Adhisti

Adhisti
Bab 33


__ADS_3

Acara pamitan di tempat magang berlangsung dengan aman. Meski harus ada yang kecewa karena perahunya gagal berlabuh.


"Nik, kamu nggak kasihan sama mas Wawan dan Mas Rio?" tanya Ince.


"Kenapa aku harus kasihan Ce?" Menik balik bertanya.


"Yah, setidaknya kamu berempati sedikitlah sama mereka Nik. Gara-gara kamu PHP-in hancur hati mereka."


"Lhah, siapa yang PHP-in coba. Sikapku kan biasa-biasa saja Ce. Nggak pernah cari perhatian sama mereka. Bahkan aku tak menerima ajakan pergi berdua."


"Nik ... Menik, kapan kamu itu sadar, kalau sikap ramahmu itu membuat orang merasa mendapat perhatian khusus."


"Terus aku harus bersikap seperti apa Ce?"


"Bersikaplah garang seperti aku, pasti pada kabur semua penggemarmu, ha ... ha ...." Ince tergelak membayangkan wajah imut Menik berubah menjadi garang.


"Mana bisa aku pasang tampang garang Ce. Ntar mereka malah tertawa melihatku."


***


Dert ... dert ... ponsel Menik bergetar. Terlihat ada pesan masuk.


Ince: Nik jangan lupa laporan magang kamu bawa. Hari ini kita serahkan ke bu Yani.


Menik: Beres Ce, sudah masuk dalam tas. Kamu ke kampus naik apa? Jemput nggak?


Ince: Aku berangkat dari rumah Nik, ntar jemput aku di gerbang depan saja. Lagi malas jalan kaki. Ok Nik, aku mau naik, kebetulan Eka sudah datang.


Menik: Oke. Ingat jangan tebar pesona sama kondektur bus.


lnce: 😤😤


Menik segera bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Diliriknya casio dipergelangan tangan. "Ehm, masih sempat sarapan di tempat Yu Sri sebelum jemput Ince." gumam Menik.


"Tumben sendirian Nik."


Menik terlonjak mendengar suara bariton memanggil namanya. Refleks dia menoleh ke arah sumber suara.


"Oh kamu Wan, bikin Menik kaget saja. Untung Menik nggak punya riwayat penyakit jantung." semprot Menik.


"Sorry Nik kalau aku mengagetkanmu." seru Darmawan sembari mengambil duduk di depan Menik. "Mumpung nggak ada pawangnya." gumam Darmawan.


"Pawang? Maksudmu siapa Wan?" tanya Menik yang mendengar gumaman Darmawan.


"Bukan pawang Nik, kamu salah dengar." elak Darmawan.


"Terus tadi kamu ngomong apa? Aku dengar lho Wan, meski nggak begitu jalas."


"Tumben kamu sendirian Nik. Mana Ince?" tanya Darmawan mengalihkan pembicaraan. Bisa gawat kalu Menik tahu, dia menyebut Ince sebagai pawang Menik.


"Ince masih di jalan. Ini aku nunggu dia chat aku."


"Pasti minta jemput." ujar Darmawan.


"Pastilah. Ince kan nggak berani naik motor."

__ADS_1


"Kamu nggak pesan makanan?" tanya Darmawan yang melihat meja Menik masih kosong.


"Nanti sekalian nunggu Ince, lagi pula soto yu Sri belum matang." jawab Menik.


"Nik, ehm ... aku boleh nanya nggak?"


"Boleh saja. Lagian kenapa mesti nggak boleh kalau cuma nanya. Kamu itu aneh Wan."


"Takut saja kamu marah."


"Marah kenapa Wan? Kalau kamu nanyanya baik-baik, ngapain aku marah Wan."


"Bener nggak marah ya." tegas Darmawan.


Menik menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ehm— perntanyaanku masih sama seperti waktu itu Nik. Tentang perasaanku sama kamu. Akan kah kamu mau menerima perasaanku?"


Tring ... tring


Dering ponsel Menik menjeda jawaban yang ditunggu Darmawan.


Ince: Nik aku sudan di depan. Aku tunggu di penjual siomay langganan kita.


Menik: Oke. Siap meluncur menjemput tuan putri.


"Wan, maaf aku jemput Ince dulu. Kasihan kalau menunggu terlalu lama." pamit Menik pada Darmawan.


Darmawan hanya bisa mengangguk pasrah, mengiyakan kepergian Menik menjemput Ince. Sebelum Menik melajukan motor, Darmawan memanggil Menik.


Menik mengacungkan jempolnya sebagai tanda setuju. Lalu dia bergegas menarik gas si hitam.


Dari kejauhan Menik melihat Ince memesan siomay langganannya. Dia pun segera memarkirkan motornya.


"Nik, kamu mau?" tawar Ince.


"Nggak dulu aku Ce, terlanjur pesan soto tadi." tolak Menik halus.


Mendengat Menik yang sudah memesan soto, Ince pun mengurungkan niat untuk makan siomay di tempat.


"Mas, siomaynya dibungkusin saja." seru Ince pada penjual siomay.


"Siap mbak." jawab penjual siomay.


Sampai di parkiran, Ince segera turun. Dia trauma pernah tersangkut di pintu parkiran. Sementara Menik memarkirkan motornya, Ince bergegas menuju ke tempat yu Sri.


"Lho Wan, tumben kamu duduk di sini?" seru Ince ketika melihat Darmawan sudah duduk manis, di meja tempat biasa dia nongkrong.


"Lapar." jawab Darmawan sekilas, sembari memperhatikan Menik yang berjalan ke arahnya.


"Lapar apa lapar." ledek Ince yang melihat pandangan Darmawan tak lepas dari Menik.


"Lapar beneran aku Ce."


"Nggak beneran lapar juga nggak apa-apa.kok Wan. Pepet terus saja siapa tahu dapat."

__ADS_1


"Emang masih ada kesempatan Ce?" tanya Darmawan penasaran.


"Tanya saja sendiri orangnya Wan."


"Ini, aku sedang lakukan."


Obrolan Ince dan Darmawan terjeda karena kedatangan Menik.


"Wan, mana sotoku, katanya tadi mau pesankan aku soto." tanya Menik yang tak melihat mangkok soto di meja.


"Sudah aku pesankan. Sebentar aku tanyakan lagi sama yu Sri." Darmawan beranjak dari duduknya. Namun belum sempat dia melangkah terdengar panggilan Ince.


"Wan, aku nitip es teh." seru Ince.


"Iya." jawab Darmawan lalu segera melanjutkan langkah kakinya menghampiri dapur yu Sri.


"Yu, sudah jadi pesanan soto ku?"


"Sudah Wan. Sebentar aku antarkan." jawab yu Sri sembari membalik mendoan di penggorengan.


"Yu, nambah es teh satu untuk Ince." ucap Darmawan sebelum keluar dari dapur yu Sri.


"Siap, tunggu sebentar. Nanti yu Sri antar ke meja."


Darmawan sebenarnya ingin menanyakan lagi tentang perasaan Menik, namum dia urungkan karena ada Ince. Darmawan takut kena semprot Ince. Apalagi dari tadi Ince selalu memperhatikan Darmawan dengan pandangan penuh selidik.


Tak berselang lama mereka bertiga beranjak menuju kelas. Menik dan Ince berjalan di depan, sedang Darmawan mengekorinya.


Kuliah hari ini akhrirnya selesai setelah 120 menit. Semua laporan magang juga sudah dikumpulkam. Ince dan Menik merada lega karena tidak harus memperbaiki laporannya.


"Alhamdulillah laporan kita aman Nik." ucap Ince.


"Laporan kita? Laporanku kali Ce."


"Laporan kita Nik. Kan aku juga bantu carikan referensi." ujar Ince.


"Iya-iya laporan kita." ucap Menik membenarkan ucapan Ince. Dari pada ada yang merajuk dan susah dibujuk.


Fendi dan Darmawan harus merevisi beberapa bagian laporannya. Mereka menghampiri Menik.


"Nik, bantuin aku revisi laporan. Nggak keburu kalau aku pulang ke rumah. Pinjam laptop dan printermu ya." pinta Fendi.


"Wah, gimana ya Fen— aku sama Ince hari ini ada janji sama Mimi dan Dwi di kos."


"Bentar saja Nik. Ini sebagian sudah Darmawan revisi, tinggal print. Kalau print di rental mahal Nik. Pinjam printermu saja ya, ntar aku traktir steak." rayu Fendi.


Mendengar kata steak, seketika cacing di perut Menik berdisko ria.


"Oke. Tapi pegang janjimu Fen. Begitu selesai print, kita langsung ke mas Xun." tegas Menik.


"Tenang saja Nik, hari ini yang jadi bos nya Darmawan. Pasti dia nggak akan keberatan. Gimana Wan? Menik ngajak ke mas Xun." tanya Fendi pada Darmawan.


Darmawan menganggukkan kepalanya. Demi memenuhi keinginan Menik, dia bersedia merogoh kantongnya sampai dasar.


"Ehm—boleh ngajak teman lagi nggak?" tanya Menik tanpa dosa.

__ADS_1


__ADS_2