Adhisti

Adhisti
Bab 82


__ADS_3

"Apa!" seru Astuti nyaring.


"Sst ... sst ... kecilkan suaramu, As," ucap bu Islah menegur Astuti.


"Ayah pergi?"


"Ayahmu marah, karena ibu membela Agus," tutur bu Islah.


"Oh."


Jawaban singkat Astuti membuat bu Islah marah kepadanya. Beliau meninggalkan Astuti di pinggir kolam dan segera mencari Agus.


"Wah, ternyata Ayah bisa marah juga kepada ibu. Ehm ... kira-kira apa yang membuat ayah semarah itu, sampai pergi dari rumah," gumam Astuti.


Karena penasaran, Astuti berinisiatif menghubungi ayah nya.


Kring ... kring ... Pak Dewa melirik ke arah ponselnya yang berdering. Melihat nama Astuti yang memanggil, beliau segera menerima panggilan tersebut.


"Assalamualaikum," terdengar suara Astuti di seberang telepon.


"Waalaikumsalam, As," jawab pak Dewa.


"Ayah di mana? Kenapa Ayah pergi?"


"Ayah ada di kontrakan As. Boleh Ayah minta bantuanmu?"


"Bantuan apa Yah? Selama Astuti bisa, insya Allah akan Astuti bantu."


"Bisa minta toling temanmu, untuk menerbitkan surat putusan perceraian Agus dan Menik besok?"


"Ehm ... coba nanti Astuti tanyakan, Yah."


"Terima kasih As. Ayah tunggu kabar baik dari mu."


Setelah sambungan telepon dengan Pak Dewa berakhir, Astuti langsung menghubungi temannya. Semula teman Astuti keberatan dengan permintaannya. Namun, setelah Astuti menjelaskan jika Agus telah menjatuhkan talak tiga, teman Astuti bersedia membantunya.


Mendengar Astuti berhasil, Pak Dewa sedikit tenang. Tinggal memikirkan cara untuk menghindari tuntutan penganiayaan dari Pak Broto. Siang ini Pak Dewa memutuskan untuk tidur di kontrakan saja, sekalian menagih uang sewa.


Sementara itu di kamar Agus, terlihat bu Islah dan Agus memikirkan cara membujuk Pak Dewa agar bersedia membantu Agus. Mereka terlihat sangat serius memikirkan cara terbaik. Karena kalau Pak Dewa sudah marah, akan susah untuk membujuknya.


Beb ... beb ... satu pesan masuk ke ponsel Agus. Tertera pesan dari pengadilan untuk mengambil surat putusan cerai besok pagi.


Wajah Agus pias setelah membaca pesan tersebut. Gagal sudah rencananya untuk membatalkan perceraian. Dia sudah memikirkan cara agar Menik bisa kembali jadi istrinya, tanpa harus menikah dengan orang lain.


Melihat wajah pias Agus, bu Islah bertanya kepadanya, "Mengapa wajahmu berubah Gus. Pesan dari siapa?"


Agus menatap hampa ke arah foto pernikahannya dengan Menik, yang maaih tergantung rapi di kamarnya. Dadanya terasa sesak seketika.


"Su-surat putusan cerai Agus sudah keluar. Gagal rencana Agus," ucap Agus.

__ADS_1


"Bagus itu. Dari pada lama baru selesai. Sekarang kamu lupakan Menik. Ibu akan mengatur persiapan pernikahanmu dan Wiwid. Nggak akan rugi kamu menikah dengan Wiwid. Dia juga cantik, meski kalau ibu boleh jujur masih cantik Menik tentunya."


Agus menatap heran kepada bu Islah. Baru beberapa menit yang lalu beliau menyetujui usulan Agus. Mengapa sekarang berubah dan terlihat sangat bersemangat mendukung pernikahan Agus dengan Wiwid.


Perlahan kesehatan Menik mulai membaik, dokter mengizinkannya unruk pulang. Sengaja Pak Broto membawa Menik pulang ke rumah, mumpung Sri sedang menginap di rumah kakaknya.


"Nduk, kamu istirahat dulu. Kalau perlu sesuatu kamu telepon Ayah."


"Iya, Ayah," jawab Menik lirih.


Kesehatan badan Menik sudah membaik, namun kesehatan psikisnya masih jauh dari kata baik. Membuat pak Broto mengurungkan niatnya untuk memberitahu Menik jika dia dan Agus sudah berpisah secara sah baik negara maupun agama.


Selang beberapa hari Menik sudah mulai tersenyum kembali. Pelan-pelan Pak Broto menyampaikan putusan persidangan.


"Nduk ... boleh ayah minta tanda tanganmu di atas materai?"


"Tanda tangan untuk apa, Yah? Tumben pakai materai," ujar Menik sedikit heran.


"Baiklah, ayah akan jujur padamu. Sudah beberapa hari lalu, pengadilan sudah memutuskan perceraian kalian. Hari ini rencananya, akan ayah ambil. Jadi ayah, membutuhkan surat kuasa darimu," jelas Pak Broto.


Menik terdiam, rasanya ada yang menghilang dari dirinya.


Aku harus kuat. Tidak boleh menangis di hadapan Ayah, batin Menik.


"Alhamdulillah. Akhirnya semua selesai. Ayah ... izinkan Menik untuk mengambil surat itu sendiri?"


"Ayah akan mengantarmu."


"Boleh. Sekalian ayah beri pelajaran Agus. Biar kapok"


"Ish ... ish ... Kata Ayah, kita tidak boleh menyimpan dendam. Kenapa Ayah mau menghajar mas Agus?"


"Ini bukan dendam, Nduk. Tapi pembelaan seorang Ayah terhadap putrinya."


"Ayah, pintar buat alasan. Menik mohon jangan kotori tangan Ayah."


"Ehm ... akan Ayah usahakan, tapi nggak janji kalau khilaf," ucap pak Broto sambil tertawa.


Riasan natural terlihat di wajah Menik. Entah mengapa kali ini dia ingin merias wajahnya, meski tipis. Baju yang dipakainya kali ini juga berbeda dari biasanya. Sengaja dia memilih baju yang sedikit menunjukkan lekuk tubuhnya. Sampai-sampai pak Broto terkejut melihat dandanan putrinya kali ini. Beliau tidak menegurnya, karena baju yang dipakai Menik masih dalam batas normal.


"Bismillah," ucap Menik saat turun dari mobil setiba di kantor pengadilan.


Menik melangkah dengan mantab menuju ruang pengambilan surat. Diserahkannya surat panggilan untuk mengambil surat putusan pengadilan. Menik menunggu sambil duduk di kursi menunggu panggilan.


Terlihat ada yang mengawasi Menik dari kejauhan, dan perlahan mendekatnya.


"Menik."


Menik mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata mbak Nurul kakak Soni.

__ADS_1


"Mbak Nurul apakabar?" seru Menik.


"Alhamdulillah Baik. Kamu ngapain di sini?" tanya Nurul heran.


"Ceritanya panjang, Mbak. Lain waktu Menik cerita," ucap Menik sambil senyum.


"Oke. Mbak tunggu ceritamu. Mbak permisi dulu ya, mau ke ruang suami."


"Iya, Mbak. Silakan."


Terlihat Nurul masuk ke dalam ruangan yang tertulis ruang ketua pengadilan. Ibarat pepatah, dunia selebar daun kelor. Ternyata suami Nurul adalah teman Astuti.


"Menik Adhisti Putri Broto" terdengar panggilan dari speaker yang berada di ruangan tersebut. Menik segera berdiri dan menghampiri loket pengambilan saat mendengar namanya dipanggil.


Tangan Menik bergetar memegang amplop coklat. Hampir saja air matanya kembali lolos. Sekuat tenaga dia menahannya dengan membaca istighfar berkali-kali. Menik menarik napas panjang dan membuangnya untuk menyamarkan lukanya.


Senyum lebar sengaja dia sunggingkan, agar pak Broto tidak mengkhawatirkannya.


Biarlah hatiku yang hancur, asal jangan hati ayah yang hancur, batin Menik.


Menik masuk ke dalam mobil dan meletakan amplop coklat di dashboard mobil. Pak Broto merengkuh Menik dalam pelukannya.


"Ada Ayah di sini, semuanya akan baik-baik saja," ucap pak Broto.


Menik mengangguk dalam pelukan pak Broto. Dia bersyukur, Ayah nya setia menemaninya menghadapi permasalahan ini.


"Ayo, Ayah antar mengembalikan barang-barang pemberian keluarga Agus. Ayah harap tidak ada satu;pun yang tertinggal."


Halaman rumah Pak Dewa nampak berjejer beberapa mobil mewah. Pak Broto bisa menebak siapa yang sedang berkunjung ke rumah mantan besannya. Sticker yang menghiasi body mobil, menunjukkan keluarga Hadi Wijaya yang berkunjung di rumah tersebut.


"Ayah, apa sebaiknya kita tunda dulu. Ada tamu kelihatannya. Menik jadi sungkan."


"Tidak usah sungkan, ini malah waktu yang tepat untuk mengembalikan semuanya."


Dengan menggegam tangan putrinya pak Broto melangkah. Tak banyak yang Menik bawa, hanya satu kotak keci perhiasan dan satu travel bag yang berisi barang-barang seserahan dari Agus.


Genggaman erat ditangannya, membuat Menik menjadi percaya diri untuk melangkah. Wajahnya tidak lagi menunduk, kini pandangannya lurus ke depan dengan sunggingan senyum.


"Assalamualaikum," salam Pak Broto sebelum masuk ke rumah pak Dewa.


"Waalaikumsalam," jawab Pak Dewa.


Pandangan Pak Broto mengunci ke arah Agus yang duduk berdampingan dengan Wiwid. Ada amarah terlihat dari sorot mata beliau.


Kedatangan pak Broto menyebabkan pembicaraan serius kedua keluarga terjeda.


"Broto!" seru Pak Hadi.


"Apakabar Hadi. Kita bertemu lagi di sini," sarkas Pak Broto.

__ADS_1


"Kabarku baik. Bahkan perusahaanku semakin berkembang. Ada urusan apa kamu kemari?"


"Aku—


__ADS_2