Adhisti

Adhisti
Bab 56


__ADS_3

Apa pelangkahnya Wi?" ucap Ince penasaran.


"Itu ada di sana," ucap Dwi.


Kompak mereka bertiga melihat ke arah yang ditunjukkan Dwi. Terlihat sebuah motor matic keluar terbaru dengan body hitam kekar, cocok dengan postur Dwi yang tinggi.


"Wah-wah, kalau pelangkahnya seperti ini, aku juga mau dilangkahi," seru Ince.


"Hush ... nggak boleh bicara sembarangaan Ce. Pamali," tegas Menik mengingatkan Ince.


Ince yang diingatkan Menik hanya menanggapi dengan senyuman. Setelah mengetahui sebab Dwi menghilang beberapa hari ini. Mereka kembali duduk di bawah tangga untuk menunggu masing-masing dosen pebimbingnya.


Tengah hari mereka berempat baru bisa pulang dari kampus, dan seperti biasa Dwi mengantar Mimi sampai depan kampus. Sedangkan Menik mengantar Ince ke kos.


Mereka membuat kesepakatan, harus bisa wisuda bersama-sama. Jangan ada yang ketinggalan. Masuk sama-sama, lulus pun harus sama-sama.


Kali ini setelah mengantar Ince, Menik tidak langsung pulang ke kos. Dia kembali ke area kampus dan menuju ke perpustakaan untuk menambah referensinya.


Sampai di perpustakaan Menik menuju rak buku khusus sastra. Disusurinya lorong yang berisi buku sesuai dengan judul skripsi yang disusunnya.


Satu persatu diambilnya buku tersebut. Total ada empat buku yang Menik bawa menuju meja baca. Penuh konsentrasi Menik membaca dan mulai menulis atau memotret hal-hal yang dirasa bisa mendukung skripsinya.


Dert .... dert ... ponsel Menik bergetar. Dilihatnya ada panggilan dari ayahnya. Perlahan Menik tombol merah, dan segera menuliskan pesan. Memberitahu pak Broto bahwa dia sedang di perpustakaan. Tak lupa disematkan foto tumpukan buku di meja baca.


Setelah pesan terkirim dan dibalas pak Broto, Menik kembali memasukkan ponsel ke dalam tas. Menik kembali fokus dengan buku yang di bacanya. Kadang Menik mengangguk-angguk sendiri, atau senyum-senyum sendiri, saat menemukan referensi yang sesuai dengan judul skripsinya.


Menjelang asar, Menik menyudahi aktivitas di perpustakaan. Ada beberapa buku yang dia pinjam untuk di bawa pulang. Terlalu asyik di dalam perpustakaan membuat Menik tidak mengetahui awan hitam yang mulai menurunkan rintiknya.


Sebelum rintik itu menjadi tetesan hujan, Menik segera melajukan motornya. Tepat begitu Menik sampai di kos, tetesan hujan berubah menjadi lebih rapat, dengan petir yang ikut mewarnai langit.


"Alhamdulillah sampai kos baru hujan," seru Menik sembari menaiki tangga melingkar berwarna biru.


Dug ...


"Aduh! Astaqfirullah." Menik memegangi puncak kepalanya yang terantuk beton. Untung saja tidak sampai berdarah. Fera melihat Menik memegangi puncak kepalanya, sudah bisa menebak, kalau kepala Menik terantuk beton yang ada tepat di dekat tangga.


"Sakit Nik?" ledek Fera.


Menik mencebik mendengar ledekan Fera.


"Tunggu giliranmu Fe dan rasakan sendiri," ucapnya sembari menaruh sepatu di rak yang telah disediakan.


"Tidak usah mendoakan aku, Nik. Aku itu sudah sering kejedot juga. Apalagi kalau buru-buru."

__ADS_1


Menik masuk ke kamar meninggalkan Fera yang masih mengoceh. Dia segera membersihkan diri dan meluruskan badannya di atas kasur untuk menghilangkan penat.


Terlalu lama duduk di perpustakaan, membuat punggungya terasa sedikit kurang nyaman. Menik membaluri punggunggnya dengan minyak angin.


Tak berapa lama, Menik terlelap. Sehingga tak menyadari ponselnya bergetar sedari tadi. Apalagi ponsel itu masih dalam keadaan silent.


***


Sementara Menik terlelap dengan nyaman. Pak Broto nampak uring-uringan, karena menelepon Menik beberapa kali tidak ada respon. Padahal ada hal penting yang ingin beliau sampaikan. Mumpung Sri Suketi sedang arisan kampung.


Sejak mengetahui perlakuan Sri kepada Menik, Pak Broto semakin berhati-hati saat menelepon dan mengirim pesan. Karena Sri selalu membuka ponsel pak Broto.


Sepuluh menit lagi arisan kampung selesai, pak Broto masih berusaha menelepon Menik. Hingga akhirnya Menik mengangkat teleponnya.


"Halo Ayah, maaf Menik ketiduran."


"Iya Nduk tidak apa-apa. Ayah hanya ingin memastikan, uang yang ayah transfer sudah masuk belum?"


"Bentar Ayah, Menik belum periksa notifikasi di ponsel."


Menik segera mengecek transferan ayahnya di ponselnya. Setelah menemukannya, Menik segera memberitahu pak Broto.


"Alhamdulillah sudah masuk Ayah, hanya keterangannya bukan transferan dari rekening Ayah. Tapi orang lain."


"Ayah kenapa ngirimnya banyak sekali?"


"Sengaja ayah kirim agak banyak dan melalui rekening orang lain. Agar mami mu tidak tahu. A—."


Pak Broto tidak melanjutkan kata-katanya, karena mendengar suara pintu pagar yang di buka. Beliau langsung memberi isyarat kepada Menik untuk menutup teleponnya. Menik bisa menanggkap isyarat yang diberikan pak Broto, ketika Sri datang.


Pak Broto segera menghapus riwayat panggilannya, dan berpura-pura main game mencocokkan gambar. Sri tak menyadari sandiwara yang ditampilkan pak Broto. Dia tidak merasa curiga sedikitpun.


"Assalamualaikum Papi."


"Waalaikumsalam, kok cepat pulangnya Mi? Biasanya gosip dulu dengan bu Subangun dan budhe Poni," sindir pak Broto dengan telak.


Sri tergagap mendengar ucapan pak Broto yang memang benar adanya. Hanya satu yang jadi pertanyaan Sri, dari mana suaminya tahu kalau dia suka gosip. Tapi jangan sebut namanya Sri Suketi kalau tak bisa menghindar.


"Mana ada Mami gosip Pi. Mami hanya dengarkan bu Subangun dan budhe Poni menceritakan anak-anaknya."


"Beneran Mami, nggak ikutan cerita?" cecar pak Broto.


Sengaja pak Broto mengiterogasi Sri. Karena pak Broto sempat ditanya pak Aji perihal Menik yang diantar Darmawan beberapa hari lalu. Padahal saat itu, tidak ada orang yang melihatnya. Bahkan rumah pak Aji, terlihat gelap dan baru terlihat lampu menyala sekitar dini hari. Setelah ditelusuri ternyata pak Aji tahu dari bu subangun, dan buhde Poni.

__ADS_1


"Wah, Papi nggak percaya dengan Mami," rajuknya.


"Bukannya Pami tidak percaya sama Mami, hanya ingin mengingatkan Mami, agar tidak terpengaruh mereka."


"Mana mungkin mami terpengaruh Pi. Nggak bakalan," seru Sri sembari menuju kamarnya.


Sri mengurungkan niat duduk di sebelah pak Broto. Hatinya jengkel, mengetahui ada yang membocorkannya. Setahu Sri, dia hanya bercerita dengan budhe Poni. Tapi mengapa suaminya tahu.


Pak Broto menggelangkan kepalanya melihat kelakuan Sri yang masih tidak mengakui perbuatannya.


Beb ... beb


Ponsel pak Broto bergetar, cepat-cepat beliau membaca dan segera menghapusnya. Untung sja Sri tidak begitu paham dengan teknologi. Jadi cara Pak Broto, untuk sementara aman.


***


Dert ... dert ...


Ponsel Menik kembali berbunyi. Kali ini video call dari Agus. Menik segera menerima panggilan itu. Namu sebelumnya untuk berjaga-jaga Menik membalik arah kameranya.


"Assalamualaikum Menik."


"Waalikumsalam."


"Apakabar?" tanya Agus basa basi.


"Alhamduliah baik, dan masih tetap seperti anak kecil."


"Masih merajuk rupanya."


Menik langsung mengakhiri panggilan secara sepihak begitu mendengar Agus mengatakan kalau dia merajuk.


Agus terperangah menatap layar ponsel ya g tadi masih menampilkan wajah istrinya, tiba-tiba berubah menjadi gelap.


Aku salah ngomong apalagi, kenapa Menik marah, batin Agus.


Agus kembali menghubungi Menik namun tidak ada jawaban. Jelas tidak akan ada jawaban dari Menik, karena nomor Agus telah diblokir oleh Menik.


Agus terdiam, dan mengacak frustasi rambutnya. Dia bingung bagaimana cara menghadapi Menik. Resiko yang sudah pernah Astuti sampaikan kepadanya sebelum melamar Menik.


Di saat Agus gusar dengan sikap Menik, ponselnya berderimg. Tertera nomor di layar ponsel yang terasa asing baginya. Dering pertama dan kedua diabaikan Agus. Hingga derinh yang ketiga baru diresponnya.


"Halo," sapa Agus.

__ADS_1


__ADS_2