Adhisti

Adhisti
Bab 39


__ADS_3

"Hayo ngaku siapa yang dimaksud A satunya." tegas Mimi.


"Ayolah Nik, terus terang saja sama kita. Kamu nggak menganggap kita sahabatmu lagi?" cecar Dwi.


"Ehm— bukannya aku tak menganggap kalian sahabat lagi Dwi. Tapi ... aku bingung mau jelaskan dari mana."


"Nggak usah bingung Nik, jelaskan apa adanya saja. Gampang tho." ucap Dwi.


"Iya Nik, benar apa yang dikatakan Dwi. Lebih baik kamu jujur sama kami." sela Mimi.


Menik memandang Ince, meminta pendapat. Ince mengangguk perlahan, menyetujui Menik untuk menceritakan tentang cincin itu.


"Baiklah, aku akan cerita sama kalian. Tapi sebelumnya aku minta maaf kalau baru menceritakannya." Menik membuang napas panjang. "Sebenarnya aku sudah tunangan beberapa lalu, dan— huruf A yang ada di cincin itu inisial Agus." jelas Menik.


"Agus?" ucap Mimi dan Dwi kompak. Nama itu terasa tak asing di telinga mereka, meski jarang diucap.


"Iya Agus. Kalian berdua pasti terkejut kan?" tanya Menik.


"Ehm, bukankah dia yang sering kau sebut sebagai kakakmu Nik?" ucap Dwi menyelidik.


"Iya, tepat sekali Dwi." ucap Menik


"Tapi kenapa bisa? Bukankah yang sering kamu ceritakan kalau nggak salah namanya Soni?" tanya Dwi penuh rasa ingin tahu.


"Jangankan kamu Dwi, aku saja yang lihat Menik dilamar saja kaget. Aku kira Soni, eh ternyata malah kakak rasa kekasih." ujar Ince.


"Jadi kamu di sana Ce?" tanya Mimi menyelidik.


"Iya Mi, aku di sana. Tapi aku beneran nggak tahu kalau Menik mau lamaran. Aku baru tahu ketika sampai rumah Menik. Makanya aku juga nggak bisa cerita sama kalian." jelas Ince panjang lebar, karena melihat Mimi mulai mengeluarkan tajinya, merasa tidak diberitahu.


"Nik, kamu beneran nggak nganggap kita sahabat. Peristiwa penting seperti itu saja kamu sembunyikan dari kami." ucap Mimi penuh rasa kecewa.


"Iya Nik, kamu nggak anggap kita sahabat." timpal Dwi.


"Kalian itu jangan menyudutkan Menik seperti itu. Kalian dengar dulu alasan Menik." seru Ince mendinginkan suasana yang mulai memanas.


"Aku tahu, kalau kalian pasti kecewa. Seandainya semua itu tidak mendadak pasti aku akan cerita sama kalian. Ince juga baru tahu ketika sudah di rumahku."


"Terus kenapa Agus Nik? Bukannya dia kau anggap kakakmu sendiri?" tanya Dwi yang masih penasaran dengan pilihan Menik.


"Aku juga nggak tahu Wi, semua mengalir begitu saja. Yah, mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Meski kita sembunyi di puncak gunung pasti akan ketemu juga."


"Terus gimana perasaan kamu Nik? Bukannya kamu lebih condong ke Soni?" cecar Dwi.


"Mau gimana lagi Wi, takdir berkata lain."


"Kasiannya Soni Nik, aku jadi nggak tega mikirin dia. Boleh aku ambil nggak Nik?" tanya Dwi.


"Emangnya dia barang Wi, yang bisa diambil sesuka hati." seru Menik.


"Siapa tahu Soni tertarik sama aku Nik. Mumpung aku masih jomblo. He ... he." Dwi terkekeh.


"Dasar kamu Wi, nggak bisa lihat cowok bening dikit. Cocok kamu sama Ince." sindir Mimi.


Ince dan Dwi yang disindir Mimi hanya tersenyum. Karena apa yang diucapkan Mimi benar adanya.


"Pulang yuk, pengin rebahan aku." ajak Menik.

__ADS_1


"Aku juga harus segera pulang. Kasihan Adiba, karena mbak Una masih dinas di luar kota." Mimi berucap sembari melihat jam di ponselnya.


"Yo wes, ayo." seru Ince sambil berdiri dan beranjak membuang gelas bekas kopi mereka ke tempat sampah.


"Nik." panggil Mimi.


"Iya Mi?" sahut Menik.


"Bisa antar aku ke depan?" pinta Mimi.


"Bisa Mi. Tunggu di depan, aku ambil motor dulu." seru Menik dan segera mengambil motornya. Kasihan jika Mimi ke sorean, pasti tertinggal rukun sayur.


Mereka berpisah di delan pintu fakultas. Dwi dan Ince menuju kos Sekartaji. Sedang Menik dan Mimi menuju boulevard. Setelah sampai di


boulevard, Mimi bergegas turun. Karena bertepatan dengan rukun sayur yang sedang berhenti menaikkan penumpang.


"Makasih Nik." ucap Mimi dan segera berlari ke arah rukun sayur.


Menik memutar motornya kembali ke dalam kampus. Ketika melintas di depan rektorat Menik, memutar arah motornya kembali ke boulevard. Menik memutuskan untuk lewat samping kebun binatang dan mampir ke warung bambu untuk membeli makan malam.


Saat Menik mengirimkan asyik chat di grup kos-nya, terdengar seseorang memanggil namanya.


"Menik." ucap mas Rio yang memanggilnya.


Menik menoleh, "Eh mas Rio, apakabar?"


"Baik Nik. Kamu apakabar? Lama nggak ketemu sejak kamu selesai magang." ucap Rio sembari mengikis jarak dengan Menik.


"Iya mas, Menik lagi sibuk kuliah. Lagi nyusun proposal untuk skripsi." jawab Menik.


"Sudah mau skripsi?" tanya Rio.


"Bakalan semakin nggak ketemu kamu Nik." gumam Rio lirih.


"Mbak, ini lauknya pakai apa?" sela mbak penjaga warung.


"Ayam kecap mbak, sambelnya yang banyak ya." jawab Menik.


"Nik, aku masuk dulu ya. Semoga bisa ketemu lagi." pamit Rio.


"Iya mas. Insya Allah kalau ada waktu Menik dan Ince main ke kantor. Kangen sama bleki." seloroh Menik.


"Wah ... pelecehan kamu Nik. Masak kangennya sama bleki. Coba kangennya sama Aku." seru Rio.


"He ... he.. kalau Menik kangen sama mas Rio, takut ada penggemar mas, yang marah mas." canda Menik.


"Penggemar kamu kali Nik. Aku kan nggak punya penggemar. Aku masuk dulu ya."


"Iya mas, ini Menik juga sudah selesai." ucap Menik seraya mengangsurkan pecahan warna biru ke kasir.


"Mbak, aku saja yang bayar. Nggak usah di terima uangnya. Siapa tahu nanti dia jadi bos warung ini." ucap Rio sambil terkekeh.


"Makasih mas, rejeki anak sholehah." ucap Menik tanpa menanggapi kalimat terakhir Rio.


Menik segera menuju ke kos, dan menaruh pesanan teman-teman kos di depan televisi. Sedangkan nasinya, dia bawa masuk ke kamar.


"Nik, Menik." teriak Fera dari luar kamar.

__ADS_1


"Apa Fe." jawab Menik dan keluar kamar sembari membawa piring.


"Punyaku yang mana Nik?" tanya Fera kembali.


"Ada tulisannya Fe. Punya mbak Nonie yang di robek pinggirnya karena nggak pakai sayur." jelas Menik.


Fera melirik ke arah piring Menik, "Nik, bagi sambelnya."


"Nie ambil saja Fe, tapi jangan banyak-banyak. Ingat perutmu ntar sakit lagi." seru Menik mengingatkan Fera yang mempunyai riwayat penyakit maag.


"Iya-iya Nik. Kamu itu sudah seperti mbak Luthfi saja, yang sering ngingatin aku kalau makan sambel." rajuk Fera.


"Itu karena kita sayang kamu Fe."


Fera membalas ucapan Menik dengan membentuk tanda love dengan jarinya. Berapa menit kemudian, Nonie dan Endang bergabung. Mereka makan sambil nonton televisi dan ngobrol.


"Nah, karena sudah selesai makan, ayo Nik totalan. Berapa nasiku?" tanya Endang, sambil menyedot es susu coklat kesukaannya.


"Gratis Ndang." jawab Menik santai.


"Hah, gratis? Alhamdulillah, makasih Nik." seru Endang.


"Iya, khusus hari ini semuanya gratis ... tis."


"Beneran Nik? Kamu ulang tahun hari ini?" ucap Fera.


"Perasaan ulang tahunmu masih bulan depan Nik?" sela Nonie.


"Aku nggak ulang tahun Fe. Tuh dengar mbak Nonie, ultahku masih bulan depan."


"Terus siapa yang bayar makanan kita Nik?" tanya Endang Penasaran.


"Kebetulan ada yang bayarin tadi. Rejeki kita semua." ujar Menik.


"Hah, siapa Nik? Baik banget orang itu." ucap Nonie.


"Itu mbak, teman Menik waktu magang. Ternyata anak yang punya warung. Tadi kebetulan ketemu, terus di gratisin deh." jelas Menik.


"Laki-laki?" selidik Nonie.


"Iya mbak."


"Ganteng nggak Nik?" tanya Endang.


"Kalau ganteng relatif Ndang. Kamu ke sana sendiri saja, biar bisa lihat langsung. Atau mau aku kasih kontaknya?" gurau Menik.


"Fe, besok gas pol kita ke sana." ajak Endang.


"Nggak mau Ndang, ntar Fe ketahuan Panca, bisa berabe." tolak Fera.


"Aih, nggak teman kamu Fe." rajuk Endang.


Nonie diam melihat interaksi Fera dan Endang. Diam-diam dia memperhatikan jari Menik. Tak biasanya Menik pakai cincin, batinnya.


Waktu semakin merangkak malam, satu persatu penghuni kos masuk ke kamar. Begitu juga dengan Menik. Belum sempat dia berbaring terdengar ketukan pintu.


Tok ... tok ...

__ADS_1


Menik beranjak membuka pintu kamarnya. ternyata bukan Fera yang berada di depan pintu kamarnya.


__ADS_2