
Tawa Ince masih belum mereda, saat lemparannya tepat mengenai wajah Lina.
"Ck ... ck ... segitu senangnya berhasil ngerjain orang," ucap Menik.
"Puas aku Nik. Coba tadi kamu jangan menghalangi aku. Biar aku buat bonyok wajah Lina. Kalau perlu Ghani sekalian."
"Tak boleh dendam Ince sayang. Ntar kalau kamu terus menyimpan dendam, bakalan nggak turun-turun timbangan kamu."
Mendengar kata timbangan yang terus bergeser ke kanan, membuat Ince istighfar. Ince berjanji tidak akan menyimpan dendam lagi. Kecuali mereka membuat gara-gara dengannya.
"Ce kita ke kos kamu saja ya. Kalau ke kosku susah parkir."
"Tapi mampir cari makan dulu, cacingku sudah minta jatah makan," jawab Ince.
Mereka berdua memutuskan untuk membeli ayam lalapan di dekat krematorium. Sengaja mereka membungkus, agar lebih leluasa menikmatinya dengan berbagai macam gaya.
Ince membuka gerbang kos, agar Menik dapat memasukkan mobilnya. Saat Menik turun dari mobil, bertepatan dengan kedatangan pak Warno. Namun kali ini ada yang berbeda. Pak Warno tidak berani lagi meenggoda Menik, bahkan tidak menyapa Menik sama sekali.
Begitu masuk ke dalam kamar, mereka berdua melepas hijabnya karena gerah. Ince segera menyalakan kipas angin yang tergantung di langit-langit kamar. Menik tanpa sadar mengikat rambutnya, sehingga tampaklah yang seharusnya dia tutupin. Foundation yang dia pakai tadi pagi telah luntur kena keringat.
Ince menajamkan pandangannya, menelisik ke arah leher Menik. Terdapat beberapa maha karya Agus yang tercetak di sana.
"Nggak usah pamer kamu, Nik," seru Ince.
Menik menghentikan suapannya. Terdiam sejenak memikirkan ucapan Ince. Namun dia tidak menemukan alasan mengapa Ince menyebutnya pamer.
"Memangnya aku pamer apa, Ce?"
Bukannya menjawab ucapan Menik, Ince malah menanyakan tadi malam Menik tidur di mana dan sama siapa. Dan dengan polos Menik menngatakan dia tidur di hotel dengan Agus.
Ince menggeleng tak percaya. Ditepisnya pikiran tentang apa yang telah dilakukan Menik semalam dengan Agus. Apalagi terlihat banyak tanda di leher Menik.
Perlahan Ince bergeser mendekati Menik yang masih asyik makan. Ditariknya baju Menik yang kebetulan agak sedikit longgar. Sehingga tampaklah maha karya Agus di tempat yang lebih tersembunyi.
Seketika Menik sadar, buru-buru ditariknya kembali baju yang dia pakai. Wajah Menik merona, manahan malu. Karena ketahuan Ince.
Ince masih terus memandangi Menik dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Ayo cerita tadi malam kalian ngapain saja? Jangan bilang segelmu sudah terlepas," ucap Ince santai.
Uhuk .. uhuk ...
Menik tersedak mendengar pertanyaan Ince. Refleks Ince menepuk-nepuk punggung Menik. Melihat Menik terdiam, Ince semakin yakin jika sahabatnya sudah bukan gadis lagi.
"Nik, beneran tadi malam kamu sudah jadi istri yang sesungguhnya?" cecar Ince.
"Ngawur kamu, Ce. Aku nggak mungkin menyerahkannya sebelum semua orang tahu kalau aku sudah nikah."
"Beneran? Jangan bohong kamu, Nik." ketus Ince.
"Beneran, Ce. Meski hampir saja khilaf. Kalau mertuaku nggak menelepon, pasti sekarang aku sudah jadi mantan gadis," ucap Menik sambil terkekeh.
Lega hati Ince mendengar cerita Menik. Jujur Ince masih khawatir tentang pernikahan Menik. Apalagi saat Menik ingat Wiwid. Ince curiga ada yang Agus sembunyikan tentang Wiwid.
"Mas Agus, diam-diam ganas juga," seru Ince
"Ganas? Maksudmu?"
__ADS_1
"Hati-hati saja kamu, kalau sudah resepsi."
"Hati-hati kenapa, Ce?"
"Ntar kamu tahu sendiri jawabannya. Coba sini aku mau lihat, mas Agus buat tanda di mana saja," ucap Ince sambil menarik baju Menik.
Menik menggengam erat bajunya, yang membuat Ince menjadi semakin penasaran. Digelitikkinnya Menik. Ince ternganga saat baju Menik sedikit tersingkap.
"Wow, mantab memang suamimu, Nik."
"Maksudmu mantab apa?"
"Tunggu saja setelah kalian resepsi. Aku tak bisa membayangkan cara jalanmu nanti."
Ince kembali menarik baju Menik. Namun, berhasil Menik menepis tangan Ince.
"Dasar teman nggak ada akhlak. Nie, aku buka semuanya. Kalau kamu pengin lihat. Tapi aku nggak tanggung nawab, kalau kamu jadi pengin praktik," seru Menik sembari pura-pura melepas kancing bajunya.
Ince memalingkan wajahnya melihat kelakuan Menik.
"Stop Nik. Stop, cukup aku melihat yang bisa ku lihat," ucap Ince sambil menutup kedua matanya menggunakan telapak tangan.
Menik kembali pura-pura mengancingkan bajunya. Mereka kembali melanjukan makan sianng saambik sesekali Ince bertanya tentang kejadian di hotel.
Selasai duhur Darmawan mengirim pesan kepada Ince. Mengabarkan kalau dia sudah selesai konsultasi.
Darmawan: Ce, aku sudah selesai konsultasi. Aku jemput kamu di mana?
Ince: Oke Wan. Aku di kos sama Menik. Aku tunggu kalau kamu mau jemput. Kalau tidak, biar aku diantar Menik.
Ince: Oke.
Ince menyampaikan kepada Menik kalau dia akan ke perpus pusat bersama Darmawan. Menik menawarkan untuk mengantar Ince. Namun Ince menolak, karena Darmawan akan menjemputnya.
Tok ... tok .. puntu kamar Ince di ketuk dari luar. Setelah pintu dibuka, ternyata pak Warno yang mengetuk pintu.
"Ada apa, Pak?" tanya Ince penasaran, karena seingatnya dia sudah membayar kos hingga enam bulan ke depan.
"Ada temannya mbak Tika di depan. Laki-Laki," ujar pak Warno dengan penekanan pada kata laki-laki.
"Teman saya itu, Pak. Bukan calon suami saya," canda Ince.
Pak Warno jadi teringat peristiwa saat Agus mengenalkan dirinya sebagai calon suami Menik. Beliau berlalu tanpa merespon kata-kata Ince.
Begitu pak Warno berlalu dari depan pintu kamar, Ince dan Menik saling pandang, dan akhirnya tertawa terpingkal-pingkal.
Darmawan menunggu Ince di ruang tamu kos, sambil bermain game di ponsel. Tak lama, Ince keluar bersama Menik.
"Maaf lama, Wan. Gara-gara nungguin tuan putri dandan," seru Ince memecah keheningan.
"Sudah biasa aku menunggu Ce. Tapi sayang yang ditunggu nggak sadar," sindir Darmawan.
Sayang sindiran Darmawan tidak tepat sasaran. Menik terlihat biasa saja, tidak merasa tersindir sedikitpun.
"Nik, kamu ikut ke perpus nggak?" tanya Ince.
"Kali ini aku nggak ikut. Aku mau tidur. Semalaman aku nggak bisa tidur gara-gara mas Agus," ucap Menik polos.
__ADS_1
Ince langsung menyenggol lengan Menik.
*Ups, kelepasan. Semoga Darmawan nggak menganggap serius omonganku* , batin Menik.
"Ayo, Wan kita berangkat. Sebelum ratu halu semakin nggak jelas omongannya," ucap Ince mengalihkan pembicaraan.
Darmawan berangkat ke perpus dengan memboncengkan Ince. Dia pergi tanpa mengucapkan separah kata kepada Menik.
Kelihatannya Darmawan ngambek sama aku, natin Menik.
Menik segera masuk ke dalam mobil ketika Ince sudah tak terlihat. Belum sempat Menik menghidupkan mesin mobilnya. Pak Warno mengetuk jendela mobil, dengan enggan Menik membukanya.
"Ada apa, Pak? Saya buru-buru mau pulang," ucap Menik.
"Walah, jangan galak-galak mbak. Nanti cantiknya hilang."
"Kalau tidak ada yang penting saya permisi dulu," ucap Menik sembari menyalakan mesin mobil dan menutup jendela.
Belum sampai kaca jendela menutup dengan sempurna, pak Warno kembali mengetuknya.
"Sebentar saja Mbak, saya mau memastikan kalau yang tadi malam apakah benar calon suami mbak Menik?"
"Bukan calon, Pak."
"Wah berarti saya masih punya kesempatan," ujar pak Warno sumringah.
"Maksud saya, bukan lagi calon. Tapi sudah jadi suami saya sejak sebelas bulan yang lalu," ucap Menik memupuskan harapan pak Warno.
Menik menginjak gas, dan meninggalkan pak Warno yang masih syok dengan ucapan Menik. Karena selama ini pak Warno menaruh hati pada Menik. Meski beliau bapak kos, namun usianya masih seumuran Sri Suketi, dan masih lajang.
***
Pepustakaan pusat terlihat dipadati pengunjung. Ince dan Darmawan memilih duduk di taman yang berada di dalam perpus agar bisa diskusi dengan lebih leluasa.
Sambil berbisik-bisik Darmawan menanyakan perihal ucapan Menik hari ini. Terpaksa Ince berbohong kepada Darmawan. Karena dia sudah berjanji tidak akan mengungkapkan hubungan Menik dengan Agus.
"Jadi yang diucapkan Menik tadi semuanya halu?" tanya Darmawan antusias.
Ince mengangguk untuk menjawab pertanyaan Darmawan. Ince takut apabila membuka mulut, akan keceplosan mengatakan yang sebenarnya.
Setelah mendapat jawaban mengenai Menik, Darmawan mulai menjelaskan mengenai macam-macam metode penelitian. Pukul empat sore, mereka baru keluar dari perpustakaan.
Rintik menyapa saat kedua menuju tempat parkir. Ince menengadahkan tangannya untuk mengukur berapa banyak rintik air yang telah berubah menjadi hujan.
"Lumayan deras, Wan. Kita tunggu agak reda," ucap Ince.
"Keburu sore, Ce. Aku ada janji dengan teman habis ini."
Darmawan mengangsurkan jas hujan yang diambil dari bagasi motor.
"Kamu pakai, Ce. Biar bajumu tidak basah."
"Kamu saja yang pakai. Kos ku dekat, paling basah sedikit," tolak Ince.
Tapi Darmawan memaksanya untuk memakai jas hujan yang hanya ada satu. Dengan terpaksa Ince memakainya. Sedang Darmawan menggunakan jaket. Mereka berdua menembus hujan yang tidak begitu deras.
Sepanjang jalan menuju kos, Ince diam. Meresapi sebuah rasa yang menyusup tanpa permisi ke dalam hatinya.
__ADS_1