Adhisti

Adhisti
Bab 60


__ADS_3

"Pengin saja aku tidur di samping istriku. Salah?"


Menik menggeleng menjawab pertanyaan Agus. Tentu saja tindakan Agus tidur di samping istrinya tidaklah salah. Bahkan boleh lebih dari sekedar tidur jika mau.


"Nah, itu kamu tahu kalau tidak salah. Mengapa masih bertanya?"


"Menik takut—"


"Takut aku melanggar janji ku pada kamu dan ayahmu?"


"I—iya."


"Kamu tidak usah khawatir aku melanggar janjiku, asal kamu nggak memancingku. Karena aku manusia biasa, bisa khilaf kapanpun," ucap Agus sambil tersenyum penuh maksud terselubung.


"Eh ... siapa yang memancing Mas? Bukannya Mas yang malah memelukku saat tidur?" ujar Menik.


"Wah ... ternyata istriku masih normal," jawab Agus sembari tersenyum dan mendekat ke arah Menik.


"Maksud Mas apa? Jelaslah Menik masih normal. Mas ini ada-ada saja."


Menik meninggalkan Agus yang masih senyum-senyum tidak jelas di atas tempat tidur. Segera dia berwudu untuk melaksanakan salat subuh.


"Ayo jamaah Mas, Menik tunggu," ajak Menik sambil membentangkan dua buah sajadah.


Setelah salat berjamaah, Menik menuju kamar Ince untuk membangunkannya. Karena mereka berencana untuk wisata kuliner pagi ini.


Menik meraih handle pintu dan memutarnya, ternyata Ince tidak mengunci kamar, sehingga memudahkannya untuk masuk. Terlihat Ince masih meringkuk dan membungkus tubuhnya dengan selimut.


"Ce, ayo bangun. Katanya mau wisata kuliner pagi ini. Ayo berangkat sekarang. Keburu siang."


Ince menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Matanya mengerjab menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar.


"Aku masih mengantuk, pengin tidur lagi. Semalam aku kurang tidur, gara-gara mbak Darmi datang."


"Alesan kamu saja mbak Darmi datang. Paling-paling tadi malam kamu marathon nonton drakor."


"Mana ada, Nik. Kamu itu tak mempercayai omonganku. Sudah, kamu kalau mau kulineran, ajak suamimu saja. Aku masih ingin tidur," ujar Ince sambil menarik kembali selimut yang berada di pangkuan Menik.


Beribu rayuan maut di liontarkan Menik, namun Ince tetap tidak mau pergi. Dia kembali lelap tertidur. Ince menjadikan omelan Menik sebagai dongeng pengantar tidur.


Menik sebenarnya juga masih ingin tidur. Hanya saja dia tidak nyaman dengan keberadaan Agus di kamarnya. Akhirnya Menik membaringkan tubuhnya di samping Ince dan ikut menyusul ke alam mimpi.


Acara kuliner yang sudah direncanakan gagal terealisasi. Padahal dari kemarin mereka sudah merencanakan, warung apa saja yang akan mereka datangi. Tapi rasa kantuk mengalahkan mereka.


Agus telah selesai mandi, pandangannya mencari Menik. Karena tidak melihat Menik di kamar, Agus berinisiatif untuk pergi ke dapur, dan ternyata di sana Menik juga tidak ada.


Langkah kaki Agus, membawanya ke depan pintu kamar tamu. Mau langsung masuk, tapi dia teringat kalau ada Ince di kamar itu. Mau mengetuk pintu, Agus juga sungkan. Dia pun menuju dapur untuk membuat secangkir kopi.


Agus mencari sesuatu yang bisa dijadikan sarapan untuknya. Di buka kulkas yang ada didepannya. Terlihat kosong tak ada bahan makanan. Saat Agus kebingungan mencari bahan makanan. Terdengar teriakan tukang sayur langganan Sri.


Sayur ... sayur ....


Agus segera keluar untuk berbelanja. Dia berniat membuat nasi goreng.

__ADS_1


Yu Yah tukang sayur langganan Sri menatap curiga kepada Agus. Karena setahu Yu Yah, Menik yang berada di rumah saat ini.


Siapa laki-laki ini? Aku baru melihatnya, batin Yu Yah.


Terlihat Agus masih asyik memilah sayuran dan bahan-bahan yang akan digunakannya untuk membuat nasi goreng.


"Lho, ada kamu di sini, kapan pulang?" tanya budhe Poni yng tiba-tiba muncul di depan Agus.


"Tadi malam, Budhe," jawabnya sopan.


"Mana Menik?"


"Masih tidur, Budhe," jawab Agus.


"Lhah, per@wan pagi-pagi masih tidur. Malah kamu yang disuruh belanja."


"Tidak apa-apa, Budhe. Lagi pula ini keinginan saya sendiri untuk belanja. Tidak tega saya membangunkan Menik yang kelelahan."


Budhe Poni terperangah dengan ucapan Agus yang menyebut Menik kelelahan. Pikirannya langsung travelling mengingat masa mudanya, saat suaminya masih ada dan belum menduakannya.


Bu Subangun yang baru bergabung, heran melihat budhe Poni yang tiba-tiba senyum sendiri.


"Bu Poni, kenapa sampeyan senyum-senyum sendiri. Awas kesambet penghuni pohon randu. Kapok sampeyan," ucap bu Subangun


Sekilas cerita tentang bu Subangun, merupakan salah satu ibu-ibu di grup Nyinyir is the best garapan Sri Suketi.


Bu Subangun merupakan salah satu member grup Nyinyir yang paling nyinyir. Bu Sibangun mempunyai satu anak perempuan, yang umurnya sebaya dengan Menik.


"Itu lho bu Sub, aku mendengar Menik masih tidur kelelahan, aku jadi ingat suamiku."


"Sampeyan itu masih ingat saja sama laki-laki macam itu. Mending cari yang lain," ucap bu Subangun dengan bibir yang bisa mencong ke kanan atau pun ke kiri.


Mendengar arah pembicaraan ibu-ibu yang makin tak jelas, Agus perlahan mundur dari tempat itu. Dia segera masuk rumah dan menyimpan semua belanjaannya.


Satu jam berlalu, aroma nasi goreng menyebar ke seluruh ruangan. Ince terbangun mencium aromanya. Dia segera membangunkan Menik.


"Nik, ayo.bangun. Aku lapar," ucap ince sambil menggoyangkan badan Menik.


Merasa ada yang menggoyangkan badannya, Menik perlahan kembali ke alam nyata.


"Jam berapa ini?" tanya Menik dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Sudah jam tujuh."


Mereka keluar kamar bersama-sama dan menuju ke dapur.


"Selamat pagi," sapa Agus.


Wajah Menik dan Ince memerah karena malu. Harusnya mereka yang menyiapkan makanan. Tapi ini malah Agus yang memasak untuk mereka berdua. Apalagi Menik, sebagai seorang istri yang seharusnya bertanggung jawab memasak untuk suaminya.


"Pagi." jawab mereka kompak.


"Ayo sarapan," ajak Agus.

__ADS_1


Menik dan Ince mengikuti Agus duduk di kursi. Suara sendok beradu dengan piring yang terdengar, mereka sarapan dalam diam.


Selesai sarapan Agus mengajak Menik untuk pulang ke rumahnya. Menik memaksa Ince untuk menemaninya. Dengan terpaksa Ince mengikuti keinginan Menik. Karena bertiga, mereka menggunakan mobil mendiang bu Asih.


"Assalamualaikum."


Tok ... tok ... tok


"Assalamualaikum."


Waalaikumsalam


Terdengar jawaban dari dalam rumah. Tak lama pintu rumah terbuka, tampak Astuti yang membuka pintu. Dia terkejut melihat Agus berdiri di depannya.


"Lho, kapan kamu pulang? Kenapa sudah sama Menik?"


Agus tak segera menjawab pertanyaan Astuti. Dia langsung masuk ke dalam rumah untuk menemui bu Islah.


"Kemarin mas Agus pulang Mbak. Kebetulan ketemu, jadi sekalian pulang bareng ke sini," ucap Menik sambil memeluk Astuti.


Astuti melepas pelukannya, dia alihkan pandangan mata ke arah Ince yang berdiri di samping Menik.


"Ini?" tanya Astuti.


Ince mendekat ke arah Astuti dan menyalaminya.


"Tika, Mbak. Bestie nya Menik," ucap Ince mengenalkan diri.


Astuti mengajak Menik dan Ince masuk ke dalam rumah. Mereka berdua diajak Astuti ke kamarnya. Setelah berada di kamar, Astuti segera mengunci pintunya, didesaknya Menik untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Tidak ada yang Menik rahasiakan Mbak. Menik ketemu mas Agus saat di mall," ucapnya menutupi kejadian yang sebenarnya.


"Mbak nggak percaya Nik, pasti ada yang kamu sembunyikan. Sekarang mbak tanya sama Tika saja. Mbak harap kamu jujur."


Mau tidak mau Ince menceritakan kejadian yang sebenarnya saat di maal.


"Jadi, seandainya tidak ketemu sama kalian, Agus tidak akan pulang ke rumah."


"Mungkin Mbak," jawab Ince.


"Aku harus tanya dengan Agus langsung. Kalian berdua di sini saja!" perintah Atuti.


Astuti melangkah menemui Agus yang sedang bercakap-cakap dengan bu Islah.


"Maksud kamu apa Gus." Tanya Astuti tanpa permisi. Wajah Astuti terlihat memerah menahan marah.


"Sabar As, tanya dengan baik-baik. Ada apa sebenarnya. Jangan langsung marah-marah," nasihat bu Islah.


"As nggak akan marah Bu, asal Agus benar. Coba Ibu tanya langsung sama Agus."


Bi Islah menatap Agus dengan tajam, mencari jawaban. Agus terdiam dan menunduk, menghindari tatapan bu Islah.


"Ma—maaf," ucap Agus perlahan.

__ADS_1


__ADS_2