
Menik memandangi benda yang sudah berpindah dari sudut kamar ke tangannya. Perlahan Menik mendekati Agus yang sepertinya masih terlelap.
Bismillah, semoga dengan ini aku bisa membangunkan mas Agus, batin Menik.
Perlahan Menik meangsurkan benda yang berada dalam genggamannya. Namun tiba-tiba, Agus membalikkan badannya dan menangkap tongkat pengganti lampu.
"Hayo! Mau ngapain?" ucap Agus sembari menarik tongkat yang berada dalam genggaman Menik. Alhasil Menik terjerembab, jatuh tepat di samping Agus.
Seketika pipinya merona, menahan malu. Tak ingin melepaskan kesempatan itu, Agus menarik Menik dalam pelukannya.
Deg .... deg ... deg ...
Jantung keduanya berdegub kencang. Menik berusaha melepaskan diri dari pelukan Agus. Namun Agus malah semakin mengeratkannya. Tangan kanannya terulur membelai pucuk kepala Menik yang tertutupi hijab. Tangan itu semakin turun belaiannya. Tanpa Menik sadari tangan Agus melepas ikatan jilbab instantnya.
Saat tangan Agus hendak menarik lepas hijab Menik, terdengar suara yang mengejutkan mereka.
"Ehm ...ehm ..."
Keduanya refleks menjauhkan diri. Mbah Minto terkekeh karena bisa menggagalkan moment romantis pengantin baru.
"Simbah." ucap Menik sembari membenarkan letak jilbabnya. Untung saja mereka belum kebablasan melakukan ritual pengantin baru. Jika sampai ketahuan, mau ditaruh di mana muka mereka.
"Nduk, simbah pamit ya. Lain kali tutup dan kunci pintunya biar tidak ada yang mengganggu ritual kalian." goda mbah Minto.
"Nggih mbah." refleks Agus mengiyakan perkataan mbah Minto.
Menik yang mendengarnya langsung menatap tajam ke arah Agus. Sedangkan yang ditatap malah senyum-senyum nggak jelas.
Menik keluar dari kamar di mana Agus tidur. "Sepi? Pada ke mana semua?" gumamnya.
Menik berjalan ke arah lemari es, saat akan membuka pintu lemari es tersebut, Menik melihat pesan yang ditinggalkan Sri. Tertulis bahwa pak Broto dan Sri pergi ke rumah pakde Harjo mengantar simbah, sekaligus bantu-bantu untuk pernikahan mas Jaka besok.
Usai membaca pesan Sri, dia mengambil air minerl dingin dan segera meneguknya hingga tandas. "Alhamdulillah, " ujarnya saat air dingin berhasil melewati rongga-rongga leher tanpa ketahuan Sri Suketi. Kalau ketahun bahaya. Bisa disindir tujuh tikungan.
***
Hiruk pikuk orang di rumah pakde Harjo guna mempersiapkan seserahan apa saja yang mau dibawa saat melamar.
Mbah Minto sudah siap dengan aneka ragam sesaji yang sudah di tata sedemikian rupa di atas meja. Setelah sesajen itu dirasa komplit oleh mbah Minto, beliau segara merapalkan doa agar pernikahan mas Jaka dan mbak Wulan berjalan lancar.
Jaka yang melihat bulik-nya merapalkan doa dan beberapa mantra yang diyakini bisa membuat acara itu lancar.
__ADS_1
Sebenarnya Jaka tjdak setuju apabila ada sesajen di acara pernikahannya. Tapi mau dikata apalagi, jika sebagian besar sesepuh keluarga itu setuju dengan apa yang dilakukan mbah Minto.
"Jaka, sini dulu." panggil mbah Minto
"Iya bulik. Ada apa?" tanyanya kepada mbah Minto .
Terlihat mbah mulai mengoles-ngoleskan kembang setaman yang tadinya dipakai untuk ritual. Jaka hanya bisa diam dan menuruti apa yang dilakukan buliknya.
***
Sementara itu di kediaman pak Broto tampak sepasang pengantin baru sedang menikmati makan malam berdua saja. Karena pak Broto dan istrinya memilih menginap di rumah pakde Harjo dengan alasan malas bolak balik.
Keduanya masih terlihat canggung. Keduanya terdiam menikmati nasi becek sisa acara tadi.
"Mas, mau nambah?" tanya Menik kepada Agus yang piringnya terlihat sudah kosong.
"Nggak usah Nik."
"Oh ... oke."
Malam semakin merayap, Menik telah memposisikan tidurnya. Matanya menyapu sekeliling nya dan, lagi-lagi tak mendapati bayangan suaminya.
Sebenarnya Menik ingin mengajak Agus masuk ke kamarnya. Namun ia urungkan lagi. Menik takut tak bisa menahan diri.
Ceklek ... suara pintu tak juga membangunkan pemilik kamar. Menik tertidur dengan menggunakan kaos dan celana pendek. Selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap, menyuguhkan pemandangan epik untuk Agus.
"Astaqfirrullah. Cobaan apa lagi ini?" gumamnya. Perlahan Agus mengikis jarak dengan Menik. Tangannya terulur untuk membenahi selimut Menik.
***
Pagi menyapa, Menik menggeliat, seketika dia membuka matanya lebar mendapati sebuah tangan memeluknya posesif. Untung saja meski terkejut, Menik masih bisa menahan diri untuk tidak berteriak.
Perlahan disingkirkannya tangan Agus. Tapi misi Menik gagal dalam misi melepaskan pelukkan suaminya. Semakin Menik berusaha memindahkan tangan itu semakin kuat pula Agus menahannya.
Agus yang merasakan Menik tak ada upaya lagi untuk terlepas dari pelukkannya, tiba-tiba dia membalikkan tubuh Menik di bawah tubuhnya.
Perlahan namun pasti Agus mendekatkan wajahnya ke arah Menik. Agus bermaksud mencium Menik. Menik yang melihat gelagat Agus segera memiringkan kepalanya agar terhindar dari serangan Agus.
Sekali dua kali Menik bisa menghindar. Namun setelah beberpa kali berusaha, akhirnya Agus berhasil mencium kening Menik.
Menik bergeming saat merasakan benda kenyal menyentuh keningnya. Jantungnya berdegub kencang. Sudah dua kali Agus mencium keningnya, dan keduanya menimbulkan perasaan aneh di dadanya.
__ADS_1
Ting tong ... Assalamualaikum
Terdengar bunyi bel pintu rumah, yang menarik Menik ke alam sadarnya. Seketika di tendangnya badan Agus yang berada di atas Menik, Agus terjungkal ke bawah. Dia pun mendengus kesal. Misinya gagal lagi.
"Maaf mas, nggak sengaja." ucap Menik dan berlalu meninggalkan Agus. Di buka perlahan tirai jendela ruang tamu.
"Oalah budhe Poni ternyata."
Menik segera membukakan pintu untuk wanita tua itu.
"Nduk Menik, mami mu ada?" tanya budhe Poni.
" Ayah sama mami sudah dari kemarin nginap di rumah pakde Harjo.
Mendengar kalau pak Broto dan istrinya menginap di rumah pakde Harjo, budhe Poniyem langsung tersenyum penuh arti sembari menatap Menik dengan waspada.
"Suamimu mana Nduk?"
"Lagi mandi budhe." ucapnya menanggapi pertanyaan budhe Poni.
"Pagi-pagi sudah mandi, jangan-jamgan keramas pula. Semalam berapa ronde nduk?"
"Yang berapa ronde apanya budhe?" polos Menik bertanya.
"Tidurnya lah, yang berapa ronde masak tinjunya." selorohnya.
"Budhe ini omes. Menik tertidur dari selesai isya sampai subuh."
"Ya wes Nik, budhe pamit dulu."
"Iya budhe."
Agus menguping pembicaraan Menik dan budhe Poni segera berlari masuk kamar, pura-pura barusan ke luar kamar mandi.
Aman, untung nggak ketahuan Menik kalau aku menguping. Dan ternyata istriku ini masih polos, batinnya.
Menik melenggang masuk ke kamarnya. Mengambil handuk dan segera masuk kamar mandi. Selesai mandi, Menik memeriksa perlengkapan yang dia bawa saat mandi.
"Waduh, lupa nggak bawa baju ganti."
Dengan terpaksa Menik keluar kamar mandi hanya berbalut handuk. Dia tidak menyadari kalau Agus tengah menatapnya tanpa berkedip.
__ADS_1
Perlahan Menik melepas handuknya. Terpampang nyata kemolekan tubuh Menik di mata Agus membuat sesuatu di bawah sana terbangun.