Adhisti

Adhisti
Bab 68


__ADS_3

Berkali-kali Menik menepis tangan Agus. Berkali-kali pula Agus mengulangi perbuatannya. Dengan cemberut, Menik menarik selimut dan tidur di bawah. Meski Agus merayunya Menik tetap tidak mau kembali tidur di atas. Tak lama napas Menik terdengar mulai teratur. Karena terlalu capek, Menik tidak membutuhkan waktu lama untuk terlelap.


Mengetahui Menik sudah tidur nyenyak, perlahan Agus menggendongnya dan membaringkan Menik di kasur.


"Maaf," ucap Agus sambil memperbaiki letak selimut Menik dan ikut terlelap di samping Menik.


***


Subuh menjelang terdengar suara azan bersaut-sautan. Menik mulai terbangun, betapa terkejutnya Menik mengetahui dia tidur di kasur berama Agus. Padahal seingat Menik, tadi malam dia tidur di bawah.


Siapa yang mindahin aku ke kasur? Pasti ulah Mas Agus, batin Menik.


Menik memeriksa tubuhnya di balik selimut. Melihat pakaiannya masih lengkap, hati Menik langsung lega. Dilihatnya Agus yang masih tidur. Perlahan Menik membangunkan Agus.


"Mas, bangun sudah subuh. Ntar ketinggalan bus lagi."


Mendengar suara Menik, Agus segera bangun. Sungguh pemandangan yang indah baginya. Saat bangun tidur, bisa melihat wajah Menik. Hampir sebelas bulan mereka menikah, baru beberapa kali tidur bersama.


"Mas, mau mandi sekarang atau nanti?"


"Kamu duluan saja, aku masih mager," ucap Agus dan berbaring kembali.


***


Pukul tujuh, mereka meninggalkan hotel dan segera menuju terminal. Sebelum naik ke bus, Agus berpesan kepada Menik, agar saat dia wisuda Menik bisa datang tepat waktu.


Setelah bus yang ditumpangi Agus meninggalkan terminal, Menik segera beranjak kembali ke kos. Karena pukul sembilan, dia ada janji dengan dosen di kampus.


Sampai di kos, Menik langsung berganti baju. Saat bercermin, Menik terkejut melihat beberapa tanda merah di sekitar leher dan dada bagian atas.


"Ini pasti ulah mas Agus semalam. Dasar omes. Awas kamu mas, tunggu pembalasanku," gumam Menik sambil mengoleskan foundation untuk menyamarkannya. Meski tertutup hijab, Menik tetap khawatir ada yang melihat maha karya Agus.


Sementara itu di kampus terlihat Ince duduk bersama Darmawan. Keduanya tampak sedang membahas perkembangan skripsi mereka. Karena kebetulan Ince dan Darmawan mengambil penelitian kuantitatif. Berbeda dengan Menik, yang memilih penelitian kualitatif.


Terlalu serius berdiskusi, sehingga mereka tidak menyadari kedatangaan Menik


"Dor!" teriak Menik.


Ince sampai berjingkat karena kaget.


"Dasar, Menik nggak ada akhlak. Untung jantungku nggak berhenti. Awas kalau jantungku berhenti gara-gara kamu, akan aku hantui kamu seumur hidup," omel Ince.


Jika Ince langsung ngomel, berbeda dengan Darmawan. Dia langsung istighfar, sambil mengelus dada.

__ADS_1


"Tenang Ce, kalau jantungmu berhenti. Nanti aku belikan jantung ayam di pasar."


"Bocah nggak jelas," seru Ince.


"Biar saja nggak jelas, yang penting udah laku," ucap Menik tanpa sadar membuat Darmawan terdiam.


Ekspresi Darmawan berubah saat mendengar kata sudah laku dari Menik. Ince menyenggol lengan Menik, memberikan isyarat untuk melihat ekspresi Darmawan. Namun, dasar Menik tidak peka, dia malah bingung dan tidak bisa menangkap arti isyarat Ince. Kalau untuk urusan akademik, Menik memang jagonya. Tapi kalau urusan hati, Menik tidak peka.


"Wan, nanti kita ke perpus pusat yuk. Cari buku referensi lagi. Sekalian ajari aku mengolah data," seru Ince untuk menormalkan suasana.


"O—ke Ce. Tunggu aku selesai konsultasi baru kita ke perpus. Tunggu aku di sini. Awas kalau ngilang," ucap Darmawan dan melangkah menuju ruang dosen.


Tak ada satu kata yang diucapkan Darmawan untuk Menik. Hati Darmawan terasa perih, kala teringat kata-kata sudah laku yang terucap dari mulut Menik.


"Semoga Menik hanya bercanda. Semoga Menik belum laku," gumam Darmawan sambil berjalan menuju ruang dosen.


Akibat pikirannya tidak fokus, Darmawan menabrak pintu kaca yang tertutup.


Brak


Terdengar benturan di pintu kaca, sontak semua mahasiswa yang berada di sana menoleh ke arah Darmawan yang sedang memegang keningnya yang sedikit benjol.


Darmawan pura-pura menerima telepon untuk mengusir rasa malunya. Mahasiswa yang berada di dalam sebenarnya ingin tertawa, tapi mereka tahan.


Sebenarnya bukan hanya Darmawan yang menjadi korban pintu kaca itu. Banyak mahasiswa sudah jadi korbannya. Eh salah, bukan mahasiswa yang jadi korban pintu kaca, melainkan pintu kaca yang jadi korban tabrakan mahasiswa.


"Wan, woi, Darmawan!" teriak Fendi.


Darmawan menoleh ke arah Fendi dan menghentikan akting menerima telepon.


"Apa Fen," sahut Darmawan.


Fendi menghampiri Darmawan, dan mengajaknya duduk di koridor. Agar masih bisa melihat ke arah ruang dosen.


"Kami mikir apa, Wan? Sampai pintu segede itu kamu tabrak. Tidak biasanya seorang Darmawan tidak fokus."


Darmawan menghela napas panjang dan berucap, "Biasa Fen, kamu pasti tahu siapa yang aku pikirkan."


"Menik? Kenapa lagi dia, Wan?"


Darmawan menceritakan tentang kejadian tadi di taman. Semua kejadian, Darmawan ceritakan runtut tanpa ada yang terlewat. Fendi mendengarkan sambil manggut-manggut.


Sebenarnya Fendi juga gusar mendengar cerita Darmawan yang menyebutkan Menik sudah laku. Pikiran Fendi langsung tertuju cincin yang akhir-akhir ini dipakai oleh Menik.

__ADS_1


Pupus harapanku, padahal belum juga aku perjuangkan, batin Fendi.


"Fen ... Fendi ..." panggil Darmawan yang mendapati Fendi melamun.


"I—iya Wan. Kenapa?"


"Kamu pasti kecewa juga kan. Aku tahu tentang perasaanmu. Kalau apa yang diucapkan Menik benar, berarti kita kalah Fen. Tapi kalau itu cuma candaan Menik. Ayo kita berjuang Fen. Sebelum janur kuning melengkung, kita masih punya kesempatan. Semangat," ucap Darmawan sambil beranjak menuju ruang dosen, meninggalkan Fendi yang masih terdiam.


Beb ... beb, ponsel Ince berbunyi. Terlihat satu pesan masuk.


Darmawan: Ce, kamu pulang kos dulu saja. Aku masih revisi, dan harus selesai sekarang. Karena di tungguin pak Mul.


Ince: Ok. Aku ke kos Menik saja. Kalau jadi ke perpus, kabari aku.


Darmawan: Oke.


"Nik, ke kos kamu saja yuk. Darmawan masih revisi," ucap Ince.


"Ayo."


Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Saat melewati tangga di depan pintu masuk, ada yang sengaja menyenggol Ince. Hampir saja Ince jatuh, untung ada Menik yang menahan badan Ince.


Mata Ince menatap tajam ke arah orang yang menabraknya.


"Dasar nggak punya mata," omel Ince.


Merasa dirinya disebut Ince tidak punya mata, orang itu langsung menoleh.


"Oalah ternyata kamu. Cewek yang sukanya ngaku-ngaku barang yang bukan miliknya," seru Lina.


Darah Ince mendidih, mendengar ucapan Lina. Hampir saja Ince menjambak rambut Lina, jika tangannya tidak ditarik Menik.


"Lepas, Nik. Biar aku hajar dia," seru Ince sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Menik.


"Nggak akan ku lepas," ucap Menik dan menyeret Ince menuju mobilnya.


Di dalam mobil, Ince masih terlihat emosi. Dipegangnya botol air mineral yang masih separuh isinya. Saat melintas di dekat Lina yang tengah berjalan bersama Ghani. Ince membuka jendela lebar-lebar. Diambilnya ancang-ancang untuk melempar, dan lemparan Ince tepat mengenai muka Lina.


"Yes" teriak Ince yang puas karena lemparannya tepat sasaran.


Menik langsung tancap gas, saat melihat Lina mengambil botol itu dan membalas lemparan Ince sambil mulutnya tak berhenti mengucapkan sumpah serapah.


"Woi ... nggak kena," teriak Ince sambil menjulurkan lidahnya mengolok Lina.

__ADS_1


__ADS_2