Adhisti

Adhisti
Bab 65


__ADS_3

Deg ... deg ... jantung Ince semakin berlomba untuk melompat setelah mengetahui siapa yang memanggilnya.


"Ma—Mami," ucap ince.


"Ngapain kamu di gudang?" tanya Sri penuh selidik.


Belum sempat Ince menjawab pertanyaan Sri, ada suara lain yang mewakili Ince menjawab.


"Ayah yang nyuruh Ince ke gudang, Mi," ucap pak Broto menyelamatkan Ince dari kecurigaan Sri.


"Ngapain Papi suruh Ince ke gudang?"


"Ayah suruh untuk mencari contoh skripsi mahasiswa ayah, Mi."


Ince merasa lega, pak Broto muncul di saat yang tepat. Hampir saja dia ketahuan mencuri dengar rencana Sri.


"Bagaimana Ce, sudah ketemu?"


"Belum, Yah. Ince bingung karena banyak judulnya."


Pak Broto masuk ke dalam gudang, berpura-pura mengambil contoh skripsi dan Ince ikut juga masuk ke gudang. Sedangkan Sri beranjak menuju kamar, untuk mengambil dompet.


Setelah mengambil dompet, Sri segera pergi ke ATM untuk mentrasfer sejumlah uang kepada kakaknya untuk membeli obat penyubur kandungan. Dalam perjalanan Sri merasa gusar dengan keberadaan Ince di gudang.


"Semoga Ince tidak mendengar apa yang ku rencanakan. Lagi pula dia di gudang. Jadi tak mungkin mendengar suaraku," gumam Sri sepanjang perjalanan menuju ATM.


"Nduk Ce, apa kamu mengetahui sesuatu?" tanya oak Broto tiba-tiba setelah mereka keluar dari gudang.


"Mak—maksud Ayah apa?" elak Ince.


"Ya sudah, kalau kamu nggak mau cerita sama ayah. Ayah pesan jaga Menik, dari apa yang kamu dengar tadi," ucap pak Broto tenang.


Ince terdiam mendengar ucapan pak Broto.


Jadi selama ini ayah sudah tahu tentang kelakuan Sri? batin Ince.


"Kaget, ayah sudah tahu?"


Ince mengangguk menjawab pertanyaan pak Broto. Beliau seperti bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran Ince.


"Tapi Ayah kenapa diam saja kalau sudah tahu?" tanya Ince penasaran.


Pak Broto tidak menjawab pertanyaaan Ince. Beliau berlalu meninggalkan Ince yang penasaran.

__ADS_1


Ince masuk ke kamar Menik, dia terkejut melihat Menik sudah rapi.


"Mau kemana Nik? Sudah rapi saja."


"Ada deh, mau tahu saja," ucap Menik sembari membenarkan letak hijabnya.


"Jangan-jangan kamu mau balik ke kos sekarang? Bukannya nanti sore baru kita balik?"


"Buruan mandi kalau mau tahu. Aku tunggu sepuluh menit dari sekarang. Lambat, aku tinggal."


Mendengar ancaman akan ditinggal Menik, Ince segera melesat ke kamar mandi. Kalau biasanya Ince mandinya lama, kali ini Ince mandi secepat kilat.


Menik memanasi motornya di garasi. Mendengar suara mesin motor dinyalakan, Ince menambah kecepatannya berdandan.


"Menik, tunggu aku!" teriak Ince dari dalam kamar.


Menik terkekeh mendengar teriakan Ince.


"Cepat, atau aku tinggal. Satu menit tersisa."


Mendengar kata ditinggal, Ince memoleskan lipstick asal ke bibirnya, sehingga lipstiknya keluar dari garis bibir. Diusapnya kasar bekas lipstick yang keluar garis bibirnya dengan tisu.


Berm ... berm ... belum sempat Ince sampai di garasi terdengar suara motor meninggalkan rumah Menik. Ince segera berlari ke arah garasi, dengan harapan Menik masih setia menunggunya.


Sepanjang perjalanan mengelilingi kampung, Menik terus saja tersenyum membayangkan wajah Ince saat ini.


Tin ... Tin ...


Terdengar bunyi klakson di luar pagar, Ince segera berlari mendekat ke arah Menik. Tanpa permisi, Ince langsung naik ke atas motor. Hampir saja Menik oleng, karena tidak siap.


"Kalau mau naik, bilang Ce. Hampir saja kita tiduran di depan pagar," ketus Menik.


"Maaf Nik, aku takut kamu tinggal lagi. Jadi aku langsung naik," jawab Ince sambil terkekeh.


"Siapa juga yang mau ninggalin kamu, Ce. Aku tadi hanya keliling kampung, untuk memanasi mesin si hitam, sebelum aku tinggal seminggu di sini. Aku takut dia kangen sama aku," ucap Menik sambil mengelus si hitam motor kesayanggannya.


"Dasar Lebay." ucap Ince.


"Kamu bilangin aku lebay sekali lagi, nggak aku ajak wisata kuliner hari ini. Sana turun, makan masakan Mami kesayangannmu."


Mendengar kata kuliner, cacing-cacing di dalam perut Ince melompat kesenangan.


"Ogah Nik, makan masakan Mami. Mending kita kuluner di pujasera. Sekalian mencoba menu baru di sana."

__ADS_1


Menik mengajak Ince mengelilingi kita kelahirannya hari ini. Saat melintas di depan rumah makan yang mengolah kodok, Menik sengaja menghentikan motornya.


"Lho Nik, mengapa kamu berhenti di sini?" tanya Ince penasaran.


"Katanya tadi mau makan. Ayo kita makan di sini."


"Kalau di sini aku nggak mau, Nik. Kamu kan tahu kita dilarang makan kodok." tolak Ince.


"Bukan di sini neng Ince. Tapi di sampingnya. Tuh kamu lihat, pasti langsung ngiler."


Menik menunjuk warung sate kambing, yang letaknya tepat di samping restoran serba kodok. Senyum Ince langsung terbit dibibirnya. Cepat-cepat Ince menaruh helm, di spion motor. Dia berjalan cepat untuk segera masuk, dan langsung memesan makanan tanpa menunggu Menik.


Menik menyapu pandangannya mencari di mana Ince duduk. Merasa Menik mencarinya, Ince melambaikan tangannya memyuruh Menik untuk duduk.


Setelah menunggu beberapa saat, di meja mereka mulai terhidang sate kambing dua porsi dan dua porsi gulai kambing. Ince dan Menik memang paling doyan dengan makanan serba kambing.


Selesai makan, mereka menuju ke salah satu toko sandal. Karena tidak mempunyai sandal yang sandal yang cocok dengan gaunnya, Menik berencana untuk sekalian membelinya.


Terpajang berbagai macam model sandal di etalase. Menik bingung memilihnya, apalagi dengan ukuran kaki kecil seukuran anak SD, membuat Menik agak kesulitan mencari yang pas dengan kakinya.


Kalau Menik sedamg kebingungan mencari high heels, sebaliknya Ince terlihat memilih sneakers yang memang cocok dengan gayanya yang sedikit tomboy namun centil.


Karana tidak kunjung menemukan high heels yang cocok, Menik beranjak mendekati Ince. Mata Menik berbinar melihat snekers yang berwarna senada dengan gaunnya. Tanpa pikir panjang dibelinya sneakers itu.


Keduanya berjalan beriringan dengan menenteng sepatu mereka masing-masing. Mereka menyusuri lorong-lorong yang memang di khususkan untuk penjual sepatu dan sandal. Sehingga berjajar rapi penjual sepatu.


Ince tiba-tiba menghentikan langkahnya, saat melihat hingh heels yang menurutnya sesuai dengan warna gaun Menik. Menyadari Ince tidak lagi berada di sampingnya, Menik menengok kebelakang.


Mengetahui Menik mencarinya, Ince melambaikan tangannya. Menik menghampiri Ince.


"Nik, menurutmu itu bagus tidak?" tanya Ince.


"Bagus saja Ce. Beli sudah."


"Coba kamu perhatikan lagi Nik, kelihatannya senada dengan warna gaunmu."


Menik kembali memperhatikan detail warna high heels. Ternyata benar ucapan Ince, yang menyebut kalau di toko ini lebih banyak dari pada toko lainnya.


Saat Menik ingi mengambil sebelahnya, tiba-tiba ada tangan yang juga menarik high heels.


"Maaf saya duluan yang mengambilnya," ucap Menik sopan tanpa melihat siapa yang merarik higheel.


Menik mencoba kembali untuk mengambilmya, namun lagi-lagi dia gagal. Terjadilah tarik menarik antara keduanya. Saat tarikan terakhir, Menik hampir saja jatuh, jika sang penarik sepatu tidak menangkapnya.

__ADS_1


Pandangan mereka tertaut, ada perasaan bahagia terpancar dari pandangan mereka.


__ADS_2