
Ince mengibaskan cekalan Menik di tangannya. Ince berdiri, namun lagi-lagi Menik menahannya.
"Duduk Ce! Jangan gegabah, kita di tempat umum. Kita lihat saja pertunjukkan ini sambil menikmati kentang goreng." perintah Menik.
Ince akhirnya tak lagi memberontak, dia menyetujui usulan Menik. Karena hanya berselang dua meja, mereka bisa melihat dengan jelas semuanya.
Tak lama, ketiga orang yang diamati Menik dan Ince, berdiri dan menuju pintu keluar. Ince segera mengikuti dari belakang. Menik tak sempat lagi menahan Ince. Menik lengah melepaskan tangannya dari tangan Ince.
Menik tak berniat mengikuti Ince, hatinya belum siap dengan kenyataan yang ada di depannya. Menik memilih tetap duduk di kursi, menghabiskan makanan yang terasa sulit melewati kerongkongannya.
Air mata menguar di mata Menik, di hapus perlahan. Malu apabila ketahuan menangis oleh pengunjung lainnya. Pandangan Menik terasa kabur akibat air mata yang tek kunjung berhenti. Sekilas dia melihat Darmi duduk di depannya. Terlihat Darmi begitu khawatir dengannya. Cepat-cepat Menik menggelengkan kepalanya. Mengingatkan Darmi agar tidak bertindak terlalu jauh.
Melihat Menik menangis, Darmi ingin segera memberi pelajaran. Namun, dia urungkan. Karena Menik melarangnya. Yah, Darmi tidak selalu ikut campur masalah Menik. Tapi khusus urusan Sri Suketi, tetap akan bertindak meski siapapun melarangnya. Karena Sri menyebut Asih tak bisa mendidik Menik.
Sementara itu Ince masih terus mengikuti targetnya. Sebuah ide muncul di otaknya. Sengaja Ince berjalan cepar dan menyenggol perempuan itu, yang membuat perempuan itu oleng. Untung laki-laki di sampingnya bergerak cepat, sehingga perempuan itu tak sempat terjatuh mencium lantai
"Maaf tidak sengaja," ucap Ince sembari menatap lekat mata laki-laki itu. Terlihat kemarahan di sorot mata Ince.
"Ti—Tika," gumam Agus.
Ternyata benar laki-laki itu adalah Agus. Sesuai dengan tebakan Menik dan Ince. Agus mematung melihat Ince berdiri dihadapannya.
Kalau Tika ada di sini, jangan-jangan Menik ada di sini juga, batin Agus.
"Lain kali hati-hati kalau jalan. Untung tunangan ku gerak cepat," ujar Wiwid.
Ince tersenyum sinis sembari berkata, "Alhamdulillah. Untung ada tunangan mbak, kalau tidak pasti mbak sudah jatuh."
Setelah mengucapkan maaf Ince kembali menemui Menik. Dari kejauhan dia bisa melihat, jika Menik tidak sendirian. Perlahan, dia duduk di samping Menik dan menggenggam tangan Menik. Sebelum duduk, Ince sempatkan mengangguk ke arah Darmi.
Melihat Menik sudah ada yang menemani, perlahan Darmi menghilang. Dia mencari kemana perginya orang yang telah menyakiti Menik.
Darmi melihat Agus diparkiran bersama Wiwid dan Bimo mantan pacar Wiwid.
Tak lama Bimo berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Sekarang hanya ada Wiwid dan Agus di parkiran.
"Wid, ini kali terakhir aku bisa membantumu. Aku tidak bisa lagi berpura-pura menjadi tunanganmu," tegas Agus.
Wiwid menatap Agus dengan tatapan nelangsa. Ternyata sandiwara yang dia buat dengan Bimo untuk mengikat Agus tidak berhasil.
"Iya Gus, ini memang terakhir kali aku minta bantuanmu. Seterusnya aku tidak akan meminta bantuanmu lagi. Karena setelah ini kamu jadi suamiku. Ha ... ha ... ha."
"Terserah apa mau kamu Wid. Aku sudah katakan kalau aku tidak bisa. Sekarang pulanglah sendirian. Ada yang aku urus."
__ADS_1
Agus segera meninggalkan Wiwid yang uring-uringan karena Agus meninggalkannya.
Darmi tersenyum dari kejauhan. Hatinya lega, mengetahui suami Menik tidak benar-benar selingkuh.
"Kelihatannya menyenangkan kalau aku ganggu cewek ini," gumamnya sambil tertawa.
Bulu kuduk Wiwid seketika berdiri, mendengar suara tawa di keheningan tempat parkir. Cepat-cepat dia masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mobilnya. Sayangnya, mesin mobil tak segera menyala. Tiba-tiba lampu mobil menyala sendiri, menyorot bayangan seorang gadis berdaster putih tengah berdiri di depan mobilnya, sambil tersenyum menyeringai.
Wajah Wiwid pias seketika. Dicobanya lagi menghidupkan mesin mobil. Dan kali ini berhasil, diinjaknya gas dalam-dalam. Ditabraknya gadis yang tadi berdiri di depannya.
Agus terus melangkah kembali masuk mall. Matanya menyapu semua sudut mencari sosok istri kecilnya. Kali ini Agus harus berhasil menemukannya dan menjelaskan semua yang terjadi. Jangan sampai ada kesalahpahaman lagi.
Agus menghentikan langkahnya ketika melihat Menik berjalan menuju arah parkiran. Segera Agus berlari dan memeluk Menik dari belakang.
Menik langsung tahu bahwa yang memeluknya adalah Agus. Dia mengenali dari aroma parfum yang sengaja dia belikan. Menik meronta minta dilepaskan. Namun, semakin Menik meronta semakin kuat pula Agus memeluknya.
"Lepaskan Menik, Mas. Tidak enak jadi tontonan orang," sela Ince.
Agus mengendorkan pelukannya, cepat-cepat Menik berlari dan bersembunyi di balik punggung Ince.
"Nik, aku bisa jelaskan," ucap Agus memohon.
Menik menarik tangan Ince menuju parkiran. Agus cepat-cepat menyusulnya. Meihat Agus masih mengejarnya, Menik segera berlari menuju mobilnya. Namun, belum sempat Menik masuk, Agus lebih dulu menarik tangannya.
Agus membawa Menik ke pintu di samping kemudi. Dia dudukan Menik di kursi penumpang. Ince tahu diri, dia duduk di kursi deret kedua. Dia pasang earphone untuk mendengarkan musik.
Sepanjang perjalanan, Menik diam seribu bahasa. Agus sesekali melihat ke arah Menik sembari mengemudi. Agus arahkan mobil menuju rumah Menik.
Ince gemas melihat kedua pasutri itu diam, bukannya meluruskan kesalahpahaman mereka.
Dert ... dert... dert
Ponsel Menik bergetar di dalam tas. Dengan malas Menik mengambilnya. Melihat nama pengirim pesan, Menik menoleh ke belakang. Ince mengangguk mengisyaratkan agar Menik membaca pesannya.
Ince: Ngomong Nik! Jangan diam saja.
Menik: Ogah! Bukan aku yang salah.
Ince: Nggak akan selesai masalah kalau kamu diam.
Menik: Biar saja Ce. Kita lihat dia mau membela diri seperti apa.
Ince: Terserah kamu Nik. Aku nggak mau terlalu ikut campur masalah rumah tangga. Ntar antar aku ke terminal, aku mau pulang.
__ADS_1
Menik: Tidak bisa. Kamu berangkat sama aku, pulangnya juga harus sama aku. Kita kan belum sempat habiskan uang saku dari ibu dan ayah. 🤭🤭😂
Ince: Dasar labil. Tadi saja nangis-nangis. Giliran dipeluk langsung hilang marahnya. 🤪
Menik: Sama-sama labil dilarang saling mendahului.
Ince: 🤪🤪
Seulas senyum terlihat di bibir Menik meski samar. Ince berhasil membuat sahabatnya tersenyum, meski hatinya masih perih.
"Kalian sudah makan?" tanya Agus memecah keheningan.
"Tadi niatnya mau makan Mas. Tapi tiba-tiba tidak berselera, gara-gara melihat orang selingkuh," sindir Ince.
Agus tersenyum kecut mendengar sindiran Ince.
"Aneh memang sekarang, sudah punya istri tapi nggak diakuin. Eh, malah gelendotan sama perempuan lain," lanjut Ince.
Agus merasa tersudut dengan kata-kata Ince. Karena apa yang dikatakan Ince benar adanya.
Suasana di dalam mobil semakin panas, dengan kata-kata penuh sindiran yang keluar dari bibir Ince.
Ngeri juga bahasa Tika kalau marah. Mending aku berhenti di rumah makan. Siapa tahu marahnya akan hilang kalau kenyang, batin Agus.
Agus membelokkan kendaraannya di warung sate kambing. Air liur Ince langsung menetes, karena sate kambing adalah makanan favorit Ince.
Agus keluar menghampiri pintu tempat Menik duduk. Dibukanya perlahan pintu itu, diulurkan tangannya. Namun, Menik tidak menyambutnya. Menik malah langsung keluar sambil mendorong badan Agus yang menghalanginya.
Menik segera menyusul Ince masuk ke dalam rumah makan. Hampir semua menu yang ada di daftar menu dipesan keduanya. Agus terpaksa memesan sendiri. Karena dua gadis itu hanya memesan dua porsi.
Selesai makan, mereka melanjutkan pulang menuju rumah Menik.
Lepas Magrib mereka baru sampai di rumah. Terlihat rumah masih gelap, karena pak Broto dan Sri masih belum pulang.
Menik segera masuk disusul Ince, sedangkan Agus masih memarkirkan mobil di garasi. Lampu-lampu mulai mengusir gelap setelah dinyalakan.
Ince mengambil barang-barang dari kamar Menik dan membawanya ke kamar tamu.
"Kamu mau pindah ke mana Ce?" tegur Menik yang melihat Ince membawa barang-barangnya.
"Pindah kamar tamu Nik. Kamu tidur saja dengan suamimu. Selesaikan semua kesalahpahaman. Habis itu baru lembur," ucap Ince menggoda Menik.
"Kamu nggak boleh pindah kamar! Kalau tetap nekat, aku suruh mbak Darmi menemanimu bobok," ancam Menik.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau mbak Darmi mau menemanimu. Aku malah senang," jawab Ince sembari mengedarkan pandangannya mencari sosok Darmi.
Semoga mbak Darmi tidak mendengar apa yang baru saja ku ucapkan, batin Ince.