
Senja berganti malam. Rembulan bersinar dikawal para bintang yang selalu setia menemaninya.
Terlihat Menik mulai menyusun baju Agus ke dalam koper. Sedangkan Agus terlihat sibuk menyiapkan surat-surat yang diperlukan saat bertugas nanti.
"Mas, ini sudah cukup atau masih perlu ditambah lagi bajunya?" tanya Menik.
"Sudah cukup Nik, jangan lupa pakaian dalamku agak dilebihkan." ucap Agus tanpa menoleh, karena masih terfokus pada lembaran surat-surat.
"Mas ..." panggil Menik kembali.
"Apa?"
"Ehm ... untuk pakaian dalam, mas sendiri yang siapkan ya. Menik malu."
"Hah! Kenapa malu Nik? Kan itu pakaian mas, bukan pakaian laki-laki lain."
"Menik belum terbiasa mas." jawab Menik sembari menunduk.
"Ya sudah, ntar mas masukkan sendiri. Siapkan saja di dekat koper."
Lhah, apa maksudnya disuruh siapkan di dekat koper, sama saja Menik pegang juga. Akhirnya mau tidak mau Menik masukkan pakaian dalam Agus ke dalam koper sekalian. Menik segera menutup resliting koper saat dirasa semua keperluan Agus sudah lengkap.
"Sudah Mas, lengkap."
"Apanya yang lengkap Nik?"
"Semuanya mas, baju dan onderdil sudah Menik masukkan semua." jawab Menik mantab.
"Onderdil?" tanya Agus dengan heran.
"Maksud Menik, pakaian dalam mas. Lengkap semuanya."
"Lhoh tadi katanya malu."
"Mas saja yang nggak peka, terpaksa Menik masukkan semuanya, sambil merem. Semoga saja nggak salah masuk." rajuk Menik.
Gemas dengan Menik yang merajuk, Agus mengusak surai hitam Menik. Menik memberengut melihat surai hitamnya berantakan akibat ulah Agus.
"Mas ..." panggil Menik menghentikan Agus yang masih tertawa.
"Hm ..." jawab Agus.
__ADS_1
"Mas, Menik mau nanya sama mas. Jawab dengan jujur. Karena waktu kita tidak banyak lagi. Jarak yang membentang membuat Menik risau."
"Apalagi yang kamu risaukan Nik?"
"Menik masih penasaran alasan mas tiba-tiba menikahi Menik. Padahal setahu Menik, mas anggap Menik hanya sebatas adik. Kenapa tiba-tiba berbalik arah." cecar Menik.
"Jadi kamu masih penasaran. Sini mendekat."
Perlahan Menik mengikis jarak mendekati Agus. Menik terkejut saat Agus menariknya untuk duduk di atas pangkuan Agus.
"Mas ... Menik duduk di sana saja." tunjuk Menik ke arah kursi di samping tempat tidur.
"Sst ... sst ... mas pengin begini dulu Nik. Biarkan mas puas memelukmu sebelum mas berangkat."
Menik mengalah menuruti kemauan Agus. Membiarkan salah satu lengan Agus berada dipinggangnya dan tangan yang satunya sibuk memilin-milin surai hitam panjang Menik.
"Nik, aku nikahin kamu karena memang kamulah yang aku anggap cocok untuk menemani hari-hariku sekarang dan kedepannya nanti. Dan kenapa aku terkesan terburu-buru, itu karena aku harus berangkat tugas selama satu tahun. Tugas itu sebagai syarat untuk kelulusanku. Aku takut akan terlambat untuk.menikahimu jika harus menunggu aku lulus. Aku takut keduluan orang lain." panjang lebar Agus menjelaskan.
"Ooh ... bukan karena mas kasihan sama Menik? Terus kenapa harus disembunyikan dulu status pernikahan kita? Kalau memang mas sudah mantab nikah sama Menik, harusnya pernikahan ini dikabarkan ke semua orang." cecar Menik
"Huft ..." Agus menghela napas panjang sebelum menjawab rentetan pertanyaan Menik.
"Bukan disembunyikan Nik, buktinya banyak yang sudah tahu. Bukankah kita mengundang kerabat dan tetangga. Hanya saja status pernikahan kita belum diketahui teman-temanmu dan teman-temanku. Kecuali Tika tentunya, dan aku yakin Tika bisa menjaga rahasia."
"Insya Allah mas akan menjaga hati meski jauh dari mu." tulus Agus berjanji.
"Tapi, apa mas yakin tidak akan tergoda dengan perempuan lain di luar sana."
"Sudah Nik, kamu nggak usah risau akan perasaan mas sama kamu. Mas janji akan setia. Tidak ada perempuan lain yang bisa menggantikan kedudukanmu di hati mas."
"Beneran mas, nggak bohong dan akan tetap setia?" tanya Menik kembali untuk meyakinkan apa yang diucapkan Agus.
"Insya Allah mas janji."
"Beneran ya mas. Menik tidak akan mentolerir satupun kesalahan yang namanya se-ling-kuh."
"Iya." jawab Agus sembabari mengusak gemas pucuk kepala Menik.
"Mas, seandainya mas memang di luar sana nantinya menemukan seorang perempuan yang lebih baik dari Menik— nggak apa-apa mas. Menik ikhlas seandainya mas berpaling. Hanya satu yang Menik minta jika mas menemukan perempuan lain ... lepas Menik dengan baik-baik."
Mendengar ucapan Menik, Agus menghentikan gerakan memin rambut Menik. Dibaliknya perlahan Menik untuk menghadap Agus. Lekat Agus menatap mata sipit berwarna hitam itu. Mencari keraguan dalam mata Menik. Namun, Agus tak menemukan keraguan itu. Terpampang nyata kesungguhan Menik tentang ucapannya.
__ADS_1
Agus menangkup pipi Menik seraya berucap, "Nggak boleh ngomong sepeeti itu Nik. Sampai kapanpun mas nggak akan melepaskan Menik sampai maut memisahkan kita." ucapnya sungguh-sungguh.
Menik menarik perlahan tangan Agus yang menangkum pipinya. Digenggam erat tangan itu.
"Mas, yang Menik sampaikan tadi tidak bercanda. Menik serius dengan apa yang Menik katakan. Dari pada Menik sakit hati diduakan, mending Menik dilepaskan. Tapi tolong jika saat itu tiba, beritahu Menik. Agar Menik bisa legowo." Menik mencoba sekuat tenaga menahan sesak di hatinya. Namun apa yang kemarin dia baca, membuatnya harus mengatakan itu.
Tapi apakah keputusan Menik sudah tepat meminta Agus melepaskannya jikalau dia menemukan perempuan lain? Apakah hatinya tidak akan sakit? Jawabannya tentu pilihan iti sudah tepat bagi Menik. Terus mengenai sakit hati, pasti iya sakit. Wanita mana yang tak sakit hati bila diduakan.
Namun, Menik lebih memilih sakit berpisah daripada menahan sakit diduakan. Keputusan itu sudah bulat. Sejak dia membaca sebuah pesan dan beberapa riwayat pesan di ponsel Agus.
"Iya Nik. Aku pun tak bercanda dengan keputusanku. Sampai kapan pun aku tak akan melepaskanmu."
"Aamiin. Semoga mas menepati janjinya."
"Kamu itu kenapa pikirannya jauh sekali. Aku saja nggak kepikiran berpaling dan melepaskanmu Nik." gumam Agus.
***
Satu buah koper dan tas ransel sudah siap untuk di bawa Agus. Dini hari nanti dia dijemput.
"Mas, di cek lagi surat-surat pentingnya. Jangan sampai ketinggalan." teriak Menik.
"Sudah aku cek berulang kali. Alhamdulillah sudah lengkap semuanya. Hanya satu yang tertinggal di sini." ucap Agus sembari menantap Menik.
"Hah ... apalagi yang ketinggallan mas, biar Menik siapkan lagi. Mumpung belum berangkat."
"Meski sudah siap Nik, aku tetap tak bisa membawaanya. Berat rasanya Nik ..."
"Lhah memang yang ketinggalan apa mas?" polos Menik bertanya pada Agus.
"Bener kamu nggak tahu Nik?" tanya Agus.
Anggukan kepala Menik menjawab pertanyaan Agus. Dia memang tidak tahu apa yang masih tertinggal namun tak bisa dibawa.
"Pengin tahu?" tanya Agus.
"Ho oh" jawab Menik.
Agus bergerak mendekati Menik dan memeluknya.
"Kamu Nik, yang sebenarnya pengin mas bawa. Namun, nggak bisa mas bawa. Berat banget ninggal kamu. Apalagi masih keadaan tersegel."
__ADS_1
"Hah! Tersegel? Apa maksudnya?" tanya Menik