
Agus membuang napas kasar sebelum berucap, "Maaf Nik, Aku membawamu dalam situasi seperti ini. Suatu saat aku akan jelaskan."
"Oke mas, Menik akan menanti saat itu tiba dengan sabar."
"Maaf ya Nik." ulang Darmawan.
"Iya mas, nggak apa-apa yang penting kita saling jujur dan percaya."
"Iya Nik. Oya Nik, kapan kamu pulang ke rumah?"
"Entahlah mas, Menik bingung."
"Bingung kenapa?" tanya Agus.
"Bingung mau pulang ke mana." ujar Menik.
"Pulang saja ke rumahku. Itukan juga rumahmu sekarang."
"Menik belum terbiasa mas kalau pulang ke sana. Mau pulang ke rumah Menik, males ketemu sama istri ayah."
"Makanya itu kamu pulang saja ke rumah. Kan ada mbak Astuti juga."
"Menik malu mas, belum terbiasa. Apalagi kalau tidur sendirian di kamar mas. Rasanya aneh."
"Aneh karena aku nggak peluk kamu?" goda Darmawan.
"Siapa bilang. Menik terbiasa kali tidur nggak dipeluk. Malahan Menik nggak biasa kalau tidur bareng mas."
"Iya—ya. Kita baru tidur bersama dua malam. Eh, harus pisah lagi satu tahun. Berasa masih pacaran."
"Kapan kita pacaran mas? Sepertinya kita nggak pacaran dech."
"He ... he ..., Aku lupa kalau kita nggak pacaran." Agus terkekeh mengingat dia tak pernah meminta Menik untuk jadi pacarnya.
"Nah itu sadar." ledek Menik.
"Aku tutup dulu Nik. Ingat cincinnya dipindah ke jari. Kalau ada yang nanya jawab saja kamu tunanganku."
"Oke mas, lagi pula di kampus nggak ada yang kenal sama mas. Jadi insya allah nggak ada yang nanya lebih dalam."
"Iya, yang ku kenal cuma Ince. Kalau dia aku yakin akan menyimpan rahasia dengan rapat. Ingat harus saling percaya dan jujur. Aku sayang kamu Nik. Udah dulu Nik. I love you."
"Too." jawab Menik.
***
Semalam Menik tidur dengan nyenyak. Hatinya lega setelah mendapat telepon dari Agus. Risau yang sebelumnya sempat muncul tanpa permisi, perlahan menguap setelah telepon tadi malam.
Tring .... sebuah pesan masuk di ponsel Menik, tertera nama Agus di layar. Seketika senyum Menik merekah.
Agus: Udah bangun?
Menik: Udah barusan.
Agus: Nggak subuh?
__ADS_1
Menik: Lagi palang merah.
Agus: Palang merah?
Menik: Halangan maksudnya 🤭🤭🤭
Agus: Oalah,aku kira apa. Nik, beberapa hari kedepan Aku di tengah laut. Jadi kemungkinan nggak ada sinyal.
Menik: Iya mas, tenang saja. Mulai sekarang Menik paham, kalau mas nggak hubungi Menik, berarti mas di tengah laut.
Agus: Kamu memang paling ngerti aku Nik. Nggak salah aku maksa kamu nikah denganku.
Menik: Sebenarnya Menik nggak mau, tapi kasihan kalau di tolak. Ntar bawa tali di pohon mangga. 😁😁
Agus: Dasar kamu Nik. Ya Sudah, aku mau berangkat dulu. ❤️
Menik: 🥰
***
Mentari berada tepat di atas ubun-ubun kepala ketika Menik memutuskan untuk pulang ke rumah. Tujuan awal Menik pulang terlebih dulu ke rumah Agus. Sekalian membawakan kerak nasi kesukaan bu Islah.
Tok ... tok ...tok...
Menik mengetuk beberpa kali pintu rumah Agus. Namun tak terdengar jawaban dari dalam rumah. Diulangnya kembali ketukan itu, dan hsilnya masih sama. Tidak ada jawaban dari dalam rumah.
"Sepertinya ibu dan ayah pergi." gumam Menik.
Karena tidak mendapat jawaban dari dalam rumah, Menik memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
"Assalamualaikum Ayah." ucap Menik sembari mencium takzim tangan Pak Broto.
"Waalaikumsalam, tumben baru pulang Nduk. Biasanya setiap minggu kamu pulang. Ayah kangen." ucap pak Broto sembari mengusap kepala Menik.
Menik tersenyum menanggapi ucapan ayah-nya.
"Menik juga kangen Yah. Kemarin Menik nggak pulang karena menyelesaikan laporan magang."
"Ayo masuk, mandi dulu. Baru kita ngobrol." titah pak Broto.
"Oke ayah, Menik masuk dulu." ucap Menik dan berlalu masuk ke dalam rumah. Namun sebelum masuk rumah, Menik sempatkan untuk menyapa ibu sambungnya.
"Assalamualaikum Mami." sapa Menik dan mencium tangan ibu sambungnya.
"Waalaikumsalam Nduk." jawab Sri. Ada perasaan aneh yang perlahan masuk tanpa permisi di hatinya. Tatkala Menik menyapa dan mencium tangannya.
Menik segera masuk ke dalam kamar, merebahkan badan sejenak, kemudian segera beranjak masuk kamar mandi.
Selesai mandi isenng Menik mengirimkan pesan ke ponsel Agus, meski dia tahu nggak akan dibaca dan dibalas dalam waktu dekat ini.
Menik: Met sore suamiku sayang. Lagi apa?
Menik pun terkekeh melihat tingkah lakunya sendiri. "Apa aku sudah jatuh cinta dengan mas Agus?" gumam Menik.
Tok ... tok ...
__ADS_1
Terdengar ketukan pintu kamar Menik. Segera Menik beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu kamar.
Kriet ...
Terlihat wajah ibu sambungnya di balik pintu kamar.
"Ada apa Mi?" tanya Menik.
"Ayo, makan Nduk. Ayah mu ngajak makan di luar." ajak Sri Suketi.
Meski sebenarnya masih enggan, Menik tetap menuruti ajakan itu.
"Bentar Mi, Menik ganti baju dulu."
"Iya, mami tunggu di bawah." ujar Sri dan segera berlalu dari depan pintu kamar Menik.
Menik segera berganti baju. Diambilnya celana kain dan tunik panjang, tak lupa hijab warna senada.
Pak Broto mengajak Menik makan malam di salah satu rumah makan ayam bakar yang terkenal di kotanya. Dan entah kebetulan atau tidak, mereka bertemu dengan keluarga pak Dewa.
"Menik." panggil bu Islah
Mendengar namanya dipanggil, refleks Menik menoleh. Dan segera menghampiri bu Islah dan pak Dewa.
"Pi, kita ajak bergabung saja besan kita." usul Sri.
"Boleh mi, usul yang bagus." jawab pak Broto menyetujui usulan sang istri.
"Mari pak Dewa, kita duduk satu meja saja." ajak pak Broto.
Pak Dewa menerima ajakan pak Broto. Terjadilah obrolan seru di antara dua keluarga itu. Menik hanya mendengarkan dan sesekali mengulas senyum.
"Kapan Menik pulang?" tanya bu Islah.
"Tadi sore bu." jawab Menik.
"Kenapa nggak mampir ke rumah dulu. Ibu kangen sama menantu kecil ibu." ucap bu Islah sembari menggenggam tangan Menik.
"Lho mana cincin kawinmu?" tanya bu Islah peasaran karena melihat jari-jari Menik yang polos tanpa perhiasan.
"Ehm— Menik taruh di kalung bu." lirih Menik menjawab, takut mertuanya tersinggung.
"Kenapa ditaruh di kalung Nduk? Apa kamu takut ketahuan sudah menikah?" tanya Sri.
"Ehm— itu mi, kadang Menik risih kalau pakai perhiasan dan kadang Menik lupa naruh kalau dilepas. Makanya Menik simpan di kalung." jelas Menik.
"Ibu kira Menik malu nikah sama Agus, sehingga enggan memakainya." seru bu Islah.
"Nggak kok bu. Menik nggak malu. Nanti Menik pindah di jari."
Obrolan mereka terhenti saat pelayan membawakan makanan pesanan mereka. Dengan lahap Menik menyantap ayam bakar pesanannya. Selesai makan malam, kedua keluarga itu berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing.
"Nduk, kenapa nggak dipakai cincinnya?" tanya pak Broto menyelidik saat mereka sampai di rumah. Tentunya tanpa kehadiran Sri.
"Menik—"
__ADS_1