Adhisti

Adhisti
Bab 30


__ADS_3

Apa yang harus aku lakukan? batin pak Broto.


Belum sempat pak Broto memenangkan pergulatan batinnya. Menik menarik tangan beliau dan menciumnya.


"Ayah, Menik pamit dulu. Hati-hati jangan sampai terlena." pesan Menik dan segera memacu si hitam kesayangannya.


Sri Suketi menahan amarah yang meledak di hatinya karena Menik tak berpamitan padanya. Namun dia harus terlihat baik-baik saja di depan pak Broto.


"Pi, lihat sikap Menik sama mami. Salah mami apa coba pi? Mami kan hanya ingin melatih Menik hidup sederhana pi. Apa itu salah?"


Pak Broto membuang napas kasar. Sebenarnya beliau jengah juga melihat sikap Sri Suketi yang baru beberapa minggu jadi istrinya sudah mulai berulah.


"Ayo mi, kita duduk di sana." Pak Broto mengajak Sri untuk duduk di kursi teras. "Mi, papi harap mami tidak mencampuri perihal uang yang papi berikan ke Menik. Karena itu sudah hak nya. Yah, meski dia sudah menikah, pendidikkannya akan tetap papi tanggung." lanjut pak Broto.


Seketika Sri terdiam, mencerna semua perkataan pak Broto. Secara gamblang pak Broto mengingatkannya untuk tak mencampuri urusan keuangan Menik.


"Terserah papi saja, yang penting mami sudah ingatkan papi." Sri segera beranjak dengan amarah yang berusaha dia sembunyikan dari pak Broto.


"Maafkan ayah bu, ternyata ayah salah melangkah." batin beliau seraya mengingat wajah teduh mendiang istrinya.


***


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam sepuluh menit, Menik sampai di kos dan segera berangkat ke kampus. Sebelum nerangkat ke kampus tak lupa Menik memberi kabar kepada ayah nya.


Menik: Assalamualaikum Ayah, alhamdulillah Menik sudah sampai di kos dan akan berangkat ke kampus.


Pak Broto: Alhamdulillah. Jangan lupa belajar yang rajin dan jangan meninggalkan salat.


Menik: Baik Ayah. ❤️


Pak Broto: Ayah juga sayang Menik. Jangan hiraukan perkataan mamimu.


Menik tertegun dengan kalimat terakhir yang pak Broto tulis. "Apa ayah sudah mulai tersadar?" gumam Menik.


Tring ... satu pesan masuk di ponsel Menik.


Ince: Nik, sudah sampai di kos belum? Kalau sudah, kamu jemput aku ya. Diajeng bayik sudah berangkat duluan bareng Mimi.


Menik: Oke, 5 menit aku sampai kos.


Menik segera berangkat menuju kos Ince. Kebetulan Ince sudah menunggu di depan pagar, sehingga menghemat waktu untuk mengetuk pintu kos dan beramah tamah dengan bapak kos yang sedikit lebay.


Menik memarkirkan motornya di samping kantin yu Sri.

__ADS_1


"Ce, kamu sudah sarapan?" serunya.


"Belum. Ayo sarapan dulu, kelihatannya masih cukup waktu kalau kita makan soto."


Menik mengikuti langkah mantab Ince menuju kantin yu Sri yang masih terlihat lengang.


"Yu, sudah masak sotonya?" Ince menghampiri yu Sri yang masih memasak.


"Sebentar lagi siap. Kalian tunggu sebentar." ujar yu Sri.


Ince mengacungkan jempol nya sebagai tanda mengiyakan seruan yu Sri. Ince beranjak ke kursi di mana Menik berada. Terlihat piring berisi mendoan panas di tangannya.


"Nik, kata yu Sri bentar lagi siap sotonya. Kita ganjal perut pakai mendoan dulu." ucap Ince dan memasukkan potongan tempe mendoan ke dalam mulutnya.


Menik pun menikmati tempe mendoan khas buatan yu Sri. Ketika tangan kanannya akan mengambil tempe, secepat kilat Ince meraih tangan Menik dan membolak-balik telapak tangan Menik.


"Kenapa dengan tanganku Ce." seru Menik dan menarik tangannya.


"Mana cincin kawinmu?" tanya Ince menyelidik.


"Ada." jawab Menik.


"Ada? Di mana kamu taruh?" selidik Ince.


"Di sini." Menik menunjuk kalung yang tersembunyi di balik hijabnya.


"Mas Agus, Ce yang masih menginginkan pernikahan ini disembunyikan dulu."


"Dan kamu setuju?"


Menik mengangguk. "Aku juga belum siap Ce, mengabarkan pernikahan ini ke banyak orang." lirih Menik berucap, ada kesedihan tertahan di ucapannya.


"Kenapa nggak siap Nik? Seharusnya kalau kamu sudah menerima pernikahan ini. Kamu juga harus siap kalau orang-orang tahu."


"Entahlah Ce, aku bingung. Kamu kan tahu alasanku mau menerima pernikahan ini."


Ince menepuk lirih bahu Menik. Ince merasakan kerisauan hati Menik saat ini. Dan sebagai seorang sahabat, sudah pasti dia akan membersamai Menik baik suka maupun duka.


"Sudah jangan nangis, hapus air matamu. Ntar dikira orang kamu ku aniaya sampai nangis." kelakar Ince.


Tak berselang lama, yu Sri mengantarkan pesanan Menik dan Ince. Segera Menik dan Ince menikmatinya.


"Eh ... kalian di sini." seru Fendi sambil memarkirkan motornya.

__ADS_1


Ince menoleh sekejab, tersenyum sekilas dan segera melanjutkan makannya. Fendi menghampiri meja mereka dan ikut duduk di samping Ince.


"Tumben sarapan pagi sekali?" tanyanya heran , karena baru kali ini Fendi melihat Menik dan Ince pagi-pagi sudah menikmati soto.


"Lapar." kompak Ince dan Menik menjawab.


"Nik, gimana kamu jadi terima pinangan kemarin?" tanya Fendi.


Menik membisu, bingung menjawab apa. Kalau di jawab tidak menerima, berarti dia bohong. Kalau di jawab menerima, pasti akan segera tersebar. Sudah jadi rahasia umum, kalau Fendi kadang keceplosan saat diminta menjaga rahasia.


Ince yang tanggap dengan kebimbangan Menik menjawab pertanyaan Fendi, segera mewakili Menik memberikan jawaban.


"Kenapa memangnya, kepo amat." ketus Ince.


"Aku tanya Menik, bukan tanya kamu." sungut Fendi.


"Halah, sama saja. Aku mewakili Menik menjawab. Dan kamu lihat saja apa ada yang berubah dari Menik?"


Fendi menatap Menik menyelidik. Di telusurinya jari-jemari Menik yang masih terlihat polos, seperti hari-hari biasanya.


"Jadi, nggak kamu terima Nik?" terdengar nada bahagia di dalam ucapan Fendi.


Ince menatap penuh selidik ke arah Fendi. Segera Fendi menyembunyikan binar di matanya dan senyuman yang sempat tercetak dibibirnya. Namun terlambat, Ince terlanjur menangkap basah binar dan senyuman itu.


Kau buat masalah lagi Nik. Satu cowok kena php mu, batin Ince.


Menik tak menjawab pertanyaan Fendi, dia hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.


Setelah urusan di kampus selesai, mereka berdua segera menuju tempat magang. Seharian keduanya berkutat dengan naskah yang perlu disunting secepatnya. Apalagi salah satu editor senior cuti melahirkan, sehingga menambah kesibukan.


Menjelang magrib keduanya baru sampai di kos. Menik lebih dulu mengantar Ince ke kos-an, baru dia pulang.


"Assalamualaikum." salam Menik ke beberapa teman kos yang asyik nonton televisi.


"Waalaikumsalam." kompak mereka menjawab salam Menik.


"Tumben magrib baru pulang Nik?" tanya mbak Nonie.


"Iya ni mbak. Kerjaan di tempat magang lagi banyak-banyaknya, ditambah ada yang cuti." ucap Menik.


"Pantas saja kamu lambat pulang." seru mbak Nonie


Menik mengangguk dan berlalu masuk ke kamarnya. Dia segera rebahan di kasur sembari meneriksa ponsel ysng seharian dia lupakan.

__ADS_1


"Tak ada satupun pesan dari mas Agus. Kira-kira sudah sampai atau belum ya?" tanyanya di dalam hati."


Satu minggu berlalu, Menik sedikit melupakan Agus yang tak pernah menghubunginya sama sekali. Bahkan Ince menyarankan Menik untuk mengirimkan pesan menanyakan kabar Agus. Namun Menik enggan, selalu saja dia menolak saran Ince.


__ADS_2