Adhisti

Adhisti
Bab 83


__ADS_3

"Aku— mengantar putriku untuk mengembalikan sesuatu," ucap pak Broto.


"Oh, Aku kira kamu sengaja datang karena tahu aku di sini," ucap Pak Hadi percaya diri.


"Ha ... ha ... Kamu percaya diri sekali Hadi. Kalau tidak mengantar putriku, tidak sudi aku bertemu denganmu," ucap Pak Broto sinis.


"Ayah," bisik Menik.


Pak Broto menghentikan obrolan saling sindir dengan Pak Hadi. Ternyata permasalahan masa lalu masih menjadi bara dalam hati dua laki-laki yang tak lagi muda itu. Pak Dewa terkejut melihat interaksi pak Broto dan Pak Hadi.


"Pak Dewa, kedatangan saya ke sini mengantar putri saya untuk mengembalikan pemberian keluarga Anda."


Sengaja pak Broto tidak menyebutkan barang seserahan saat mereka memilih Menik sebagai menantu keluarga pak Dewa. Pak Broto sengaja melakukannya, untuk menutupi rasa malu putrinya.


Menik bermaksud menyerahkan semua barang-barang kepada pak Dewa.


"Sini-sini, bawa sini saja,Nik!," seru bu Islah yang tiba-tiba muncul dan mengambil narang-barang tersebut dari tangan Menik.


Kini semua barang pemberian Agus, telah berada di tangan bu Islah. Beliau tersenyum setelah memeriksa semuanya. Lengkap tidak ada yang tertinggal.


"Nik, sini," panggil Astuti.


Kaki Menik sebenarnya enggan untuk melangkah ke ruang keluarga. Tapi karena Astuti memanggilnya, mau tidak mau Menik menurutinya.


Tanpa disadari Menik, mata Agus terus menatapnya. Ada rindu menyusup dalam hati Agus.


"Awas mata!" seru Pak Broto.


Cepat-cepat Agus mengalihkan pandangannya ke arah lain setelah mendengar seruan pak Broto.


Diam-diam pak Hadi mengamati interaksi antara Pak Broto dan Pak Dewa. Pak Hadi merasa ada hubungan khusus antara dua keluarga tersebut.


Di ruang keluarga, Astuti menanyakan rencana Menik selanjutnya. Menik mengatakan jika saat ini keinginannya adalah cepat lulus dan bisa segera bekerja. Kalau perlu dia akan keluar pulau untuk mencari pekerjaan.


"Kamu nggak melanjutkan hubunganmu dengan Soni?" bisik Astuti sambil matanya mengawasi keadaan sekitar. Takut ada yang mendengar ucapannya.


"Menik sih, sudah nggak mau sama anak Ibu. Maunya sama yang rumahnya dekat stasiun," seloroh bu Islah yang tiba-tiba ikut gabung.

__ADS_1


"Bukan Menik yang tidak mau, Bu. Tapi anak ibu sudah memilih yang baru," tegas Menik dan langsung berdiri mengajak ayahnya pulang.


"Broto, jangan lupa hadir dipernikahan anakku bulan depan," seru Pak Hadi.


Mendengar undangan dari pak Hadi, tangan pak Broto mengepal. Beliau berbalik dan berkata, "Tunggu kado dari ku, kamu pasti akan menyukainya."


"Oke, Aku akan menunggu dan menerima dengan suka cita."


Pak Broto menyusul Menik yang sudah berada di dalam mobil. Menik dan Pak Broto larut dalam pikiran masing-masing.


Di ruang keluarga Pak Dewa terlihat bu Islah sedang ngedumel dengan ucapan Menik.


"Ternyata sopan santunmu sangat kurang, untung sudah tidak jadi menantuku," omel bu Islah.


Sebelum kena sasaran omelan bu Islah, Astuti melangkah perlahan menuju kamarnya.


Ibu dikasih Agus apasih, bisa berubah 360⁰, batin Astuti.


"Bagaimana Pak Dewa apa keluarga Bapak setuju dengan usulan, Saya?" ucap pak Hadi memastikan. Beliau ingin acara pernikahan Wiwid dan Agus dilaksanakan semewah mungkin.


Dengan berat hati, Pak Dewa menyetujuinya. Tidak ada bahagia terpancar dari wajah Pak Dewa. Beliau kecewa dengan sikap istri dan anaknya.


"Puas kamu, Gus!" sindir pak Dewa dan beranjak ke kar tamu. Sudah beberapa hari ini beliau memilih tidur di kamar tamu untuk menghindari bu Islah yang membanggakan calon besannya.


Kalau dilihat dari segi materi yang terlihat dengan mata, jelas pak Broto ada di bawah pak Hadi. Namun, jika dihitung luas sawah, kebun jati, dan ternak sapi yang dimiliki pak Broto sudah dipastikan beliau berada di atas keluarga pak Hadi. Pak Broto lebih senang hidup dengan sederhana. Bahkan sampai saat ini Sri tidak pernah diberitahu tentang seberapa banyak harta yang beliau miliki. Karena harta itu ada sebelum Sri datang.


***


"Ayah, boleh Menik kembali ke kampus? Sebelum Mami datang?"


"Kenapa dengan Mami mu? Bukankah dia baik kepada mu?"


"Menik ingin segera menyelesaikan skripsi, dan segera.mencari kerja, Yah. Biar bisa mandiri," ucap Menik mengalihkan pertanyaan pak Broto.


Setelah berhasil membujuk pak Broto untuk mengizinkannya kembali ke kampus, Menik segera berkemas.


"Ayo, hitam kita kembali ke kampus," ucap Menik kepada motor kesayangannya.

__ADS_1


Sampai di kos, Menik langsung di sambut Fera dan Nonie. Karena setelah Menik keluar dari rumah sakit, Pak Broto langsung membawanya pulang ke rumah. Fera dan Nonie merasa lega Menik sudah pulih dan lebih ceria dari sebelumnya.


Ibu kos pun segera naik untuk bergabung dengan mereka. Beliau juga merasa bahagia melihat Menik sudah sehat. Saking bahagianya, ibu kos sampai membawa beberapa makanan ke atas.


***


File skripsi yang beberapa saat lalu mati suri, kini dibuka lagi oleh Menik. Dengan ditemani setumpuk buku referensi, Menik mulai menyusun kembali skripsinya.


"Aku harus segera lulus, dan menjauh dari sini. Aku akan memulai hidup baruku," gumam Menik.


Meski terlihat kuat dari luar, tapi nyatanya Menik rapuh. Tiap malam Menik sering menangis. Luka yang ditorehkan Agus begitu dalam dan membekas. Kesedihan Menik bertambah lagi saat mengetahui sikap bu Islah telah berubah. Baru sebentar dia merasakan kasih sayang seorang ibu, sekarang semuanya telah direnggut paksa kembali.


"Ehm ... apa aku memang tidak pantas untuk mendapatkan cinta? Hingga satu persatu orang yang aku cintai meninggalkanku," gumam Menik di antara tangisnya.


Rencana mengerjakan skripsi buyar seketika saat Menik teringat akan lukanya. Baru separuh dia merevisi, tangisnya kembali pecah.


Darmi hanya bisa memandang dari balik jendela kamar Menik. Inginnya dia berlari menghampiri dan memeluk Menik. Namun, dia menahannya. Karena takut ikut menangis.


"Apa yang harus aku lakukan untukmu, Nduk ... Seandainya kamu tidak melarangku untuk memberikan pelajaran pada bocah gendeng itu. Bisa ku pastikan dia akan berlutut di hadapanmu," ucap Darmi lirih, takut terdengar Menik.


Lama Darmi menunggu Menik dari balik jendela. Dia baru mendekat setelah Menik capek menangis dan mulai tertidur. Dipandanginya wajah Menik dengan mata yang sedikit sembab akibat menangis. Tangan Darmi terulur untuk mengusap rambut dan pipi Menik. Hawa dingin menerpa pipi Menik ketika Darmi mengusapnya, membiat Menik menggeliat merubah posisi tidurnya.


Darmi cepat-ceat menarik tangannya, takut membangunkan Menik. Sengaja malam ini Darmi menunggu Menik tidur.


"Aku akan menemanimu malam ini, Nduk. Tidurlah yang nyenyak, ada aku yang akan menjagamu," gumam Darmi dan berbaring di dekat Menik.


Di tengah tidurnya, Menik mengigau memanggil-manggil nama mendiang bu Asih sambil beeucap, "Ibu ... ibu ... bawa Menik pergi Bu. Menik tidak sanggup menahannya. Menik malu Bu. Apa yang harus Menik lakukan ... hiks hiks ..."


Hati Darmi ikut menangis mendengar anak penyelamatnya terluka begitu dalam.


"Sst ... sst ... cup ... cup ... Nduk. Ada aku di sini," bisik Darmi.


Menik kembali tenang saat mendengar suara Darmi yang dikiranya suara mendiamg bu Asih.


Kukuruyuk ... kukuruyuk ... ayam jago mulai berteriak membangunkan jiwa-jiwa yang maaih terlelap. Sebelum Menik bangun, buru-buru Darmi kembali ke kebun jati.


Pukul sembilan pagi, Menik berangkat ke kampus meski tidak ada janji konsultasi. Tujuan pertama Menik, sudah pasti kantin yu Sri. Langkah Menik terhenti saat melihat Ghani dan Lina tengah sarapan di kantin.

__ADS_1


"Semoga saja aku tidak terseret dalam kasus pelemparan botol kemarin," gumam Menik dan meneruskan langkahnya untuk memesan makanan.


"Woi! Teman gadis halu!" teriak Lina.


__ADS_2