
Seketika mata Menik terbuka lebar melihat ke arah ponsel. Menik semakin terkejut saat dengan jelas melihat wajah yang tak asing baginya tersenyum lebar padanya.
"Wa—waalaikumsalam mas." Menik terbata-bata menjawab salam.
"Kaget ya, aku telepon." Soni terkekeh mendengar Menik terbata-bata.
"I—ya Mas. Tumben mas Soni video call, ada apa mas?"
"Kenapa memangnya kalau aku video call kamu? Nggak boleh?" tanya Soni.
"Bo—leh kok mas. Hanya saja nggak biasa." elak Menik.
"Gimana kabarmu Nik?"
"Alhamdulillh baik mas. Mas Soni apakabar?"
"Alhamdulillah baik. Hanya hatiku yang terluka Nik."
"Hatinya diberi plester mas, biar lukanya nggak tambah lebar." gurau Menik.
"Plesternya ada sama kamu Nik." ucap Soni santai tanpa dosa.
Menik terdiam mendengar ucapan Soni. Hatinya tercubit, merasa bersalah.
"Kenapa diam Nik?" tanya Soni memecah keheningan.
"Mas Soni lagi di mana?" ucap Menik mengalihkan pembicaraan.
"Lagi di luar Nik. Menjelalah negara mencari modal untuk melamar gadis." gurau Soni.
"Wah, enak nih yang jadi calon istri mas Soni. Sudah dicarikan modal dari sekarang."
"Modalnya ada Nik. Tapi sayang—." Soni tak meneruskan kalimatnya.
"Sayang kenapa mas?" polos Menik bertanya. Sungguh tidak peka memang.
"Sayang, sudah ditikung orang Nik." ucap Soni santai.
"Ooo."
"Kok o sih Nik? Kamu nggak merasa kalau itu kamu."
"Maaf." lirih Menik berucap. Perasaan bersalah semakin menderanya. Seandainya Menik bisa meminjam mesin waktunya doraemon, dia akan memilih kembali pada saat belum mengenal Agus. Sehingga tidak ada yang terluka.
"Nggak usah minta maaf Nik. Semua sudah ditulis oleh-Nya. Kita hanya bisa menjalaninya. Kalau memang jodoh pasti akan bersatu. Jadi kita jalani saja apa yang terjadi saat ini."
"Iya mas. Menik harap mas Soni bisa segera bertemu dengan jodohnya. Aamiin." tulus Menik mendoakan Soni.
"Jodohnya sudah ketemu Nik. Hanya belum bisa bersatu. Aku masih berusaha merayu penulis takdir di sepertiga malam. Siapa tahu doaku dikabulkan. Aamiin."
Agus kebetulan lewat di dekat tempat Soni telepon. Lamat-lamat dia mengenali suara yang sedang bicara dengan seniornya itu. Agus hanya bisa mendenger suaranya, tapi tak bisa melihat siapa yang Soni telepon. Karena Soni duduk menghadap ke arah jalan.
Karena penasaran, Agus mendekati Soni dan duduk di depannya. Soni segera mengakhiri panggilannya saat menyadari Agus duduk di depannya.
"Maaf mas, kalau saya mengganggu." ucap Agus tak enak hati, karena Soni mengakhiri panggilan teleponnya.
"Nggak apa-apa Gus. Sudah lama juga aku telepon."
__ADS_1
"Nelpon pacar mas?"
"Bisa dikatakan begitu, bisa juga tidak." jawab Soni santai.
"Maksudnya mas? Maaf kalau saya kepo."
"Kepo juga tidak apa-apa Gus. Aku itu orangnya terbuka. Jadi yang aku telepon tadi bukan pacarku. Karena aku nggak pernah nembak dia. Namun, kami sama-sama sepakat untuk saling menunggu." jelas Soni.
"Terus sekarang cewek mas Soni ada di mana?"
"Dia kuliah Gus, semester 7. Ini lagi nyusun skripsi katanya."
"Ooh. Orang mana mas?" cecar Agus penasaran.
"Adik kelasku dulu Gus, sejak SMP sampai SMA. Aku melihatnya dari masih culun sampai sekarang sudah mulai bisa dandan sedikit." Soni terkekeh membayangkan penampilan Menik saat masa MPLS SMP.
"Jadi satu kota sama kita mas?"
"Iya Gus."
"Siapa namaya mas?" Agus terus saja bertanya kepada Soni. Karena penasaran dengan suara yang tak asing baginya.
"Ra-ha-sia. Ha ... ha ....."
"Mas Soni bisa main rahasia-rahasiaan segala."
"Ntar kapan-kapan aku kenalkan Gus. Tapi, awas jangan sampai kamu jatuh cinta sama dia. Meski dia nggak cantik-cantik amat, tapi imutnya nggak ketulungan."
"Nggak mungkin Agus jatuh cinta mas. Karena Agus juga sudah ada pacar, bahkan sudah Agus lamar."
Agus membuang napas kasar. "Saya sama Wiwid hanya sekedar teman mas. Kenalan waktu Agus sedang jalan di Mall, lama-lama akrab."
"Bener hanya teman Gus? Aku nggak yakin."
"Ehm— sebenarnya kami pernah dekat mas. Tapi tanpa komitmen, yah ngalir begitu saja. Sampai Agus ketemu sama tunangan Agus yang sekarang."
"Pantasan dia ngejar kamu Gus. Makanya jangan suka PHP. Aku cuma mengingatkan Gus, tapi nggak nakutin kamu lho. Kalau aku lihat, kamu bakalan susah lepas dari adiknya Andi. Pesanku hati-hati saja kamu. Mumpung masih tunangan, kamu pikirkan baik-baik keputusanmu." nasihat Soni panjang lebar.
"Iya mas. Ini Agus sedang berpikir mengenai jalan keluar dari masalah ini. Karena tiap bertemu, pasti Mas Andi membahas tawaran untuk menikah dengan adiknya."
Andai saja Soni dan Agus tahu bahwa wanita yang sedang mereka perjuangkan adalah wanita yang sama. Sudah pasti mereka tak akan bisa dengan santai bertukar pendapat.
"Nik, siapa yang habis video call?" tanya Ince sembari mengumpulkan nyawa.
"Mas Soni, Ce. Aku kira mas Agus, jadi aku terima saja."
"Jangan main api Nik. Bahaya kalau terbakar. Meski bisa diobati, tapi pasti lukanya membekas."
"Iya Ce aku tahu. Aku cuma takut Ce—."
"Takut kenapa Nik?"
"Ehm, aku takut apabila saat aku sedang ada masalah dengan mas Agus, terus aku ketemu mas Soni. Aku takut Ce, kalau aku tergoda untuk berpaling."
"Tetapkan hatimu Nik."
"Aku sudah berusaha Ce. Perlahan aku mulai menerima mas Agus, bukan lagi sebagai kakak tentunya."
__ADS_1
"Sudah-sudah tak usah membahas apa yang belum terjadi. Dan semoga kekhawatiranmu itu tidak akan terjadi." ucap Ince menentramkan.
"Aamiin Ce."
Seandainya kamu tahu yang sebenarnya Ce, pasti kamu juga akan gamang. batin Menik.
"Nik, aku numpang mandi ya. Sebentar lagi Ghani jemput, dan mengajakku nonton. Kamu mau ikut nggak?" tawar Ince.
"Nggak Ce, makasih tawarannya. Ntar aku jadi obat nyamuk di sana." tolak Menik.
"Nggak bakalan jadi obat nyamuk Nik. Kebetulan Darmawan ikut juga. Jadi kita bisa double date."
"Double date mbah mu Ce. Yang ada Darmawan semakin berharap sama aku. Bisa-bisa aku dijadikan dendeng sama Mimi."
Di antara ketiga teman akrab Menik, Mimi lah yang paling dekat dengan Darmawan. Bisa berbahaya bila ketahuan Menik nonton dengan Darmawan. Kemarin saja Menik sudah mendapatkan wejangan dari Mimi, waktu tahu Darmawan menemaninya kala kelas masih sepi.
"Ha ... ha ... betul Nik. Jangan sampai ketahuan Mimi. Ntar aku kena imbas juga." Ince tertawa lepas, sambil membayangkan Menik mendapat wejangan dari Mimi.
"Nah itu tahu. Sudah sana cepat mandi. Baju yang kamu tinggal kemarin sudah ada di lemari, lengkap dengan onderdilnya."
"Kamu memang sahabat terbaik Nik." seru ince sampil mengacungkan kedua jempol tangannya sebelum masuk ke kamar mandi.
Tet ... tet ...
Terdengar bel dari pintu gerbang di bawah. Fera yang kebetulan di depan televisi, segera berlari menuju tiang jemuran, dan melongok ke bawah.
"Cari siapa mas?" serunya dari atas.
Ghani yang baru satu kali ke kos Menik tentu belum mengetahui cara bertamu ke kos tersebut. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari arah suara. Namun tak menemukan siapapun. Kecuali orang yang antei di depan ATM yang berada tepat di samping kos Menik.
Fera yang melihatnya dari atas, kembali memanggilnya. "Cari siapa mas?" serunya kembali.
Lagi-lagi Ghani masih belum menyadari keberadaan Fera. Saking gemasnya Fera teriak lagi.
"Woi mas, cari siapa? Lihat ke atas mas!"
Ghani akhirnya mendongak ke atas, sia tersenyum melihat gadis cantik yang bertanya padanya. Jiwa buaya daratnya sesaat muncul.
"Cari Menik mbak." seru Ghani dengan senyum genit menghias wajahnya.
"Tunggu bentar mas." ucap Fera dan berlalu. "Dasar buaya darat. Baru aku senyumin dikit saja udah terlena." gumam Fera dan segera memanggil Menik.
"Menik, ada yang mencarimu di bawah." seru Fera.
"Iya Fe, bentar aku keluar." jawab Menik dari dalam kamar.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Ince sudah segar dan berganti baju dengan baju yang tertinggal di kos Menik.
"Ce, kelihatannya Ghani sudah datang. Aku nggak turun yach. Mager."
"Terus kunci gerbangnya gimana Nik?"
"Gampang ce, ntar aku ulurkan rafia dari atas, cukup kamu ikatkan kuncinya, terus aku tarik. Beres."
"Siap." seru Ince.
__ADS_1