Adhisti

Adhisti
Bab 59


__ADS_3

"Alhamdulillah kalau mbak Darmi mau menemaniku. Aku malah senang," jawab Ince sembari mengedarkan pandangannya mencari sosok Darmi.


Semoga mbak Darmi tidak mendengar apa yang baru saja ku ucapkan, batin Ince.


Mumpung Menik masuk kamar mandi. Cepat-cepat Ince melangkah menuju kamar tamu meski Menik mengancamnya. Agus yang berpapasan dengan Ince melihat Ince dengan heran.


Mengapa itu anak bawa barang-barang ke kamar tamu? batinnya.


Agus melanjutkan langkahnya menuju kamar Menik, dia bermaksud mengambil baju ganti dan segera mandi.


Tok ... tok ...


Diketuk perlahan pintu kamar Menik yang tertutup rapat. Tidak ada jawaban dari dalam sehingga Agus memutuskan untuk langsung masuk.


Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Pantas tidak menjawab ketukannku, ternyata kamu sedang mandi," gumam Agus.


Dia segera membuka lemari untuk mengambil baju ganti. Agus tampak memilah baju yang akan dipakainya. Menik keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk. Menik melangkah santai menuju meja rias. Di buka handuk yang melilit kepalanya.


Menik mulai menyolokkan pengering rambut dan mulai menghidupkannya. Terlalu fokus mengeringkan rambut, Menik tidak menyadari ada sepasang mata tengah memperhatikan dari balik pintu lemari.


"Ehem"


Suara deheman mengagetkan Menik, dieratkannya handuk yang melilit ditubuhnya.


"M—Mas Agus?" gagapnya.


Agus tersenyum dan semakin mengikis jarak. Selangkah Agus mendekat, selangkah juga Menik mundur. Sehingga tak ada ruang lagi, badan Menik menthok dinding kamarnya.


"Stop! Berhenti di situ. Jangan maju lagi Mas! Atau Menik teriak," ancam Menik.


"Teriak saja tidak apa-apa Nik," seru Agus semakin mengikis jarak.


Menik semakin memang erat ujung handuknya, takut terlepas dan mempelihatkan yang seharusnya memang boleh dilihat oleh Agus.


Agus semakin mendekat dan memeluk Menik. Karena tak bisa lagi menghindar, Menik biarkan Agus memeluk tubuhnya yang hanya terbungkus handuk.


"Aku kangen kamu, Nik."


Menik bergeming tidak menanggapi ucapan Agus. Agus semakin mengeratkan pelukannya sembari menghidu aroma coklat yang menguar dari tubuh Menik. Aroma yang berasal dari lulur yang tadi Menik gunakan ketika mandi.


Ceklek

__ADS_1


"A ... a ... a ..." teriak Ince yang nyelonong masuk kamar Menik tanpa permisi. Dia langsung lari keluar kamar Menik.


"Maaf nggak sengaja, Nik!" teriaknya.


Agus yang terkejut dengan teriakan Ince tanpa sadar melepaskan pelukannya. Menik tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk kabur masuk ke kamar mandi.


Agus melongo melihat istrinya berhasil lolos dari pelukannya. Dia tertawa mengasihani dirinya yang ditinggal kabur istrinya.


Sementara itu Ince terlihat duduk di atas tempat tidur sembari mengelus dada. Dia masih syok meyaksikan pemandangan di kamar Menik.


"Mata suciku ternoda, gara-gara kamu, Nik. Coba dikunci pintunya, jadi aku nggak bisa nyelonong masuk," gumamnya.


Ince terus menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan pemandangan di kamar Menik yang terus menari-nari di mata dan pikirannya.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Menik keluar dengan baju daster bergambar hello kity lengan panjang lengkap dengan hijab instan menutup kepalanya.


Gagal lagi hari ini, batinnya saat melihat Menik keluar kamar mandi. Hilang semua fantasi yang telah dibayangkan sebelumnya.


"Mas, ngggak mandi?" tanya Menik membuyarkan lamunan Agus.


Agus tak menjawab pertanyaan Menik, dia langsung beranjak masuk ke kamar mandi. Menik menatap heran ke arah Agus.


Menik melanjutkan mengeringkan rambutnya, mumpung Agus sedang mandi. Selesai mengeringkan rambut Menik menuju tempat tidurnya,dan membaringkan tubuh lelahnya.


Tak lama mata Menik perlahan menutup, dengkuran halus mulai terdengar. Seharian ini tubuh dan pikirannya lelah.


Melihat istrinya telah tidur saat dia keluar dari kamar mandi, Agus mengulum senyum. Di dekati Menik yang telah terlelap, perlahan dibenrarkan letak selimut Menik. Agus mengecup sekilas kening Menik, dan ikut berbaring disampingnya.


Mata Agus lekat memandang Menik yang miring ke arahnya. Tanpa sadar Menik melepaskan hijabnya. Tampaklah rambut hitam panjang terurai.


Beberapa helai rambut yang menutup wajah Menik. Agus menyingkirkannya perlahan, sembari mengelus pipi Menik.


Merasa tidurnya terganggu, Menik menggeliat dan merubah posisi tidurnya. Kini Menik tidur membelakangi Agus.


Agus hanya bisa memandang punggung Menik, tak berani dia memeluknya. Takut Menik tambah merajuk. Sekuat tenaga Agus menahan rasa, yang sebenarnya terus menyuruhnya untuk memeluk Menik.


Sementara itu di kamar tamu, Ince juga tertidur dengan nyenyak sembari memeluk guling.


Sreek ... sreek


Terdengar suara tirai yang ditarik, diiringgi dengan munculnya bayangan gadis berdaster putih yang perlahan mendekati Ince. Perlahan Darmi ikut membaringkan tubuh ringannya di samping Ince. Hawa dingin menyapa punggung Ince, saat Darmi sedikit menggeser tubuhnya semakin merapat ke tubuh Ince.

__ADS_1


Ince menaikkan selimut yang membungkus tubuhnya, untuk mengusir hawa dingin yang tiba-tiba menyapanya tanpa permisi. Namun, rasa dingin itu tak kunjung pergi.


Darmi terkikik geli melihat Ince yang semakin mengeratkan selimutnya. Setiap Ince menarik selimutnya ke atas, setelahya Darmi kembali menurunkan selemut Ince.


Berkali-kali Darmi menurunkan selimut Ince, sehingga Ince jengkel dan membuka matanya.


Tangan Ince perlahan menepuk tiga kali lampu tidur di atas nakas. Nyala lampu berpendar menerangi kamar. Saat Ince menoleh ke arah sumber hawa dingin yang menerpanya. Sontak Ince membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dikucek berkali-kali matanya, namun bayangan di depan matanya tidak berubah.


Darmi tersenyum lebar, ke arah Ince.


"M—Mbak Darmi."


"Iya Ce, ini aku. Tadi kamu bilang ingin aku temani tidur. Sekarang aku datang untuk menemanimu."


"M—Mbak Darmi , tidak usah menemani ku tidur. Aku berani tidur sendiri."


"Nggak apa-apa Ce, aku ikhlas nemani kamu tidur malam ini. Kasihan kamu tidur sendirian di sini."


"Ti—tidak usah Mbak, tadi aku hanya bercanda minta ditemani Mbak Darmi tidur."


"Aku nggak mau ditolak Ce, sudahlah tidur. Biar aku menemanimu di sini. Tidak usah takut padaku. Meski aku hantu, aku tidak akan menakutimu dengan muka jelekku. Karena pada dasarnya aku cantik. Ha ... ha ..."


Mau tidak mau Ince memaksakan matanya untuk terpejam, meski hatinya was-was.


Awas kamu Nik, gara-gara kamu mbak Darmi beneran datang menemaniku tidur, batin Ince.


Lama kelamaan Ince terlelap juga. Darmi masih setia menemaninya hingga pagi. Dia baru beranjak ketika subuh menjelang. Sebelum Darmi pergi, dia sempatkan membenarkan posisi selimut Ince yang melorot.


Menik mulai terbangun saat merasakan ada sesuatu yang berat berada di atas perutnya. Betapa terkejutnya saat Menik membuka mata melihat Agus tertidur di sampingnya. Apalagi saat Menik melihat ke arah perutnya dan melihat apa yang membuat perutnya tertekan.


A ... a ... a


Teriak Menik sembari menyingkirkan tangan Agus dari atas perutnya. Agus terbangun mendengar teriakan Menik. Refleks Agus membungkam mulut Menik dengan tangannya.


"Sst ... sst ... jangan teriak-teriak. Kedengaran Ince, nanti dikira kita sedang sesuatu."


Menik mengangguk dan menyingkirkan tangan Agus yang tidak sadar masih membungkam mulut Menik.


"Maaf," ucap Agus.


"Mas Agus, ngapain tidur di sini?"


"Pengin saja aku tidur di samping istriku. Salah?"

__ADS_1


__ADS_2