Adhisti

Adhisti
Bab 67


__ADS_3

Huft ... Agus membuang napas panjang. Dia menoleh sekejab ke arah Menik dan kembali fokus melihat ke arah depan.


Menik menatap penuh selidik ke arah Agus yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. Sebenarnya Agus tahu jika Menik menunggu jawabannya. Tapi dia sengaja, karena ingin melihat Menik merajuk.


Karena Agus tak kunjung menjawab pertanyaannya meski sudah diberikan tatapan horor olehnya, Menik cemberut. Bibir mungilnya menjadi sedikit maju. Agus semakin gemas dibuatnya. Tiba-tiba Agus meminggirkan mobil, dan berhenti sebentar.


Cup ... Agus mencuri kecupan di bibir Menik dan segera menjalankan kembali mobil. Menik terdiam mendapat keculan singkat Agus.


"Ehem. Mataku ternoda kedua kalinya, akibat ulah kalian berdua," seru Ince.


Agus nyengir mendengar seruan Ince. Dia lupa kalau di dalam mobil tidak hanya mereka berdua, melainkan ada Ince yang duduk di belakang kursi mereka.


Menik tak menjawab seruan Ince. Mukanya memerah menahan malu. Reflek Menik memukul lengan Agus.


Mendapat pukukan dari Menik, Agus malah tersenyum menggoda.


"Dilanjutkan nanti," ucap Agus lirih.


"Kali ini giliran telingaku yang ternoda," seru Ince kembali.


Agus kembali tersenyum mendengar ucapan Ince. Sambil mengucapakan maaf kepada Ince. Ketiganya melanjutkan perjalanan kembali. Sesekali terdengar gelak tawa di dalam kabin mobil. Mendengar Ince yang bercerita tentang mantan-mantan pacarnya.


"Ingat Nik, kalau sampai Mas Agus selingkuh. Aku bantuin kamu untuk menghajarnya. Kalau perlu kita hilangkan masa depannya. Biar tak bisa lagi selingkuh," ujar Ince.


Agus ngilu mendengar ancaman Ince yang akan menghilangkan masa depannya. Dia berharap Menik tidak setuju dengan usulan Ince. Tapi sayang, ternyata Menik menyetujui ucapan Ince.


Tak terasa mereka sampai di kota S saat menjelang Isya. Agus mengantarkan Ince ke kos terlebih dahulu. Menik ikut turun sebentar untuk mengambil buku yang dipinjam Dwi.


Dwi heran melihat Menik dan Ince turun dari mobil. Karena tidak biasanya Menik membawa mobil ke kampus. Ini kali pertama Menik membawanya. Jiwa kepo Dwi meronta. Dia mengikuti Menik keluar dari kos.


Saat hendak keluar kos, di pintu gerbang mereka bertemu dengan pak Warno pemilik kos. Seperti biasa beliau menggoda Menik. Melihat istrinya di goda, Agus meradang. Dia bergegas turun dari dalam mobil.


"Sayang ... ayo cepat. Keburu ketinggalan bus," seru Agus sambi menghampiri Menik dan merangkul pundak Menik.


Sayang? Sejak kapan panggilanku jadi sayang, batin Menik.


Pak Warno dan Dwi terkejut saat Agus memanggil Menik dengan kata sayang dan merangkul Menik di depan mereka. Berbeda dengan Ince, dia tidak terkejut sama sekali. Malah memandang Menik dengan tatapan mengandung peringatan hati-hati.


Melihat pak Warno dan Dwi terkejut, dengan santai Agus memeperkenalkan diri sebagai calon suami Menik. Seketika nyali pak Warno menciut. Apalagi melihat postur tubuh Agus yang lebih tinggi dari beliau. Tanpa permisi pak Warno segera masuk ke dalam kos untuk menagih uang kos.


Ince dan Dwi tertawa ngakak, melihat bapak kos mereka kena batunya.


"Sst ... sst ... jangan keras-keras tertawanya. Ntar pak Warno dengar, kalian diusir dari kos baru kapok," ucap Menik mengingatkan kedua temannya.


Mendengar ucapan Menik, Ince dan Dwi sedikit mengurangi volume suara tawa mereka. Menik mengenalkan Dwi kepada Agus. Karena baru kali ini mereka bertemu secara langsung.


Dwi melihat Agus sampai tidak berkedip. Dwi terpesona pada pandangan pertama. Ince menyenggol Dwi, untuk mengingatkan kalau Agus sudah ada yang punya. Pipi Dwi memerah, karena ketahuan mengagumi Agus.


Agus dan Menik berpamitan kepada keduanya. Segera Agus menuju terminal untuk berangkat ke kampusnya. Diliriknya jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah pukul sembilan malam, artinya bus yang berangkat ke kota sebelah telah habis.


"Kenapa Mas?" tanya Menik.


"Kelihatannya sudah nggaak ada bus. Karena seingatku, terakhir bus berangkat dari sini pukul sembilan malam."


"Waduh, terus gimana? Masak Mas mau tidur di kos ku. Bisa-bisa Menik diusir dari kos."

__ADS_1


Keduanya terdiam mencari solusi yang terbaik. Karena nggak mungkin Agus tidur di kos Menik, dan kalau memaksa tidur di terminal juga tidak aman.


Agus tersenyum saat menemukan solusi terbaik untuk situasinya saat ini.


Semoga Menik setuju dengan usulku, ucap Agus dalam hati.


Melihat Agus senyum-senyum sendiri Menik menjadi penasaran.


"Mas, kenapa senyum-senyum sendiri?"


"Ehm, Aku ada usul Nik. Kalau kamu setuju sih."


"Memang apa rencana Mas?"


"Ehm, kita nginap di hotel saja bagaimana?" ucap Agus sambil tersenyum.


"Maksud Mas kita berdua? Mas saja kali yang nginap. Menik kan bisa tidur di kos," elak Menik. Karena dia masih ingat kata-kata Agus di mobil tadi.


"Ayolah Nik. Temani aku tidur di hotel. Aku masih ingat janjiku. Jadi tenang, aku nggak ada macam-macam."


Menik terdiam memikirkan tawaran Agus. Banyak risiko yang harus dia tanggung apabila menerima ajakan Agus. Menik takut kalau mereka berdua khilaf, karena di dalam kamar hanya akan ada mereka berdua.


"Gimana Nik? Semakin malam, nggak mungkin juga kamu pulang ke kos. Pasti pintu kos sudah dikunci."


Menik mengangguk meski ragu. Ada risau menghampiri Menik. Berbeda dengan Agus yang langsung tersenyum lebar, melihat Menik mengangguk menyetujui usulannya.


Agus segera menghidupkan mesin mobil dan keluar dari parkiran terminal. Mereka menuju salah satu hotel di kota S. Agus sengaja menyewa kamar hotel double bed.


Resepsionis hotel memandang keduanya. Pandangan mereka terpusat pada Menik yang terlihat masih seperti ABG. Sehingga resepsionis meminta untuk menunjukkan KTP.


Sampai di kamar, Menik terkejut saat melihat hanya ada satu kasur. Padahal tadi dia mendengar kalau Agus memesan doubel bed, kenapa ini hanya ada satu kasur.


"Mas, kenapa kasurnya cuma satu? Aku tidur di mana?" protes Menik.


Agus terkekeh mendengar ucapan polos Menik.


"Tidur di kasur lah, masak tidur di bawah."


"Tidur sama Mas maksudnya?"


"Iya lah, sama siapa lagi kalau bukan sama aku," jawab Agus santai.


"Menik tidur di bawah saja, Mas yang di atas," ucap Menik.


"Iya, nanti kamu di bawah, Aku yang di atas," jawab Agus ambigu.


Karena mengantuk, Menik tidak menyadari ucapan Agus yang ambigu. Menik mengiyakan begitu saja ucapan Agus.


"Nik, kamu atau aku yang mandi duluan? Atau mandi bareng saja."


Menik menoleh ke arah Agus dan memandangnya dengan tatapan horor. Cepat-cepat Menik berlari ke arah kamar mandi dan segera mandi. Sebelum Agus semakin tidak jelas bicaranya.


Agus tersenyum melihat Menik langsung masuk kamar mandi setelah mendengar ucapannya.


"Semoga iman dan imronku kuat sampai besok pagi," gumam Agus.

__ADS_1


Menik keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit kepalanya. Melihat Menik selesai mandi, Agus mengikis jarak. Menik cepat-cepat melompat ke atas tempat tidur dan bersembunyi di balik selimut untuk menghindari Agus.


"Ha ... ha ..." Agus tertawa melihat Menik ketakutan akan ulahnya. Dia segera menuju ke kamar mandi. Agak lama Agus di kamar mandi. Ada sesuatu yang harus ditidurkan, agar tidak meminta sesuatu yang belum boleh dia minta saat ini.


Seselai mandi, Agus melihat Menik sudah tertidur. Hanya saat Menik tidur, dia bisa menatap wajah Menik dengan puas. Disingkirkannya beberapa helai rambut yang menutupi wajah Menik. Dielusnya pipi Menik, perlahan Agus mulai mengecup kening Menik. Melihat Menik tak menyadari ulahnya. Agus semakin berani melanjutkan aksinya.


Kening dan pipi Menik tak luput dari kecup@n, hingga Agus tak bisa menahan untuk merasakan kembali manisnya bibir Menik.


Semakin lama Agus semakin berani, kecup@nnya berubah menjadi lum@tan yang akhirnya membuat Menik terbangun.


Sontak Menik mendorong Agus dan mengeratkan selimut menutupi tubuhnya.


"M—mas ngapain?"


"Maaf Nik, aku nggak tahan. Lagi pula tidak berdosa jika aku melakukannya sekarang. Kalau kamu menolak, malah berdosa," ucap Agus.


"Ta—tapi Mas, ingat—"


Menik tak bisa menyelesaikan ucapannya karana Agus kembali menguas@i bibirnya. Pertama Menik berontak, namun lama kelamaan dia mulai terlena. Dua kancing baju bagian atas Menik terbuka, banyak tanda merah terukir di leher putih Menik.


Kring ... kring ... kring


Dering ponsel menghentikan mereka dari kegiatan panas. Agus membuang napas kasar dan segera mengambil ponsel yang ada di sampingnya. Kesempatan itu dipakai Menik untuk mengancingkan bajunya kembali.


Agus memberi isyarat kepada Menik untuk diam, karena pak Dewa video call. Terdengar pak Dewa dan bu Islah menanyakan posisi Agus saat ini. Bu Islah khawatir jika Agus menggunakan kesempatan untuk melakukan ucapannya tadi sore.


"Gus, kamu di mana? Sepertinya bukan di asrama," cecar bu Islah.


"Agus di hotel Bu. Kemalaman jadi ketinggalan bus."


"Kamu sama Menik di hotel?"


"Agus sendirian, Menik di kos," bohong Agus.


"Coba putar kameranya, Ibu tidak percaya sama kamu. Awas kalau kamu sudah cicil mencicil seperti ucapanmu tadi sore. Ibu sun@t kamu!" ancam bu Islah.


Bu Islah dan pak Dewa mengakhiri panggilannya setelah Agus bisa menyakinkan beliau berdua, jika Menik tidak ada bersamanya.


"Mas, mengapa bohong dengan ayah dan ibu?"


"Bohong sedikit saja Nik, tidak apa-apa," bela Agus.


"Tapi Mas ..."


"Sudah ayo tidur, atau mau meneruskan yang tadi?" gurau Agus.


Menik langsung menarik selimut hingga ujung kepalanya mendengar ucapan Agus. Untung saja mertuanya menelepon, jika tidak, sudah pasti keduanya akan melanggar janji.


Agus menarik selimut Menik sampai ke dada. Dengan santai di memeluk Menik.


"Mas, jangan peluk-peluk. Nanti khilaf lagi, untung tadi ayah dan ibu telepon. Jika tidak ..."


"Jika tidak ... kenapa memangnya?"


"Ais, Mas jangan bercanda terus. Jika tidak pasti Mas sudah langgar janji," ucap Menik sambil menepis tangan Agus yang kembali berusaha menelusup ke balik bajunya.

__ADS_1


__ADS_2