
"Woi! Teman gadis halu!" teriak Lina.
Dua kali Lina memanggil Menik dengan sebutan teman gadis halu, dia tidak meresponnya. Menik santai mendudukkan bokongnya ke kursi.
Merasa panggilanya diabaikan Menik, Lina murka dan mendekat ke arah Menik dengan membawa segelas jus tomat. Mengendap-endap Luna melangkah, tangannya yang menggenggam jus tomat sudah dia ulurkan tepat ke atas kepala Menik.
Belum sempat Lina menuangkannya, terdengar sebuah teriakan.
"Woi! Berani kamu sentuh temanku, tamat riwayatmu!" teriak Ince.
Teriakan Ince menarik atensi pengunjung kantin, dan mulai menyoraki Lina. Bukannya malu, tingkah Lina malah semakin menjadi. Dia mengikis jarak dengan Ince.
Prok ... Prok
"Akhirnya muncul juga kamu, beraninya hanya lempar botol dan kabur. Sini hadapi aku! Akan aku buat wajahmu rusak!" seru Lina dengan emosi.
Terlihat Lina mengambil botol yang berisi cairan berwarna sedikit kemerahan. Dia membuka tutu botol itu dan akan menyiramkan ke arah Ince. Ketika Lina mulai menyiramkannya tiba-tiba tangannya malah berbelok arah menyiram ke arah mukanya sendiri.
"Panas! Panas!" teriak Lina sambik mengucek matanya yang terasa pedih.
Melihat kekasihnya berteriak kepanasan, Ghani bukannya menolong malah, diam-diam pergi dari kantin. Dia malu dengan sikap Lina yang mencari masalah di tempat umum.
Merasa kasihan pada Lina, Ince dan Menik menolongnya. Ince mengambil satu ember air, dan membawakan sabun yang dipinjam dari yu Sri.
Wajah Lina terlihat memerah, akibat cairan yang berisi blenderan cabe lima puluh biji. Meski sudah dibasuh dengan sabun dan air bersih, rasa panas yang ditimbulkan dari cairan itu masih terasa.
Sambil menyipit mata Lina mencari sosok Ghani, tapi tak menemukannya. Tanpa permisi dan mengucapkan terima kasih, Lina langsung pergi meninggalkan kantin.
"Dasar nggak jelas, sudah ditolong. Eh malah kabur tanpa bilang makasih," gerutu Ince.
"Biarkan saja, Ce. Ayo lanjut makan, keburu dingin."
Mata Ince diam-diam mengamati jari Menik yang sekarang kembali polos seperti dulu.
Apakah firasatku benar mengenai pernikahan Menik, batin Ince.
"Kamu kenapa? Tiba-tiba geleng-geleng sendiri?" ucap Menik saat melihat Ince yang tiba-tiba menggelengkan kepala.
"Aku? Salah lihat kamu Nik," elak Ince.
__ADS_1
"Mungkin ..." jawab Menik dan melanjutkan suapan terakhir makanannya.
Usai menyelesaikan semua urusan di kampus Menik pamit kepada Ince untuk pulang duluan. Bahkan Menik menolak ajakan Ince untuk mampir ke kos nya. Menik belum siap jika Ince menanyakan mengenai pernikahannya.
Sampai di kos, Menik langsung masuk ke dalam kamar. Tidak seperti sebelumnya, biasanya dia ikut bergabung dengan penghuni kos lainnya. Tekad Menik sudah bulat. Dua bulan lagi, dia sudah harus sidang.
***
Rumah Agus mulai terlihat ramai dengan kedatangan keluarga besarnya. Undangan berwarna keemasan telah tersusun rapi berdasarkan rute pengantaran. Senyum terus menghiasai bibir bu Islah, yang sibuk memberikan komando untuk menghias seserahan yang akan di bawa untuk pernikahan Agus dan Wiwid.
Sekitar lima puluh seserahan telah dihias dengan elegan. Bu Islah tidak sembarangan dalam memilih barang seserahan kali ini. Semua serba bermerk, tidak seperti saat pernikahan Menik. Bu Islah hanya membawa beberapa barang saja, karena Menik tidak meminta macam-macam.
Jika bu Islah nampak antusias menyiapkan pernikahan Agus, berbeda dengan pak Dewa dan Astuti. Keduanya terkesan cuek dengan semua kehebohan bu Islah. Bahkan Astuti sudah bersiap tidak akan datang di pernikahan Agus kali ini. Pak Dewa sebenarnya ingin mengikuti rencana Astuti. Namun, beliau mengurungkannya, karena memikirkan dampak dari ketidakhadirannya.
Teng ... Teng ...
Mendengar bunyi gembok yang dibenturkan pada pagar besi, Sri segera berlari keluar.
"Permisi Bu. Saya mengamtarkan undangan kepada Pak Broto, dari Pak Dewa," ucap Kurir menyampaikan tujuannya.
"Oh, iya Mas. Nanti saya sampaikan pada suami saya."
Kurir segera pamit saat undangan diterima Sri. Dengan penasaran Sri membaca nama mempelai yang terlihat di bagian sampul undangan.
Sambil berjalan menuju ruang kerja Pak Broto, Sri masih teringat dengan nama mempelai pengantin. Rasa kepo Sri semakin membuncah saat menyadari nama mempelai laki-laki adalah menantunya.
Nama pengantin laki-lakinya mirip dengan nama menantuku. Kalau benar, berarti nasib Menik? batin Sri.
Sebelum masuk ruang kerja pak Broto, Sri mengetuk pintu dahulu. Di baru masuk ketika pak Broto mengizinkannya.
"Papi, ini ada undangan dari besan kita. Anaknya yang bernama Agus akan menikah minggu depan. Ehm ... Pi, memang ada berapa anak Pak Dewa yang namanya Agus?"
Pak Broto menarik napas panjang dan membuangnya dengan sedikit kasar, kemudian berkata, "Setahu ayah, cuma satu."
"Kalau hanya satu, berarti yang menikah besok itu ..."
"Iya, Agus yang pernah Mami temui."
"Jadi maksud Papi, Menik dimadu? Dan bukankah seharusnya tanggal tersebut, rencananya Menik dan Agus akan mengadakan resepsi?" ujar Sri penuh keheranan.
__ADS_1
"Mami lihat saja nanti, dan jangan membahas undangan ini dengan geng yang Mami buat bersama budhe Poni, dan bu Subangun."
Gawat, suamiku tahu kalau aku membuat geng nyinyir, batin Sri.
"Kenapa diam, Mi? Berarti benar yang Ayah duga selama ini."
"Bu—bu—bukan begitu Papi. Mami diam karena memikirkan nasib Menik," elak Sri.
"Ayah lihat saja nanti, Mi. Kalau orang lain tahu apa yang terjadi di dalam rumah ini. Berarti ada yang membocorkannya."
"Papi selalu saja suuzan sama Mami," ujar Sri merajuk, lalu keluar dari ruang kerja pak Broto.
Sri menuju ke kamarnya dengan masih ngedumel mengingat peringatan yang pak Broto ucapkan.
Tring ... satu pesan masuk di ponsel Menik dari nomor tak dikenal.
"Ehm ... dia lagi. Kali ini apa yang dia kirimkan untukku," ucap Menik saat menyadari bahwa nomor inilah yang dulu mengirimkan video Agus melamar seorang gadis yang membelakangi kamera. Sehingga tidak bisa melihat wajah gadis itu.
Menik mulai menekan tombol download, dan mulai terpampanglah undangan digital pernikahan Agus dan Wiwid.
Ponsel yang dipegang Menik terlepas dari genggamannya, tangisnya pecah. Meski sudah berusaha untuk tegar. Nyatanya dia masih tak sanggup menerima kenyataan Agus menikah dengan Wiwid.
Haruskah aku berangkat menghadirinya, batin Menik.
Tring ... pesan kembali masuk ke ponsel Menik. Kali ini dari pak Broto.
Ayah: Tegar dan sabar, Nduk. Semua akan indah pada waktunya. Rencana Allah lebih indah dari pada rencana manusia. Ada ayah yang akan menjagamu. Tetaplah tersenyum meski lukamu masih basah.
Air mata Menik semakin deras seperti aliran sungai setelah membaca pesan Ayahnya. Seandainya saja Pak Broto sadar, jika Menik menikah agar bisa menjauh dari pernikahan pak Broto dan Sri. Sudah bisa dipastikan beliau akan lebih merasa bersalah.
Meski menangis Menik tetap membalas pesan ayahnya.
Menik: Insya Allah, Ayah. Menik akan tetap tegar karena doa dari Ayah selalu menemani Menik sepanjang waktu.
Tidak hanya Menik yang mendapatkan undangan digital. Teman satu angkatan dan satu tempat magang juga mendapat kiriman undangan tersebut. Tak terkecuali Soni juga telah membaca undangan tersebut di grup.
Soni terlihat mondar mandir di dalam kamarnya. Rasa sesal telah mengabaikan Menik selama beberapa waktu, menyesak di dalam dadanya.
Bu Wagiyem yang melintas di samping kamar Soni, merasa penasaran dengan tingkah Soni. Beliau pun masuk ke kamar Soni untuk menanyakan alasannya mondar-mandir di kamar.
__ADS_1
"Kamu ngapain Le?" seru bu Wagiyem yang ternyata mengagetkan Soni.
"Astaghfirullah, Ibu ngangetin, Soni."