Adhisti

Adhisti
Bab 74


__ADS_3

"Katakan sekarang apa mau mu, Gus!" ucap pak Dewa tegas.


Agus terdiam memikirkan apa yang akan dikatakannya kepada pak Dewa. Diambilnya ponsel yang ada di genggamannya. Agus membuka grup kampusnya. Diklik foto Soni dan Menik.


"Ayah bisa melihatnya mengapa sampai Agus menjatuhkan talak tiga terhadap Menik," ucap Agus sembari mengangsurkan ponselnya kepada Pak Dewa.


Pak Dewa melihat foto yang menampakan Soni dan Menik di sebuah hotel. Beliau tersenyum dan mengangsurkan kembali ponsel kepada Agus.


"Jadi ini yang menjadikan alasanmu menalak Menik," ketus pak Dewa.


"Benar Ayah. Harga diri Agus terinjak-injak melihat Menik dengan laki-laki lain. Baru beberapa jam Agus talak, dia sudah check in dengan laki-laki lain," ucap Agus dengan emosi.


"Hanya itu?" tanya Pak Dewa dengan senyum mengejek.


"Masih banyak lagi Ayah. Salah satunya Menik sampai detik ini belum mau Agus sentuh."


"Bukankah kemarin kamu sudah menyetujui syarat yang diberikan Pak Broto dan ayah. Agar kamu tidak menyentuh Menik sebelum kalian lulus. Mengapa kamu mempermasalahkannya sekarang."


"Ayah ... Agus rasa itu hanya kedok untuk menutupi Menik yang telah ternoda oleh Soni," ucap Agus lantang.


Plak ... tamparan pak Dewa mendarat mulus di pipi Agus. Pak Dewa geram dengan tuduhan Agus yang merendahkan Menik. Kepala Agus sampai miring terkena tamparan pak Dewa. Bu Islah berlari memeluk Agus, ketika pak Dewa akan menampar Agus kembali.


"Sudah Yah. Jangan sakiti anakku," ucap bu Islah dengan suara bergetar.


Pak Dewa membuang napas kasar melihat bu Islah yang masih membela Agus. Padahal sudah tahu Agus salah.


"Besok kamu urus perceraianmu ke pengadilan. Ayah tidak mau tahu, dalam bulan ini Menik sudah harus resmi berpisah denanmu. Kalau kamu tak bisa mengurusnya, biar ayah yang urus. Seperti janji ayah dulu," tegas Pak Dewa dan beranjak meninggalkan ruang keluarga.


Hati Pak Dewa perih bagai tertikam ribuan pisau. Dadanya nyeri, napas beliau sesak.


Pyar ... suara gelas pecah berasal dari dapur, membuat Astuti berlari.


"Ayah!" teiak Astuti.


Dia segera berlari dan memapah pak Dewa menuju kamar dan memberikan oksigen.


"Ayah ... istighfar Ayah. Tidak usah pikirkan Agus. Biar Astuti yang menanganinya," seru Astuti dengan panik.


Mendengar teriakan Astuti, Agus dan bu Islah segera berlari ke arah dapur. Pecahan gelas kaca bertebaran di lantai dapur. Agus dan bu Islah saling pandang. Keduanya segera berlari ke kamar.


Terlihat Pak Dewa terbaring lemah dengan selang oksigen yang telah terpasang dengan ditemani Astuti. Melihat Agus masuk ke kamar dengan muka tak bersalah, membuat Astuti semakin geram.


"Keluar Kamu! Puas lihat Ayah sakit!" seru Astuti dengan lantang.


Pak Dewa mengelus tangan Astuti, memberinya isyarat untuk tidak bertengkar dengan Agus. Astuti memilih untuk keluar dari kamar pak Dewa. Karena setiap melihat wajah Agus, Astuti langsung emosi.


Setelah Astuti keluar kamar, Agus juga meninggalkan kamar pak Dewa. Dia menuju kamarnya. Agus termenung memandang foto pernikahannya yang tergantung di dinding kamarnya.


Flashback on


Terdengar ketukan di pintu kamar Agus saat dia tengah video call dengan Menik. Dia terkejut saat membuka pintu, ternyata Andi yang mengetuk kamarnya


Dipersilakan Andi duduk di dalam asrama Agus. Setelah duduk Andi menyampaikan maksud kedatangannya. Dia kembali mrnagih jawaban Agus tentang tawarannya.


Semuka Agus menolak dengan keras. Namun, setelah Andi mengancam akan membuat daftar hitam untuk Agus. Agar Agus tidak bisa bekerja sesuai keahliannya. Akhirnya Agus menyetujuinya.


Flashback off


"Seandainya, aku tak menerima tawaran itu, pasti kamu masih bersamamu, Nik. Tapi ternyata kamu membohongiku. Kamu selingkuh dariku," gumam Agus.


Agus masih terus menyalahkan Menik. Dia yakin jika Menik membohonginya. Menggunakan alasan janji Agus, agar Agus tidak menyentuhnya.Tanpa sadar Agus mengirim pesan berisi sumpah serapah kepada Menik.


Lelah dengan kemarahannya Agus terlelap. Hari ini merupakan hari melelahkan bagi Agus.

__ADS_1


***


Lepas isya Menik dan Soni sampai di rumah bu Wagiyem. Mobil telah terparkir sempurna di dalam garasi. Saat akan turun, Soni melirik Menik yang tertidur. Soni tidak tega membangunkan Menik.


Dia akhirnya menggendong Menik untuk di bawa masuk ke dalam rumahnya.


Tok ... tok ...


Soni mengetuk pintu sambil mengendong Menik.


Ceklek


Pintu dibuka dari dalam oleh bu Wagiyem. Beliau terkejut melihat Soni menggendong seorang gadis.


"Mengapa kamu menggendongnya Le?" bisik bu Islah, takut membangunkan Menik.


"Nanti Soni jelaskan, Bu. Biarkan Soni membawanya ke kamar," ucap Soni dan beranjak menuju kamarnya.


Nuansa abu-abu terlihat saat Soni membuka kamarnya. Dibaringkan Menik di kasurnya dan di selimuti. Sebenarnya Soni ingin membuka hijab Menik. Namun, dia urungkan niatnya.


Bu Wagiyem mengekori Soni hingga ke dalam kamar. Beliau menuntut penjelasan dari anak bujanhnya itu.


Keduanya keluar kamar, agar lebih leluasa beebicara dan tidak mengganggu tidur Menik. Soni sengaja membiarkan Menik tidur untuk melupaka sejenak rasa sakitnya.


"Siapa dia, Le?" tanya bu Wagiyem menuntut penjelasan.


"Ibu lupa? Dia Menik, Bu. Adik kelasku dulu yang sering aku ajak main ke rumah," papar Soni.


"Ibu pangling Le. Meski wajahnya tak begitu banyak berubah, masih seperti dulu. Terus mengapa kamu membawanya pulang ke sini? Tidak enak jika dilihat tetangga," tutur bu Wagiyem.


"Ceritanya panjang Bu. Soni harap Ibu mau menerimanya di rumah ini," ucap Soni memohon.


"Ibu, tidak keberatan jika dia mau tinggal di sini. Tapi apa nanti kata orang? Ada anak gadis tidur di rumah ini."


"Gimana Le? Sudah ada alasan yang akan kau sampaikan ke tetangga?"


"Nanti Soni pikirkan alasannya, Bu. Hari ini sungguh melelahkan. Soni istirahat dulu," ujar Soni dan beranjak menuju ke kamarnya.


Bu Wagiyem berdiri dan menghalangi Soni untuk masuk ke kamarnya.


"Eits ... kalian tidak boleh tidur bersama. Kamu tidur di kamar sebelah. Kebetulan Febri sudah ibu suruh pulang. Capek ibu menghadapinya."


"Febri pulang sama siapa?"


"Dijemput sama tantemu," jelas bu Wagiyem.


Soni memanfaatkan kelengahan bu Wagiyem untuk masuk ke kamarnya. Mengetahui Soni berhasil melewari barikadenya, bu Wagiyem segera mengejar Soni.


"Sudah ibu katakan, kalian belum boleh tidur dalam satu kamar!" tegas bu Wagiyem.


"Lhah, kemarin katanya minta cucu dari Soni. Ini baru mau Soni buatkan, eh malah Ibu suruh keluar kamar. Kapan jadinya," gurau Soni.


"Dasar bocah gendeng. Maksud ibu, kamu nikah dulu. Baru kamu berikan ibu cucu."


Soni tersenyum berhasil membuat ibu nya merajuk. Dia mengambil baju ganti dari lemarinya, dan keluar menuju kamar di sebelahmya. Sebelum keluar, Soni meminta bu Wagiyem untuk melepas hijab Menik. Agar tidur Menik lebih nyaman.


Hijab Menik dilepas bu Wagiyem dengan perlahan, takut Menik terganggu. Netra sepuh bu Wagiyem menatap mata Menik yang bengkak. Dengan penuh kasih sayang, dibelainya rambut Menik sambil berkata, "Kenapa matamu bengkak, Nduk. Peristiwa apa yang menimpamu, hingga membuatmu menangis."


Alam bawah sadar Menik menangkap belaian di rambutnya. Hal yang sama dilakukan mendiang bu Asih, jika Menik bersedih. Sehingga Menik berbicara dalam tidurnya.


"Ibu, Menik kangen. Peluk Menik Ibu," igau Menik sambil memeluk bu Wagiyem.


Bu Wagiyem membalas pelukan Menik. Beliau bisa merasakan sedih yang dialami oleh Menik.

__ADS_1


"Tidurlah, Nduk. Ibu akan menjagamu," ucap Bu Wagiyem dengan masih membelai rambut Menik.


Menik semakin membenamkan kepalanya di dada bu Wagiyem. Pelukkannya semakin mengerat, seakan-akan dia memeluk mendiang bu Asih.


"Ibu ... Menik ikut ibu. Menik tidak mau hidup lagi," ucap Menik kembali.


Mendengar Menik kembali mengigau, bu Wagiyem terbangun. Beliau terkejut saat merasakan tubuh Menik panas. Diambilnya termometer yang tersedia di kotak obat. Benar dugaan bu Wagiyem, suhu badan Menik mencapai 39⁰ C.


"Le, bangun dulu. Ibu mau mengambil air untuk mengompres Menik, badannya panas," seru bu Wagiyem sambil membangunkan Soni.


Mendengar Menik demam, Soni langsung bangun dan berlari ke kamarnya. Dirabanya kening Menik yang terasa panas. Cepat dia berlari mengambil air. Dilewatinya bu Wagiyem yang sedang mencari obat penurun panas.


Segera di kompres Menik agar suhu badannya segera turun. Soni baru tersadar jika saat ini Menik tidak menggunakan hijabnya.


"Cantik," gumamnya.


"Siapa yang cantik? Ibu?" ledek bu Wagiyem.


Wajah Soni merona, karena malu ketahuan memandang wajah Menik, oleh bu Wagiyem. Soni meminta bu Wagiyem untuk beristirahat, dia yang akan menjaga Menik.


Awalnya bu Wagiyem menolak, karena takut Soni khilaf. Setelah terjadi perdebatan yang cukup alot, akhirnya bu Wagiyem beristirahat, tetapi di samping Menik.


Soni mengompres Menik dengan telaten hingga subuh. Bu Wagiyem terbangun saat mendengar azan subuh. Dihatnya Soni yang ikut terlelap di kursi samping tempat tidur. Bu Wagiyem menyentuh kening Menik untuk mengecek suhu badannya.


"Alhamdulillah, sudah turun panasnya," ucap bu Wagiyem lega.


Beliau membenahi letak selimut Menik. Saat memegang tangan Menik, netra bu Wagiyem sedikit menyipit, memastikan apa yang beliau lihat.


"Kenapa ada bekas jarum infus di tangan mu. Sebenarnya aoa yang sudah menimpamu, Nduk," gumam bu Wagiyem sembari mengelus kepala Menik.


Merasakan kepalanya dielus, Menik kembali mengigau.


"Ibu ... Menik ikut," igau Menik lirih dengan air mata yang ikut mengalir dari sudut matanya.


Hati bu Wagiyem perih melihat Menik yang terlihat begitu putus asa. Beliau menyeka air mata Menik, dengan buku-buku jarinya.


"Ibu di sini, Nduk. Jangan menangis lagi," ucap bu Wagiyem.


Soni terbangun mendengar suara bu Wagiyem. Tangannya terulur hendak menyentuh kening Menik. Refleks bu Wagiyem, memegang tangan Soni.


"Jangan pegang-pegang," tegas bu Wagiyem.


Soni nyengir mendengar bu Wagiyem begitu posesif menjaga Menik. Keduanya segera berjamaah salat subuh di kamar Soni. Selesai berjamaah, Soni kembali duduk di samping Menik. Sedangkan bu Wagiyem beranjak ke dapur untuk membuat bubur.


"Nik, bangun. Subuh dulu," ucap Soni perlahan membangunkan Menik.


Menik langsung terbangun dan duduk mendengar suara laki-laki membangunkannya. Seketika kepalanya kembali pusing. Hampir saja Menik oleng jika Soni tak sigap menyangga punggung Menik dengan menumpuk beberapa bantal.


"Jangan banya gerak dulu. Semalam kamu demam. Subuhan di tempat tidur saja, nggak usah wudu, tayamum saja."


Menik mengangguk lemah. Rasanya semua tulangnya menghilang dan dunia berputar-putar baginya.


"Aaa!" teriak Menik saat menyadari dirinya tidak menggunakan hijab. Menik menarik mukena yang ada di sampingnya.


"Mas ... mas yang lepas hijab Menik?"


"Ibu yang melepaskannya. Sudah salat dulu, keburu waktunya habis," seru Soni mengingatkan Menik.


Dua rekaat telah Menik tunaikan. Dia kembali berbaring karena kepalanya masih terasa berat jika dipakai duduk. Dipanganginya kamar yang bernuansa abu-abu. Pandangan Menik menyapu semua sudut kamar, meski sedikit kabur. Matanya menangkap beberapa buah foto.


"Ah, aku pasti salah lihat," gumam Menik.


"Salah lihat apa, Nik?" tanya Soni yang mendengar gumaman Menik.

__ADS_1


__ADS_2