
Ince menoleh merespon panggilan itu, "Apa?"
Fera mendekati Ince dan membisikkan sesuatu.
"Hah! di rumah sakit mana?" seru Ince setelah mendengar bisikan Fera.
"Rumah sakit kampus, Ce," jawab Fera.
"Makasih infonya. Pantas saja dari semalam aku hubungi ponselnya tidak menjawab."
Setelah memberitahu Ince tentang keadaan Menik, Fera melenggang menuju fakultasnya yang letaknya bersebelahan dengan kampus Menik.
Ince bergegas menuju kantin yu Sri dengan tujuan akan meminjam motor. Akibat tergesa-gesa Ince menabrak Darmawan.
"Aduh!" teriak Ince.
"Maaf Ce, maaf," seru Darmawan dan menolong Ince yang jatuh terduduk.
"Nggak apa-apa, Wan," ucap Ince dan kembali melanjutkan langkahnya.
Darmawan terkejut dengan sikap Ince barusan. Biasanya Ince akan marah apabila ada yang menyenggolnya. Namun, hari ini Ince berbeda sekali. Karena penasaran dengan perubahan sikap Ince, diam-diam Darmawan mengikuti langkah Ince.
Ince terus melangkah sambil tangannya tak berhenti menulis di ponsel. Dia menulis pesan ke kating bahwa dia izin. Ince terlihat gusar, mondar-mandir tidak jelas seperti tengah menunggu sesuatu. Bolak-balik Ince melihat ke arah gerbang kampus.
Penasaran dengan gelagat Ince, Darmawan menghampirinya.
"Kamu nunggu siapa?"
"Nunggu ojek, Wan," jawab Ince tanpa menoleh. Matanya tetap fokus ke arah gerbang.
"Mau ke mana pakai ojek. Ayo, aku antar saja," ujar Darmawan.
"Tapi gimana ojekku?"
"Batalin saja. Lagi pula kamu sudah lama menunggunya."
Akhirnya Ince menyerah, dan bersedia diantar oleh Darmawan.
"Mau ke mana, Ce?" tanya Darmawan saat Ince naik ke boncengan motornya.
"Rumah sakit, Wan. Ayo cepat!" titah Ince.
Darmawan langsung tancap gas saat mendengar tujuan Ince ke rumah sakit. Darmawan sampai lupa menanyakan alasan Ince ke rumah sakit.
Sampai di parkiran rumah sakit, Ince langsung turun dan bergegas masuk. Darmawan segera mengikuti langkah Ince. Sampai akhirnya langkah Ince berhenti di depan salah satu ruang perawatan.
"Menik! seru Ince dan berlari memeluk Menik.
Mendapat pelukkan tiba-tiba dari Ince, membuat Menik sedikit meringis karena Ince menyenggol jarum infusnya.
"Sakit, Ce," erang Menik sedikit kesakitan.
Cepat-cepat Ince melepas pelukannya.
"Maaf," ujarnya sambil nyengir tak berdosa.
Darmawan menghentikan langkahnya saat tahu penyebab Ince kalang kabut ingin segera ke rumah sakit. Dia sengaja menunggu di depan pintu ruang perawatan Menik.
"Mau ketemu siapa?" tanya mbah Kasdi yang melihat Darmawan berdiri di depan pintu.
"Ehm ... saya mengantar teman, Mbah," jawabnya sopan.
"Oh. Mbah kira kamu temannya Menik."
"Saya juga teman Menik, Mbah."
"Kenapa tidak masuk saja. Ayo, kita masuk," Ucap mbah Kasdi kepada Darmawan.
"Saya tunggu di sini saja, Mbah," tolak Darmawan sopan.
Semula mbah Kasdi ingin masuk ke dalam ruang perawatan Menik, tapi beliau mengurungkan niatnya karena melihat Ince berada di dalam. Beliau memutuskan untuk menemani Darmawan di luar.
Tap ... tap ... terdengar langkah kaki mendekat ke ruang perawatan Menik.
"Kenapa Bapak di luar?" tanya pak Broto pada mbah Kasdi.
"Bapak menemani anak muda ini," ujar mbah Kasdi sembari menunjuk ke arah Darmawan.
Pak Broto sekilas mengingat wajah Darmawan yang beberapa waktu lalu pernah mengantar Menik pulang.
"Selamat pagi, Om," sapa Darmawan dan menyalimi pak Broto.
"Pagi juga. Ehm ... kalau tidak salah kamu temannya Menik yang pernah mengantarnya pulang."
__ADS_1
"Iya, Om. Ternyata Om masih ingat dengan saya," ucap Darmawan sambil tersenyum. Bahagia terselip dalam senyum Darmawan saat mendengar pak Broto masih mengingatnya.
Seperti halnya mbah Kasdi yang mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruang perawatan Menik, Pak Broto juga mengurungkan niatannya untuk masuk. Apalagi melihat keberadaan Ince di sana. Karena tidak jadi masuk ke dalam, Pak Broto ikut bergabung dengan mbah Kasdi dan Darmawan di luar.
Obrolan tiga laki-laki beda generasi itu terlhat seru. Terkadang terdengar suara tawa ketiganya. Hati Darmawan semakin penuh bunga bermekaran, karena mendapat sambutan hangat dari mbah Kasdi dan pak Broto.
Ternyata ayah Menik tidak seseram waktu pertama kali bertemu, batin Darmawan.
Jika di luar ruang rawat Menik terjadi perbincangan menarik antara tiga generasi, di dalam terdengar Ince beberapa kali memaksa Menik untuk makan.
"Ayolah, Nik. Kamu makan buburnya, Meski sedikit. Sini aku suapin," bujuk Ince.
"Ntar saja Ce, masih sedikit mual," tolak Menik.
"Nik, jujur padaku. Kamu mikirin apa sampai asam lambungmu kumat. Sudah lama kamu tidak seperti ini," tanya Ince menyelidik.
"Nggak mikir apa-apa, Ce. Mungkin karena kemarin aku kehujanan dan telat makan. Jadinya kumat dech," jawab Menik. Dia belum siap menceritakan mengenai masalah yang dihadapinya saat ini.
"Terus ini bekas apa?" tanya Ince menyelidik sambil menunjuk ke pipi Menik.
"Kejedot pinggiran pintu, Ce," ucap Menik berbohong.
Apa yang kamu sembunyikan dari ku, Nik. Seberat apa masalahmu hingga kamu tak mau membaginya denganku, batin Ince.
Menik melirik ke arah Ince yang tiba-tiba terdiam saat mendengar jawaban tak masuk akal darinya. Mana ada belas kejedot pintu bisa selabar itu.
Maafkan aku Ce. Aku belum siap membagi kisahku denganmu. Tunggu semua selesai baru aku ceritakan. Aku takut kamu seperti mbak Darmi, akan melabrak mas Agus, batin Menik.
Suasana yang tadinya sedikit ramai seketika berubah hening. Ince dan Menik larut dalam pikirannya masing-masing.
"Lho ... kenapa dua burung prenjak ayah pada diam," seru Pak Broto memecah keheningan.
"Ayah," ucap Ince dan menyalami pak Broto.
"Kalian sudah sarapan?"
"Ince belum, Yah. Tadi mau sarapan di kantin kampus. Tapi nggak sempat, karena langsung ke sini begitu mendengar Menik sakit."
"Sebentar ayah, telepon simbah dulu. Biar sekalian di belikan. Kebetulan simbah ke kantin bersama temanmu."
Mendengar kata teman, Ince langsung teringat pada Darmawan yang mengantarnya ke rumah sakit.
"Aduh!" teriak Ince dan menepuk keningnya.
"Kenapa, Ce!" tanya Menik.
"Temanmu di kantin sama simbah," seru pak Broto kepada Ince.
"He ... he, untung ada simbah yang jagain Darmawan."
"Emangnya simbahku penjaga anak," seloroh Menik yang disambut tawa Ince dan pak Broto.
Tak berselang lama, mbah Kasdi dan Darmawan masuk ke ruang perawatan Menik.
"Nik," sapanya.
Menik tersenyum dan mengangguk menjawab sapaan Darmawan. Setelah berbincang sebentar Ince dan Darmawan pamit pulang.
"Cepat sembuh, Nik. Aku siap mendengar ceritamu kapan pun," bisik Ince sambil memeluk Menik.
"Iya," jawab Menik lirih.
Setelah kepergian Ince, Pak Broto mendekati Menik.
"Nduk, mau cerita sama ayah?"
Menik menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kasar.
"Maaf," ucap Menik lirih.
"Tidak usah minta maaf, Nduk. Kamu tidak salah. Di sini ayah yang salah."
Menik menggeleng kuat-kuat, sambil berkata, "Menik yang salah ayah, bukan Ayah. Menik membuat malu Ayah."
Air mata Menik mulai menetes, membuat pak Broto semakin merasa bersalah. Diusapnya air mata menik dengan tisue. Malihat anak dan cucunya saling meminta maaf, Mbah Kasdi berinisiatif mendekati anak dan cucunya.
"Sudah-sudah, sekarang bukan saatnya mengakui siapa yang bersalah. Kita harus bisa menemukan solusi dari masalah yang Menik hadapi sekarang," tutur mbah Kasdi bijak.
"Sekarang Menik cerita sama ayah, semua yang terjadi. Biar ayah yang akan menyelesaikannya," ujar pak Broto.
Menik menceritakan semua yang telah terjadi dari awal sampai akhir, tanpa terlewat. Terlihat tangan pak Broto mengepal kencang, saat mendengar Menik ditampar Agus.
Kecewa dan marah menguasai hati pak Broto saat ini. Rasanya ingin segera membalaskan tamparan Menik pada Agus.
__ADS_1
Bocah kurang ajar! Aku saja tidak pernah menyentuh putriku sekasar itu! batin pak Broto
"Ayah keluar sebentar. Biar simbah yang menjagamu."
Pak Broto keluar menuju taman yang berada di rumah sakit tersebut. Beliau menekan nomor pak Dewa, mantan besannya.
"Assalamualaikum," ucap pak Broto saat panggilannya tersambung.
"Waalaikumsalam," jawab pak Dewa di seberang sana.
Saat mengetahui pak Broto menghubunginya, pak Dewa sudah menerka jika pak Broto kecewa dengan Agus.
"Pak Dewa, sebelumnua saya minta maaf karena menghubungi Bapak. Hanya saja, saya tidak terima atas perlakuan putra Bapak terhadap putri saya. Jadi saya akan menuntutnya setelah proses perceraian selesai. Kalau bisa besok, surat cerai sudah berada di tangan saya. Tidak peduli bagaimana caranya," tutur pak Broto panjang lebar.
"Sa—"
Tut ... tut ... panggilan terputus. Ucapan pak Dewa terjeda.
Emosi pak Broto semakin menjadi. Beliau menelepon sepupunya mendiang Asih, yaitu Pandu.
"Assalamuaikum Pandu, ini aku Broto," ujar pak Broto.
"Waalaikumsalam Mas, tumben nelepon ada angin apa ini."
"Maaf, Pandu. Kali ini aku tidak bisa basa basi. Aku akan menyampaikan maksudku meneleponmu."
"Kenapa Mas, ada yang bisa aku bantu?"
"Aku minta tolong, kamu goyang perusahaan Hadi Wijaya," sarkas Pak Broto.
"Kenapa lagi Mas. Dia buat salah apa lagi sama Mas Broto. Kalau dulu aku tahu, karena kalian rebutan Asih. Sekarang apa lagi yang membuatmu murka," ucap Pandu penasaran. Karena tidak biasanya pak Broto bersikap seperti itu.
"Kali ini kamu jangan banyak tanya dulu. Cepat kamu lakukan saja permintaanku," titah pak Broto.
Meski bingung, Pandu terpaksa menyetujui permintaan Pak Broto.
"Maaf kan aku, Hadi. Kali ini aku akan kembali bermain-main dengan perusahaanmu. Tak mungkin mas Broto meminta bantuanku, kalau kamu tidak mengusiknya," gumam Pandu.
"Ayah."
Pandu menoleh ke arah Nimas yang ternyata berada di belakangmya.
"Kamu ini, membuat ayah kaget saja."
"He ... he ... maaf Yah. Ehm, maaf Yah. Apa tadi yang menelepon Ayah adalah pakde Broto?"
"Iya," jawab Pandu singkat.
"Nimas mohon, Ayah kabulkan permintaan pakde Broto. Tapi Nimas nggak mau cerita tentang alasan pakde meminta bantuan sama Ayah. Biar pakde sendiri yang menceritakannya nanti."
"Tumben kamu dukung pakde mu."
"Kali ini Nimas, mendukung pakde Broto, demi Menik."
Di pinggir kolam ikan, pak Dewa merenung memikirkan jalan keluar mengenai masalah perceraian Agus dan Menik.
"Dasar Broto gendeng. Mana bisa besok surat cerai jadi," gumam pak Dewa.
Melihat suaminya gelisah, bu Islah menghampirinya, dan bertanya, "Ada masalah apa, Yah? Ibu lihat, Ayah begitu gelisah."
"Tanya sama anakmu yang selalu kamu bela," sinis pak Dewa tanpa memandang bu Islah.
Ucapan sinis pak Dewa, membuat bu Islah menunduk dan tak bisa berucap.
"Maaf," ucap bu Islah hampir tak terdengar.
"Kata maaf tidak akan menyelesaikan masalah yang diperbuat anakmu. Kalau aku jadi Broto, pasti akan aku hajar anak kesayanganmu itu. Sudah aku katakan, sampaikan ke Broto dulu kalau dia mau ke pengadilan. Ternyata anakmu mental arum manis. Kelihatannya gembung ternyata kopong didalamnya. Sekali pukul penyet," seru pak Dewa penuh emosi.
"Tapi Ayah. Ini bukan murni kesalahan Agus saja. Menik juga selingkuh dengan Soni,"tutur bu Islah membela Agus.
"Ooh ... jadi kamu tetap membela anakmu? Lanjutkan saja. Aku lepas tangan masalah ini. Kamu hadapi berdua dengan anakmu," tegas pak Dewa dan langsung pergi dengan mobil.
Bu Islah diam terduduk di pinggir kolam. Air matanya terus menetes. Beliau terkejut dengan sikap pak Dewa hari ini. Sepanjang pernikahannya, baru kali ini pak Dewa menggunakan kata aku dan kamu.
"Ibu, kenapa?" tanya Astuti dan mendekati bu Islah.
"Ayahmu, As," ucap bu Islah sembari terisak.
"Ayah kenapa, Bu?"
"Ayahmu."
"Iya, Ayah kenapa?"
__ADS_1
"Ayahmu, pergi."
"Apa!"