Adhisti

Adhisti
Bab 86


__ADS_3

"Entah, malas aku melihatnya. Nanti saja jika sudah sampai di rumah om Pandu, baru akan ku buka kembali."


Sebenarnya Menik mengetahui siapa yamg meneleponnya dari nada dering ponselnya. Nada dering yang sempat dia khususkan untuk panggilan dari Agus mantan suaminya.


Tak terasa Menik dan Soni sampai di eumah Pandu. Menik turun dari mobil untuk menemui sekuriti yang menjaga gerbang rumah Pandu.


Melihat Menik turun dari mobil, sekuriti yang bernama Lanjar tergopoh-gopoh untuk membukakan pagar. Lanjar tidak mengenali mobil yang dikendarai Soni. Sehingga Lanjar tidak langsung membukakan pintu gerbang.


"Mbak Menik, maaf saya tidak tahu kalau Mbak yang datang," ucap Lanjar.


"Nggak pa-pa Mas Lanjar," ujar Menik menjawab ucapan Lanjar.


Dengan santai Menik berjalan masuk ke dalam rumah. Dia kupa dengan keberadaan Soni yang tengah menunggu di luar pagar. Karena Lanjar hanya membuka gerbang sedikit dan segera menutupnya kembali ketika Menik sudah masuk ke dalam rumah.


Seperti biasa rumah Nimas selalu sepi, karena penghuni rumah sibuk dengan urusan pekerjaannya.


"Sepi sekali rumah om Pandu, Nimas ke mana ya?" gumam Menik.


Karena tidak menemukan siapa-siapa di ruang kekuarga, Menik melanjutkan langkahnya menuju kamar Nimas yang terletak di lantai dua.


Ceklek ... Menik membuka pintu kamar Nimas, setelah beberapa kali mengetuk tidak ada jawaban.


Gemericik air di kamar mandi menjawab mengapa tidak ada yang merespon kala Menik mengetuk pintu.


Sambil menunggu Nimas menyelesaikan ritual mandinya, Menik menuju balkon yang menyuguhkan pemandangan taman kompleks perumahan elit itu.


Mata Menik menangkap sebuah mobil yamg tidak asing baginya parkir dinluar pagar.


"Ehm ... sepertinya Aku kenal dengan mobil itu," gumam Menik.


"Astaghfirullah, Aku melupakan Mas Soni," seru Menik dan segera berlari menuju pagar.


"Mbak Menik, kenapa.lari-lari seperti dikejar hantu?" tanya Lanjar saat melihat Menik sampai di dekat pos sekuriti dengan napas yang memburu.


"Te—teman saya tertinggal di luar pagar, Mas," seru Menik.


Mendengar teman Menik tertinggal di luar, Lanjar segera membuka pintu gerbang. Seketika Menik melesat keluar dan mengetuk jendela mobil.


"Maaf, Aku lupa Mas Soni masih di liar saat masuk tadi," ucap Menik.


"Dasar pelupa," seru Soni dan segera masuk ke dalam rumah Nimas.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Nimas turun ke bawah untuk menemui Menik. Dengan santai Nimas turun menggunakan baju yang biasa dia pakai saat di rumah. Celana pendek kaos tipis yang menampakkan lekuk tubuhnya.

__ADS_1


"Nik," panggilnya.


Menik menoleh ke arah Nimas. Matanya membulat melihat sepupunya begitu seksi. Cepat-cepat dia menutupi tubuh Nimas, dan mendorongnya masuk ke dalam rumah.


"Woi! Santai Nik. Jangan main dorong," protes Nimas.


"Kebiasaan kamu Ni. Mggak pernah pakai baju utuh di rumah. Untung Mas Soni tak melihatmu," seru Menik.


"Jadi kamu ke sini dengan Soni? Mengapa tidak mengabariku jika kamu bersamanya. Semoga dia belum sempat melihatku."


"Enak saja, nuduh orang sembarangan. Coba kamu lihat ponselmu yang mahal itu. Bisa kamu lihat berapa kali Aku memberi kabar padamu."


Jika tadi Soni tertinggal di luar pagar, kali ini dia kembali di tinggal Menik di luar pintu masuk yang riba-tiba di tutup Menik.


"Nasib-nasib, jadi seseorang yang tidak dianggap," gerutu Soni.


"Dasar mbak Menik, temannya dibiarkan lagi di dean pintu. Cocok memang dengan mbak Nimas. Sama-sama cantik san baik hati, tapi sayang, sama-sama pelupa," gumam Lanjar sambil terkekeh saat membandingkan sifat Menik dan Nimas.


Merasa kasihan dengan Soni, Lanjar menghubungi Mbok Lia kepala ART di rumah besar.


Sambil menunggu Menik mengingatnya, Soni duduk di teras rumah Nimas.


"Den," seru Mbok Lia.


Hampir saja ponsel Soni terlepas dari genggamannya karena terkejut dengan ke datangan Mbok Lia.


"Ayo, masuk Den. Kalau menunggu mbak Menik dan mbak nimas buka pintu, kelamaan Mas. Keburu sampeyan jadi batu." kelakar mbok Lia.


Soni mengekori langkah mbok Lia. Beliau sudah hapal dengan letak ruangan-ruangan di rumah tersebut.


Setelah mempersilakan Soni masuk, mbok Lia menuju kamar Nimas. Sesekali terdengar tawa dari balik pintu kamar .


Tok ... Tok ... mbok Lia mengetuk kamar Nimas. Setelah mendengar izin daei Nimas, Mbok Lia bergegas masuk ke dalam kamar.


"Maaf Mbak Nimas, Mbak Menik ditunggu temannya di bawah. Tadi saya di telepon Lanjar. Dia memberitahu saya untuk membuka pintu rumah. Karena ada teman Mbak Menik," jelas mbok Lia.


"Waduh. Aku lupa ninggalin mas Soni lagi, ucap Menik tanpa berdosa.


Nimas menyusul Menik yang sudah duluan turun dari kamarmya. Setelah Nimas turun, obrolan mereka semakin bertambah asyik sampai lupa waktu.


"Kelihatannya asyik sekali kalian ngobrol. Boleh ayah ikut bergabung," ucap om Pandu yang berhasil mengagetkan ketiganya.


Ternyata ayah Nimas juga salah satu konglomerat, pantasan rumahnya megah sekali, batin Soni.

__ADS_1


***


Akad nikah Agus dan Wiwid telah dilakukan pagi ini. Sekitar dua kali, Agus harus mengulang akadnya. Dikarenakan Agus salah menyebut nama Wiwid. Lidahnya sering terpeleset saat mengucapkan nama Wiwid.


Pak Hadi nampak gusar saat mengetahui status Agus yang ternyata seorang duda. Beliau merasa tertipu, karena tidak ada yang mengatakan status Agus kepadanya.


"Jika saja, Aku tahu kamu sudah menikah, tentu tidak akan memaksamu untuk menikahi Wiwid. Kasihan istri yang kamu cerai demi menuruti keinginan Wiwid," gumam Pak Hadi lirih.


Pukul sebelas pagi, resepsi pernikahan Agus dan Wiwid digelar dengan mewah. Bahkan terlihat beberapa artis ibu kota yang menjadi pengisi acara dalam resepsi pernikan itu.


Mobil yang membawa Soni dan Menik tiba di hotel. Ragu menyapa hati Menik, sehingga membuatnya enggan turun. Mengetahui Menik tidak segera turun, Soni menghampiri Menik dan menggenggam tangannya.


"Ada Aku di sampingmu. Kuatkan hatimu, jangan menengok lagi ke belakang," ujar Soni menenangkan hati Menik.


"Insya Allah, Mas. Semoga aku kuat menghadapi hari ini dan hari-hari selanjutnya."


Setelah berhasil mengurangi gugupnya, Menik segera melangkah memasuki ruang resepsi bersama Soni. Menik semakin mengeratkan tangannya yang memeluk lengan Soni.


Merasakan pelukan di lengannya menguat, Soni tersenyum ke arah Menik dan sekilas mengusap tangan Menik.


"Ada Aku, yang Allah kirimkan untuk menjagamu saat ini dan hari-hari berikutnya," bisiknya menentramkan hati Menik.


Ucapan Soni, ibarat hujan yang turun melembabkan tanah yang gersang. Percaya diri Menik seakan kembali muncul. Dengan anggun, dia berjalan dan naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


"Nik," bisik Soni.


"Ehm, ada apa?


"Aku lapar," ucap Soni polos.


"Makan dulu saja yuk, dari pada pingsan. Lagi pula antriannya masih panjang. Maklumlah anak orang kaya, banyak tamunya."


Menik mengubah arah langkah kakinya. Mata Menik berbinar saat melihat makanan kesukaannya terlihat di depan mata. Refleks Menik menarik Soni menuju stand makanan kambing guling.


Puas menikmati suguhan di pernikahan Agus dan Wiwid. Menik mengajak Soni untuk bersalaman.


Deg! Deg!


Ritme jantung Menik semakin meningkat, saat selangkah demi selangkah, Menik menuju panggung tempat pengantin duduk dengan tangan yang memeluk erat lengan Soni.


Saat bersalaman, bu Islah terlihat membanggakan menantunya. Bahkan Menik tidak di gubrisnya. Berbeda dengan Pak Dewa yang terlihat sedikit tidak nyaman.


Tiba di depan Agus, Menik mengcapkan doa terbaik untuk kelanggengan pernikahan Agus.

__ADS_1


"Selamat Mas, semoga ini menjadi pelabuhan cinta terakhir Mas," ucap Menik dan beranjak dari depan Agus.


"Nik, kamu ridho Aku menikah dengan Wiwid?" seru Agus.


__ADS_2