
Jiwa garang Ince seketika menyeruak melihat pesan bergambar dari Fendi. Dia masukkan ponsel ke dalam tas. Dengan langkah lebar Ince segera menuju tempat yang terlihat di gambar.
Tap ... tap ... terdengar sol sepatu bertemu dengan beton tangga. Perlahan suara itu semakin tak terdengar. Sang pemilik langkah memelankan langkahnya. Menghampiri gadis yang tengah berselancar menggunakan laptop warna pink bergambar Elsa.
Perlahan namun pasti, Ince mendekat dan menajamkan matanya untuk lebih meyakinkan dengan apa yang dilihatnya.
"Ehm— permisi mbak. Numpang nanya, boleh?" ucap Ince.
Gadis yang disapa Ince mengangkat pandangannya dan memandangi Ince penuh selidik. Siapa gadis ini, tiba-tiba datang dan mau bertanya, batinnya.
"Silakan, mau bertanya apa?" ragunya.
"Kenalkan namaku Kartika." ucap Ince sekaligus mengangsurkan tanggannya untuk menjabat tangan gadis itu.
"Lina." jawab gadis itu menyambut perkenalan Ince.
"Karena kita kelihatannya seumuran, boleh aku memanggilmu Lina tanpa embel-embel mbak atau adik?"
"Boleh. Dan aku bisa memanggimu dengan Kertika juga."
"Cukup panggil aku Tika. Terlalu panjang kalau Kartika." ucap Ince dengan menyuguhkan senyum mautnya.
Melihat pembawaan ramah Ince, Lina merasa sanatai berbicara dengan Ince. Kekhawatiran yang sempat menderanya perlahan terkikis.
"Tika, tadi kamu mau naya apa sama aku?" Lina mengingatkab Ince tentang pertanyaan yang tadi mau ditanyakan olehnya.
"Ooh, jadi lupa aku. Ehm Lin, laptop kamu bagus—."
"Makasih pujiannya. Ini laptop pemberian pacarku Tik. Baru dua hari yang lalu dia berikan." sela Lina dengan bangga.
"Ooh dibelikan pacarmu. Wah, baik banget pacarmu Lin. Kalau aku, malah pacarku yang minjam laptopku." sandiwara Ince.
"Wah, kalau aku ogah pinjamkan laptop ke pacar Tik. Apalagi aku juga membutuhkannya. Dan, karena laptopku sering merajuk, maka pacarku inisiatif belikan laptop untukku." ucap Lina.
"Wah-wah, jadi pengin punya pacar yang baik seperti pacarmu Lin."
"Sayangnya cuma ada satu di dunia ini Tik. Ku harap bisa menikah dengannya." harap Lina.
"Semoga saja jodoh Lin. Kalau nggak jodoh semoga dapat pengganti yang lebih baik."
"Aamiin Tik."
Entah mengapa Ince tak langsung menyampaikan alasannya kepada Lina. Dia malah asyik ngobrol ngalor ngidul dengan Lina. Sampai terdengar seseorang memanggil Lina.
"Lin ... Lina."
Lina menoleh ke arah suara itu berasal. Senyum merekah tatkala melihat siapa yang memanggilnha.
"Sini Ghan, aku kenalkan dengan teman baruku." seru Lina ceria sembari melambaikan tanganya, karena dia tidak tahu siapa Ince.
Ghani tak menyadari jika gadis yang duduk membelakanginya adalah Ince. Dia pun dengan santai melangkah menghampiri Lina dan memeluknya sejenak.
Ehem ... ehem ...
Deheman Ince membuat Ghani mengurai pelukannya. Namun Ghani tak segera menoleh ke arah Ince. Dia asyik mencubit gemas pipi Lina yang serupa bakpao.
"Ghan, berhenti dulu. Aku kenalkan sama teman baruku." seru Lina sembari menyingkirkan tangan Ghani.
Ince terlihat santai, meski amarahnya sudah memuncak. Terlihat dari wajah Ince yang berubah menjadi garang.
"Tik, kenalin ini pacarku Ghani." ucap Lina dan memberi isyarat kepada Ghani untuk berkenalan.
Ghani menghentikan aktivitas tangannya yang sudah beralih tempat menyusup ke area-area yang tersembunyi. Sontak matanya membulat, karena terkejut saat dia mengulurkan tangannya mengarahkan pandangan ke arah gadis yang dikenalkan oleh Lina. Uluran tangannya tergantung di udara. Ince tak berkenan menyambutnya.
"Lin, kalau pacarmu yang ini aku sudah kenal." sarkas Ince.
Ghani segera menarik uluran tangannya yang tak bersambut. Wajahnya pias, tapi dasar buaya darat cap sandal jepit, Ghani tetap bisa menutupi keterkejutannya.
Lina menoleh ke arah Ghani mengisyaratkan pertanyaan, kenal di mana?
__ADS_1
"Aku kenal, kan dia anak kelas sebelah." ucap Ghani santai.
"Beneran kalian saling kenal Tik?" seru Lina penasaran.
"Iya, aku kenal sama pacarmu Lin. Bahkan laptop yang kamu pakai adalah laptopku." sindir Ince dengan telak.
Lina memandang tak percaya ke arah Ghani.
"Beneran Ghan?" ucapnya tak percaya.
"Mana mau ngaku dia Lin. Maaf aku ambil laptopku yach." seru Ince segera mengemasi laptopnya.
"Eh— tunggu dulu Tik, nggak bisa kamu main bawa. Tunjukkan dulu buktinya kalau laptop itu memang punyamu." cegah Lina sembari menahan Ince yang hendak membawa laptop itu.
"Jadi kamu belain Ghani Lin?" sarkas Ince sambil menarik tas laptop itu sekuat tenaga.
"Jelas aku belain Ghani, karena aku sudah hapal luar dalam." ketus Lina.
"Wah-wah hapal luar dalam ternyata. Pantasan tiap ketemu cewek maunya disosor. Ternyata sudah biasa melihat yang di dalam-dalam." sinis Ince.
"Sudah Lin, kasihkan saja laptop itu. Kasian ngaku-ngaku punya dia. Ntar aku belikan lagi." rayu Ghani.
"Beneran Ghan, kamu mau belikan aku?" tanya Lina antusias.
"Iya beneran." tegas Ghani.
Setelah mendengar janji Ghani, Lina segera melepas cengkeraman pada tas laptop. Sehingga Ince bisa menguasainya.
"Tuch ambil laptopnya. Aku nggak butuh. Dasar gadis halu!" ucap Lina dengan nada menghina.
Ince tak terima jika disebut halu. Dia maju dan menampar mulut Lina.
Plak ... telapak tangan Ince mendarat sempurna di pipi Lina, yang langsunh memerah. Ghani tak terima melihat Lina ditampar. Dia pun segera melayangkan tamparannya ke arah Ince. Nahas sebelum tangan itu berhasil menyentuh kulit Ince, ada lenagan kuat menahannya.
Ince menunggu telapak tangan Ghani tak segera menyapa pipinya. Karena bingung mengapa pipinya tak segera disapa, dia membuka mata. Satu pemandangan indah terpampang di depannya.
"Ternyata kamu hanya berani sama cewek Ghan. Sini kalau berani lawan aku!" tantang Fendi dengan satu tangan masih memegang erat tangan Ghani.
"Kamu nggak apa-apa Ce?" tanya Darmawan was-was.
"Alhamdulillah nggak apa-apa Wan. Laptop dan pipiku aman berkat kalian." ucap Ince sambil nyengir kuda.
Lina tak rela melihat Ghani dipiting Fendi, diam-diam mengambil batu dan hendak menghantam kepala belakang Fendi.
"Fendi awas!" teriak Ince histeris.
Mendengar teriakan Ince, Fendi berhasil menghindar dari hantaman batu Lina.
"Alhamdulillah." lega Ince.
"Sudah Fen, lepas kan Ghani. Kita pergi dari sini." ajak Darmawan.
Lina segera mengampiri Ghani, mengelus pipi nya. Lebay memang, padahal Ghani tidak diapa-apain, hanya ditahan tangannya saat hendak menampar Ince.
Mereka bertiga beranjak meninggalkan pasangan itu. Belum jauh mereka beranjak, terdengar suara Lina.
"Awas kalian bertiga, tunggu pembalasanku." ancam Lina.
Ince sontak berhenti dan berbalik mengikis jarak. "Aku tunggu balasanmu." sinis Ince dan meninggalkan Lina yang masih mengcapkan sumpah serapah untuk mereka bertiga.
"Pipimu masih sakit Lin?" ucap Ghani sembari memegang pipi Lina yang memerah kebiruan dan berbekas tangan Ince.
"Sakit Ghan. Lagi pula kenapa kamu berbohong jika itu laptop Tika?" ketus Lina.
"Itu laptopku Lin, bukan punya Tika. Dia terlalu halu, maklum nggak pernah punya laptop." jawab Ghani penuh kebohongan.
"Beneran Ghan?" Lina memastikan kembali ucapan Ghani.
"Iya. Beneran. Masak kamu nggak percaya sama aku. Ayo kita ke kos saja. Mending kita menyenangkan diri, dari pada mikirin itik buruk rupa." ucap Ghani.
__ADS_1
"Kangen ya, sama aku." ucap Lina penuh arti.
"Jelas kangen lah, sudah seminggu kita nggak mantab-mantab." ucap Ghani sembari mengerlingkan mata.
"Yuk lah." ucap Lina sembari melingkarkan tangan ke perut Ghani.
Pasangan itu segera beranjak meninggalkan taman dan menuju kos Ghani yang kebetulan memang kos campuran dan bebas. Setelah masuk kamar, terjadilah apa yang diinginkan oleh pasangan itu.
***
Tring ... pesan masuk ke ponsel Menik. Dia jeda sejenak keberangkatannya. Dibuka benda pipih bersimbol apel tergigit. Ada pesan beruba video dari Darmawan. Semula Menik ragu untuk membukanya. Takut video aneh-aneh yang dikirim Darmawan. Saat keraguan membuka video itu muncul, satu pesan kembali terkirim ke ponselnya.
Darmawan: Buka Nik. Seru 😁
Menik: Ogah, ntar kamu kirim lagi video nggak jelas. 😤
Darmawan: Tenang Nik, kali ini videonya bagus. Nyesel kalau nggak kamu buka.
Menik tak lagi menjawab pesan Darmawan. Dia segera melihat video itu. Serius Menik melihatnya, seulas senyum terbit di bibirnya
"Bagus Ce, lanjutkan." gumamnya.
Tring
Satu pesan kembali masuk ke ponselnya.
Darmawan: Gimana Nik, mantabkan.
Menik: Mantab sekali. Sekarang di mana preman kita?
Darmawan: Lagi sama pawangnya Nik. Lagi nangis bombay.
Menik: Pawangnya? Nangis bombay? Siapa?
Darmawan: Ke sini saja kalau penasaran.
Menik: Aku mau pulang Wan. Takut kemalaman.
Darmawan: Tenang, nanti aku kawal sampai rumah. Kebetulan aku juga di suruh ibuku untuk ngantar pesanan mbak Tarni.
Menik: Beneran Wan?
Darmawan: Beneran Nik. Tapi ke rumah ku dulu nanti. Ambi barangnya.
Menik: Oke. Aku otw ke TKP.
Sementara itu dengan tangisan dan air mata buaya, Ince bercerita kepada Fendi. Berulang kali Ince mengucapkan terima kasih. Mereka berdua tidak sadar, bila sedari tadi Darmwan merekam interaksi keduanya.
"Fen, aku ucapkan terima kasih banyak. Untung kamu datang tepat waktu. Jika tidak, pasti pipiku yang semulus jalan tol ini, akan bergelombang akibat tamparan Ghani. Dan aku sudah putuskan Fen—."
"Kamu udah putuskan apa Ce? Kalau putuskan Ghani, itu wajib hukumnya." sela Fendi.
"Bukan itu Fen. Karena kamu sudah menolongku, maka aku putuskan untuk—"
Belum sempat Ince menyelesaikan ucapannya, Menik datang dan langsung memeluknya.
"Kamu nggak apa-apa kan Ce?" tanyanya khawatir sembari membolak balikkan laptop Ince.
"Aku nggak apa-apa Nik. Benar ucapanmu Nik. Maafkan aku yang tak mempernyacaimu." tulus Ince meminta maaf.
"Iya Ce, yang penting, laptop kamu selamat." ucap Menik santai.
"Aku kira kmau mengkhawatirkan aku Nik. Ternyata Laptopku."
"Ngapain aku khawatir sama kamu Ce. Sudah bisa ditebak dengan mata terpejam, kamu bakalan menang lawan ulat keket." ledek Menik.
"Bener ucapanmu Nik." timpal Darmawan.
"Kalau ulat keket aku bisa ngimbangi Nik. Tapi Ghani tak kusangka dia berani nampar cewek. Untuk pahlawanku datang. Maka untuk itu, sebagai ucapan terima kasihku." Ince menjeda kalimatnya dan menghembuskan napas panjang untuk menghilangkan gugup. "Sebagai ucapan terima kasihku, aku mau menjadikan Fendi sebagai—."
__ADS_1