
Menik mengerjabkan mata beberapa kali untuk meyakinkan dengan apa yang dilihatnya. Sosok itu tersenyum kepada Menik.
"Kamu— Mbak—"
"Iya ini aku," jawab sosok berwajah pucat itu.
"Ma—mau apa mbak ke sini?"
"Aku tunggu di rumah mbah Minto," ujar sosok itu.
Belum sempat Menik menjawab ajakannya, sosok itu menghilang ditandai dengan adanya asap putih berpendar di luar jendela Menik.Tampak sosok duduk di atas tandon air, memperhatikan Menik. Namun, dia tidak berani mendekati Menik. Masih terngiang ancaman yang dilontarkan oleh tamu yang baru saja pergi.
Hati Menik diliputi tanda tanya. Sosok yang cantik menurut Menik, yang sudah sering mengajaknya bermain sedari kecil. Apalagi saat mendiang ibu Asih tidak ada di rumah, sosok itu selalu menemaninya bermain. Hingga pada akhirnya Menik menyadari sosok itu bukanlah teman yang bisa dilihat semua orang. Ya, sosok itu adalah Darmi.
Terlihat Menik masih terdiam di samping jendela kamar. Dia memikirkan ucapan Darmi yang mengajaknya untuk bertemu di rumah mbah Minto.
Apakah aku harus pulang ke rumah simbah dan bertemu dengan mbak Darmi? Ataukah aku tolak permintaannya? batin Menik.
Lama Menik berdiam di samping jendela, larut dengan pikirannya. Dia baru beranjak saat mendengar lantunan suara azan magrib. Menik segera beranjak, dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
***
Aroma dupa menyeruak di dalam sentong, terlihat mbah Minto sedang merapalkan mantra dengan beberapa sesajen yang telah teesusun rapi di depannya.
Tak lama berselang, angin semribit masuk melalui celah jendela yang sengaja tidak beliau tutup rapat. Sosok itu tersenyum congkak di hadapan mbah Minto.
"Mbah memanggilku?"
"Iya Mi, aku memanggilmu. Aku ingin memberikan tawaran untukmu. Asal kamu tak mengganggu menantuku lagi."
"Apa dulu tawarannya mbah?" tanya Darmi penasaran.
"Akan, aku buatkan rumah khusus untukmu di kebunku dekat makam Asih. Bukankah dari dulu kamu ingin tinggal di sana?"
"Di bagian mana mbah bangunnya?"
"Di antara dua jati kembar yang sering kamu pakai ayunan."
"Ogah Mbah. Meski Simbah menawariku istana megah, tapi harus melepas Suketi. Mending aku tak punya rumah mbah."
"Dasar kamu keras kepala."
"Mbah, aku tidak akan mengganggu mantu kesayanganmu, asal dia juga tidak mengganggu Menik. Apalagi menuduh Asih tak bisa mendidik Menik."
__ADS_1
"Sok tahu kamu Mi."
"Simbah nggak akan pernah percaya kalau aku ngomong tentang Suketi. Karena aku tahu simbah mulai berpihak padanya," sindir Darmi.
Mendengar sindiran Darmi, mbah Minto tak bisa berkata-kata. Karena apa yang dikatakan oleh Darmi benar adanya. Dari dulu mbah Minto, memang kurang suka dengan Asih. Karena mbah Minto menganggap Asih anak manja, sehingga akan merepotkan Broto anaknya.
Ketidaksukaan mbah Minto berawal saat Asih membuat mie goreng yang tak sesuai arahannya. Apalagi saat tahu hari lahir Asih tak cocok apabila bersanding dengan Broto anaknya.
Ditambah lagi dengan latar belakang Asih sebagai anak Bayan yang terkenal dan cucu seorang lurah. Sehingga mbah Minto menuduhnya sebagai anak manja.
"Kenapa diam Mbah? Benarkan ucapanku," kata Darmi membuyarkan lamunan mbah Minto.
"Terserah kamu Mi. Kalau kamu sampai menyentuh menantuku, benar-benar ku kirim kamu ke rel kereta."
"Ooh ... Darmi sudah dengar mbah. Dan Darmi sudah hapal di luar kepala mengenai ancaman simbah. Tapi Darmi nggak takut mbah. Darmi akan selalu berusaha melindungi Menik dari orang-irang yang ingin menyakitinya."
"Meski kami harus melawanku?" tanya mbah minto.
"Kalau terpaksa mbah. Darmi akan melawan simbah."
"Jadi kamu sekarang tidak takut lagi pada simbah?"
"Demi Menik, Darmi akan berjuang. Ingat mbah, sampaikan pesanku pada Broto dan Suketi. Selama mereka menyakiti Menik, aku tak akan pernah tinggal diam!"
"Dasar kamu Darmi. Awas kamu ganggu menantuku," gumam mbah Minto.
Mbah Minto, keluar dari dalam sentong sambil mengomel. Mbah Kasdi tersenyum melihat istrinya mengomel. Beliau sudah menduga, pasti Darmi telah membuat mbah Minto murka.
"Kenapa ngomel-ngomel Mak?" tanya mbah Kasdi.
Mendengar suaminya bertanya, mbah Minto mengentikan langkahnya. Beliau menghampiri mbah Kasdi yang tengah santai duduk di balai-balai, sembari menikmati sinar bulan.
Mbah Minto ikut duduk di balai-balai. Sembari menatap langit, mbah Minto mulai menceritakan perseteruannya dengan Darmi. Mbah Kasdi tertawa mendengar penjelasan mbah Minto. Perlahan beliau memberikan pendapatnya.
"Mak ... kalau menurutku, Darmi tidak akan bersikap seperti itu. Jika menantu yang diam-diam lebih kau sayangi dari Asih tidak berbuat di luar batas. Coba kamu ingat-ingat. Apakah selama ini Darmi pernah berulah? Tidak pernah bukan, bahkan dia selalu menemanimu. Coba kamu cari tahu dulu inti dari permasalahan ini. Jangan karena kamu membela Suketi, kamu akan kehilangan Darmi dan Menik."
Mbah Minto terdiam mendengar nasihat bijak dari mbah Kasdi. Beliau mulai memikirkannya, dengan mengesampingkan rasa sayang berlebih untuk Suketi.
Benar apa yang diucapkan mbah Kasdi. Selama ini Darmi tak pernah berulah. Bahkan dia setia menamani mbah Minto kemanapun. Darmi selalu menjadi pengawal mbah Minto, pada saat mbah Minto mendapat panggilan untuk menolong orang melahirkan.
"Betul apa yang Pak'e katakan. Aku akan bertanya pada Broto, tentang masalah yang sebenarnya."
"Jangan kamu tanya Broto, Mak' e. Tidak mungkin Broto akan jujur padamu tentang ulah istrinya. Tunggu beberapa hari lagi, cucumu akan datang ke sini," ujar mbah Kasdi.
__ADS_1
"Pak'e sok tahu kalau Menik akan ke sini," ucap mbah Minto yang tak mempercayai ucapan mbah Kasdi.
"Terserah kamu, kalau tak percaya. Tunggu saja, dan siap-siap kamu kena sengatan cucumu."
Mbah Minto beranjak meninggalkan mbah Kasdi. Dari awal mereka berdua memang berbeda dalam memperlakukan mendiang Asih. Mbah Kasdi dengan rasa sayang yang cukup besar dibandingkan dengan mbah Minto.
***
Tiga hari berlalu sejak kedatangan Darmi di kos Menik. Namun, Menik belum memutuskan kapan akan ke rumah mbah Minto. Dia masih disibukkan dengan penelitian untuk mendukung skripsinya.
"Nik, woi, Menik," seru Ince sembari melambai-lmbaikan tangannya di depan mata Menik.
Terputuslah apa yang sedang Menik pikirkan. Menik baru menyadari jika Ince, Mimi, dan Dwi telah berada didepannya.
"Melamun apa Nik?" tanya Dwi kepo.
"Siapa juga yang melamun. Aku itu sedang memikirkan skripsiku. Targetku semester depan sudah tak membayar lagi."
"Pinter ngeles kamu Nik. Jangan-jangan kamu mikirin Agus."
Mendengar nama Agus disebut Dwi, Menik teringat beberapa pesan dan telepon Agus yag tak pernah di gubris olehnya.
"Sudah Dwi, jangan ganggu Menik. Sekarang kamu beri penjelasan kepada kami. Mengapa selama beberapa hari ini menghilang tanpa kabar," sela Mimi.
"Tidak asyik kalau ngobrol tanpa camilan dan minuman. Kalian tunggu di sini, biar aku yang pesankan," sela Ince.
Sembari menunggu Ince memesan makanan, mereka membahas mengenai kemajuan skripsi masing-masing. Dwi menceritakan bagaimana baiknya pembimbing skripsinya. Sedangkan Mimi, masih bingung dengan pengolahan data.
Tak lama Ince datang dengan nampan yang berisi berbagai macam makanan. Ada sempol, batagor, siomay, dan beberapa gelas jus.
"Nah sekarang ceritakan alasan kamu menghilang kepada kami. Cerita harus urut dan nggak boleh ada yang di skip," perintah Ince.
Dwi mulai menceritakan mengapa dia menghilang. Ternyata Dwi harus rela dinikahkan dengan seekor ayam jago, agar adiknya bisa menikah lebih dahulu. Sudah menjadi adat di daerah Dwi, jika kakak yang dilangkahi adalah perempuan, maka harus diadakan ritual seperti itu. Namun, bukan menikah dalam arti yang sesungguhnya. Itu hanya sebuah simbol, yang menjadi adat istiadat di daerah tersebut.
Ince ternganga dengan cerita Dwi. Dia tak percaya bestie-nya dinikahkan dengan seekor ayam jago.
"Kenapa kamu mau Dwi? Kalau aku ogah. Mending aku minta uang pelangkah," seru Ince.
"Itukan bukan nikah beneran Ce, itu hanya simbol. Dan ... aku sudah dapat pelangkah juga."
"Apa pelangkahnya Wi?" ucap Ince penasaran.
"Itu ada di sana," ucap Dwi.
__ADS_1