Adhisti

Adhisti
Bab 14


__ADS_3

Guk ... guk ... guk gonggongan bleki menyambut kedatangan Ince dan Menik di hari pertama mereka magang. Jika tak mengingat jika mereka harus magang di tempat ini, pasti Ince sudah mengeluarkan jurus mautnya membungkam bleki.


"Bleki ... bleki ... hust ... hust ... diam." seru seorang paruh baya sembari mengelus hewan berkaki empat yang mengenakan rantai di lehernya.


David nama lelak paruh baya itu menantap penuh selidik kepada Menik dan Ince. Pantas Bleki bernyanyi pagi ini, ternyata ada pegawai baru. batinnya.


"Permisi Om, apa benar ini kantor percetakan Granindo?" tanya Ince dengan sopan.


"Iya benar. Kalian siapa?" tanya David


"Kami mahasiswa magang Om. Kebetulan sekama 3 bulan ini kami ditugaskan oleh pihak kampus untuk magang di sini."


"Oooh, kalau begitu kalian masuk saja, di dalam ada Wuri. Kalian langsung lapor saja sama dia. Karena saya bukan pegawai penerbitan. Saya hanya pemilik rumah sebelah." ujar David sembari memberi makan Bleki.


***


"Selamat pagi mbak." ucap Ince sembari memberikan surat pengantar dari kampus. "Kami diutus dari kampus untuk magang di sini selama 3 bulan ke depan mbak. Dan ini surat pengantar dari kampus."


Wuri menatap mereka dengan saksama. "Kalian berdua langsung temuin pak Waluyo saja. Karena beliau adalah pimpinan di sini. Sambil menunggu, kalian bisa duduk di kursi itu." jelas Wuri.


Kompak mereka berdua menjawab. "Baik mbak." dan menuju meja yang sudah ditunjukkan oleh Wuri.


Tap ... tap ... tap ... terdengar derap langkah menuju ruangan di depan meja Menik.


Mungkin pimpinan kantornya sudah datang, batin Menik.


"Dik Tika dan Dik Menik, sudah ditunggunPak Waluyo di ruangannya." sela Wuri. Seketika buyarlah lamunan Ince. Dia sedang membayangkan Ghani mahasiswa seni rupa yang sedang jadi incarannya.


"Iya mbak, kami akan ke ruangan pimpinan kantor." Mereka beranjak ke ruangan pimpinan kantor.


Tok ... tok ..." Permisi pak, boleh kami masuk? Menik meminta izin untuk memasuki ruang pimpinan.


Terdengar jawaban dari dalam ruangan. "Silakan masuk, duduk di sini!" perintahnya


Kursi hitam khusus pimpinan itu berputar ke arah Ince dan Menik. Betapa terkejutnya mereka melihat siapa pimpinan kantor penerbitan itu.


Ince refleks menyenggol siku Menik yang langsung mendapat tatapan penuh tanya dari Menik. Yah mereka tak menyangka akan ketemu dosen most wanted di kampusnya. Pantasan saja kemarin banyak kakak tingkat yang iri melihat mereka mendapat tugas magang di sini. Kini terjawab sudah mengapa mereka begitu iri dengan Ince dan Menik.


"Silakan duduk, jangan bengong." canda Waluyo.


"Baik pak" jawab mereka kompak

__ADS_1


Pipi Ince merona matanya tak pernah lepas menatap Pak Waluyo yang menjelaskan mengenai apa saja yang harus mereka lakukan selama magang. Bahkan pikiran Ince telah melalang buana melihat gerakan bibir dan mendengar suara lembut pak Waluyo.


Menik melirik sekilas ke arah Ince. Hadew ... kumat lagi errornya. Nggak bisa lihat cowok bening, batin Menik.


Setelah dirasa cukup memberikan informasi mengenai kegiatan magang di kantornya. Pak Waluyo mengizinkan mereka untuk pulang, dan kembali lagi Senin depan.


***


"Ce, kamu mau menemani aku pulang nggak?"


"Apa Nik? nggak dengar.


Jelaslah Ince nggak dengar Menik ngomong apa. Karena saat ini mereka naik motor berboncengan. "Ntar saja kalau sampai kos baru ngomong." sayup Menik mendengar suara Ince.


Sesampainya di kos, mereka selonjoran di balkon teras yang kebetulan ada pintu tembusan dari kamar Menik.


"Nik tadi kamu ngomong apa pas di jalan. Aku kalau pakai helm, telingaku terjepit. Jadi aku nggak begitu jelas mendengar kamu ngomong apa."


"Alesanmu saja telinga terjepit helm, jujur saja kalau kamu memang bolot." ketus Menik.


"Nggak apa-apa bolot Nik. Yang pentung tiga bulan ini aku puas pandangi wajah pak Waluyo. Besok Senin kita tukar tempat ya! Biar aku lebih leluasa melihat wajah bening menggetarkan jiwa."


"Kau ini Ce, nggak bisa lihat yang bening dikit, maunya langsung di kekepin."


***


Tepat setelah Ashar Menik dan Ince memutuskan untuk pulang ke rumah. Namun sebelum sampai di rumah Menik, mereka senpatkan untuk mengunjungi makam bu Asih.


Ince yang baru kali itu ke makam, merasakan ada sosok astral yang memperhatikan mereka sedari masuk pintu gerbang makam. Namun dia memilih pura-pura tidak tahu. Bisa gawat kalau ketahuan dia bisa melihat makhluk astral itu.


Untuk menghilangkan kegugupannya karena terus saja diperhatikan makhkuk astral itu, dia pun menyenggol ujung siku Menik. Refleks Menik menoleh dan memberikan isyarat agar Ince diam dan pura-pura tidak tahu.


Ince dan Menik sama-sama mempunyai kemampuan untuk merasakan makhluk-makhluk itu. Dan kemampuan itulah yang membuat mereka semakin akrab.


"Ibu, Menik datang. Menik kangen sama ibu. Ibu tahu nggak, malam ini ada yang akan meminang Menik. Tapi Menik masih ragu Ibu. Menerima atau menolaknya. Yang akan meminang Menik, adalah laki-laki yang beberapa waktu lalu ke sini dan meminta izin sama ibu untuk menjaga Menik. Padahal Menik kira dia cuma bercanda. Menik harus bagaimana Ibu?" celoteh Menik sembari membersihkan pusara bu Asih dari rumput-rumput liar.


"Dasar Menik, ternyata aku diajak pulang untuk menyaksikan dia dilamar. Dasar semprul!" gerutu Ince.


"Ayo Ce kita lanjut pulang ke rumah, keburu magrib." ajak Menik.


***

__ADS_1


Magrib menjelang, Menik dan Ince sampai di rumah, dan langsung di sambut Sri Suketi dengan senyuman.


"Lho anak mami tumben pulang magrib-magrib. Nggak kabar-kabar pula kalau ngajak teman. Tahu begitu mami masak makanan kesukaanmu."


"Maaf, Menik lupa. ucap Menik acuh tak acuh. "Ehm Ayah ada nggak?" lanjutnya


"Ada. Ayahmu di kamar mandi."


"Ooh". Menik cuma ber-oh ria dan segera mengajak Ince ke kamarnya.


"Ce, mandi dulu sana, aku nanti dulu mau beres-beres ruang tamu sebentar."


"Ssst ... tunggu Nik, boleh aku nanya?"


"Mau nanya apa?"


"Ehm ternyata kamu ajak aku ke sini, cuma untuk melihat kamu dilamar?"


"Ya gitu dech. Aku kan takut Ce. Grogi, deg-degan. Hanya kamu yang bisa membuatku tenang Ce."


"Kamu itu Nik, kenapa nggak jujur dari sebelum kita berangkat. Kan aku bisa persiapan dulu. Siapa tahu calon suamimu punya teman yang masih jomblo." gurau Ince


"Ce, bukannya aku nggak mau terus terang sama kamu. Sedangkan aku masih ragu dengan perasaanku."


"Lha, memangnya siapa yang mau melamar kamu Nik? Kok kamu malah galau. Seharusnya kalau mau dilamar itu hatinya berbunga-bunga."


"Nanti kami lihat sendiri siapa dia Ce. Perasaanku padanya masih abu-abu." lirih Menik menjawab pertanyaan Ince.


"Lhah kok bisa masih abu-abu nik?"


"Entahlah Ce,aku bingung. Lagipula aku masih harus mendengar apa keputusan Ayah. Dan sampai sekarang pun aku belum cerita sama ayah kalau akan ada yang datang melamar."


"Jadi, Ayah belum tahu kalau mau ada tamu habis isya?"


"Belum"


"Kamu itu Nik." Ince menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku temannya. Bisa-bisanyasang ayah tidak di kabari kalau mau ada keluarga datang meminang Menik.


"Ayah, Menik bisa bicara sebentar?" panggil Menik ke pak Broto. Diajaknya beliau ke teras. " Ayah duduk sini." ucapnya lagi.


"Ayah, menik mau menyampaikan kalau hari ini keluarga pak Dewa mau berkunjung bertemu dengan ayah. Mau ada yang disampaikan katanya."

__ADS_1


"Kalau mau datang ya datang saja. Kebetulan tadi budhe Harmini ngantarin kue-kue ke sini." ujar pak Broto. "Memang ada keperluan apa sampai Pak Dewa sama keluarganya ke sini, mendadak pula?"


"Anu ayah—"


__ADS_2