Adhisti

Adhisti
Bab 40


__ADS_3

"Mbak Nonie." seru Menik ketika melihat Nonie yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Boleh aku masuk Nik?"ujar Nonie meminta persetujuan Menik untuk masuk kamarnya.


"Masuk saja mbak." jawab Menik dan memberikan ruang Nonie untuk melangkah masuk ke kamar.


Nonie duduk beralaskan karpet bulu berwarna abu-abu. Pandangannya menyapu kamar Menik. Tak ada yang aneh dan berubah dari kamar itu. Hanya satu yang berubah, jari Menik tersemat cincin.


"Tumben mbak Non malam-malam ke kamar Menik? Tadi Menik kira Fera mau numpang tidur lagi."


"Tadi aku lihat Fera masuk kamar Endang. Ntah kenapa itu anak beberapa hari ini nggak berani tidur di kamarnya kalau malam."


"Pantasan dia kemarin malam numpang di sini mbak." sambung Menik.


"Nik, aku mau nanya nih, tapi jangan marah ya."


"Nanya saja mbak, insya Allah Menik nggak marah."


"Ehm, cincin kamu baru Nik?"


"Oh, cincin ini tho." ucap Menik sambil memainkan cincin di jarinya.


"Iya Nik. Aku perhatikan kamu akhir-akhir ini berubah. Jarang pulang ke rumah, sekalinya pulang, pasti cepat balik ke kos lagi. Mau cerita nggak?"


"Ternyata mbak Non memperhatikan Menik."


"Karena kamu nggak seperti biasanya maka jiwa penasaranku bergejolak"


"Mbak Non bisa saja. Menik nggak apa-apa mbak, dan cincin ini, cincin tunangannya Menik."


"Lhah kapan kamu tunangan Nik? Kita nggak kamu kasih tahu." cecar Nonie.


"Nggak cuma mbak sama teman kos yang lain mbak yang tidak tahu. Mimi sama Dwi saja baru tahu hari ini. Kalau tunangannya sudah beberapa bulan lalu mbak." jelas Menik.


"Kenapa kamu nggak beritahu kami Nik!" protes Nonie.


"Maaf mbak, semuanya serba mendadak. Menik saja kadang masih nggak percaya kalau sudah dilamar orang."


"Kamu jadi sama Soni? Atau malah sama Agus? Yang sering kamu bilang sebagai kakak."


"Sama Agus mbak."


"Tepat dugaanku Nik. Mataku bisa melihat bagaimana cara Agus memandangmu. Karena selama ini aku perhatikan, saat Agus ke sini. Dia selalu memandangmu penuh perasaan. Tentunya bukan perasaan sebagai kakak. Tapi perasaan laki-laki kepada perempuan. Kamunya saja yang cuek." jelas Nonie.


"Itulah mbak, yang membuat Menik kaget.Tiba-tiba mas Agus jujur tentang perasaannya dan langsung melamar. Terus terang Menik shock mbak. Makanya Menik nggak sempat beritahu teman-teman mengenai acara lamaran Menik.


"Jadi kamu terima lamarannya Nik?"


"Iya mbak. Menik terima, karena mas Agus harus segera berangkat magang."


"Terus bagaimana dengan perasaanmu? Sudah bisa beralih dari kakak ke perasaan cinta pada lawan jenis?" cecar Nonie.

__ADS_1


"Ntahlah mbak, Menik bingung."


"Nik, kamu harus bisa tetapkan hatimu sekarang. Belajarlah memberikan tempat Agus di hatimu. Tapi bukan sebagai kakak tentunya. Tapi sebagai calon pendamping hidup."


"Iya mbak. Ini Menik lagi berusaha."


"Semangat Nik. Ingat pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Kamu pasti bisa Nik." ujar Nonie meyakinkan Menik.


"Semoga Menik bisa mbak." lirih Menik menjawab.


"Insya Allah bisa Nik. Asal kamu mau usaha. Ya sudah, aku kembali ke kamarku. Ingat kalau ada apa-apa cerita saja Nik, biar berkurang bebanmu." tandas Nonie sebelum keluar kamar Menik.


"Siap mbak." ujar Menik.


Menik menutup pintu kamar segera setelah Nonie keluar. Menik menuju kamar mandi untuk sikat gigi sebelum tidur.


***


Suasana kelas masih sunyi, Menik duduk di sudut ruangan. Satu persatu mahasiswa masuk ke ruang kelas. Menik menyumpal telinganya dengan earphone, lantunan lagu pesan terakhir bergema di telinga Menik.


"Nik ... Menik." panggil Fendi yang baru saja masuk ke kelas.


Menik bergeming tak menjawab panggilan Fendi.


"Menik Adhisti Putri Broto." panggil Fendi kembali. Lagi-lagi Menik tak merespon. Fendi mencolek bahu Menik menggunakan kunci motornya. Dan berhasil, membuat Menik menoleh.


"Apaan sih Fen. Gangguin orang dengarkan musik." sungut Menik sambil melepas earphone dari telinganya.


"Fen, lihat Ince nggak? Tumben dia belum datang." Menik mengerdarkan pandangan, mencari sosok Ince. Namun nihil, Ince belum juga terlihat.


"Coba kamu lihat ke bawah Nik, kalau mau lihat itu anak lagi ngapain."


"Maksudmu Fen?"


"Sini ikut aku, biar kamu nggak penasaran dan mencarinya." ajak Fendi.


Menik mengikuti Fendi keluar kelas, dan memandang arah yang ditunjukkan olehnya. Mata Menik membulat melihat Ince berbincang santai dengan Ghani di taman.


"Wah, gercep juga Ince Fen. Kapan dia semakin dekat dengan Ghani."


"Kamu nggak tahu Nik, kalau mereka kemarin jadian?" seru Fendi.


"Hah! Becanda kamu Fen, masak Ince nggak cerita sama aku kalau dia jadian?"


"Palingan nanti dia cerita Nik. Aku dan Dewi yang jadi saksi Ince nembak Ghani kemarin."


"Ince nembak Ghani! Dasar itu anak, nekat memang."


"Masak kamu nggak hapal sifat Ince Nik."


"Ck ... ck ... memang itu anak."

__ADS_1


Fendi diam-diam memperhatikan Menik dan pandangannya terkunci ke arah jari Menik. Hatinya seketika.mencelos, melihat fakta terpampang di depannya. Gadis yang dia sukai dalam diam, telah ada pemiliknya.


"Cincin baru Nik?" tanya Fendi datar.


"Oh , iya Fen. Di belikan Ayah kemarin." ucap Menik berbohong.


"Ooh—" respon Fendi.


"Woi Ce, ngapain kamu di situ." teriak Menik dari atas.


Mendengar suara cempreng Menik, Ince langsung mencari di mana sahabatnya itu berada. Ince menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun tak melihat sosok Menik.


"Ce, lihat ke atas." seru Ghani sembari menunjuk ke arah Menik.


"Ce, tunggu aku di situ. Aku turun." teriak Menik. "Ayo Fen ikut aku, kita tarik pajak jadian mereka." ajak Menik pada Fendi.


Fendi berjalan berdampingan dengan Menik. Saat melewati beberapa mahasiswa, mereka kompak memberikan semangat pada Fendi.


"Semangat Fen, pepet terus." ujar Mereka.


"Mulut kalian ya, tolong dikondisikan." ucap Fendi membalas gurauan mereka.


Menik tersenyum, mendengar Fendi di ledek oleh teman-temannya. Karena Menik yakin itu hanya sebatas gurauan. Tak mungkin Fendi ada perasaan khusus padanya.


Melihat Menik datang bersama Fendi, Ghani bergeser duduknya. Memberikan ruang untuk Menik duduk. Tanpa mereka sadari beberapa pasang mata memperhatikan interaksi mereka.


"Hai Ghani, kenalkan aku Menik. Bestie nya Ince."


"Nggak usah sok nggak kenal Nik. Siapa sih yang nggak kenal kamu sama Ince." gurau Ghani.


"Ce, ayo mana pajak jadiannya." todong Menik tanpa basa basi.


"Minta sama Ghani saja Nik." jawab Ince.


"Gampang Nik, besok kalau lukisanku dibayar kita makan-makan. Kamu juga Fen."


"Siap. Kalau soal makan, ayo gaskuen." jawab Fendi.


Mereka terus saja ngobrol ngalor ngidul, sembari menunggu dosen datang.


Sementara itu, Darmawan menatap penuh rasa jengkel ke arah Fendi yang tersenyum bahagia bersama Menik.


"Panas ya Wan." seru Hera yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


Darmawan menoleh ke arah Hera, "maksudnya?"


"Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini Wan. Apalagi melihat Fendi bersama Menik." sindir Hera.


"Sok tahu kamu Her." ketus Darmawan dan pergi meninggalkan Hera.


Darmawan berinisiatif untuk ikut bergabung dengan Menik dan Fendi.

__ADS_1


"Hai, kelihatannya asyik obrolan kalian, boleh aku ikut bergabung?" izin Darmawan.


__ADS_2