Adhisti

Adhisti
Bab 6


__ADS_3

"Kama ... kamu ... ka—mu". Menik kaget setengah hidup. Melihat sosok yang berdiri di hadapannya sekarang. Sosok itu merentangkan tangannya, Menik pun segera masuk dalam pelukkannya.


"Mas Agus, kenapa ada di sini? Mas nguntit Menik?"


"Mana mungkin mas nguntit Menik. Lha wong arah jalan kita beda. Menik dari Solo, mas dari Semarang." ucap Agus sambil mengelus punggung Menik


"Ta—pi, kenapa mas bisa tahu kalau Menik ke sini?"


"Bisalah, kan hati kita ada telepatinya." canda Agus


"Ais ... mas Agus bohong. Ngaku saja kalau memang mas ngintilin Menik. Kalau nggak mau ngaku, ntar Menik gelitikin lho." ancam Menik dengan kedua tangan yang siap menggelitikin Agus.


"Oke ... oke ... mas ngaku dari pada digelitikin. Memang mas ngikutin kamu dari kos tadi. Kamu nya saja yang nggak merasa." jelas Agus sembari bersimpuh di dekat makam ibu Asih.


"Assalamualaikum ibu, perkenalkan saya Agus yang insyaallah akan menjaga Menik putri Ibu. Semoga ibu merestuinya."


Menik yang mendengar Agus meminta izin sama ibu Asih hanya bisa bengong. Dia terkejut, karena selama ini Agus tak pernah sedikitpun mengungkapkan perasaannya. Dan Menik menganggapnya sebatas Kakak.


Menik ikut bersimpuh di samping pusara ibu Asih, sembari berucap, "Jangan percaya sama mas Agus bu, dia hanya menganggap Menik adiknya. Tapi kalau ibu merestuinya, Menik suka." ucapnya sembari menepis tangan Agus yang hendak mencubit pipinya.


Untaian doa dilantunkan kedua sejoli itu. "Ayo pulang." kata Agus sambil menepuk pundak Menik.


"Menik nggak mau pulang mas."


"Terus kamu mau ke mana lagi? Mau keliling sama si hitam tanpa tujuan seperti tadi pagi?"


"Pokoknya Menik nggak mau pulang. Mau ke kos lagi saja." seru Menik


Agus menghela napas panjang. "Kalau Menik nggak mau pulang ke rumah ayah, mending Menik pulang ke rumah mas. Di sana banyak orang, kebetulan mas Bayu dan mbak Ririn di rumah."


"Nggak enak mas, emang Menik siapa nya mas, main pulang dan nginap di sana. Ntar adanya digrebek massa." tolak Menik


"Menik tenang saja, nggak akan digrebek, kan kita nggak berbuat yang aneh-aneh."


"Tapi aku nggak enak mas, apa kata orang kalau melihat anak gadis tidur di rumah laki-laki."

__ADS_1


"Ya sudah. Sekarang Menik mau nya apa?" Agus mengalah.


"Menik nggak belum mau pulang Mas. Hati Menik masih sakit."


"Begini saja, kalau Menik nggak mau pulang ke rumah ayah atau rumah mas, Menik mas antar ke rumah budhe Harmini saja bagaimana? Ntar malam mas jemput Menik untuk ketemu ibu. Ibu kangen katanya."


Akhirnya Menik mengalah, dan ikut pulang ke rumah budhe Harmini. Agus dengan telaten mengikuti dari belakang.


Ditatapnya punggung gadis yang dia cintai. Meski pun belum pernah Agus menyatakan perasaannya. Tapi dia berharap kalau Menik peka dengan semua perhatiannya.


Sesampainya di rumah budhe Harmini, Agus langsung menyalami pakde Harjo yang kebetulan ada tamu. Setelah bersalaman dengan pakde Harjo, dia pun berpamitan pulang.


Budhe Harmini berjingkat kaget karena ada yang memeluknya dari belakang. Beliau menoleh, dilihatnya keponakan manja putri semata wayang dari adik kesayangannya. Beliau langsung memeluknya. Air mata budhe Harmini lolos begitu saja. Dipeluknya erat gadis itu, sambil dielus punggungnya.


Menik yang melihat budhe Harmini menangis, malah ikutan menangis dan memeluk budhe Harmini. Mereka teriksa bersama. Pakdhe Harjo yang melihat tak jadi menghampiri kedua perempuan beda umur itu. Beliau hanya melihat dari jauh. Membiarkan mereka melepas beban hati.


Budhe Harmini menyeka sisa-sisa air mata di pipi Menik. Beliau menatap lekat netra sipit Menik. Yah ... netra itu mirip dengan netra mendiang Asih.


"Cup ... cup ... sudah nduk jangan nangis lagi." ucap budhe Harmini.


"Menik nggak boleh ngomong begitu. Menik masih punya rumah. Kalaupun nggak mau pulang ke rumah ayahmu, rumah budhe terbuka lebar untuk Menik."


Menik menubruk budhe Harmini dan memeluknya sembari berucap, "terima kasih budhe. Ternyata masih ada yang sayang sama Menik."


Budhe Harmini hanya bisa mengelus pundak keponakannya itu. Beliau tak bisa berujar lagi. Takut air matanya akan lolos kembali.


...***...


Sementara itu di kediaman pak Broto, Sri (panggilan Sri Suketi) tengah menyiapkan makan malam untuk suaminya. Setelah semua siap, dia memanggil suaminya.


"Pi—Papi ... ayo dahar pi." panggilnya


Mendengar panggilan istrinya pak Broto segera menyimpan file pekerjaannya, dan beranjak menuju meja makan. Pak Broto menoleh sekilas ke arah kamar Menik. Beliau menghela napas panjang sambil bergumam, "kapan kamu pulang nduk?"


"Ayo pi, keburu dingin!" ucap sang istri

__ADS_1


"Iya mi sebentar." jawabnya


"Mami bikin sambel terasi lho pi. Kesukaan papi."


Pak Broto tersenyum mendengar ocehan istrinya. Air matanya tiba-tiba lolos, tapi beliau segera menyekanya sebelum ketahuan istrinya. Sambel terasi mengingatkannya pada Menik. Rasa kangen menyusup perlahan, namun tak bisa terucap. Ada sesuatu yang menahannya untuk menghubungi anak semata wayangnya.


...***...


"Nduk ... nduk ..." panggil budhe Harmini


"Iya budhe, ada apa? Menik baru selesai isya." jawab menik sembari melipat mukenanya.


Budhe Harmini masuk ke kamar Menik. "Itu lho nduk ada temanmu yang tadi siang ngantar kamu ke sini." jelas budhe Harmini


"Oh mas Agus." jawab Menik


"Jadi namanya Agus?!" ucap budhe Harmini sembari duduk di kasur Menik. "Ternyata dia itu anak temannya Pakdhe mu sewaktu di kecamatan G." lanjut budhe Harmini.


"Ngapain mas Agus ke sini budhe?"


"Tadi bilangnya mau jemput Menik dan diajak ke rumahnya." jawab budhe Harjo


"Walah Menik lupa, padahal tadi mas Agus sudah ngomong kalau mau jemput Menik. Katanya sih ibu mas Agus kangen sama Menik."


"Yo wis ... cepat dandan sana. Kan mau diajak ketemu calon mertua, kudu dandan cantik."


"Ais ... budhe ini. Siapa juga calon mertua Menik. Mas Agus itu hanya anggap Menik adik saja budhe, nggak lebih."


"Hadeh, dasar ponakan nggak peka. Mana ada nduk, persahabatan antar laki-laki dan perempuan yang murni. Pasti salah satunya menaruh hati." ucap budhe Harmini sembari meninggalkan kamar Menik.


Mendengar ucapan budhe Harmini, Menik langsung teringat ucapan Agus saat di makam ibunya. "Ah nggak mungkin mas Agus suka sama aku. Pasti mas Agus cuma bercanda. Lagipula nggak pernah sekalipun mas Agus bilang cinta sama aku." monolog Menik menghalau rasa penasarannya.


Setelah pamit dengan pakde Harjo dan budhe Harmini, dengan berboncengan motor kedua sejoli itu melesat menuju rumah Agus.


Sesampainya di rumah Agus, terlihat bu Islah sudah menunggu kedatangan Menik. Beliau langsung menyambutnya. Dipeluknya Menik sambil berucap, "Calon mantuku sudah datang."

__ADS_1


__ADS_2