
"Halo, assalamualaikum." terdengar suara laki-laki di ujung telepon.
"Waalaikumsalam," jawab Menik dengan suara serak khass orang bangun tidur.
Menik menjawab telepon dengan setengah sadar. Mata Menik kembali terpejam setelah menjawab salam. Menik tidak sadar jika itu panggilan video.
Ponsel masih berada digenggaman Menik, meski matanya terpejam. Agus tersenyum melihat Menik yang terpejam sambil memegang ponsel. Dipandanginya wajah Menik. Sengaja Agus tak membangunkannya.
"Kamu lucu kalau sedang tidur, Nik. Coba kalau kamu terjaga, pasti mulutmu tak berhenti berkicau," gumam Agus.
Lama kelamaan Agus ikut tertidur tanpa mematikan telepon. Hingga keesokkan hari saat Menik membuka mata, dia tersadar jika tadi malam ponselnya berbunyi.
Menik memeriksa ponselnya, untuk melihat siapa yang meneleponnya semalam. Digulir perlahan layar ponselnya. Terbit senyum di bibir Menik, saat mengetahui siapa yang menelponnya.
"Waduh jangan-jangan aku semalam menjawab telepon mas Agus setengah sadar," gumam Menik.
Digulirkan lagi layar ponselnya, terlihat selama lebih dua jam panggilan berlangsung. Menik menepuk jidatnya. Pipinya merona, membayangkan muka bantalnya tadi malam.
Tring ... Tring
Ponsel yang masih berada di genggaman Menik berbunyi. Tampak nomor Agus tertera di layar. Menik ragu menjawabnya, karena dia masih malu apabila teringat peristiwa tadi malam. Bisa-bisanya menjawab telepon dengan mata terpejam. Untung Agus yang menelepon. Tak bisa Menik bayangkan jika yang meneleponnya orang lain.
Tring ... Tring ...
Ponsel itu terus berbunyi menunggu Menik menjawabnya. Dengan menekan malu, Menik menjawabnya.
Tampak wajah Agus di layar tersenyum kepada Menik. Menik mengarahkan kamera ponselnya ke arah meja belajarnya. Dia masih malu untuk memperlihatkan wajahnya.
"Nik, wajah istriku mengapa berubah jadi tumpukan buku," seru Agus.
"He ... he ... Menik malu, Mas," ucap Menik lirih.
"Kenapa bicaranya bisik-bisik Nik? Dan mengapa harus malu. Cepat putar arah kamera. Aku ingin melihat wajahmu."
Menik segera memutar kamera ponselnya, namun Menik menutupi setengah wajahnya dengan selimut.
"Lhah, kok ditutupi. Coba buka selimutnya. Aku kangen lihat wajahmu, Nik. Apalagi kalau lagi tidur. Lucu," goda Agus.
"Aih ... Mas jangan ingatkan Menik dengan kejadian semalam. Menik malu mas. Semalam Menik benar-benar capek banget Mas. Sehingga tidak sadar menjawab telepon."
"Untung yang telepon aku, Nik. Coba kalau orang lain bagaimana?"
"Baru kali ini Mas, Menik jawab telepon
sambil setengah sadar. Biasanya nggak pernah," bela Menik.
Mereka berdua melanjutkan obrolannya, membahas rencana wisuda Agus yang akan dilaksanakan bulan depan. Selain wisuda, Agus juga menanyakan perkembangan skripsi Menik. Karena Agus berencana mengadakan resepsi pernikahan mereka selepas Agus wisuda.
Hampir satu jam mereka ngobrol. Mereka terpaksa menyudahi obrolannya karena Agus harus segera menyerahkan tugas akhir dan mengurus kelengkapan berkas wisudanya.
Menik segera mandi, dan bersiap menuju kampus untuk bertemu dengan dosen pembimbing skripsinya.
__ADS_1
***
Waktu berjalan cepat, tak terasa hari wisuda Agus semakin dekat. Menik sudah menyiapkan baju khusus untuk menghadiri wisuda Agus. Baju itu dirancang sendiri oleh Menik.
Minggu ini Menik berencana untuk pulang ke rumah. Untuk mengambil mobil mendiang ibunya. Karena Menik ajan berangkat sendiri ke wisuda Agus. Menik tidak bisa berangkat bersama dengan keluarga Agus, dikarena hari itu Menik ada bimbingan skripsi sebelum dosennya ada keperluan di luar kampus.
Beb ... beb
Nampak satu pesan dari Ince masuk ke pinsel Menik.
Ince: Nik, kamu jadi pulang sore ini?
Menik: Insya Allah jadi Ce. Kenapa? Mau ikut?
Ince: Iya, kalau boleh. Ada yang mau aku tanyakan sama ayah tentang skripsiku.
Menik: Jelas boleh lah. Apalagi kalau ada kamu, pasti sikap istri ayah akan berubah semanis gulali. 🤪
Ince: Nggak doyan aku kalau gulalinya model mami Sri Suketi. 🤣🤣🤣
Menik: Awas, terlena dengan sikap manisnya.
Ince: Semoga tidak. 🤪🤪
Menik: Tiga puluh menit lagi aku ke kos mu. Kalau belum siap, aku tinggal.
Ince: Siap komandan.
***
Tin ... tin ...
Menik menekan klakson sepeda motornya, untuk memberi isyarat Ince, kalau dia sudah datang. Namun, bukan Ince yang keluar dari dalam kos, melainkan bapak kos, yang terkenal suka menggoda anak kuliahan.
Pak Warno pemilik kos Ince, sebenarnya beliau baik. Apalagi jika berurusan dengan pembayaran uang kos. Beliau bersedia menunggu sampai anak kos mendapat kiriman untuk membayar. Hanya satu sifatnya yang agak sedikit membuat jengah, yaitu agak genit.
Semoga pak Warno tak melihatku, batin Menik.
"Eh, ada mbak Menik. Mimpi apa aku semalam bisa bertemu dengan mbak Menik yang imut-imut," ucap pak Warno sembari mendekat ke arah Menik.
Menik menurunkan standar samping motornya, dan segera turun dari motor untuk menghindari tangan pak Warno yang kadang suka kelewat batas.
"Menik mimpi ketemu kerbau tadi malam, Pak," jawab Menik sekenanya.
"Itukan mimpinya mbak Menik. Kalau aku tadi malam mimpu ketemu bidadari lagi mandi di sungai. Terus selendangnya aku curi," ujar pak Warno sembaro tersenyum genit, dan tangannya hendak memegang pundak Menik.
Menik mundur untuk menghindari tangan pak Warno. Sambil berkata, "Wah, ternyata tadi malam Pak Warno mimpi jadi Jaka Tarub nie."
"Kalau aku Jaka Tarubnya, berarti mbak Menik bidadarinya."
"Lhah kok Menik yang jadi bidadarinya, tadi malam saja Menik mimpi ketemu sama kerbau. Jadi bukan Menik yang jadi bidadari."
__ADS_1
Mendengar suara Menik, Ince segera keluar. Dikulumnya senyum, saat mendengar obrolan unfaedah Menik dan pak Warno. Dari beberapa teman Ince, hanya Menik yang bisa mematahkan ucapan pak Warno.
"Ayo Nik, kita berangkat," ucap Ince.
Pak Warno menileh ke arah Ince, "Mbak Ince mau ke mana sama bidadari ku?"
"Saya mau ikut pulang Menik, Pak," jawab Tika sopan.
Bahaya kalau Ince ikut-ikutan Menik mendebat pak Warno, bisa-bisa disuruh angkat koper dari kos-kosan.
"Sini biar aku antar saja, dari pada capek naik motor. Sekalian aku bertemu dengan calon mertua," ucap Pak Warno dengan mengerling genit ke arah Menik.
Menik melengos melihat kerlingan mata pak Warno. Jengah meladani pak Warno, Menik memberi isyarat ke arah Ince agar segera naik ke motor.
"Lho-lho, aku ditinggal," seru pak Warno ketika melihat Menik telah melaju dengan motornya.
Menik dan Ince tertawa terbahak-bahak melihat pak Warno yang uriinga-uringan. Karena sebelum menarik gas motornya, Menik sempat berucap, "Maaf Pak, saya bukan bidadari, karena semalam saya mimpinya ketemu sama kerbau. Jadi—"
"Maksud mbak Menik?"
Belum sempat pak Warno berpikir mengenai maksud ucapan Menik, Ince menyenggol Menik untuk menjalankan motornya.
***
Kali ini Menik sedikit mengurangi kecepatannya, agar tidak mendapatkan ceramah dari Pak Broto. Karena sebelum berangkat tadi pak Broto sempat menanyakan jam berapa Menik berangkat dari kos. Dan biasanya pak Broto akan menghitung lama perjalanan yang ditempuh Menik.
"Nik ... Nik," teriak Ince agar Menik mendengar suaranya.
"Apa Ce?"
"Tumben kamu lelet naik motornya."
"Sekali-sekali Ce, biar nggak kena ceramah ayah. Awas jangan ngantuk kamu!"
Satu setengah jam kemudian Menik sampai di rumah. Terlihat pak Broto dan Sri menanam singkong di depan rumah bersama budhe Ninik.
Pak Broto menghentikan aktivitasnya, saat melihat Menik datang.
"Eh, anak mami pulang. Mami kangen," ucap Sri sambil memeluk Menik.
Menik sudah paham mengapa Sri bersikap manis seperti itu. Karena ada pak Broto dan bidhe Ninik, sehingga Sri harus menunjukkan kalau dia menyayangi Menik.
"Ayo, masuk Nduk. Mami masak garang asem tadi siang. Sana cepat makan dulu," ucap Sri.
Dengan terpaksa Menik mengikuti alur sandiwara Sri. Tapi dia ingat dengan pesan Darmi, yang menyuruhnya selalu waspada kepada Sri.
Terlihat Ince begitu menikmati masakan Sri, sedang Menik merasa jika masakkan Sri hambar. Karena sebelum makan dia membaca doa, agar terhindar dari rencana Sri.
Diam-diam Sri mengintai dari balik pintu tengah.
"Yes, akhirnya berhasil," ucap Sri.
__ADS_1