternyata bu Dani mengirimkan uang saku untuk berdua.
Sontak membuat dua gadis itu tersenyum lebar. Karena mendapatkan double uang saku, yang jumlahnya bisa membuat mereka keliling mall sampai puas.
Urusan mencari buku sudah beres. Mereka memutuskan untuk pergi ke salah satu mall terbesar di kota itu.
Saat mereka berkeliling, tanpa sengaja Menik menangkap sosok seperti Agus suaminya. Hanya yang beda, ada seorang wanita tengah bergayut manja di lengannya. Mereka duduk bertiga di salah satu restoran fast food ternama.
Menik mengajak Ince untuk memasuki restoran itu, dan duduk tidak jauh dari meja mereka. Menik menutupi wajahnya dengan masker yang sempat dia bawa.
Ince tak menyadari maksud Menik mengajaknya masuk ke restoran itu. Seperti biasa, Ince yang bertugas untuk memesan makanan.
Sambil menunggu Ince, iseng Menik mengirimkan pesan ke nomor Agus.
Menik: Mas, lagi ngapain?
Menik mengamati gerak gerik sosok yang dia curigai sebagai Agus. Terlihat laki-laki itu mengambil ponsel di kantongnya. Terlihat dia mengetik sesuatu.
Dert ... dert ... kini gantian ponsel Menik yamg bergetar.
Agus: Lagi kerja. Menik di mana?
Menik: Lagi di mall, jalan sama Ince.
Agus: Hati-hati pulangnya. Nanti aku telepon. Mau lanjut kerja.
Terlihat laki-laki itu memasukkan ponselnya kembali. Menik terlalu fokus mengamati interaksi laki-laki itu. Hingga tak menyadari Ince telah kembali membawa pesanan mereka.
"Nik, kamu lihatin siapa?"
Menik menaruh telunjuk dibibirnya, mengisyaratkan agar Ince memelankan suaranya.
__ADS_1
"Kamu lihat siapa?" tanya Ince kembali.
Menik mengarahkan Ince untuk melihat ke arah dua meja yang ada didepannya. Mata Ince membulat, telapak tangannya terkepal seketika. Jiwa bar-bar mulai muncul. Ince hendak bangkit dari kursi, namun Menik menahan tangannya sembari menggelengkan kepalanya.