Adhisti

Adhisti
Bab 73


__ADS_3

Mendengar ucapan terima kasih dari Menik. Membuat Astuti ikut menangis. Berkali-kali dia mengucapkan maaf kepada Menik. Dia menyalahkan dirinya yang ikut menyetujui rencana Agus melamar Menik.


Berkali-kali Menik membalas ucapan maaf Astuti dengan mengatakan di baik-baik saja. Astuti merangkum Menik ke dalam pelukkannya.


"Maafkan aku, Nik."


Menik mengurai pelukan Astuti sambil berkata, "Mbak As, nggak salah dalam masalah ini. Sudah jadi takdir Menik untuk menjadi janda kembang," ucap Menik sambil teesenyum tulus.


Keduanya tertawa mendengar kata-kata janda kembang yang diucapkan Menik.


"Tunggu masa idah mu selesai, Nik. Aku akan melamarmu," sela Soni.


Menik beralih memandang Soni, "Nggak usah bercanda Mas, nggak lucu."


"Aku serius, Nik. Tunggu semua urusanmu dengan Agus selesai. Akan aku buktikan ucapanku," tegas Soni.


Astuti memandang takjub ke arah Soni. Terlihat begitu besar cinta Soni untuk Menik.


"Aku mendukung kamu Son," ucap Astuti.


"Tuh dengar kan. Mbak ini saja mendukungku. Jadi kamu tinggal membuka kembali hatimu untukku."


Menik terdiam, ada rasa enggan untuk menjalin ikatan pernikahan kembali. Ingatannya masih penuh dengan perbuatan Agus. Menik tidak habis pikir, Agus yang biasanya selalu baik, riba-tiba berubah kasar.


"Kenalkan aku Astuti, kakak nya Agus," sela Astuti memperkenalkan diri untuk mencairkan suasana yang sedikit kaku, gara-gara ucapan Soni.


Soni terkejut mengetahui fakta bahwa Astuti adalah kakak kandung Agus. Bukannya membela Agus yang statusnya sebagai adik kandung, Astuti malah memilih membela Menik.


Dert ... dert ... vibrasi ponsel Astuti menyuruhnya untuk segera mengambil ponsel daari dalam saku. Tertera di layar nama Ibu Negara.


Bu Islah menelepon Astuti setelah membaca pesan yang Astuti kirimkan. Bu Islah menanyakan keadaan Menik saat ini. Mendengar Menik sudah sadar dari pingsannya, bu Islah menjadi lega.


Bu Islah menanyakan di IGD rumah sakit mana Menik berada. Setelah mengetahui tempatnya, beliau langsung menuju ke sana.


Menik terkejut melihat kedatangan bu Islah yang langsung memeluknya. Beliau menepuk-nepuk punggung Menik sambil mengucap maaf. Begitu pula pak Dewa, beliau juga meminta maaf atas kelakuan Agus. Padahal tadi pak Dewa bermaksud menolak permintaan pak Hadi. Namun, sayang Agus sudah bertindak terlalu jauh.


Cairan infus Menik sudah habis, Soni meminta perawat untuk melepaskan infus Menik. Segera dia mengurus semua administrasinya, yang ternyata sudah diurus oleh Astuti.


"Terima kasih, Mbak," ucap Soni sopan.


"Sama-sama. Tolong jangan beritahu Menik aku yang mengurus administrasinya," mohon Astuti.


"Insya Allah mbak, kalau nggak keceplosan."


"Aku pamit dulu, satu permintaanku, tolong jaga Menik."


"Insya Allah, saya akan menjaga Menik, Mbak," janji Soni.


Astuti meninggalkan rumah sakit bersama kedua orang tuanya. Mereka kembali ke hotel untuk menjemput Agus.


Astuti tidak menyapa Agus, bahkan dia tidak bercerita jika Menik dibawa ke IGD. Lagi pula bukankah Agus melihat saat Menik pingsan, dan malah mengabaikannya. Lagi pula status Menik sekarang sudah bukan istri Agus lagi. Jadi untuk apa memberitahu keadaan Menik kepada Agus.


Suasana di dalam mobil terasa panas, meski pendingin mobil sudah dinyalakan. Agus terlihat diam fokus dengan lalu lintas saat ini.


Bu Islah mencoba menahan amarahnya yang hampir meledak saat mendengar Agus menjatuhkan talak tiga untuk Menik.


Tunggu sampai di rumah, ibu hajar kamu, batin bu Islah.


Sementara itu Menik sudah diperbolehkan keluar dari IGD. Soni bingung akan mengantar Menik ke mana.


"Nik, kamu mau aku antar ke mana?"


"Menik pulang sendiri saja Mas. Ayo Menik antar Mas dulu, setelah itu baru Menik pulang."


"Aku tetap akan mengantarmu, meskipun kamu menolaknya," tegas Soni.


"Tapi Mas ..."


"Tidak ada penolakkan! Kalau kamu tidak mau aku antar, detik ini pula kamu akan aku bawa ke hotel tempatku menginap. Dan membuat ucapan Agus menjadi kenyataan," ancam Soni.


"Ta—tapi Menik bingung mau pulang ke mana, Mas. Tidak mungkin Menik ke rumah Nimas dalam keadaan seperti ini. Mau pilulang ke rumah, pasti istri ayah akan semakin nyinyir. Menik bingung," ucap Menik sendu.


"Pulang ke rumahku saja. Sementara kamu bisa tinggal di rumahku."


"Tapi Mas ..."


"Kali ini nurut sama aku. Sekarang kita ambil dulu barang-barangku. Kamu hubungi Nimas, katakan kamu bersamaku," titah Soni.

__ADS_1


Menik menuruti perintah Soni. Diambilnya ponsel dari dalam tas, dan mengetik pesan untuk Nimas.


Menik: Nimas, aku langsung pulang. Maaf, tidak mampir ke rumah. Aku, sekarang bersama Soni. Agus menjatuhkan talak tiga padaku. Tolong kamu merahasiakan apa yang sudah aku ceritakan.


Nimas terkejut membaca pesan yang dikirim Menik. Dia segera menghubungi ponsel Menik.


Tut ... tut ... tut ...


"Assalamualaikum, Nik. Kamu di mana? Apa yang telah terjadi, sehingga Agus menjatuhkan talak?" cecar Nimas di seberang telepon.


"Waalaikumsalam. Aku harus jawab yang mana dulu Ni? Pertanyaanmu banyak sekali."


"Ceritakan semua yang terjadi, Nik. Pulang ke sini saja."


"Maaf Ni. Aku belum bisa menceritakan semuanya. A—aku ..."


Air mata Menik kembali menguar mengingat semua peristiwa itu. Soni mengambil ponsel Menik dan berbicara kepada Nimas.


"Nimas, ini aku Soni. Sekarang Menik bersamaku. Aku akan menjaganya. Kamu tidak usah khawatir. Bila sudah siap, pasti Menik akan menceritakannya padamu. Tolong jangan beritahu siapa-siapa jika Menik bersamaku."


"Baik Son. Aku titip Menik bersamamu. Aku percaya padamu. Aku mohon selalu kirimkan kabar Menik kepadaku," ucap Nimas.


"Insya Allah Ni. Aku tutup teleponnya. Kami masih di perjalanan."


Menik masih terisak dengan telaten Soni menghapus air mata Menik.


"Menangislah sampai kamu lega. Tapi ingat, cukup hari ini saja kamu menangis. Esok tak akan aku biarkan kamu menangisinya lagi," ujar Soni.


Mereka menuju hotel untuk mengambil barang-barang Soni. Sebenarnya Menik enggan untuk turun, tetapi Soni memaksa Menik untuk mengikutinya. Karena Soni khawatir jika Menik kabur darinya.


Menik memakai kaca mata hitam untuk menyembunyikan mata sembabnya. Mereka menuju kamar Soni. Segera Soni berkemas, dimasukkan semua baju ke dalam tas.


"Nik, kamu mandi dulu. Karena sampai rumah kemungkinan sudah malam."


"Tapi, baju Menik masih di mobil."


"Kamu mandi dulu saja, biar aku ambilkan tas kamu."


Soni kembali keluar kamar untuk mengambil tas pakaian Menik. Dengan santai Soni menenteng tas pakaian berwarna pink dan sling bag dengan warna khas seorang gadis. Banyak pasang mata menatap ke arahnya. Taoi Soni cuek, dan tetap melangkah.


Bahkan beberapa pengunjung hotel ada yang terkesima dengan sikap Soni. Sampai ada yang berkata, "Aku mau jadi pacarnya. Sudah ganteng, nggak malu pula, nenteng tas pacarnya."


Mendengar ucapan Soni, gadis itu tersenyum kecut. Soni berbalik meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Soni mengetuk pintu kamar mandi untuk memberikan tas pakaian Menik.


"Sebentar Mas. Menik mau buka pintu asal Mas tutup mata," teriak Menik dari kamar mandi.


Soni tersenyum mendengar teriakan Menik. Dia kembali mengetuk pintu kamar mandi.


"Buka Nik, aku sudah tutup mata," ucap Soni sambil terkekeh perlahan.


Ceklek


Terlihat tangan Menik terulur dari balik pintu, Soni mengintip sedikit untuk memastikan tas pakaian dia berikan tepat di tangan Menik. Tangan mulus Menik tertangkap mata Soni. Ada gelenyar aneh di tubuh Soni. Buru-buru dia berikan tas dan memalingkan wajahnya.


Soni segera masuk ke kamar mandi begitu Menik ke luar. Sembari menunggu Soni mandi, Menik menyimpuni pakaiannya. Baju yang dipakainya tadi, dia masukkan ke dalam plastik dan di buangnya.


Menik menatap cincin yang masih melingkar di jari manisnya. Perlahan dilepaskan cincin itu dan dimasukkan ke dalam dompetnya. Menik akan mengembalikannya.


Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, mereka berdua menuju resepsionis hotel untuk menyerahkan kunci. Tanpa mereka sadari ada yang melihat kebersamaan mereka dan diam-diam memotret keduanya.


"Soni."


Terdengar seseorang memanggilnya. Soni menoleh ke arah asal suara.


"Pak Andi," ucap Soni setelah mengetahui siapa yang memanggil namanya.


"Ternyata kita meninap di hotel yang sama," ucap Adi sambil memandang ke arah Menik.


Soni menyadari kala Andi memandang Menik. Refleks Soni, menarik Menik ke belakang badannya. Menik terkejut dengan sikap Soni yang menarik tangannya tiba-tiba.


Siapa laki-laki ini, sampai mas Soni menarikku kebelakang. Akan aku tanyakan nanti. Karena sepertinya aku melihatnya di acara tadi pagi, batin Menik.


"Iya, Pak. Maaf saya permisi dulu," pamit Soni sopan.


Dia segera mengajak Menik untuk menuju parkiran dan melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Sementara itu, kediaman pak Dewa, terlihat Agus termenung di kamar. Ingatannya kembali pada peristiwa tadi pagi. Agus mengacak rambutnya, menyadari kebodohan yang telah dilakukannya. Rasa cemburu merusak akal sehatnya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Menyesal memang selalu datang di akhir.


Tok ... tok ...


Bu Islah mengetuk kamar Agus, "Gus, ini ibu. Boleh ibu masuk?"


"Iya Bu. Pintu tidak Agus kunci."


Bu Islah duduk di dekat Agus. Meski marah, masih ada rasa iba bu Islah untuk Agus. Dielus perlahan punggung Agus.


"Menyesal sekarang?" sindir bu Islah.


Agus memandang ke arah ibunya. Diletakkan kepalanya di pangkuan bu Islah. Terdengar lirih isakan Agus, bahunya berguncang. Tangisnya pecah dipangkuan bu Islah.


"Apa yang telah Agus lakukan bu. Agus menyakiti Menik," ucapnya dengan suara bergetar.


"Semua sudah terlanjur terjadi. Sekarang, Menik bukan lagi istrimu. Apalagi kau langsung memberikan talak tiga."


"Tapi Bu, Menik juga salah. Karena membiarkan dipeluk laki-laki yang bukan suaminya. Wajar kalau Agus marah. Apalagi yang memeluknya senior Agus. Harga diri Agus terinjak-injak sebagai seorang suami."


"Ternyata kamu masih belum menyadari kesalahanmu," ketus bu Islah sambil memindahkan kepala Agus dari pangkuannya dan meninggalkan Agus di kamar.


Tring


Ponsel Agus berdering, diambilnya ponsel yang tergeletak di nakas. Satu pesan bergambar masuk di grup kampus. Mata Agus memanas melihat foto yang ramai dikomentari teman-temannya.


Sebuah caption menghiasi dua foto tersebut. Foto pertama, terlihat Agus bersama dengan Wiwid beserta pak Hadi dengan captiin, "Calon menantu bos perkapalan. Foto kedua terlihat Soni menggenggam tangan seorang gadis dengan caption, "Selamat senior."


Foto kedua inilah yang membuat mata Agus memanas. Agus perbesar gambar itu. Wajah Soni terlihat jelas, sedangkan wajah pasangannya tidak begitu kelihatan. Namun, Agus bisa mengenalinya.


"Dasar wanita murahan. Kamu menipuku dengan wajah polosmu," geram Agus.


Ponsel Menik berdering, tapi Menik tak mengangkat panggilan Agus. Karena Menik tertidur. Soni melirik ke arah ponsel Menik yang terus berdering. Karena jengkel Soni mengangkatnya.


"Dasar wanita murahan, baru tadi pagi aku talak. Siang sudah di hotel dengan laki-laki," ucap Agus di seberang telepon dengan emosi.


Soni membiarkan Agus mengungkapkan semua amarahnya. Tangannya mengepal mendengar semua tuduhan yang Agus tujukan kepada Menik. Perlahan Soni menepikan mobil, dengan masih mendengarkan semua cacian Agus.


"Kenapa kamu diam. Pasti benar semua yang aku ucapkan. Tunggu surat cerai dariku. Tak sudi aku menjadi suamimu," ucap Agus dengan emosi yang masih bergelora.


Soni membuang napas kasar sambil mendekatkan ponsel ke arah telinganya.


"Sudah puas?" ucap Soni datar.


Agus terkejut mendengar suara Soni. Agus menatap ke layar ponsel untuk memastikan, dia tidak salah menekan nomor.


"Ternyata kalian sedang bersama. Pantas saja Menik tak bersuara," ketus Agus.


"Seperti yang kamu katakan. Menik bersamaku. Menik tidur, jadi tidak bisa mendengar semua cacianmu," ucap Soni datar.


Mata Agus membola mendengar ucapan Soni yang mengatakan Menik tidur. Pikiran kotor menari-nari di otak Agus.


"Jadi— jadi kalian ti—tidur bersama?" ucap Agus terbata-bata.


"Menik tidur di sampingku. Setelah dia bangun akan aku sampaikan semua ucapanmu tadi."


Agus membanting ponselnya ke atas kasur. Hatinya semakin panas mendengar Menik tidur di samping Soni. Agus mengira, Soni dan Menik tidur bersama. Padahal sebenarnya Menik tidur di samping Soni yang sedang mengemudi.


Brak ... Agus meletakkan ponsel di atas meja Astuti. Sontak Astuti terkejut, karena tiba-tiba Agus nyelonong masuk ke dalam kamarnya.


"Lihat itu, adik kesayangan Mbak As. Dia tidur di hotel dengan laki-laki lain. Padahal baru berapa jam yang lalu aku talak," ucap Agus berapi-api sambi menunjukkan foto Menik dengan Soni.


Astuti tersenyum sinis melihat foto yang ditunjukkan Agus.


"Kamu marah? Cemburu? Ingat kamu sudah nggak punya hak sama Menik, coba kamu lihat foto yang sebelumnya. Calon mantu bos kapal, hebat memang. Calon sultan," ucap Astuti sinis.


Agus tidak terima dengan ucapan Astuti. Keduanya berdebat dengan suara nyaring. Sehingga membuat pak Dewa menuju kamar Astuti.


"Agus! Ikut ayah sekarang!" titah pak Dewa tegas.


Bagai kerbau dicocok hidungnya, Agus mengekori pak Dewa menuju ruang keluarga.


Pak Dewa duduk di samping bu Islah. Astuti juga ikut duduk di ruang keluarga.


"Duduk!" perintah pak Dewa kepada Agus yang masih berdiri.


Dengan enggan Agus duduk di depan pak Dewa. Pak Dewa memandang Agus dengan tatapan tajam. Beliau menghela napas panjang, dadanya begitu sesak sejak tadi siang. Acara wisuda yang seharusnya menjadi awal kebahagian bagi pernikahan Agus dan Menik. Malah berujung perpisahan keduanya.

__ADS_1


"Katakan sekarang apa mau mu, Gus!" ucap pak Dewa tegas.


__ADS_2