
"Hah! Tersegel? Apa maksudnya?" tanya Menik penasaran.
Agus terkekeh mendengar kepolosan istrinya. Ditatapnya dengan lekat wajah ayu sang istri.
Kamu masih polos bener Nik. Aku harap saat aku tak ada disisimu kamu akan baik-baik saja." batinnya.
"Mas, apa maksudnya tersegel?" tanya Menik kembali.
"Mau tahu atau mau tahu banget?"
Menik mengangguk mengiyakan pertanyaan Agus.
"Ntar saja dech mas jelasin, setahun lagi. Sabar ya, menanti mas dan juga jawaban dari mas."
"Ais ... mas nggak asyik." rajuk Menik.
"Udah nggak usah merajuk. Ntar Menik akan tahu jawabannya. Namun tidak sekarang."
"Oke deh, Menik sabar menanti. Asal yang dinanti mau kembali sama Menik. Rugi dong, kalau hanya Menik yang menanti." cerocos Menik.
Agus terkekeh mendengaran ocehan Menik. Gemas mendengar Menik bicara tanpa henti. Pengin merangkum Menik dalam pelukan. Tapi takut kebablasan.
Tibalah waktunya Agus untuk berangkat, dipelukknya erat tubuh Menik. Diciuminya pucuk kepala Menik. Tak peduli lagi ada pak Dewa dan bu Islah yang melihat interaksi keduanya.
"Wah yang mau pergi pas sayang-sayangnya. Nggak kuat abang dek." gurau Astuti yang tiba-tiba sudah berada di samping bu Islah.
Menik yang mendengar guruan Astuti segera melerai pelukan Agus. Namun tangan Menik masih berada dalam genggaman Agus. Sesekali Agus, mencium mesra tangan Menik.
"Gus" panggil pak Dewa.
"Iya yah." jawab Agus
"Duduk sini dulu, ayah ingin menyampaikan sesuatu."
Dengan berat, Agus melepas genggamannya dari tangan Menik dan segera mengikuti pak Dewa. Sedangkan Menik masih duduk di teras sembari menunggu jemputan Agus.
Sementara itu di ruang tamu terlihat pak Dewa berbicara serius dengan Agus. Ada hal penting yang harus beliau tanyakan pada Agus.
"Agus, boleh ayah bertanya sesuatu?"
"Boleh ayah." lirih Agus menjawab.
Perasaan tidak nyaman menyusup di hati Agus. Karena tidak biasa ayahnya meminta izin untuk berbicara kepadanya. Pasti ada hal serius yang akan disampaikan beliau.
"Gus, ayah boleh tanya apa hubunganmu dengan Wiwid, adiknya Andi senior di kampusmu?" tanya pak Dewa penuh selidik.
Agus terlonjak kaget mendengar pertanyaan pak Dewa. Tak pernah menyangka bila akan terlontar pertanyaan tentang Wiwid.
"Agus nggak ada hubungan apa-apa yah, cuma sebatas teman nggak lebih."
"Beneran?" tegas pak Dewa.
"Iya yah."
__ADS_1
"Ayah pegang omongan kamu Gus. Ingat, jika sampai kamu nyakitin Menik, Ayah yang akan maju duluaan untuk memisahkan kalian." tegas pak Dewa.
Mendengar ancaman pak Dewa, keringat dingin Agus bercucuran. Hatinya gamang dengan janjinya. Ada yang dia sembunyikan tentang keberangkatannya kali ini.
"Agus ... jemputan sudah datang." seru bu Islah dari luar.
Sebelum keluar, pak dewa kembali menegaskan janji Agus. Di tepuknya perlahan pundak Agus. "Ingat janjimu!"
Agus mengangguk mengiyakan. Segera dia masuk ke dalam mobil jemputan. Sebelum sopir menjalankan mobilnya.
"Pak, maaf saya bisa turun sebentar saja?" pinta Agus ke sopir jemputan.
Sopir mengangguk dan menunda menginjak pedal gas. Agus bergegas turun.
"Menik." panggilnya
Belum sempat Menik menjawab panggilan Agus, dia dikejutkan Agus yang memeluknya dari belakang.
"Nik, saat mas tidak ada di sisimu, kamu harus yakin dan percaya dengan mas. Mas akan berusaha untk setia sampai akhir, asal Menik percaya sama mas."
"Menik percaya sama mas Agus, asal mas bisa menjaga kepercayaan yang Menik berikan."
Agus membalikkan tubuh Menik, sekarang mereka berhadapan. Ditatapnya lekat mata Menik, tak ada kebimbangan di sana. Sekilas Agus mencuri cium di kening Menik, dan segera berlari menuju mobil jemputan.
"Semoga kamu tepati janji mas." gumam Menik.
Menik baru masuk rumah, setelah mobil yang membawa Agus tak terlihat dari jangkauan matanya.
"Makasih mbak. Menik coba untuk tidur sendiri. Kalau takut baru Menik pindah ke kamar mbak As. Lagi pula besok pagi-pagi Menik sudah harus balik ke kampus sekalian masuk magang mbak."
"Mbak kira kamu izin magang seminggu ini."
"Nggak enak mbak kalu izin magang. Takut ntar nggak lulus dan disuruh ngulang lagi."
"Bener juga ya. Apalagi kalau ngulangnya sendirian. Ya sudah kamu istirahat dulu. Aku juga sudah ngantuk." ucap Astuti.
"Iya mbak." jawab Menik dan berlalu dari kamar Astuti.
***
Sampai menjelang subuh mata Menik tak juga terpejam. Akhirnya diputuskan untuk mengambil wudhu dan menunaikan tugas sebagainl seorang muslim. Banyak doa yang Menik sampaikan kepada sang pemilik takdir.
Selesai bermunajat, Menik merapikan kembali perlengkapan ibadahnya dan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.
Kali ini ada yang beda tentunya, biasanya Menik berangkat dari rumah ayahnya, namun hari ini perdana dia berangkat dari rumah mertuanya.
Sebelum berangkat Menik berpamitan dengan bu Islah dan pak Dewa.
"Ayah, Ibu ... Menik berangkat dulu. Mungkin pulangnya dua minggu lagi."
"Iya ... hati-hati di jalan. Telepon ibu jika kamu sudah sampai." pesan bu Islah.
"Iya ibu, insya allah begitu sampai Menik akan kabari."
__ADS_1
Menik mencium takzim tangan bu Islah dan pak Dewa. Tak lupa Menik juga berpamitan dengan Astuti.
Dipacunya si hitam kesayangannya. Namun belum jauh dia meninggalkan rumah mertuanya, terlintas pikiran untuk berpamitan dengan ayahnya. Menik pun segera merubah arah laju kendaraannya.
Sampai di rumahnya, terlihat Sri Suketi sedang menyapu halaman. Ragu menyusup ke dalam hati Menik. Lanjut masuk atau batal pamitan.
Ah peduli amat sama Sri Suketi, ini kan rumahku. Dan aku ke sini bukan untuk bertemu dengannya. Aku ke sini bertemu ayahku. batin Menik.
"Assalamualaikum." ucap Menik.
"Waalaikumsalam, eh ada anak gadis, ups salah, pengantin baru maksudnya." ujar Sri Suketi
Menik tak ambil pusing dengan ucapan ibu sambungnya. Dia melangkah masuk dan mencari pak Broto untuk berpamitan.
Pak Broto terkejut dengan kedatangan Menik pagi-pagi. Terbersit rasa khawatir tentang putrinya. Takut ada masalah dengan mertuanya. Sehingga pagi-pagi pulang ke rumah.
"Lho ... Nduk, pagi-pagi sudah sampai di sini ada apa? Kamu baik-baik saja bukan?" cecar pak Broto yang khawatir.
"Alhamdulillah Menik baik ayah. Apa tidak boleh Menik pagi-pagi ke sini?"
"Ya, pasti boleh Nduk. Rumah ini kan milikmu. Dari awal ayah dan mendiang ibu mu sudah sepakat rumah ini milik Menik."
Jeduar, bak di sambar geledek pagi-pagi buta Sri Suketi tak percaya dengan apa yang didengarnya. Pupus sudah harapannya untuk memiliki rumah itu. Tapi semua belum terlambat batinnya. Masih ada banyak cara untuk menguasai harta pak Broto.
"Ayah, Menik mau pamit berangkat ke kampus. Mungkin pulangnya dua minggu lagi."
"Iya hati-hati nduk. Jangan ngebut. Pelan-pelan saja. Kalau tidak, ayah ganti si hitam."
"He ... he ... iya ayah, Menik pasti akan pelan-pelan bawa motornya. Sepelan Valentino Rossi waktu di sirkuit."
"Apa! Dasar bocah, bisa saja cari alasan untuk ngebut."
"Beneran ayah, Menik nggak ngebut. Masih dalam batas normal kecepatan."
"Yo wes, terserah kamu Nduk. Yang penting tetap hati-hati dan berdoa. Ini uang sakumu nduk, untuk dua minggu ke depan."
Pak Broto memberikan lima lembar uang ratusan kepada Menik. Segera Menik mengambilnya sebelum ketahuan Sri Suketi.
"Terima kasih ayah ucapnys sembari memeluk pak Broto."
"Ck ... ck ... enaknya yang sudah punya suami masih minta uang sama ayah nya." sindir Sri Suketi.
Kali ini Menik menjawab sindiran ibu sambungnya itu.
"Terserah aku mau minta uang berapapun sama ayah. Lagi pula ayah bekerja juga untukku. Pendatang baru tak boleh ikut campur." ketus Menik.
Sri terkejut, tak menyangka Menik berani membalas sindirannya.
"Lihat pi, anak papi sudah berani sama mami. Apa salah jika mami mengatakan kalau dia seharusnya tidak minta uang lagi sama papi." Sri berucap sembari memasang wajah sedih.
Pak Broto dilema, bingung siapa yang harus beliau bela. Di sisi lain, Menik adalah darah dagingnya. Namun di sisi lain Sri Suketi merupakan istrinya.
Apa yang harus aku lakukan? batin pak Broto.
__ADS_1