
Gadis yang tak sengaja mencuri dengar pembicaraan pak Dewa dan bu Islah bergegas bersembunyi di kamarnya. Gadis itu masih tak percaya mendengarnya.
"Kalau sampai Agus menyakiti Menik, berarti aku juga ikut andil dalam memberikan sakit itu." gumamnya perlahan.
Ya, gadis yang mencuri dengar tadi adalah Astuti. Sebenarnya Astuti tak sengaja ingin menguping pembicaraan kedua orang tuanya. Rasa penasarannya yang menuntun Astuti untuk mendekat ke jendela dan membuatnya mendengar semuanya.
Sesak menyelimuti hati Astuti, rasa bersalah terus menderanya. Padahal belum tentu Agus akan meninggalkan Menik. Seandainya dia tahu tentang tawaran Andi untuk Agus, tentu Astuti tidak akan mendukung Agus memilih Menik.
Saat Pak Dewa, Bu Islah, dan Astuti risau memikirkan nasib Menik nantinya, Menik malah menikmati tidur siangnya dengan lelap.
Tring
Ponsel pak Broto berbunyi saat beliau berada di rumah masa kecilnya. Diambilnya ponsel itu dan terlihat pesan yang dikirimkan Menik. Harinya bergolak saat membaca pesan itu. Tak percaya dengan apa yang ditulis Menik tentang lemari makanan yang dikunci.
Bukankah kemarin Sri baru saja belanja,dan kulkas terisi penuh. Kenapa Menik bilang lemari dikunci dan kulkas kosong, batin pak Broto.
Sri yang melihat suaminya tiba-tiba terdiam menjadi penasaran.
"Papi kenapa?" tanya Sri pada pak Broto.
"Nggak apa-apa Mi." jawab beliau.
"Oh, mami kira ada apa. Soalnya habis buka ponsel, wajah Papi berubah."
"Ini Mi, aku baca pesan dari staf ku." seru pak Broto, menutupi jika ada pesan dari Menik.
Akan aku lihat nanti sampai rumah, kalau memang benar apa yang ditulis Menik, awas kamu Sri. ucap pak Broto dalam hati.
Mbah Minto menyadari jika putra semata wayangnya menyembunyikan sesuatu, segera mendekati anaknya.
"To, ada apa? Kamu tidak bisa menutupi dari Emak mu ini." lirih mbah Minto berucap takut terdengar Sri yang sedang pamit ke kamar mandi.
"Nggak apa-apa mak. Broto perlu bukti dulu, nanti baru bisa cerita ke Emak." jawab pak Broto.
"Tentang Menik dengan Sri?" tegas mbah Minto.
Pak Broto mengangguk lemah mengiyakan pertanyaan mbah Minto.
"Apa emak bilang Le, kamu terlalu grusa-grusu mengambil keputusan."
"Sudahlah Mak, Broto nggak mau bahas ini dulu. Biar waktu yang membuktikan."
Pak Broto beranjak keluar rumah. Hatinya penuh sesak, tanpa sadar kakinya kembali melangkah ke pusara mendiang Asih. Dielusnya nisan merah tua itu, tak terasa gerimis turun dipipinya.
"Dik, aku merindukanmu. Aku salah langkah dik. Aku harus bagaimana?"
Lama pak Broto berdiam di sisi pusara mendiang Asih. Hingga terdengar suara yang sangat dia hapal.
__ADS_1
Broto .... Broto ...
Angin berhembus sedikit kencang kala sosok itu duduk tepat di depan pak Broto. Pak Broto menatap sosok itu dengan tatapan tajam.
"Mau apa kau muncul di depanku?" tegur pak Broto.
"Aku terpaksa muncul To. Aku kasihan dengan anakmu Menik. Aku sedih kala melihatnya tidur memeluk nisan Asih. Untung saja anak itu tak ku bawa pergi."
"Alam kita berbeda, jangan kau campuri urusanku." ketus pak Broto.
"Broto ... Broto, kau sungguh lucu. Bukankah dulu aku sudah bicara sama kamu. Kalau sampai Menik menangis, aku akan mendatangi siapapun orang itu. Dan ingat Broto, saat ini Menik sering menangis gara-gara istri barumu. Tunggu saja ku datangi istrimu itu, dan ku ajak tinggal di sini. Ha ... ha ..." sosok itu tertawa lepas, tawa yang bisa membuat siapapun merinding. Terkecuali pak Broto tentunya.
"Coba kalau kau berani mendekati istriku, akan ku buat kau pergi dari sini." ancam pak Broto.
"Aku tak takut ancamanmu To. Kau bisa saja mengusirku dari sini. Tapi kau tak bisa mencegahku melindungi Menik dari orang-orang yang membuatnya bersedih. Camkan itu Broto." setelah memperingatkan pak Broto sosok itu kembali menghilang, meninggalkan suara tawa menyayat hati.
"Dasar nggak punya kerjaan, ikut campur urusan orang." gerutu pak Broto sambil beranjak menuju rumah mbah Minto.
"Assalamualaikum." pak Broto mengucap salam sebelum masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam." jawab mbah Minto dan Sri.
"Papi dari mana? Mami cari ke mana-mana tidak ada." seru Sri.
"Aku dari rumah Doweh mi, menanyakan hasil panen."
"Apa kata Doweh pi?"
"Alhamdulillah panennya bagus Mi. Nanti setelah padinya diselep, berasnya diantar ke rumah Mi."
"Pi, mami pijit dulu ya. Habis itu kita pulang. Papi istirahat saja dulu. Nanti mami bangunkan papi kalau mami selesai dipijit."
"Iya."
Sri segera beranjak ke kamar untuk di pijit mbah Minto. Mbah Minto tak langsung mengikuti Sri masuk ke kamar. Beliau sempatkan bertanya pada pak Broto.
"Apa yang kamu sembunyikan To. Dan tadi kamu bertemu sama siapa? Lonceng yang mbok taruh di belakang rumah berbunyi. Pasti dia menemuimu."
Pak Broto mengangguk, menandakan apa yang ditanyakan mbah Minto benar adanya.
"Kamu ngeyel To. Cepat selesaikan urusanmu, jangan sampai dia ikut campur. Kamu tahu sendiri betapa dia menyayangi Menik. Emak tak bisa mencegahnya kali ini." sarkas mbah Minto.
Pak Broto terdiam tak berani berucap. Kekhawatiran memeluknya erat. Aku harus bisa mendamaikan Sri dan Menik. Sebelum dia benar-benar bertindak. ucap pak Broto dalam hati.
***
Sayup terdengar panggilan untuk bermunajat kepada Sang penguasa kehidupan. Menik terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Ternyata sudah sore." gumam Menik
"Nik, sudah bangun belum? Mbak masuk ya?' terdengar seruan dari depan pintu kamar.
"Masuk saja mbak." ujar Menik.
Astuti segera masuk kamar dan duduk di dekat Menik yang masih setia berada di atas tempat tidur.
"Kamu baru bangun Nik?" tanya Astuti.
"Iya mbak, ke sorean ini. Padahal rencana mau berangkat ke kota S, dan mampir ke pusara ibu."
"Berangkat besok saja Nik. Kalau sore terlalu riskan untuk kamu. Mana kamu sendirian. Belum lagi kalau mau mampir ke makam bu Asih. Bisa-bisa malam kamu baru saampai kos."
"Iya sih mbak. Tapi besok Menik ada jadwal kuliah pagi. Kelihatannya masih sempat kok mbak. Yang penting saat lewat hutan M, bukan pas waktu magrib."
"Atau perlu mbak temani Nik?" usul Astuti.
"Menik sih senang saja kalau mbak mau nemani, tapi bukannya besok mbak juga kerja?"
"Walah, iya. Lupa kalau besok hari Senin."
"Nggak apa-apa mbak, Menik berangkat sendiri. Insya Allah masih cukup waktunya." ucap Menik meyakinkan Astuti.
Astuti meninggalkan Menik untuk bersiap-siap berangkat ke kota S. Sebelum berangkat tak lupa Menik berpamitan dengan kedua mertuanya.
"Ayah, Ibu, Menik pamit dulu berangkat ke kampus."
"Nggak berangkat besok saja Nik?" ujar Pak Broto.
"Besok Menik ada kuliah pagi Ayah, takutnya nggak keburu."
"Ya sudah, yang penting hati-hati."
"Nik, ibu bekalin ayam laos mau?" tawar bu Islah.
"Mau ibu, sama sambelnya yang banyak. He ... he ..."
"Iya, ibu bungkuskan sambel yang banyak."
Bu Islah menuju ke dapur untuk menyiapkan bekal Menik. Sementara itu Menik berbincang dengan pak Dewa.
"Nik, boleh ayah memanggilmu Nduk?"
"Boleh ayah."
"Nduk, ingat kalau kamu sedih ada ayah dan ibu di sini. Anggap kami seperti orang tuamu sendiri. Sejak kamu menjadi istri Agus, otomatis kamu juga jadi anak ayah dan ibu. Seperti halnya Astuti dan Agus. Jadi jangan sungkan kalau mau cerita ataupun menginap di sini."
__ADS_1
"Iya Ayah. Insya Allah kalau Menik pulang lagi, Menik akan menginp di sini." hati Menik berdebar bahagia mendengar ucapan pak Dewa.