Adhisti

Adhisti
Bab 85


__ADS_3

"Astaghfirullah, Ibu ngangetin, Soni."


"Begitu saja kaget Son," ledek bu Wagiyem.


"Ibu datangnya tanpa suara, jadi Soni kaget lah."


"Kamu mikirin apa, Le? Sampai tidak mendengar kedatangan ibu?"


"Ehm ... Soni mikirin Menik. Sejak Menik dari sini, Soni tidak pernah menanyakan kabarnya."


"Karena kamu marah dengan ucapan Menik, sehingga tidak peduli lagi dengannya?" tegas bu Wagiyem.


Kata-kata bu Wagiyem berhasil mengoyak ego Soni. Seharusnya Soni bisa lebih memahami keadaan Menik saat ini. Bukan malah marah saat Menik mengutarakan isi hatinya.


"Iya, Bu. Soni mengaku salah," ucap Soni lirih dan tidak berani menatap mata bu Wagiyem.


"Pegang terus ego mu, kalau mau kehilangan Menik. Harusnya saat ini kamu berada di sisinya. Bukan malah menjauhinya. Katanya cinta, preeeet!" ujar bu Wagiyem dan beranjak meninggalkan Soni yang masih termangu setelah mendengar ucapan bu Wagiyem.


Setelah memikirkan semua perkataan ibu nya, Soni bermasud bertukar kabar dengan Menik. Kali ini Soni harus mengurungkan niatnya, karena senja telah datang menyapa. Soni memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Menik, dan akan menelponnya nanti.


Soni: Assalamualaikum, Nik. Apa kabar?Boleh aku menelepon kamu?


Setelah mengirimkan pesan, Soni pergi berwudu dan salat magrib. Banyak dzikir dan doa yang diucapkan Soni. Dia ingin hubungannya dengan Menik akan kembali seperti dulu, sebelum Agus hadir di antara mereka.


Soni kembali mengambil ponselnya untuk melihat apakah pesannya sudah terbaca oleh Menik atau baru tersampaikan saja. Tenyata pesan yang dia kirimkan belum terbaca oleh Menik. Maju mundur Soni ingin melepon Menik.


"Bismillah," ucap Soni sebelum Menik menjawab teleponnya.


Tut ... tut ... tut ...


Dering ke tiga, telepon Soni baru mendapat respon.


"Assalamualikum," ucap Soni.


"Waalaikumsalam," jawab Menik


"Maaf," lirih Soni beeucap.


"Maaf untuk apa, Mas?"


"Untuk semuanya," jawab Soni.


"Mas nggak ada salah dengan Aku jadi tidak perlu meminta maaf."


"Ta—pi Nik."


"Nggak pakai tapi-tapian lagi. Aku ingin melupakan semuanya, Mas. Karena Aku ingin bahagia dengan hidupku," tegas Menik


Obrolan Menik dan Soni terdengar mulai kembali akrab. Mereka sepakat untuk berangkat bersama ke pernikahan Soni dan Wiwid.


"Oke, Nik. Jangan lupa Jumat sore, Aku akan menjemputmu di kos," ucap Soni mengingatkan Menik mengenai janjinya.


"Jam berapa kita berangkat, Mas?"

__ADS_1


"Sekitar sebelum jumatan aku menjemputmu."


"Oke Mas, Menik tunggu."


***


Di rumah pak Broto, Sri sedang merapikan rumah. Sedangkan pak Broto gusar setelah membaca berita mengenai pernikahan Agus dan Wiwid.


"Pandu, kamu sudah melakukan perintahku?"


"Belum sempat mas. Aku masih menunggu momen yang epik untuk memberikan kejutan untuk Hadi. Biar seru dan viral Mas."


"Terserah kamu. Bagiku yang terpenting adalah memberi pelajaran untuk mereka."


"Kenapa Mas Broto begitu dendam membara pada Hadi," seru Pandu.


"Nanti, kamu akan tahu sendiri, tanpa aku ceritakan."


"Mas Broto nggak asyik, males aku bantuin," rajuk Pandu dan mengakhiri sepihak panggilannya.


"Walah, Nesu tenan iki," ucap pak Broto santai.


"Siapa, Pi yang marah?"


"Itu tetangga belakang rumah, yang lagi renovasi rumahnya, namun tidak sesuai dengan keinginannya."


"Oalah Mami kira ada apa Pi."


***


Saat Menik tengah menikmati makan siang, terlihat adik kelas mendatanginya dan menyampaikan pesan, "Mbak Menik ditunggu suaminya, diparkiran."


Suara nyaring adik kelas bergema, sehingga se-antero kantin memperhatikan Menik keduanya. Tak luput juga Darmawan yang baru saja duduk membelakangi Menik, juga mendengarnya.


"Sst ... sst ... Suami? Di mana dia?"


"Iya, Mbak. Tadi dia bilang kalau suami Mbak," ucapnya polos.


"Makasih sudah menyampaikannya." ucap Menik dan berlalu menuju tempat Soni menunggu.


Merasa penasaran dengan suami Menik, Darmawan mengikuti langkah Menik tanpa Menik sadari. Langkah Darmawan terhenti tatkala melihat siapa yang menemui Menik.


Rasa penasaran membuat Darmawan semakin terluka. Apalagi melihat Menik begitu akrab, dengan laki-laki yang mengklaim dirinya sebagai suami Menik.


"Jadi ... dia yang membuatmu terus menolakku," gumam Darmawan dan berbalik menuju kantin.


Langkah Darmawan, terjeda sebentar kala menuju kantin. Karena berpapasan dengan Ince di lorong dekat tempat parkir.


"Dari mana kamu, Wan?" ujar Ince.


"Dari tadi aku disini, kamu saja yang tidak melihatku." ujar Darmawan.


"Nggak usah bohong, Wan. Aku melihatmu mengintip suami Menik," ucap Ince.

__ADS_1


"Oke-oke, aku ngaku. Jujur aku penasaran dengan ucapan adik kelas tadi. Jadi aku mengikuti Menik."


"Dan ... kamu sudah melihatnya?"


Darmawan mengangguk sekaligus menunduk lesu. Kali ini, dia harus benar-benar melepas Menik dari hatinya.


"Aku duluan, Ce," seru Darmawan dan pergi meninggalkan Ince.


Sesuai petunjuk yang diberikan Darmawan, Ince meneruskan langkahnya dan dia melihat Menik tengah berduaan dengan seorang laki-laki. Ince langsung bisa menebak jika itu bukan Agus suami Menik.


"Kamu salah lihat, Wan," gumam Ince.


Menik dan Soni tidak menyadari kehadiran Ince di balik dinding yang menyekat antara kantin dan tempat parkir.


"Kita berangkat sekarang saja gimana?" tanya Soni.


"Ehm, terserah Mas saja. Aku ngikut saja."


"Sudah selesai semua urusan mu di kampus hari ini?' tanya Soni memastikan.


"Insya Allah sudah, Mas."


Ince tetap berada di persembunyiannya sampai Menik dan Soni meninggalkan tempat itu.


"Menik, gendeng. Malah pergi sama Soni. Bisa perang dunia kalau mas Agus tahu," gumam Ince.


Tidak setuju dengan sikap Menik yang pergi bersama Soni, Ince berinisiatif untuk menghubungi Agus. Sekitar empat kali Ince menelepon Agus, belum juga diangkat.


Nanti lagi saja aku meneleponmu, batin Ince.


***


Semua orang disibukkan dengan persiapan pernikahan Agus yang akan dilaksanakan Sabtu malam besok. Semua kerabat dan keluarga besar kedua calon pengantin, sudah disewakan hotel termewah di kota itu. Kebetulan pemilik hotel itu adalah Pandu dan seseorang yang masih disembunyikan identitasnya.


Merasa penat, Agus membaringkan tubuhnya di atas kasur. Diraihya ponsel yang dia letakkan di atas nakas. Setelah hampir setengah hari dia disibukkan dengan urusan printilan pernikahan, akhirnya Agus bisa melihat ponselnya.


Terlihat banyak pesan masuk dan beberapa panggilan dari Ince.


Ngapain Ince menelponku sampai sebanyak ini. Jangan-jangan Ince sudah tahu kalau aku menikah dengan Wiwid, batin Agus.


Agus bingung harus bagaimana menghadapi pernikahannya yang kurang menghitung waktu. Sungguh Agus terpaksa untuk melakukannya. Karena hatinya sudah terlanjur melekat pada Menik.


Akal dan pikiran Agus kacau saat ini. Rasa sesal mendominasi di sana. Saat langkah tak lagi bisa berjalan mundur, maka kita tetap harus melangkah ke depan.


Ponsel di genggaman Agus, terus bergetar. Banyak pesan berisi ucapan menempuh hidup baru. Agus kembali menggulirkan layar ponselnya. Dipandanginya foto Menik yang sempat diambilnya diam-diam.


"Cantik, tapi bukan lagi milikku," ucapnya lirih sembari mengusap perlahan wajah Menik di sana.


Di perjalanan, ponsel Menik terus berbunyi. tapi tak pernah di hiraukannya.


"Siapa?" tanya Soni penasaran.


"Entah, malas aku melihatnya. Nanti saja jika sudah sampai di rumah om Pandu, baru akan ku buka kembali."

__ADS_1


__ADS_2