
Haruskah aku memanggil Sinta untuk merawat Wiwid kembali? batin Andi.
"Mas Andi," panggil Wiwid lemah.
"Iya," jawab Andi sembari mendekati Wiwid yang terbaring lemah di tempat tidur.
"Jangan panggil Sinta, Mas. Aku tidak mau ayah khawatir, dan aku mohon Mas tidak menyentuh Agus. Aku yakin suatu hari Agus akan bertekuk lutut padaku," ucap Wiwid lirih.
Permohonan Wiwid membuat Andi tak bisa berbuat banyak. Meski ingin memberi pelajaran untuk Agus, namun Andi tidak bisa melakukannya.
Andi menghela napas dalam dan berkata, "Oke, aku akan ikuti keinginanmu. Tapi untuk Agus tidak ada kesempatan kedua. Jika dia menyakitimu kembali. Aku akan bertindak tegas."
Setelah itu Andi keluar dari kamar Wiwid dan menuju ke kamarnya. Terlihat Utari berbaring di kasur dengan selimut yang menutup sampai kepala. Perlahan Andi menarik selimut itu, dan Utari terlihat sudah terlelap.
Melihat istrinya tidur dengan nyenyak, Andi menelepon seseorang.
"Lakukan sesuai rencana! Aku tidak mau gagal lagi!" ucap Andi lirih takut terdengar Utari.
*Ter*nyata kamu belum berubah Mas, batin Utari.
Utari merubah posisi tidurnya membelakangi Andi. Dia tidak mau Andi tahu jika sebenarnya dia tidak tidur. Utari sengaja pura-pura tidur agar bisa mengetahui rencana Andi. Cukup dia saja yang jadi korban. Jangan sampai Agus juga menjadi korbannya. Diam-diam Utari sudah tahu jika Agus pernah menikah dengan Menik.
***
"Tuan, langkah kita selanjutnya bagaimana? Banyak pihak membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita," terang Pak Rahmat.
Kening Pak Hadi tampak mengerut, pening memikirkan nasib perusahaannya. Pak Hadi masih belum menemukan jalan keluarnya. Karena tidak mungkin menyuruh Wiwid berpisah dengan Agus. Sehingga Agus kembali kepada Menik.
Berkali-kali Pak Hadi mencoba bernegosiasi dengan Pakde Harjo maupun Pandu, tapi hasilnya masih nihil. Pihak Pakde Harjo dan Pandu selalu berkata semuanya sudah terlanjur dan basi.
"Apa aku harus menelepon Broto?" ucap Pak Hadi lirih.
"Bisa dicoba Tuan. Siapa tahu berhasil," respon Pak Rahmat.
Kring ... kring ...
Pak Broto memandang sekilas ke arah ponsel yang terus berdering. Tertera nomor asing di ponselnya. Beliau tidak segera mengangkatnya dan kembali fokus dengan tumpukan tugas mahasiswa di mejanya.
Ponsel pak Broto terus saja berdering tanpa lelah membuat beliau menjeda sejenak kegiatan memeriksa tugas mahasiswa untuk menjawab panggilan tersebut.
"Halo," sapa Pak Broto.
"Halo To, ini aku, Hadi," ucap pak Hadi di seberang telepon.
__ADS_1
"Tumben kamu meneleponku. Ada angin ****** beliung dari mana ini, yang bisa membuat seorang Hadi Wijaya bos perusahaan perkapalan nomer wahid menelepon seorang Broto yang hanya rakyat jelata. Ehm ... atau kamu sudah menerima kado dari ku, sehingga kamu meneleponku," ujar Pak Broto mengejek.
"Terima kasih kadonya, To. Kado dari mu sungguh mantab, mampu memporak-porandakan perusahaanku dalam hitungan menit. Ucapanmu ternyata bukan kaleng-kaleng. Aku terlalu meremehkan Mu!"
"Jadi Kamu meneleponku mau berterima kasih karena kado dari ku, atau ada maksud selain itu?"
"Maafkan aku, To. Seandainya aku tahu Agus adalah menantumu. Tentu aku tidak akan menyetujui permintaan Wiwid. Tapi To, aku harap kamu juga memikirkan bagaimana nasib karyawan perusahaanku. Jangan sampai karena urusan pribadi kita. Mereka terkena imbasnya."
"Ha ... ha ... kamu egois Hadi. Coba kamu pikirkan nasib anakku, umur dua puluh satu tahun menyandang status janda. Ehm ... kalau kamu memang ingin mempertahankan karyawanmu, aku ada solusi."
"Apa solusinya?"
"Gampang Hadi. Tinggal kamu buat status anakmu menjadi janda. Maka akan aku tarik kembali kado dari ku. Ha ... ha ... ha."
Tut ... tut ... tut ... Pak Broto memutuskan sepihak panggilan itu. Malas beliau berbicara dengan Pak Hadi. Mengetahui Pak Broto memutuskan sambungan telepin sepihak, Pak Hadi hanya bisa tersenyum kecut.
"Enak saja, mengatas namakan karyawan demi kepentingan pribadi. Kalian harus merasakan penderitaan Menik," gumam Pak Broto.
Srek ... srek ... wus ... tirai ruang kerja Pak Broto terbuka lebar.
Gadis berdaster putih duduk manis di kursi depan meja kerja Pak Broto dengan muka juteknya.
"Broto!" teriaknya nyaring.
"Sst ... sst ... kecilkan suaramu!" bentak Pak Broto.
"Dasar hantu gaje," sindir Pak Broto.
"Biar saja gaje, yang penting aku setia. Tidak seperti kamu yang tidak setia. To, izinkan aku bertindak kali ini. Tanganku sudah gatal ingin beri pelajaran untuk mantan menantumu yang gendeng itu."
"Tumben kamu izin, biasanya main sikat," ejek Pak Broto.
"Kalau kamu nggak ngasih izin, akan aku ganggu istrimu!" ujar Darmi memberikan ancaman pada Pak Broto.
"Ternyata masih saja seperti dulu kelakuanmu. Suka mengancam. Baiklah, aku izinkan. Tapi jangan sampai ketahuan Menik. Kalau sampai Menik tahu, itu risiko kamu."
"Oke," sahut Darmi dan menghilang dari pandangan Pak Broto tanpa pamit.
"Darmi-Darmi kapan kamu tidak ikut campur dengan urusan Menik. Kalau sampai Menik tahu dan marah, itu bukan urusanku. Kamu tanggung sendiri risikonya," gumam Pak Broto setelah kepergian Darmi.
***
Seorang gadis terlihat tengah serius dengan sejumlah tumpukan buku dan laptopnya. Hijab berwarna hijau toska senada dengan tunik yang dipadukan celana kain warna hitam membuatnya semakin terlihat memesona. Namin sayang, senyum mulai jarang terlihat di wajahnya. Cobaan yang dialaminya kali ini, berhasil mengusir ceria darinya.
__ADS_1
Di sisi lain seorang gadis terlihat mengendap-endap mendekatinya. Perlahan gadis itu menjukurkan tangannya dan menutup mata.gadis berhijab toska. Sontak gasdis berhijab hijau toska menyeru, "Lepas Ce, aku hapal dari aroma terasi yang lengket ditanganmu."
Plak!
Ince memukul pundak Menik sambil berkata, "Wangi gini dibilang bau terasi."
"Sst ... sst ... perpustakaan" ucap Menik lirih.
"Sorry. Ayo kita keluar," bisik Ince.
Setelah mengemasi barang-barangnya, Menik mengikuti Ince keluar dari perpustakaan. Kali ini Ince yang memboncengkan Menik. Sekalian pamer jika sudah bisa mengendarai motor.
"Pelan-pelan, Ce! Aku nggak mau jadi hantu perawan," ucap Menik.
"Kalau nggak ngebut, nggak seru," jawab Ince.
Ciit ... Ince menghentikan laju kendaraannya ketika sampai di salah satu warung steak favorit mereka.
"Ayo!" seru Ince dan menarik tangan Menik.
Bagai kerbau dicocok hidungnya, Menik mengikuti langkah Ince menuju kursi di sudut taman yang agak terpisah dengan kursi-kursi yang lain. Kali ini Ince benar-benar memegang kendali. Dia langsung memesankan Menik, tanpa bertanya. Karena sudah hapal dengan menu favorit Menik.
"Sekarang kamu ceritakan semuanya padaku, Nik! Aku akan mendengarkannya," ucap Ince sembari menepuk pelan pundak Menik.
"Apa yang harus ku ceritakan, Ce?" tanya Menik pura-pura tidak paham dengan maksud Ince.
"Tidak usah berpura-pura, aku sudah tahu," ucap Ince.
"Tahu apa, Ce?"
"Aku lihat undangan nikah Agus di Fb. Jadi nggak usah menghindar lagi."
Akhirnya Menik menceritakan semua peristiwa. Sesekali Menik mengusap.air mata yang masih sering lolos jika dia mengingat semua peristiwa yang terjadi. Tanpa sadar Ince juga ikut menangis mendengar cerita Menik. Hatinya bergemuruh, emosinya bergolak. Ingin rasanya Ince mendatangi Agus dan menghajarnya.
"Ternyata, Agus seperti itu sikapnya. Seandainya aku tahu dari awal, pasti aku akan mencegahmu menikah dengannya," ucap Ince.
"Semua sudah terjadi, Ce. Meski sesal itu ada, tapi ini sudah jadi takdirku. Jadi janda di usia dua puluh satu tahun. Untung janda rasa perawan. Ha .... ha ..."
Ince menubruk Menik dan memeluknya. Dia tahu tawa Menik itu hanya untuk menutupi kesedihannya. Tawa yang seharusnya terdengar indah di telinga. Namun, tawa Menik terdengar sumbang.
"Sabar, Nik. Ada aku yang akan menemanimu. Ayo tunjukkan pada Agus, bahwa kamu baik-baik saja tanpanya," seru Ince memberi semangat Menik.
Tangis Menik pecah mendengar ucapan Ince. Dia taak menyangka bisa mempunyai teman rasa saudara seperti Ince. Dibalasnya pelukan Ince dengat erat. Untung tempat duduk mereka agak jauh dengam pengunjung lain, dan kalau siang cenderung sedikit.sepi pengungunjung.
__ADS_1
"Cup ... cup ... sudah nggak usah menangisi Agus lagi. Ayo kita habiskan uang pemberian ayah dan ibu kemarin," ucap Ince.
"Ayo ... gaskuen!" seru Menik.